Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Wedding Dress


__ADS_3

Malam pun tiba, hanya suara jangkrik yang ramai menghiasi kesendirian Tika. Dia berjalan menuju ayunan kayu, dengan mengenakan jumper untuk menghangatkan kulitnya dari gesekan angin malam. Dia duduk menopang dagu sambil mengingat kejadian sore tadi.


"Aku merasa pria bertopi itu kamu ( Surya). Bagaimana bisa orang yang telah mati bisa hidup kembali? Atau...orang yang berada di kuburan itu bukan kamu melainkan orang lain. Hmmm, bisa jadi seperti itu. Atau dia punya saudara kembar? Tidak mungkin." Tika mengusap kasar wajahnya, pikirannya kini tertuju pada pria bertopi yang menolongnya tadi.


"Akhhhh...seperti mau pecah rasanya kepala ini. Aku harus mencari tahu siapa pria bertopi itu. Mungkin dia tinggal disekitar tempat saat aku kecopetan tadi. Bagaimana caranya agar bisa bertemu dia lagi? Ya, itu kalau ketemu. Kalau tidak?" pertanyaan bertubi - tubi muncul tak karuan.


"Dia bahkan tak menolak saat aku sentuh bibirnya. Rasanya dia menikmati ciumanku. Jika aku bertemu lagi denganmu aku tak kan membiarkanmu lolos lagi." Gumam Tika sambil tersenyum nakal, lalu dia bangkit dari ayunan dan masuk ke dalam rumah berniat menyelesaikan misinya.


Mendadak mobil hitam masuk pekarangan dengan membunyikan klakson. Pengendaranya selalu aktif datang ke sini tanpa diundang. Membuat pemilik rumah merasa jengkel dibuatnya. Niatnya baik sih, tapi waktunya itu lo, selalu kurang tepat.


Pria berwajah mesum datang dengan senyum-senyum sendiri.


"Malam Tika, nih aku bawain batagor kesukaanmu." ucap Tedi saat di depan pintu sambil menunjukkan dua bungkus sterofom berisi batagor.


"Ba...batagor," sahut Tika terbata, dia teringat lagi akan Surya, pernah saat itu dia makan batagor bersama untuk pertama kali.


"Iya, aku tahu ini makanan kesukaanmu kan?" Tedi nyelonong masuk tanpa dipersilahkan.


"Ka...kamu, siapa yang menyuruhmu masuk?" Tika melotot.


"Kan, aku mau makan bersamamu." Tedi duduk di sofa dan meletakkan dua bungkus makanan di atas meja kaca. Dia membuka salah satu bungkus dan hendak menyantapnya.


"Ayo, keluar kamu! Dikira kita pasangan mesum nanti." Tika menarik lengan Tedi, dan tentu saja batagor yang tadi hendak masuk ke mulutnya jatuh berserakan. Tedi muram.


"Tuh kan, jatuh. Kamu sih, lagi enak-enaknya mau makan ditarik-tarik tanganku."


"Biarin," melepaskan tangannya dan melipat kedua tangan ke dada sambil memalingkan wajah.


"Kamu cantik deh kalau marah." Tedi berdiri mendekati Tika. Mulai menggoda, namun selalu nihil.


"Apaan sih, sana cepat pulang! Atau kamu ku teriaki maling."

__ADS_1


"Mana ada maling yang ganteng begini. Adanya kamu malingnya."


"Kok bisa?"


"Kamu mencuri hatiku." Tedi mencolek dagu Tika, sontak dia menampik tangan Tedi.


"Iiih...gombal, sana pulang....!" Tika mendorong Tedi sampai tergeser menuju pintu. Namun Tedi bersikukuh.


"Tika...Tika, sampai kapan sih kamu begini. Sudahlah, terima cintaku!"


"Sampai mati pun aku tak sudi."


"Mau jadi janda seumur hidup, Kamu?" Tedi mulai geram , kupingnya panas. Namun, tetap saja dia mengalah demi mendapatkan cinta Tika. Dia sebisa mungkin menahan amarahnya.


"Aku mohon, pergi dari sini...." Tika merengek, tentu saja rengekannya palsu.


"Iya, aku pulang. Besok aku akan kembali lagi. Selamat malam, cantik." Tedi keluar dengan segera, Tika menggeleng sambil mewek dan melambaikan tangan, secepat kilat pula Tika menutup pintu.


Setelah ia yakin bunyi suara mesin mobil Tedi hilang, Tika duduk di sofa sambil terkekeh sendiri. Ada saja ulah Tika untuk bisa menghabiskan batagor itu. Kemarin, alasannya dia lagi datang bulan dan ngak mood ingin bertemu siapapun, sekarang lain lagi, besok entah alasan apalagi yang akan Tika rencanakan agar Tedi bosan mengunjunginya.


Kenyang sudah perutnya, entah kalau makan batagor terasa baru merasakannya, padahal setiap tiga hari sekali Tedi tak pernah absen membawakan makanan favoritnya itu.


Setelah kenyang, Tika menuju ruang kerjanya.


Tika memulai memotong lembaran kain berwarna putih, mengikuti pola yang baru selesai dibuatnya siang tadi. Dia melakukan dengan sangat hati - hati. Sangking kenyang nya dia tertidur pulas di atas tumpukan kain.


Ditengah tidurnya, dia memimpikan Surya. Surya datang dengan wanita disebelahnya entah siapa dia wajahnya terlihat samar tak jelas. Dalam mimpinya Surya berkata bahwa dia akan segera menikah. Tika tak terima dengan pernyataan Surya, dia terbangun dengan teriakan beserta tangisan yang meledak.


Malam itu dia tak bisa tidur, hingga di pagi hari kedua matanya seperti mata panda. Kepalanya sedikit pusing, namun tak menghalangi niatnya untuk melanjutkan pekerjaan menjahit gaun. Dia bekerja terus siang dan malam hingga lupa makan, tubuhnya yang ramping semakin runcing.


Hari berganti hari, tak terasa waktu pun tiba. Marmaid wedding dress sudah siap.

__ADS_1


Tika mencoba wedding dress sebelum dipajang, berjalan anggun dan sebentar berputar mengitari Reni, bermaksud memperlihatkan pada Reni. Pikirnya, andai dia memakai gaun ini saat dulu menikah dengan Surya.


"Wow...Miss Ti, Kamu cantik banget!" sorak Reni sambil berjingkrak. Tika tersipu malu dibuatnya.


"Cocok banget Miss, jika Kamu yang memakainya saat menikah nanti." ucapan Reni menusuk palung hatinya yang terdalam.


"Aku tidak akan menikah untuk yang kedua kali, Mbak." sahut Tika lirih sambil melepas wedding dress.


Reni merasa bersalah dengan mulutnya yang lancang berkata demikian, dia meminta maaf berulang kali, sebelum dia meminta maaf pun Tika sudah memaafkannya.


"Bagus banget, Miss." Reni tak henti - hentinya memuji untuk yang kesekian kali, Tika melepaskan gaun itu.


"Tentu saja, siapa yang buat, miss Ti..." Tika memajang gaun itu di deretan paling depan dekat jendela kaca.


"Katakan padanya, kalau marmaid wedding dress sudah siap di ambil."


"Baik, Miss!" sahut Reni dengan segera mengeluarkan ponsel dan mencari nomor Dewi.


"Mbak, gaun pengantin pesanan Anda di butik Miss Ti sudah jadi." kata Reni kegirangan.


"Benarkah, tapi saya belum bisa ambil. Pekerjaan saya hari ini menumpuk dan tidak bisa saya tinggalkan." sahut Dewi, " Kalau bisa di antar nanti saya tambah uang tip nya."


"Saya sampaikan dulu ke Miss Ti. Nanti saya kabari Anda lagi."


"Ok, nanti saya share alamat saya." Dewi menutup sambungan telepon dari arah seberang.


"Miss, pelanggan belum bisa mengambil gaunnya. Bagaimana kalau saya yang antar?" Reni duduk disebelah Tika yang saat itu sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Hmmm...kalau kamu bisa, ya silahkan." sahut Tika dengan merintih kedinginan. Dia memijat pelipisnya.


"Bisa, Miss. Dengan senang hati, saya akan segera bersiap." sahut Reni antusias. Tika beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil gaun yang baru saja ia pajang. Mengemasnya dengan rapi dan berhati-hati. Melihat tingkah Tika yang terlihat sakit, Reni menawarkan untuk mengantarnya berobat namun Tika menolak.

__ADS_1


Tika pamit untuk segera pulang karena merasa tak enak badan, badannya sejak kemarin meriang dan sedikit terserang flu. Dia menunggu taksi online, karena terlalu lama menunggu dia memutuskan untuk berjalan kaki.


Dia berjalan sempoyongan dan tiba-tiba di tengah jalan pandangannya kabur.


__ADS_2