
Di kamarnya, Tika semalaman menangis dan terus menangis sampai-sampai air matanya hampir habis. Ia menatap ubuhnya yang molek di depan cermin sambil memikirkan jika nanti setelah menikah tubuhnya yang cantik ini akan berubah gendut. Selesai memandangi dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan memeluk gulingnya yang empuk. Perjodohan yang pak Andik sampaikan tak habis ia pikirkan. Dengan siapakah dia akan bersuami ? Burukkah wajahnya? Bagaimana kehidupan dia setelah menikah? Lalu, jika dia menolak perjodohan ini tentu ancaman papanya akan benar-benar ia terima.
Dia juga memikirkan tentang pacarnya, Tedi. Secara dia berpacaran baru seminggu. Dan itu saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Terbesit di dalam benaknya untuk putus dari Tedi, agar Tedi memakluminya dan segera bisa move on darinya. Setelah pikirannya terkuras habis dia tertidur sambil telungkup.
Keesokan paginya
"Tedi, kita harus bertemu sekarang. Ada yang ingin aku sampaikan padamu." pesan singkat yang Tika kirim ke ponsel Tedi.
"Ia, sayang. Kita ketemuan di taman dekat kampus saja." balas dari Tedi.
Pagi ini, Tika sudah berdandan rapi sekali. Rambutnya yang sedikit basah dia biarkan terurai . Tak luput dari make up , dandanannya bisa dibilang sempurna. Lipstiknya selaras dengan baju yang dikenakan, oranye warnanya. Selesai mengoleskan handbody ke leher, tangan dan kakinya, dia meraih tas kecil dan segera turun ke lantai bawah untuk sarapan.
" Kamu cantik sekali, mau ke kampus kok dandanannya seperti itu?" tanya ibunya seraya menata nasi goreng sebagai menu sarapan kali ini. Meskipun ada pembantu di rumah itu namun hanya separuh waktu saja, bu Tasya tidak enggan turut langsung beraktifitas di dapur. Membantu mbok Jah menyiapkan sarapan.
" Aku mau pergi ketemuan sama teman, Ma. Papa mana?"tanya Tika seraya mendenguskan hidungnya mencium aroma nasi goreng yang masih mengepul panas dan segera menarik kursi untuk segera dia duduki.
" Sepertinya masih mandi." sahut bu Tasya lalu melangkahkan kaki ke dapur untuk mengambil kopi yang sudah disiapkan mbok Jah untuk pak Andik. Dalam keluarga Tika, tidak ada pembantu hanya ada mbok Jah yang bekerja paruh waktu dia bertugas mencuci, memasak dan menyetrika sampai sore. Dan bang Soleh hanya sebagai sopir pribadi yang rumahnya tidak jauh dari kediaman keluarga pak Andik. Dia bisa pulang dan datang dengan berjalan kaki, selebihnya dia bekerja sebagai tukang kebun di keluarga itu.
"Apa libur?" tanya bu Tasya seraya meletakkan kopi di atas meja makan dan duduk di hadapan Tika.
"Karena sudah selesai ujian, jadi semua mahasiswa libur . Kecuali yang berkepentingan masih masuk." jelas Tika seraya memainkan ponselnya sambil menunggu pak Andik datang.
"Ok, kamu dimana sayang?" balasan pesan singkat dari Teddy.
" Aku masih sarapan." balasan dari Tika. Tika memasukkan kembali ponselnya setelah melihat papanya datang ke arahnya.
" Rapi sekali kamu, mau pergi keluar atau ke kampus?" tanya pak Andik seraya menarik kursi di samping bu Tasya.
" Keluar Pa, ada urusan sebentar dengan teman. " sahut Tika seraya menguncir rambutnya yang sudah mulai kering.
" Cowok!" tanya pak Andik menerka teman yang akan Tika temui seraya menatap Tika dengan tatapan yang tajam.
"Iya!" sahut Tika singkat seraya meneguk segelas teh hangat miliknya.
"Pacar kamu? Segera putuskan dia! Bilang padanya kalau kamu sudah papa jodohkan dengan anak teman Papa." ucap pak Andik tegas. Tebakannya benar, pak Andik tahu kalau Tika tidak mudah bergaul dengan teman cowok.
__ADS_1
" Iya...ya, meskipun aku menangis darah sekalipun, Papa akan tetap pada pendirian Papa." ucap Tika dengan cemberut dan mengotak - atik nasi gorengnya.
"Tika sayang, semua yang Papa lakukan itu demi kebahagiaanmu juga. Dijodohkan dengan laki- laki yang bukan pilihanmu pasti ada asyiknya." bujuk bu Tasya seraya melahap nasi gorengnya.
" Apanya yang asyik, malah bakal menyiksa batinku ." gumam Tika dan segera memasukkan nasi goreng ke mulutnya dengan kasar.
"Dia tampan lo...dan kemarin dia sudah mulai bekerja di kantor Papa." ucap pak Andik sumringah setelah usahanya berhasil meski dengan sedikit ancaman.
"Terserah Papa, ingat perjanjian kita. Aku mau dijodohkan dengan pilihan Papa , asal dia jadi pembantuku. Dan pernikahan ini tidak boleh ada yang tahu!" ucap Tika penuh penekanan lalu segera menghabiskan sarapannya.
"Tentu Papa ingat itu." ucap pak Andik serius. Setelah perdebatan kecil dengan papanya selesai Tika segera berangkat menemui Tedi, tentu diantar bang Soleh.
"Pa, apa tidak keterlaluan sikap kita memaksakan dia untuk menerima perjodohan ini?" tanya bu Tasya seraya mengambil piring yang kotor.
"Tenang Ma, diawal pernikahan mereka mungkin sedikit kaku, tapi lihat nanti mereka akan saling mencintai. Aku yakin itu. Karena anak pak Heru itu orangnya memiliki kepribadian yang sangat mulia dan jarang sekali ada orang yang memiliki sikap seperti dia." jelas pak Andik . Setelah selesai sarapan beliau menuju ke garasi dan bersiap berangkat ke kantor.
"Bang Soleh, antar aku ke taman yang dekat dengan kampus." ucap Tika dengan segera masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang .
"Baik Non!"sahut bang Soleh dan segera mengemudikan mobil dan melaju meninggalkan rumah pak Andik yang begitu mewah dan besar itu.
" Tedi!" dia segera menoleh ke arah datangnya suara. Lalu wanita yang memanggilnya duduk di sebelahnya.
"Hay, Tika...wow! Kamu cantik sekali sayang." Tedi memonyongkan bibirnya seraya ingin mencium pipi Tika. Dengan cekatan Tika menepis bibir Tedi dengan tangannya. Membuat Tedi geram.
"Hentikan!" hardik Tika lantaran risih jika ada cowok yang terlalu agresif.
"Kenapa sayang, kamu selalu menghindar apabila aku ingin menciummu." Tedi merangkul pundak Tika.
"Kamu kenapa?"tanyanya seraya membelai rambut Tika yang hitam berkilau. Dan sesekali mencium aroma parfum di tubuh Tika.
" Papaku melarang kita pacaran." ucapnya seraya melepas tangan Tedi.
"Aku akan menemui papamu dan meminta beliau untuk merestui hubungan kita."Tedi meraih tangan Tika mengarahkan ke dekapannya.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Kita akhiri saja sampai di sini. Kita putus." Tika melepas tangan Teddy. Kemudian berdiri memunggungi Tedi. Tedi tak terima dan terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Kenapa kamu menyerah begitu saja, Tika. Umur pacaran kita belum genap satu minggu. Aku tidak terima putus begitu saja," ucapnya dengan nada tinggi seraya berdiri dan menarik tubuh Tika, sehingga pandangan mereka saling bertemu.
"Aku sudah dijodohkan dengan anak sahabat papaku." Tika menatap mata Teddy yang terasa begitu teduh bagi siapa saja yang memandangnya.
"Apa, dijodohkan! Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi , Tika. Seharusnya kamu bisa menolaknya." Tedi sontak menggoncang tubuh Tika seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bila aku menolak perjodohan ini, aku tidak akan dianggap sebagai anaknya lagi. Aku tidak mau jadi gelandang, hidup tidak karuan. Lebih baik aku menerima perjodohan ini." Tika melangkahkan kaki pelan berjalan mundur .
"Kamu egois Tika, lalu bagaimana dengan perasaanku? Aku sudah terlanjur menyukaimu. Aku cinta kamu, sampai mati pun aku tetap cinta kamu." ucap Tedi semakin geram dengan keputusan Tika yang secara sepihak itu.
"Anggap saja kita hanya berteman biasa saja, lupakan perasaan itu. " ucap Tika meneteskan air mata. Dan begitu berat baginya menyampaikan kata putus ke pacarnya yang baru saja jadian.
"Teman biasa, mana mungkin aku bisa move on secepat itu. Tidak, aku akan mempertahankan hubungan kita. Ku mohon Tika bertahanlah dengan hubungan kita ini." Tedi mengusap pipi Tika yang basah dengan lembut.
" Apa kamu benar - benar mencintaiku?" tanya Tika seraya menyeka air matanya, sebenarnya Tika juga menyukai Tedi, Tedi mengangguk pelan.
"Tapi, maafkan aku sekali lagi. Aku sudah terlanjur berjanji dengan papaku agar putus darimu." Tika beranjak pergi meski Tedi berteriak memanggilnya berulang kali, Tika tak menoleh sedikitpun.
"Tika, aku akan selalu mencintaimu, aku akan berusaha mendapatkanmu lagi bagaimanapun caranya. Tidak ada laki- laki lain yang boleh memilikimu selain aku seorang!" Tedi berteriak histeris.
"Tedi, andai kau tahu isi hatiku. Sebenarnya, aku juga berat mengatakan putus darimu, tapi keadaan yang memaksa. Semoga dengan berakhirnya hubungan kita, kamu segera mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. Aku tidak mau hidup kere dan susah. " batin Tika, setelah sampai dekat parkiran mobil .
" Non, langsung pulang atau ke kampus?" tanya bang Soleh membuyarkan lamunannya.
" Aku mau pergi ke rumah Tiwi dan Tesa Bang, tolong antar aku ke sana!" pinta Tika seraya mengeluarkan ponsel dan menghubungi Tiwi.
Tesa dan Tiwi tinggal dalam satu rumah, karena orang tua Tiwi pergi ke luar negeri dan menitipkan Tiwi di rumah Tesa , yang masih saudara .
" Hallo, Tiwi. Aku ingin bermain ke tempatmu, aku menuju ke sana nih," ucap Tika saat ponselnya terhubung.
"Oke," sahut Tiwi dari arah seberang.
Sementara di taman dekat kampus.
Tedi masih termenung di taman sendirian dengan keputusan Tika yang mendadak memutuskan hubungan dengannya.
__ADS_1
Karena terlalu cinta kepada Tika lalu Tedi berniat untuk menghabisi calon suami Tika. Tedi mengepalkan tangan sambil berlalu menuju parkiran mobil dan segera pergi untuk menghilangkan rasa frustasinya.