
Matahari yang tadi seakan bersinar hangat, kini tertutup awan yang mungkin saja membawa kabar akan datangnya badai malam ini. Banyak awan yang menggantung bergerombol. Abu - abu warnanya. Angin bertiup begitu kencang. Air - air mulai turun perlahan. Hujan mengguyur kami, awan hitampun menguasai langit.
"Hujan!" ucap Surya, tangannya yang sedari tadi memelukku erat kini dia pindahkan di atas kepalaku, bermaksud agar rintik - rintik air tidak mengenai wajahku.
"Asyik...! Hujan, sudah lama aku tidak hujan - hujan!" kataku sambil mengadahkan tangan.
"Hedeh...ni cewek, kamu bisa sakit kalau kehujanan!" Gerutunya seraya menarik tanganku menuju sebuah kedai kopi yang ada di seberang jalan.
"Kita berteduh di kedai kopi itu!" serunya, sambil menunjuk ke arah seberang, tangan satunya kini menggenggam erat tanganku, dan aku berjalan beriringan di sebelah kirinya, mencari celah kering yang tidak tergenang air.
"Hm!" sahutku singkat, mungkin ucapanku tidak terdengar jelas karena menciut oleh derasnya suara hujan.
Aku mengikutinya dengan sedikit langkah berlari, baju kami kini basah. Tampak lekukan tubuhku terlihat, terlebih lagi aku mengenakan bra warna hitam yang tampak mencolok. Pandanganku tertuju pada daun - daun yang berguguran. Menutupi bangku taman yang berjarak tidak jauh dari sebuah jalan yang kini sedang aku seberangi.
Tas jinjing yang sedari tadi berada di bahu kiriku kini berpindah di atas kepalaku.
Kami sudah berada di depan pintu masuk kedai itu. Perlahan Surya melepaskan genggaman tangannya. Bangunan kedai kopi cukup moderen dan tidak kalah dengan bangunan di sekitarnya. Di depannya tertulis 'Kedai Kopi Hitam Manis'.
"Mbak, pesan 2 gelas kopi!" Ucapnya seraya memperlihatkan dua jari ke arah pelayan.
"Kamu kan punya maag!" ucapku bukan bermaksud untuk memarahinya, namun mengingatkan.
"Yang penting kan tidak sering - sering!" sahutnya singkat, seraya mengusap rambutnya yang basah.
Ku pandangi wajah suamiku, aku akui kamu memang ganteng banget. Pantas membuat Tiwi dan Tesa kesengsem.
"Kenapa melihatku seperti itu? Hmmm , aku tahu kamu terkesima ya...dengan ketampananku ini!" ucapnya seraya melepas sweaternya.
"Idih...geer deh, siapa juga yang melihatmu!" sahutku sambil membenarkan posisi dudukku.
"Akui saja, Nenek Sihir!" ucapnya sambil menarik hidung mungilku.
"Aduh sakit...!" rutukku, dia malah tertawa lepas. Rasanya begitu damai hati ini, melihat dia tertawa ceria. Senyum mulai merekah di wajahku, meski sedikit sakit, tapi tidak mengapa lah. Tanganku tidak henti - hentinya mengusap hidung bekas tarikan Surya.
Tak lama kemudian, dua cangkir kopi hitam sudah ada di depanku. Surya mencicipi kopinya.
"Dingin," kataku lirih seraya bergetar bibirku. Dan ku peluk erat diriku.
"Sini!" Surya menarik kedua tanganku, menempelkan ke cangkir. Kini tanganku sedikit hangat, tangannya menyelimuti tanganku.
"Hangat!" seruku, dia melepaskan tangannya.
"Ayo, diminum! Mumpung masih panas." pintanya seraya menyeruput kopinya lagi.
Aku mengangguk pelan.
"Surya!" panggilku , dia segera menoleh.
"Hm," Matanya yang tajam dan dagu yang lancip, tidak pakai senyum pun wajahnya memang bikin betah dipandangi lama - lama.
"Seberapa besar cintamu padaku?" Pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulutku.
"Kamu inginnya apa?" Dia berbalik bertanya.
"Kok malah aku yang ditanya?" gerutuku, aku mencibirkan mulutku.
"Nenek Sihir..." ucapnya seraya kedua tangannya mencubit kedua pipiku. Mungkin bagian ini yang menarik baginya. Ya, pipiku yang mulus dan kenyal.
"Aku bukan boneka tahu, seenaknya saja cubit sana , cubit sini, sakit..." keluhku seraya mengelus kedua pipiku.
"Kamu sih, gemes banget!" seolah dia tidak memperhatikan pertanyaanku tadi.
"Ayo dong di jawab?" ucapku manja seraya menghentakkan kedua kakiku. Tampak beberapa penghuni kedai memperhatikan ulahku yang terlihat kekanak - kanakan.
"Apanya?" Tuh, bener kan...dia tidak merespon pertanyaanku tadi.
"Pertanyaanku yang tadi!"
__ADS_1
"Aku lupa, yang mana? Coba kamu ulangi!"
"Tidak ada siaran ulang!" sahutku kesal.
"Radio kali...pakai acara siaran ulang segala." sahutnya seraya menyolek bahuku.
"Hujan sudah reda, ayo kita pulang!" ajaknya.
"Kopiku belum habis." ku angkat cangkirku dan memperlihatkan padanya.
"Buruan, jangan sampai kita kemalaman di sini." ucapnya seraya melihat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Iya," sahutku, tak butuh waktu lama secangkir kopi memenuhi lambungku.
Selesai membayar, kami menuju parkiran mobil, dan baju kami pun sedikit mengering.
"Surya," panggilku lagi, entah mengapa kini aku suka sekali menyebut namanya.
"Apa?" sahutnya sambil menyalakan mesin mobil.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanyaku seraya melepas tali rambutku. Ju biarkan terurai lantaran masih basah.
"Belum tahu," sahutnya singkat. Kini mobil melaju meninggalkan taman.
"Di kantor papa ada lowongan pekerjaan tidak?" tanyaku sekilas teringat Tiwi dan Tesa.
"Kamu mau pindah kerja?" tanyanya, seakan - akan semua pertanyaan yang aku lontarkan tidak dianggapnya.
"Bukan, Tiwi dan Tesa mau melamar kerja." sahutku. Ekspresinya berubah seketika. Mungkinkah dia berharap aku pindah dari kantor Tedi dan berada sekantor dengannya?
"Aku pikir kamu yang ngelamar kerja, hm, nanti dulu, biar ijazah S1-nya keluar."
"Kan masih lama," gerutuku.
"Memang itu prosedurnya."
"Karena kan, aku menantunya."
"Benar juga ya," sesalku, seraya mengusap wajahku sendiri lantaran mendapat jawaban yang tidak aku duga.
Sesampai di rumah.
"Bi Sumi, ini ada sedikit oleh - oleh," ucap Surya seraya memberikan bungkusan keresek. Bi Sumi menerima bungkusan dan bersiap akan pulang.
"Terima kasih Mas Surya....Mas, besok Bibi izin tidak masuk kerja." pamit bi Sumi, pembantu yang bekerja paruh waktu.
"Mau kemana?" tanyaku, setahuku besok bukan tanggal merah.
"Saya mau ke makam suami saya, Mbak."
"Ow...iya Bi, tunggu sebentar." tahan Surya seraya berjalan menuju kamarnya dan kembali dengan amplop cokelat di tangannya.
"Ini gaji bulanan untuk Bi Sumi." Menyerahkan ke bi Sumi.
"Baru beberapa hari bekerja saja sudah gajian, Surya...kamu kok dermawan banget," batinku.
"Kan Bibi belum ada satu bulan Mas, bekerja di sini, kok sudah gajian?"
"Anggap saja rezeki buat Bibi, jangan ditolak!"
"Te...terima kasih Mas."
"Sama - sama Bi, maaf sudah terlalu lama menunggu kami pulang, Tadi kami sempat mampir ke suatu tempat dan kami kehujanan. Jadi, berhenti sebentar di sana untuk berteduh." jelas Surya, bi Sumi manggut - manggut.
Setelah menyerahkan amplop cokelat itu, dia berjalan menuju kamarnya.
"Kalau begitu Bibi pulang dulu, Mbak Tika!"
__ADS_1
"Iya, Bi, hati - hati !" ucapku, seraya melambaikan tangan ke arahnya, meski tanpa balasan.
Aku berjalan menuju kamarku, segera membersihkan tubuhku yang bau asam dan lengket, lalu bersiap untuk sholat magrib.
Ku turuni tangga dengan memakai mukena, lalu langkah kakiku berhenti tepat di depan kamar Surya. Ku ketuk daun pintu kamarnya hingga tiga kali.
Ketukan pertama belum ada sahutan.
Ketukan kedua pun, masih sama.
Ketukan terakhir, masih tetap tidak ada sahutan dari balik kamar, ku putuskan untuk kembali lagi ke kamar.
"Tika," panggilnya seketika itu aku menoleh dan membalikkan tubuhku.
"Masuklah!" perintah dia. Aku segera masuk mengikutinya.
"Aku pikir tadi kamu sudah sholat." ucapku sambil menggelar sajadah di belakangnya.
"Belum, aku baru selesai ambil air wudhu tadi." ucapnya seraya membenahi sarung dan merapikan sajadahnya.
Segera kami sholat berjamaah.
"Assalamualaikum warahmatullah..." pertanda sholat tiga rakaat selesai.
Aku pejamkan kedua mataku, berdoa khusu' pada sang illahi.
"Ya Allah, berkahilah perjalanan suamiku dalam tiap langkahnya. Kuatkan dan lapangkan dadanya, berikanlah dia kesabaran tak terhingga dan jauhkan dari hal - hal yang tidak baik."
"Ya Allah, limpahkanlah karunia-Mu kepada suamiku yang tengah menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga kami sesuai dengan perintah -Mu. Muliakanlah dia sebagai pemimpin kami sesuai dengan perintah -Mu. Muliakanlah dia sebagai pemimpin kami dengan kemudahan jalan baginya di dalam mencari rezeki pemberian -Mu. Ya Allah mudahkanlah segala urusan suamiku. Aamiin."
Belum sempat aku mengusapkan kedua tangan ke wajahku.
Cup...
Satu kecupan hangat mendarat di atas keningku.
"Surya," ucapku saat ku buka mataku.
"Aku mencintaimu karena Allah, dengan begitu, cintamu dan cintaku tak akan pernah mati." ucapnya membuat merah merona pipiku.
Ku tutupi wajahku karena malu.
"Siapkan dirimu malam nanti," ucapnya membuat lunglai tubuhku.
"Apa maksudmu? Mempersiapkan Apa? " tanyaku spontan membuat dia terkekeh.
"Kita kan masih dalam status pengantin baru!" pernyatannya membuat jantungku berpacu cepat melebihi cepatnya kuda berlari.
Aku masih terduduk dalam balutan mukena, terasa kering kerontang tenggorokanku ini. Tidak bisa menimpali lagi ucapannya.
Cup...
Satu kecupan lagi mendarat di pipi kananku.
"Ini ciumanku yang kedua, istriku."
Cup...
Kecupan di pipi kiriku.
"Ini ciumanku yang ketiga, bidadari hatiku."
Cup...
Kecupan di bibirku yang sejak tadi bergetar.
"Ini ciuman yang keempat, sayangku."
__ADS_1
Sudah pasti remuk redam hati ini, terlindas ciuman dari Surya yang menancap di ulu hatiku.