
Tika sudah sampai di butik 30 menit yang lalu, dia bersama Reni melayani pengunjung yang silih berganti. Ruangan butik miliknya hanya memiliki ukuran 16, 5 meter persegi saja. Dengan konsep modern yang dipadukan dengan nuansa klasik ala timur tengah, meski dengan ukuran ruang yang terbatas, layout dan jenis perabotan berhasil dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan display yang cukup beragam. Walau ruang usaha miliknya terlihat mungil, sederhana dan elegan namun pengunjung merasa betah untuk berlama -lama disana. Meski sekedar untuk melihat-lihat saja.
Kesibukan Tika yang pertama ini sangat menguras tenaga dan pikirannya. Sejenak dia beristirahat memikirkan model seperti apa yang diinginkan calon pengantin yang baru saja memesannya.
"Hari ini ramai sekali ya, Miss." Reni berjalan mendekati Tika setelah menerima tip dari pelanggan terakhir.
"Syukurlah, baru kesini pertama saja sudah ramai, bagaimana kalau aku ke sini tiap hari. Pasti semakin ramai." Tika mengusap wajah dengan kedua tangannya. Hatinya merasa senang lantaran butik yang dia beli telah membuahkan hasil.
"Oh ya, Miss Ti, orang yang mau pesan tadi kemana perginya ya? Padahal tadi pamitnya keluar sebentar, tapi kok lama sekali ya?" gerutu Reni setelah semua pelanggan pergi dengan sebungkus gaun di tangan masing-masing.
"Biarlah, Mbak. Kalau kamu capek istirahatlah. Mulai besok aku sendiri yang akan mengurus butik ini, rasanya aku seperti burung yang baru saja keluar dari sangkar, sudah bisa terbang bebas."
"A...apa aku dipecat?" Reni terlihat gugup. Tika menggeleng dan tersenyum tipis.
"Lalu mengapa kamu menyuruhku untuk istirahat disaat butik ini mulai ramai." Reni mencoba mempertahankan posisinya sebagai kasir di butik itu.
"Aku tidak bilang ingin memecatmu. Aku hanya memberi waktu libur saja." sahut Tika sambil membetulkan posisi duduknya.
"Aku tidak mau libur, Miss.... Aku senang sudah bisa bekerja di sini. Meski kamu memintaku untuk libur sekalipun aku akan tetap masuk. Aku sudah senang dengan tempat ini. Butik ini bisa melupakan kejadian dimasa lalu ku yang suram." Reni mulai curhat, tapi Tika tidak larut dalam cerita Reni. Tidak hanya dia saja yang memiliki masa lalu yang pahit. Ternyata dua wanita yang berada di butik ini sama-sama bergelar janda.
"Orang tadi ingin sekali bertemu dengan mu, Miss."
"Benarkah, seperti apa orangnya?"
"Yang wanita pakai kacamata dengan rambut sebahu sedangkan yang pria ganteng, tinggi dan pokoknya siiiplah." tukas Reni.
"Ganteng, sok tahu kamu." Tika terkekeh, Reni tersipu malu.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau libur. Bantu aku sekarang. Model seperti apa yang orang tadi pesan?" tanya Tika seraya Reni menyiapkan selembar kertas dan Tika mengeluarkan pensil dari tas kecilnya.
__ADS_1
"Seperti apa ya?" Reni mendongak ke atas. "Dia bilang gaunnya ingin ada ekornya seperti marmaid."
"Marmaid, putri duyung. " terbesit dalam benaknya. "Aha, aku punya ide!" dengan cepat Tika menggerakkan pensil mengikuti idenya.
Beberapa menit kemudian, terdengar sambungan telepon masuk. Reni segera menuju mejanya. Ternyata dari Dewi, dia berpesan agar gaunnya harus selesai dalam waktu 5 hari. Reni menyampaikan kepada Tika, dan dia menyanggupinya.
Selesai dari butik, sebelum pulang Tika menyempatkan mengunjungi makam suaminya. Pikirnya sudah lama dia tidak mengunjungi tempat itu, sejak pertama kali dimakamkan. Dia berhenti di salah satu penjual bunga, membeli secukupnya lalu bergegas menuju pintu makam. Disana dia lama sekali berdoa.
Dia berjalan pelan meninggalkan makan, sampai tak sadar ada seorang bertubuh tinggi, kekar lagi sangar berjalan ke arahnya. Ternyata sudah dari butik tadi orang itu mengintai Tika. Saat suasana sepi, kesempatan itu dia gunakan untuk merampas tas kecil yang Tika bawa.
"Tolong...! Tolong...! Ada copet!" teriak Tika histeris saat tasnya sudah raib. Pencopet itu berlari cepat, Tika tergopoh- gopoh mengejarnya sambil berteriak.
"Berhenti kamu!" seorang pria bertopi berhasil menahan pencopet itu. Pria bertopi memasang kuda-kuda untuk menjaga keseimbangan saat menyerang atau bertahan.
"Serahkan tas itu!" perintah pria bertopi seraya mengarahkan pukulan dengan menggunakan kepalan tangan mengarah ke perut dan kepala. Pencopet itu menggeleng.
"Ikut campur urusan orang. Mau ku hajar kamu!" umpat pencopet dengan tatapan bengis. Dia menyerang balik pria bertopi dengan brutalnya. Tubuhnya yang kekar dan berotot membuat pria bertopi kesulitan melumpuhkannya.
"Tas ku..." Tika datang dengan nafas tersenggal -senggal. Membungkuk sejenak lalu mulai menata nafasnya.
Saat pria itu hendak menyerahkan tas Tika.
"Mas Surya," panggil Tika dengan tatapan rindu teraduk -aduk. Tak percaya jika pria yang menolongnya adalah Surya.
Surya terkejut juga dengan tatapan wanita di depannya. Bukankah ini wajah yang selalu datang dalam mimpinya. Sedikit bingung juga, haruskah dia menanyakan mengapa selalu hadir dalam mimpinya? Mengapa wajah ini tidak asing ? Ataukah dia diam untuk sementara waktu mencari bukti kebenaran sendiri.
"Mas Surya, benarkah kamu Mas Surya?" Tika menggoyangkan tubuh Surya sambil berderai air mata. Surya tak bergeming masih bingung.
"Saya tak mengenal Anda, maafkan saya. Dan ini tas Anda." ucap pria bertopi yang tidak lain adalah Surya sembari menyerahkan tas.
__ADS_1
"Dadaku sesak oleh rindu yang terus menggerutu karena sebuah perpisahan, dan sekarang kita bertemu kamu tidak mengenali ku?"
"Maaf, maaf sekali lagi. Saya memang benar Surya. Mungkin saya bukan Surya yang anda maksud, karena saya tidak mengenal Anda sama sekali." jelas Surya sambil memalingkan tubuh.
"Apa? Kamu tak mengenalku. Aku istrimu, Mas! Kita hendak melangsungkan resepsi pernikahan kita." Surya terhenti dari langkahnya.
Benarkah ini? Lalu mengapa aku tak mengingat ini sama sekali.
"Tidak mungkin di dunia ini, ada dua wajah dan nama yang sama. Apa aku salah menerka. Tapi, jelas wajah itu..." batin Tika seraya mengusap air matanya.
"Saya permisi dulu." Surya undur diri.
"Tunggu!" Lagi, Surya menghentikan langkahnya. Tanpa pikir panjang, Tika mendaratkan ciuman. Bibirnya yang ranum berhasil menggapai bibir yang tebal namun sensual itu. Surya gelagapan dibuatnya.
"Aku merindukanmu tanpa pernah bertemu denganmu. Dan sekarang kamu nyata di depanku." batin Tika dengan tetap memejamkan mata, dia menikmati ciumannya dengan Surya.
"Ini...ciuman ini, mengapa begitu hangat dan seolah aku tak ingin melepasnya. Tapi, siapa dia?" batin Surya.
Tika membuka sedikit bibirnya dan melahap lagi bibir Surya, dia membuka matanya perlahan. Melihat Surya tanpa perlawanan, dia menggigit bibir bawah dengan menggemaskan.
Surya tersadar, dan segera melepaskan ciuman paksa ini.
"Cukup!" Surya mengelap bibirnya berulang kali.
"Mas, ini aku Tika istrimu."
"Aku akan menikah dengan kekasihku, jadi mana mungkin aku sudah beristri. Anda salah orang. Permisi..." Surya dengan langkah sedikit berlari menjauhi Tika.
"Mas Surya...!" Tika berteriak dan menangis lagi.
__ADS_1
"Jangan pergi...!" Tika duduk tersungkur meratapi kesedihannya.