
"Aku tidak bisa tidur, gara - gara cowok kampungan disebelahku. Enak sekali dia, tidur begitu lelapnya. Ini kamarku, seharusnya aku yang berkuasa di sini. Ih, apa itu...nongol di celananya. " batin Tika seraya mengamati Surya yang terlelap.
"Surya, bangun!" Tika menggoyangkan tubuh Surya, perlahan Surya membuka matanya dengan terpaksa.
"Apa? Aku masih ngantuk." ucapnya dengan mata sedikit terpejam dan merubah posisi tidurnya dengan menelungkup.
"Buatkan aku mie, aku lapar." rengeknya sambil mengguncangkan tubuh Surya dengan keras, membuat dia terpaksa bangkit.
"Hedeh, ini cewek rakus amat. Tadi kan sudah makan, masa malam begini minta makan." Bangun dan melihat jam dinding yang menunjukkan jarum pendek diangka 2.
"Antar aku ke dapur!" pinta Surya seraya mengenakan kaos, Tika mengangguk, mereka menuruni tangga menuju dapur. Ternyata misi Tika yang kedua berhasil.
Saat di dapur Tika menarik kursi sebagai pijakan untuk membuka laci lemari yang kebetulan cukup tinggi. Surya terdiam sambil melihat ulah Tika yang sedang mencari mie instan. Tiba-tiba saya tubuh Tika oleng dan dengan sigap Surya menangkap tubuh istrinya.
"Eist...lepaskan aku!" teriak Tika sambil memegang satu bungkus mie. Sontak Surya melepaskan pegangannya.
"Hedeh, ditolong malah marah-marah dasar nenek sihir!" maki Surya.
"Nih, mienya. Nggak pakai sambal and nggak pakai lama, titik." omel Tika menyerahkan bungkus mie lalu duduk di kursi yang ia buat pijakan tadi.
"Iya, ya bawel." celetus Surya sambil menerima bungkus mie itu.
Surya menyalakan kompor dan memanaskan air, dengan lihai dan cekatan dia membuat mie instan untuk Tika. Setelah matang Surya menyuguhkan kepada istrinya semangkuk mie kuah. Tika pindah ke meja makan dan Surya mengantarnya ke sana.
" Ini, nikmati selagi panas . Bubuk cabenya belum aku tuang. Kamu bisa menakarnya sendiri." ucap Surya lirih seraya menguap.
"Hemmm...dari aromanya sepertinya enak! Kamu pandai memasak rupanya. Tidak sia - sia aku jadi istrimu." meniup mie yang masih mengepul dan pelan-pelan ia memakannya. Surya terdiam tak menyahut, dia tak tahan menahan kantuk, matanya terpejam dan kepalanya dia sandarkan ke atas meja. Dia tertidur di meja makan.
Selesai menghabiskan semangkuk mie kuah itu, Tika bergegas berjalan jinjit menaiki tangga menuju kamarnya.
"Akhirnya, aku bisa menguasai kasurku lagi." ucap Tika sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sampai sedikit terpental tubuhnya, lalu dia memejamkan mata karena terlalu kenyang akhirnya dia tertidur pulas.
Adzan subuh berkumandang.
"Surya!" panggil pak Andik seraya menepuk bahu Surya.
"Iya, Pa. " Surya terperanjat lalu berdiri.
"Kamu ngapain tidur di sini. Kamu lapar semalam sampai - sampai bisa tidur dengan posisi begini." ucap pak Andik seraya merapikan kopiahnya.
" Sialan, Tika mengerjaiku semalam. Awas, kamu nenek sihir akan aku balas nanti." batin Surya geram sambil mengepalkan tangan.
"Iya, Pa . Semalam Surya tidak bisa tidur." sahut Surya bohong.
" Ya sudah, ini sudah subuh, cepat sana wudhu, dan ikut saya ke masjid!" pak Andik melangkahkan kaki menuju masjid, yang hanya berjarak 50 meter dari rumah Tika.
"Baik Pa, Surya ke atas dulu." pamitnya lalu dia
menaiki tangga, sesampainya di depan kamar, dia membuka pintu pelan-pelan. Saat melewati Tika, Surya mengambil celak hitam yang berada di meja rias Tika.
"Nih, aku kasih hadiah buat kamu." melukis bintik - bintik hitam di area pipi dan jidat. Sangking lelapnya tidur Tika tak merasakan apapun.
Selesai wudhu, Surya berjalan jinjit mengambil sarung dan bajunya yang masih berada di dalam koper lalu bergegas keluar kamar dan menemui pak Andik yang sejak tadi menunggu di halaman depan.
Anis dan ibunya setelah mendengar adzan subuh juga segera bangun.
Anis menggeliatkan tubuhnya sambil menatap ibunya.
"Bu, Anis mau sarapan nasi goreng buatan Ibu." rengek Anis.
" Iya, nanti ibu buatkan, selesai sholat nanti kamu bantu ibu di dapur ya..." sahut bu Desy.
Anis mengangguk lalu pergi ke kamar mandi.
Sementara di kamar Tika.
"Tenggorokanku kering." Tika mengelus lehernya lalu bangun dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Sesampainya di dapur Tika berjumpa dengan adik iparnya.
"Ha...ha...ha..." Anis keluar dari kamar mandi dan mendapati Tika yang menuju ke dapur.
Tika tak merespon, karena risih melihat Anis mentertawakannya Tika berhenti sebelum ke dapur.
"Ada apa? Kenapa kamu mentertawakanku?" tanya Tika tidak mengerti.
"Wajah kakak lucu," seraya menunjuk ke pipi Tika.
"Apanya yang lucu," Tika mengelus pipinya, sepertinya dia semalam tak memakai apa-apa sebelum tidur.
"Coba kakak lihat wajahnya di cermin." menunjuk ke cermin yang terletak di samping dapur. Tika bergegas melihat wajahnya di cermin.
"Akh...!" teriak Tika histeris, membuat seisi rumah berhamburan keluar menuju dapur.
"Ada apa Tika...kenapa kamu pagi buta begini sudah ribut." tanya bu Tasya kaget.
"Lihat wajahku." menghadap ke arah bu Tasya. Sontak bu Tasya tertawa terpingkal - pingkal melihat wajah putrinya.
"Ini pasti ulah Surya, awas kamu Surya. Aku benci kamu. Aku akan balas kamu nanti." batin Tika geram sambil mengepalkan ttinju.
Selesai minum Tika bergegas menuju kamarnya. Mandi dan segera sholat.
Sementara di masjid.
"Siapa tamu Pak Andik ini?" tanya salah satu warga yang ikut sholat berjamaah .
"Oh...dia adalah..." belum selesai mengatakan Surya mendahuluinya.
"Saya sopir pribadinya non Tika." sahut Surya.
Pak Andik kaget mendengar jawaban Surya yang mengaku sebagai sopir Tika, sepulang dari masjid pak Andik menghentikan langkahnya saat sampai di depan halaman.
"Mengapa kamu mengatakan kalau kamu sopir Tika?" tanya pak Andik tak terima Surya berkata demikian.
"Tapi, aku tidak setuju dengan sikap Tika. Dia harus diberi pelajaran. Kamu sekarang suaminya, kamu berhak atas dirinya. Papa minta padamu untuk mendidik dia agar menjadi istri yang solehah. Papa yakin dengan seiringnya waktu cinta diantara kalian akan bersemi." ucap pak Andik.
"Iya, Pa. Surya akan mencobanya. Hari ini Surya sudah boleh kerja kan..." Surya mengalihkan pembicaraan.
"Tentu, nanti di kantor ada berkas yang harus kamu pelajari."
"Baik, Pa." sahut Surya sambil melepas pecinya.
Mereka berdua masuk kamar dan menuju kamar masing - masing.
Surya masuk ke kamar dan tak mendapati istrinya di sana.
"Ke mana perginya nenek sihir ya, apa dia bisa bangun pagi?" batin Surya lalu merebahkan tubuhnya ke kasur yang sangat menggoda itu. Dan akhirnya dia tertidur. Tika yang baru saja selesai joging masuk ke kamarnya, melihat Surya yang tertidur pulas terbesit dalam benaknya untuk menjahilinya. Tika mengambil lipstik dan memoleskan ke bibir Surya. Saat bangun Surya merasakan bibirnya sedikit lembab dan lengket, karena merasa risih dia mengusap bibirnya dan melihat tangannya merah. Surya bergegas melihat ke cermin.
"Akkh...ini pasti kerjaan si nenek sihir itu. Awas kamu!" Surya menuju kamar mandi dan segera mandi.
Saat di ruang makan.
"Selesai sarapan kalian berdua papa ajak untuk melihat - lihat rumah baru kalian." ucap pak Andik di seka-sela makan pagi.
"Rumah baru, Pa..." Tika sedikit kaget seraya melahap nasi goreng buatan bu Desy yang tinggal satu sendok.
"Iya, kalian berdua mulai hari ini belajar untuk hidup mandiri." ucap pak Andik menegaskan.
"Terus, masalah pekerjaan bagaimana? Tika juga ingin kerja. Tapi, Tika tidak mau satu kantor dengan Surya." ucap Tika.
"Kamu mau kerja apa,Tik. Di rumah saja, belajar masak atau cari kesibukan yang lain. Ingat, kamu sudah menikah dan laksanakan kewajibanmu sebagai seorang istri." perintah papanya.
"Percuma dong Tika kuliah kalau tidak kerja." sahut Tika sambil memanyunkan bibirnya.
"Kuliah itu tujuannya untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan." sahut Surya sambil mencibirkan mulut ke Tika. Tika menirukan gerakan bibir Surya.
__ADS_1
"Kamu betul Surya, Mama setuju denganmu." ucap bu Tasya. Tika mencibirkan mulutnya lagi.
"Bagaimana dengan sekolah Anis, Mas....Sudah kemarin Anis izin." tanya Anis seraya membantu bu Desy membereskan peralatan makan. Surya terdiam, belum memikirkannya.
"Rencananya Bu Desy sama Anis akan tinggal di rumah ini. Jadi, bisa berangkat sekolah dari sini. Jeng setuju kan..." ucap bu Tasya sambil membantu membawa piring kotor.
"Tapi, Bu...saya tidak enak kalau hanya menumpang saja di rumah ini. Saya ingin kembali bekerja."
"Bu Desy bisa masak..." tanya pak Andik, bu Desy mengangguk.
"Bagaimana kalau Bu Desy membuka warung saja. Nasi goreng buatan Bu Desy enak. Saya jamin laku keras." lanjut pak Andik.
"Mama setuju, Pa. " ujar bu Tasya diikuti dengan Tika dan Surya.
Selesai sarapan Tika mengemasi pakaiannya dan bergegas menuju mobil. Bang Soleh melajukan mobilnya menuju perumahan yang besar dan memiliki halaman luas. Tempat yang akan dihuni pengantin baru.
"Tika, kamu pergi lihat - lihat isi rumah dulu. Papa dan Surya akan ke kantor sebentar." Pak Andik keluar lebih dahulu. Tika berjalan menuju lantai atas tampak kamar tidur lengkap dengan kamar mandi, berjalan menyusuri tangga menuju ke bawah, dan mendapati Surya belum pergi.
"Kamu belum pergi juga," ucap Tika jutek.
"Kan aku belum salim ." sahut Surya datar
seraya menyodorkan tangan kanannya.
"Haruskah..." Tika mengernyitkan dahinya, Surya mengangguk seraya tersenyum tipis.
Tika menghampiri Surya dan menyalaminya.
"Dicium dong, kalau salim!" tegur Surya seraya menyodorkan tangannya kembali.
"Iya...ya... " seraya mengulanginya kembali.
"Tunggu kejutan dariku nanti malam." bisik Surya seraya bergegas pergi.
Deg...mendadak jantung Tika berdetak kencang seperti drum yang ditabuh ribuan kali.
"Apa, apa yang barusan dia katakan? Apakah dia akan meminta haknya. Aku belum siap untuk menyerahkan tubuhku, tidak ada ikatan cinta diantara kami. " batin Tika, pikirannya melayang tidak karuan. Lalu dia bergegas membawa kopernya dan meletakkan semua pakainya di lemari.
"Apa yang bisa aku lakukan di rumah sebesar ini. Tidak ada pembantu, haruskah aku membersihkan rumah sendirian. " gerutu Tika seraya berjalan menuju halaman belakang.
"Ada kolam..." bergegas Tika melepas semua pakaiannya dan menceburkan tubuhnya.
"Seger..." berenang sampai tak terasa hari hampir siang.
"Assalamualaikum...kemana Tika, kok pintunya tidak dikunci. " masuk dan menaiki tangga "Di kamar tidak ada, atau mungkin..." Surya berjalan menuju halaman belakang.
Saat di dekat kolam renang Surya mendapati istrinya lagi berendam.
"Akh....Dasar mesum. Apa yang kamu lihat." mencipratkan air ke arah Surya.
"Aku pikir tadi kamu kemana, pintu depan tidak kamu kunci. Nanti kalau ada kucing garong masuk, bisa diterkam kamu." Surya merasa geli melihat Tika yang hanya mengenakan bra dan CD.
"Kamu kucing garongnya." sahut Tika seraya menutupi badan dengan kedua tangannya.
"Ayo makan siang, ku bawakan gurame bakar kesukaanmu." ucap Surya seraya melangkahkan kaki menuju dapur.
Dengan segera Tika ke luar dari kolam, bergegas berpakaian.
"Aku ganti baju dulu, awas jangan ngintip!" Tika berjalan menuju kamarnya. Tika menemui Surya dengan rambut yang masih basah.
"Disuapi lagi tidak..." tanya Surya seraya menyiapkan gurame bakar lengkap dengan nasi.
"Mau, tapi nanti aku kamu kerjain lagi seperti kemarin."
"Bawel...cepat aku juga lapar banget nih," tukas Surya seraya menyingsingkan lengan bajunya. Tika membuka mulutnya lebar - lebar. Surya menyodorkan tangannya dan hampir masuk ke mulut Tika tapi, dengan cepat Surya melahapnya sendiri.
"Surya...! Aku benci kamu!" teriaknya. Surya terkekeh melihat istrinya marah.
__ADS_1
"Kamu semakin cantik kalau marah." Tika merona pipinya.