
Bu Desy menuju dapur.
"Jeng, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya bu Tasya heran saat melihat besannya sedang mencuci piring.
"Saya mau mencuci piring yang kotor, Bu..." sahut bu Desy.
"Kita adalah besan. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan ini. Biar pembantu yang membereskan urusan dapur. Mari ikut saya!" pinta bu Tasya. Mereka berdua menuju taman.
"Saya berencana untuk membelikan rumah baru untuk Tika dan Surya." mendengar perkataan bu Tasya, bu Desy merasa berat jika berpisah dengan Surya.
"Saya..."ucap bu Desy terputus.
"Jeng tidak perlu khawatir, Jeng bisa tinggal di rumah baru mereka nanti."
"Benarkah...oh, terima kasih Bu, saya memang tidak sanggup hidup sendiri tanpa Surya. Sejak ayahnya meninggalkan kami, Surya telah lama mengobati sakit di hati saya yang begitu berat." bu Desy berkaca - kaca, raut wajahnya yang tadinya muram kini berseri - seri.
"Iya, saya paham. Tapi, misalkan mereka ingin menjalani kehidupan rumah tangga hanya berdua saja. Tidak mengapa bukan..."
"Saya menurut saja, asalkan mereka bahagia."meneteskan air mata, tanpa di sadari air mata itu semakin deras.
"Jeng, mereka sudah dewasa. Sudah sepantasnya mereka mencoba hidup mandiri. Nanti kalau Jeng kangen dengan Surya, Jeng nanti saya antar ke rumahnya." mencoba menenangkan dan memeluk dengan lembut.
"Kenapa Bu Desy menangis. Apa yang kamu katakan, Ma? " tanya pak Andik ketika melihat istri dan besannya berpelukan. Bu Tasya melepaskan pelukannya.
"Mama hanya mengatakan tentang rumah baru yang akan ditempati Surya dan Tika,Pa." sahut bu Tasya seraya menepuk pundak bu Desy agar berhenti menangis. Bu Desy mengusap pipinya dan mulai menenangkan dirinya.
"Bu Desy tidak usah bersedih dan khawatir. Bagaimana kalau Bu Desy dan adiknya Surya tinggal bersama kita. Kan rumah kita besar, dan malah bagus kalau ramai. " ucap pak Andik mencoba menghibur dan berharap besannya menyetujui sarannya.
Bu Desy menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan pelan, "Saya terserah Pak Andik dan Bu Tasya saja. "
Sementara di aula.
"Tika, ayo makan!" ajak Surya seraya menyodorkan sepiring nasi berukuran jumbo, dengan menu sate, mie goreng dan ayam goreng serta sepucuk sambal di pinggir dengan dua sendok makan.
"Kamu pikir aku ini raksasa apa! Disuruh makan begitu banyak!" ucap Tika geram.
"Siapa yang bilang kamu raksasa?" Surya menimpali.
"Meskipun kamu tidak mengatakannya, ini terlihat jelas." menunjuk ke piring berukuran jumbo yang disodorkan Surya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menghabiskan ini semua. Tidak ada kan..." ucap Surya dengan kesal dan jengkel.
"Hmmm...ini kesempatan bagus untuk mengerjai dia, mulai dari hal kecil dulu." batin Tika.
"Aku mau makan, asal kamu yang menyuapiku!" pinta Tika sedikit manja dan menjalankan aksinya.
"Ok...!" sahut Surya tanpa penolakan.
"Kok dia malah senang kalau aku suruh menyuapi, dia bisa menolaknya kan...atau marah." batin Tika, dia tak menyangka kalau Surya menyanggupi perintahnya.
"A...ak" Surya menyuruh Tika membuka mulutnya lebar - lebar. Tika menurut tanpa berpikir panjang. Dengan telaten Surya menyuapi Tika sampai beberapa kali suapan. Dan saat suapan terakhir, Surya menjahilinya.
"Uhuk...uhuk...uhuk...!" Tika tersedak saat mengunyah.
"Pedas, pedas, minum, ambilkan aku minum!"
perintah Tika sambil menjulurkan lidah seraya mulutnya menganga karena bibirnya terasa panas dan pedas.
"Rasakan nenek sihir. Ini baru permulaan, tunggu episode berikutnya. Ha...ha...ha...!" batin Surya seraya menahan tawanya melihat mulut Tika saat monyong.
__ADS_1
"Ini," menyerahkan segelas air putih, dan dengan cepat Tika meneguk air itu sampai gelas itu kosong.
"Kamu mengerjaiku ya!" Tika melotot seraya berkacak pinggang, dia sesekali mendesah karena masih terasa pedas. Tika memang tidak suka makanan pedas.
"Tidak, nih aku saja tidak merasakan pedas." Surya membuktikan dengan memasukkan makanan ke mulutnya, sehingga bicara Surya tidak begitu jelas karena mulutnya penuh dengan nasi.
"Awas kamu ya, akan aku balas nanti!" teriak Tika.
"Wek!" Surya menjulurkan lidahnya dan segera melahap makanan sisa dari Tika tadi. Tika merasa heran dengan apa yang dilakukan Surya.
"Kamu tidak jijik ya, itukan bekas makananku..." ucap Tika seraya mengernyitkan dahinya. Surya hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan makanannya.
Tika tergiur juga dengan melihat cara makan Surya yang begitu lahap.
"Sepertinya enak, sini ! Beri aku 3 tusuk sate!" pinta Tika dengan tangan menengadah ke arah Surya.
"Pedas, kamu tidak akan doyan." elak Surya.
"Dasar pelit." Tika cemberut, Surya tak menghiraukannya. Dengan segera dia menghabiskan makanannya dengan cepat karena sangking laparnya.
Selesai makan siang keluarga besar pak Andik berpamitan dengan keluarga Sigit untuk minta izin pulang . Sekitar 3 jam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Bang Soleh yang mengemudikan mobil, dan duduk bersebelahan dengan Surya.
"Bang Soleh sudah menikah ?" tanya Surya memulai percakapan.
"Sudah Mas..." sahutnya sopan.
"Berapa anak Bang Soleh?"
"Dua Mas..." sahut Soleh dengan menunjukkan dua jarinya.
"Umur berapa?"
"Yang besar umur 11 tahun dan yang kecil umur 5 tahun."
Surya mengobrol banyak dengan bang Soleh sampai tak terasa mobil berhenti di halaman rumah yang besar dan mewah, inilah kediaman keluarga pak Andik.
Bang Soleh turun terlebih dahulu dan membukakan pintu majikannya.
"Surya, anggap saja seperti rumah sendiri dan tidak usah sungkan." ucap pak Andik saat masuk ke dalam rumah, Surya mengangguk pelan.
"Bu Desy sama Anis, kalau butuh sesuatu atau ada apa - apa bilang saja tidak usah sungkan. Mari , saya antar ke kamar kalian." ucap bu Tasya seraya pergi menuju kamar tamu diikuti bu Desy dan Anis.
Mereka bertiga menuju kamar tamu yang dekat dengan dapur.
"Wah, kamarnya besar dan luas. Aku suka kamar ini." ucap Anis dengan sikap polosnya seraya merebahkan diri di atas kasur.
"Anis yang sopan!" ucap ibunya seraya duduk di pinggir kasur.
"Tidak apa - apa , Jeng. Silakan beristirahat dulu di kamar ini. Saya akan menyiapkan makan malam dulu." ucap bu Tasya.
"Saya bantu. Bu..." Bangkit dari duduknya.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri, Jeng beristirahat saja sebentar." pinta bu Tasya dengan sopan lalu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
Sementara di ruang tamu.
"Tika, ajak Surya beristirahat di kamarmu!" perintah pak Andik lalu pergi menuju kamarnya yang bersebelahan dengan ruang tamu.
Tika masih terdiam, sementara Surya celingukan memandangi isi rumah.
__ADS_1
"Aku bisa berjalan sendiri." ucap Tika sambil menepis tangan Surya yang sejak tadi memapahnya, dia naik ke atas tangga dengan sedikit pincang, diikuti dengan Surya. Tika membuka pintu kamarnya belum sempat dia masuk, Surya sudah menerobos masuk dan rebahan di atas kasur Tika.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa beristirahat sekarang. Tika, kasurmu empuk." merentangkan kedua tangannya sambil menggerakkan ke atas dan bawah, menikmati betapa empuknya kasur itu dan sambil memejamkan matanya.
"Dasar cowok kampungan! " gerutu Tika. Tika berjalan menuju meja riasnya, melepas sanggul dan aksesoris lainnya. Setelah bagian kepala selesai dia mulai melepas baju kebayanya. Tika menuju lemari untuk mengambil baju ganti dan melewati Surya yang masih terpejam.
Saat Tika sudah menanggalkan kebayanya hanya mengenakan bra nya saja, dia teringat sekarang kalau di kamar itu dia tidak sendiri.
"Kamu punya tahi lalat di punggung..." ucap Surya seraya memiringkan tubuhnya ke arah Tika.
"Akh...!" teriak Tika."Sejak kapan kamu melihatku..." Tika dengan cepat memakai baju baby doll nya.
"Sejak tadi, " sahut Surya enteng dengan senyum lebar, lantaran senang dapat pemandangan gratis.
" Dasar cowok mesum !" Tika menghampiri Surya, mengambil guling dan memukulinya berulangkali.
"Ampun nenek sihir, ampun..." Surya merengek seraya tertawa lepas. Tangannya meraih Tika dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Surya berada di atas tubuhnya. Tangan Surya menindih tangan Tika. Pandangan mereka saling bertemu.
"Jantungku kambuh lagi, dag dig dug dear tidak karuan. Apa yang akan dia lakukan terhadapku. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh setiap inci dari tubuhku. Meskipun dia berhak untuk itu tapi, aku tidak mau. Aku benci dia." batin Tika.
"Jangan macam - macam denganku! " ucap Tika seraya melotot lalu meniup mata Surya dengan keras.
"Nenek sihir, tubuhmu bau..." ucap Surya seraya mengenduskan hidungnya lalu bangkit berdiri.
"Biarin," seraya mencium kedua ketiaknya lalu mengernyitkan dahi dan menahan bau tubuhnya.
" Masa cewek cantik bau ketiak. Jadi cewek tuh yang wangi..."ledek Surya.
" Tok...tok...tok!" Suara pintu di ketuk. "Tika, Surya, ayo turun , kita makan malam dulu!" ucap bu Tasya dari balik pintu.
"Iya, Ma!" sahut Tika dan Surya bersamaan. Sebelum mereka berdua turun dari kamar, mereka mandi terlebih dahulu. Selesai mandi mereka berdua bergegas turun lalu makan malam bersama. Selesai makan malam mereka kembali ke kamar.
"Surya, ada yang ingin aku sampaikan padamu tentang pernikahan ini." ucap Tika memulai pembicaraan seraya naik ke atas kasur dan duduk disebelah Surya.
"Katakan," ucap Surya tanpa memandang Tika, dia sibuk memainkan handphonenya, menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Jangan beritahukan pernikahan ini ke semua orang!"
"Kenapa??" melihat ke arah Tika dengan heran dan tanda tanya besar.
"Aku tidak mau kalau ada orang lain tahu kita sudah menikah. Nanti kalau ada yang bertanya padamu , bilang saja kalau aku ini majikanmu. Termasuk teman - teman kita di kampus." jelas Tika, sontak permintaan Tika menyakiti hati Surya. Ternyata keberadaannya tak diakui sebagai seorang suami melainkan pembantu.
"Jadi, kau anggap aku ini pembantu ya..." Surya terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Ya begitulah..." sahut Tika seraya mengangkat kedua bahunya.
"Aku bersedia menerima permintaanmu ini, asalkan..."
"Asalkan apa..."
"Kamu, mencabut pernyataan tentang aku ingin memperkosamu saat di kamar mandi waktu itu di kampus. Dan katakan ini sebenarnya pada rektor, agar namaku kembali bersih." ucap Surya tegas.
"Baik aku setuju."
"Deal..." mereka berdua berjabat tangan.
"Aku sangat lelah dan mengantuk." Surya menguap lebar lalu melepas kaosnya dan hanya telanjang dada.
"Apa yang kamu lakukan?" Tika menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa seperti ini kalau tidur. Kalau kamu tidak suka, jangan dilihat." omel Surya. Tika masih terduduk dengan wajah tertutup bantal.
"Aku benci cowok ini."