
Menjelang Sore, Tika sudah sadar dan kondisinya sudah membaik. Mantri melepas infus dan mengecek tekanan darah. Selesai dinyatakan sembuh akhirnya dia diperbolehkan pulang.
"Miss Ti, mari ku antar pulang." tawar Reni tanpa mendapatkan penolakan dari Tika. Dia melipat selimut dan membantunya bangun.
"Bagaimana kamu bisa membawaku ke sini?" tanya Tika sambil membenahi rambutnya yang kusut karena berbaring terlalu lama.
"Eh, seorang pria yang mengabariku, katanya kamu ditemukan pingsan di tengah jalan. Aku begitu panik, setelah mendengar kabar itu aku langsung ke sini." jelas Reni sambil membantu merapikannya.
"Seorang pria? Siapa?" Tika mengerutkan dahinya, betapa baiknya pria itu membawa dia ke sini. Membayangkan pria yang sama dengan kemarin yang menolongnya dari pencopet waktu itu.
"Dia bilang namanya Surya, dia juga menolak uang ganti rugi yang ku berikan." jelas Reni membuat Tika membelalakkan matanya, tidak percaya bahwa Surya yang membawanya ke sini. Apakah Surya yang dimaksud Reni adalah Surya suaminya atau Surya yang lain? Mengapa begitu banyak nama Surya di dunia ini? Tika berniat untuk mencari tahu sendiri pemilik nama Surya itu.
"Dia memakai topi?" tukas Tika, berharap pemilik nama Surya kali ini adalah pria yang menolongnya tempo hari.
"Benar Miss, bagaimana kamu bisa tahu?" Tika tersenyum puas tanpa perlu menjawab, ternyata yang menolongnya pria bertopi waktu itu. Dia sudah menolong untuk yang kedua kali. Tika senyum- senyum sendiri, sadar akan tingkahnya diperhatikan Reni, dia mengalihkan pembicaraan.
"Apakah kamu sudah mengantar gaun pengantin ?" Reni panik dengan pertanyaan Tika, dalam keadaan baru sembuh saja dia masih ingat dengan pekerjaan. Apa jawabnya jika belum, apa Miss Ti akan memecatnya lantaran tak menepati janji.
"Be...belum, Miss." sahut Reni melas dan sedikit takut. Siap-siap dia mendengar.
"Heh...." menghembuskan nafas dengan kasar, tapi dia tak bermaksud menyalahkan Reni.
Hanya desahan saja yang ia lontarkan membuat Reni salah sangka. Dia berpikir Tika akan memecatnya, "Sungguh negatif sekali pikiranku. "batin Reni.
"Maaf, Miss. Tadi aku panik setelah pria bernama Surya itu menelponku, dan mengabarkan tentang keadaanmu. Jadi, aku belum sempat mengantar gaunnya."
"Ya sudah, biar besok aku saja yang mengantarnya." ucap Tika.
"Jangan Miss, aku saja. Aku yang telah lalai dalam mengemban tugas."
"Kamu bilang pembeli itu ingin bertemu denganku kan?" Reni mengangguk mengiyakan pernyataan Tika.
Reni mengantar Tika pulang ke rumah. Sesampai di rumah menjelang magrib. Selesai makan malam yang tadi dibelikan Reni, Tika merebahkan tubuhnya di atas kasur, betapa nyaman nya tempat itu. Di tata nya dengan rapi bantal yang setiap harinya ia pakai. Melipat kedua tangan dan menatap langit - langit. Dia menghayal tentang kebersamaan dengan Surya saat pertama kali bertemu dulu. Dia juga senyum - senyum sendiri dan akhirnya tertidur lelap, mungkin efek dari obat yang baru saja ia minum.
Pagi sekali Tika sudah bangun dan bersiap pergi ke butik. Tubuhnya sudah bugar kembali, tak dirasakan pusing atau meriang lagi. Seperti biasa dia memesan taksi online, untuk menuju ke butik membutuhkan waktu 45 menit.
__ADS_1
Dengan kunci cadangan Tika membuka pintu butik, mengambil tas berisikan marmaid wedding dress milik pembeli yang memesan 5 hari yang lalu. Berharap kali ini pelanggan puas dengan desainnya. Dia membuka ponsel mencari alamat pembeli yang baru saja Reni share alamatnya. Mencari kontak nama.
"Dewi, " Gumam Tika, mengingat nama pembeli sama dengan nama teman kampusnya dulu.
Tanpa berpikir panjang, saat taksi online sudah tiba dia menuju alamat tersebut.
***
"Surya, ada yang ingin aku tanyakan padamu?" tanya Dewi saat di meja makan.
"Ya silahkan! Tentang apa?" sahut Surya yang mulai selesai sarapannya. Dia membersihkan sisa makanan di mulutnya. Menghabiskan segelas air putih dan mulai menyimak.
"Tentang pernikahan kita." bik Sumi mendelik mendengar Dewi membahas tentang pernikahan.
"Kamu benar sudah siap kan?" tanya Dewi, belum sempat Surya menyahut Bik Sumi mendahuluinya.
"Walah, pasti Surya sudah mantap kan. Jadi tidak perlu ditanyakan lagi siap atau tidak." tukas Bik Sumi , sorot matanya fokus dia arahkan ke Surya.
"Dewi ingin mendengar ucapan Surya secara langsung Buk? Sudah mantap kah dia?"
"Sebenarnya saya ingin mencari jatidiri saya dulu, Bik!" sahut Surya yang mulai berani untuk menyampaikan unek-uneknya selama ini dia pendam. Semenjak pertemuan dengan wanita yang berada di dalam mimpinya itu, dia mulai berubah.
"Alah...buat apa nyari jatidiri segala! Kamu tuh sudah ditolong, tinggal bilang setuju aja susah banget. Kan dulu kamu sudah bersedia mau menikah sama Dewi!" Bik Sumi rada emosi, mulut nya yang pedas membuat Surya menyadari betapa miskinnya dia.
"O...ternyata Ibuk yang meminta, aku kira itu kemauan Surya sendiri. Jadi, kamu mau menikah denganku karena di suruh Ibuk?" Dewi menatap tajam Surya, mencari kebenaran dari matanya.
"Tenang, Dew. Aku bersedia menikah denganmu kok. " sahut Surya mencoba menenangkan Dewi, lantaran dia tahu kalau keinginannya di tolak bisa- bisa acara bunuh diri bisa dilakukannya beneran. Dia tidak ingin ada korban dari keputusan yang entah ini benar atau salah.
"Karena terpaksa?" desak Dewi, membuat gelagapan untuk menjawab. Surya memilih untuk diam.
"Sudah Wi, kamu nurut aja dengan rencana Ibuk. Sudah pasti kamu akan menikah dengan Surya bulan depan!"
"Tapi, Dewi mau Surya menikahiku karena cinta bukan paksaan."
"Surya, katakan pada Dewi kalau aku tak memaksanya!" Surya masih terdiam.
__ADS_1
"Surya..." Dewi memanggilnya, Surya berdiri sambil menatap ke arah mereka berdua.
"Bik Sumi benar, aku telah berhutang budi karena kebaikan kalian. Kalian menolong dan merawatku dengan baik. Kalian sudah ku anggap sebagai keluargaku. Sebelum menikahi Dewi, izinkan aku untuk bekerja. Mencari penghasilan sendiri, dengan begitu aku bisa melunasi hutangku."
"Hutang! Hutang apa yang kamu maksud?" Dewi menjadi bingung dengan sikap Surya yang mendadak berubah.
"Bagus kalau kamu bekerja, bisa nambah pemasukan sehari- hari!" timpal Bik Sumi.
"Aku akan mulai bekerja hari ini," ucap Surya sambil beranjak pergi menuju pintu, Bik Sumi dan Dewi saling menatap. Dengan begitu aku bisa ke luar rumah tanpa harus sembunyi - sembunyi, pikir Surya.
"Tunggu!!" tahan Dewi, dan berjalan mendekati Surya.
"Untuk apa kamu melakukan ini?" Dewi mulai berurai air mata. Tak terima Surya ke luar rumah.
"Aku jenuh di rumah terus. Jujur hidup di sini bagai penjara buatku. Aku ingin bebas!" Dewi tersentak dengan pemberontakan Surya. Mengapa Surya bisa seberani ini.
"Aku kira kamu senang dengan keputusanku. Baik, aku izinkan kamu bekerja. Tapi, dengan satu syarat." Dewi mengusap pipinya yang basah dan melepas kacamatanya.
"Apa?"
"Nikahi aku besok!"
"Tidak secepat itu. Aku belum siap. Mengapa kamu terus memaksakan kehendak mu tanpa memikirkan perasaan orang lain?"
"Ini bukan paksaan, bukankah kamu selama ini mencintaiku?"
"Iya, sayang...tapi aku ingin mencari uang dengan keringatku sendiri. Please...izinkan aku bekerja!" ucap Surya meyakinkan.
"Kamu mau bekerja apa?"
"Terserah, yang penting halal."
"Baiklah, kamu boleh bekerja."
Setelah mendapatkan izin dari Dewi, Surya bergegas pergi mencari pekerjaan lain. Karena hari ini tempat bekerja sebagai kuli panggul libur dia berniat mencari kerja ke kota.
__ADS_1
Sebelum Dewi, Surya dan Bik Sumi melanjutkan aktifitasnya masing - masing, mereka bertiga dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita.