Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Spesial Untukmu


__ADS_3

Pagi sekali Tika sudah bangun, selesai mandi dan sholat dia menuju dapur.


"Eits...Surya sudah ada di dapur. Masak apa dia?" Mendekati Surya.


"Pagi..." sapanya seraya menguncir rambut panjangnya sehingga terlihat lehernya yang jenjang.


"Pagi juga." sahut Surya memperhatikan penampilan Tika yang selalu menggoda juniornya.


"Kamu masak apa?" tanya dia seraya berdiri di samping Surya.


"Nasi." sahut Surya datar, hidungnya mencium aroma wangi dari tubuh Tika.


"Bagaimana caranya, ajari aku dong?"ucap Tika dengan sikap manjanya.


"Ambil 3 gelas takaran beras, masukkan lalu beri sedikit air. Tekan tombol on. Dan tunggu beberapa menit." jelas Surya sembari mempraktekkan.


"Kapan - kapan aku mau mencobanya."


"Jangan lupa colokkan ke stopkontak."


"Aku mengerti. Surya, biar aku saja yang melanjutkan memasak, kamu tinggalkan aku saja ." pinta Tika seraya berjalan membuka kulkas.


"Kamu yakin!"


"Iya, sana pergi!" Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Surya yang kekar menjauh dari dapur.


"Baiklah, aku ke kamar dulu untuk bersiap - siap." Surya melangkahkan kaki menuju kamarnya dan sesaat dia memperhatikan istrinya.


"Tumben dia ke dapur, mimpi apa dia semalam, hampir berubah sikapnya. Namun, aku harus waspada. Jangan - jangan dia mau mengerjaiku. Tapi, masa istri sendiri dicurigai. Entahlah, semoga saja dia memang berubah. Dasar nenek sihir ada - ada saja ulahnya." Gumam Surya sambil membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya, membuka tas dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan lalu memasukkan ke dalam amplop coklat.


"Akhirnya selesai sudah, huf...ternyata lelah juga berada di dapur sebentar saja," Tika menyiapkan telur dadar di atas piring dan menatanya di meja makan, lengkap dengan secangkir kopi susu panas.


Surya terlihat rapi dan macho memakai kaos lengan panjang dengan motif bergaris abu - abu dan mengenakan topi hitam, dia melewati Tika yang sedang asyik menyajikan makanan.


"Surya, makanan dan kopi panas sudah siap. Ayo sarapan." Pinta Tika seraya mempersilahkan Surya duduk di kursi yang sengaja dia siapkan.


"Baiklah, sepertinya enak." sahut Surya datar. Dia duduk di tempat yang Tika siapkan, mengambil sendok dan menyuapkan nasi ke mulutnya .


"Kamu tidak sarapan?"tanya Surya.


"Nanti, aku belum terlalu lapar. Bagaimana rasanya, enak tidak..."


"Enak, " Mulutnya penuh dengan nasi, sehingga bicara tidak begitu jelas, dengan cepat dia melahap semua makanan di piringnya tanpa sisa .


"Kamu lahap sekali makannya, pelan - pelan." Tika tersenyum, hatinya bahagia merasa sudah sukses mempraktekkan membuat telur dadar spesial untuk suaminya. Entah apa yang membuat dia begitu bahagia pagi ini.


"Aku sudah selesai, aku berangkat dulu." menghabiskan secangkir kopi susu.


"Tunggu," Mengelap bibir Surya yang terdapat sisa kopi.


"Terima kasih," ucap Surya, hati dan pikirannya tidak karuan melihat perubahan istrinya yang mendadak sangat romantis .


"Aku pergi dulu." Menyodorkan tangan dengan sigap Tika menyalami dan mencium tangan suaminya.


Surya merogoh kunci mobil dan menuju garasi. Tika mengekor di belakang.


"Dah...hati - hati di jalan !" Melambaikan tangan.


"Assalamualaikum..." Surya masuk ke mobil dan siap untuk melaju.

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." Memandang mobil yang dikendarainya hingga tak terlihat di seberang jalan. Tika masuk ke dalam lalu menutup pintu.


"Surya menyukai masakanku. Aku coba ah," Dengan bangga dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Uwek!" Tika memuntahkan semua nasi yang berada di mulutnya. Rasanya asin tidak karuan.


"Surya...! Aku benci kamu !" teriak Tika kesal, pagi ini dia benar - benar kesal, suasana hati yang semula berbunga - bunga kini suram dan sangat kesal dengan ulah Surya.


"Dia bilang enak, apanya yang enak, asin begini." menjulurkan lidahnya dan mengeluarkan beberapa nasi yang terselip di mulutnya.


"Tapi, bagaimana bisa dia menghabiskan sarapannya, apa maksud dia tidak mengatakan sebenarnya kalau masakanku tidak enak. Dia kan bisa memuntahkannya dan tidak harus memaksa untuk menghabiskan makanannya." menuju kamarnya.


Sementara Surya pergi ke toko perhiasan. Di sana dia mencari cincin emas yang bermata berlian.


"Surya!" Panggil seorang wanita berkaca mata yang tidak asing baginya.


"Dewi," Surya kaget bertemu Dewi saat memilih cincin.


"Sedang apa kamu, kamu mau menikah?" tanya Dewi hampir kecewa lantaran pujaan hatinya memilih cincin kawin.


"A...aku sedang di suruh mencarikan perhiasan untuk sepupuku." Surya mulai berbohong.


"Kamu tidak pernah cerita kalau punya sepupu."


"Dia akan pulang dari luar negeri, jadi untuk menyingkat waktu dia menyuruhku untuk membelikan cincin kawin." Surya hampir kehabisan akal gara - gara terlanjur janji pada Tika untuk merahasiakan pernikahan mereka.


"Benarkah..." Dewi hampir tidak percaya. Surya mengangguk dan masih memilih cincin.


"Kamu sendiri juga mau membeli perhiasan..."


"Tidak, aku di sini karena ingin menjual kalungku."


"Untuk keperluan sehari - harilah. Sebentar lagi aku akan bekerja di kantor milik ayahnya Tedi, jadi setelah nanti aku gajian dan uangku terkumpul aku bisa membeli kalung yang baru." jelas Dewi, Surya mendengarkan ceritanya menjadi iba, lantaran setahunya Dewi sejak kecil hidup hanya dengan ibunya saja.


"Semoga berhasil, Dew."


"Terima kasih Surya, "


"Ini mas cincinnya, model terbaru." ucap pelayan toko, Surya mengamati, Dewi pun juga ikut memperhatikan cincin yang mewah dan mahal itu.


" Saya pilih ini, berapa mbak harganya?" Surya mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas ranselnya.


"25 juta mas !" sahut pelayan toko.


Dewi terperanjat mendengar harga cincin kawin yang dibeli Surya.


"Kalau pun cincin itu punya Surya sendiri, bagaimana bisa dia membayar semahal itu. Mungkin benar sepupunya yang beli , dia hanya disuruh saja." batin Dewi.


Surya mengeluarkan uang tunai. Setelah selesai membayarnya dia keluar.


"Dew, aku pulang duluan ya..." pamit Surya.


"I...iya hati - hati, Surya." Sahut Dewi bengong.


Sesampainya di rumah.


Surya mengucapkan salam, dan dari dalam tidak ada sahutan dari Tika.


"Kemana dia...bukankah tadi aku sudah berjanji mengajaknya ke rumah orang tuanya. Mungkin dia sedang bersiap diri di kamar." Surya masuk ke kamar. Dia mengamati cincin yang baru saja dibelinya.

__ADS_1


"Nenek sihir suka tidak ya... " gumam Surya sambil membungkus kotak perhiasan dengan kertas kado.


"Lama banget dia berdandan, atau mungkin dia lupa..." Berjalan menaiki tangga.


Tok...tok...tok...


"Tika, kamu sudah siap belum?" tanya Surya dari balik pintu.


Tak ada sahutan dari dalam . Surya mencoba membuka pintu, didapatinya istrinya tengah tengkurap dengan wajah disembunyikan dalam bantal.


"Nenek sihir, kamu jadi tidak... ku antar berkunjung ke rumah lamamu." Mendekati dan duduk di samping kasur.


"Kamu tidur ya..."Membangunkan dengan menggelitik kakinya.


Sontak Tika bangkit.


"Aku benci kamu!" Mata nya sembab karena menangis cukup lama.


"Kamu menangis? Apa salahku..."


"Kamu...hik...hik...hik...tidak jujur padaku. Kamu bilang tadi pagi masakanku enak, nyatanya asin banget!"


"Itu...tadi, emang enak kok, pas rasanya. Mungkin pas bagian punyamu yang terlalu asin." Surya berbohong.


"Gawat, ketahuan kalau aku lagi bohongi dia pagi tadi. Mau bagaimana lagi, dia sudah susah payah menyiapkan sarapan untukku masa tidak ku habiskan." batin Surya lalu memeluk dia sembari mengusap rambutnya yang hitam legam.


"Kenapa kamu membohongiku, kamu bisa mengatakan apa adanya kan...hik...hik...hik."


"Sudah, jangan mewek! Jelek nanti..." Hibur Surya seraya menyeka air matanya.


"Jadi tidak..." Surya memandang istrinya yang mulai tenang. Tika mengangguk. Surya mengeluarkan kotak kecil yang sudah ia bungkus .


"Ini!" Menyerahkan kotak kecil .


"Apa ini...jelek sekali bungkusannya."


"Hedeh, ni cewek, lihat dulu isinya main komentar saja." geram Surya dalam hati.


"Spesial untukmu, bukalah!"


Tika dengan masih sesenggukan membuka kado kecil yang terbungkus tidak begitu rapi itu.


"Wah, cantik banget! Aku suka." Mengenakan di jari manis sebelah kiri.


"Itu cincin kawin yang kemarin belum sempat ku beli. Pas tidak..."


"Pas! Bagaimana kamu bisa memilih ini?" Reflek Tika memeluk Surya sangking bahagianya. Surya sudah mulai terbiasa dengan pelukan Tika.


"Hedeh, nenek sihir... cepat sekali cerianya. Ternyata mudah sekali membuat kamu tersenyum. Emang dasarnya cewek matre kan..." Gumam Surya dalam hati.


"Surya gitu loh..." Melepas pelukan Tika lalu berdiri, "cepat bersiap, keburu siang nanti!"


"Iya, terima kasih Surya. " ucap Tika lirih.


"Apa...aku tidak dengar?" Goda Surya.


"Aku bilang terima kasih..." Mengulangi perkataannya dengan lantang.


Surya hanya tersenyum lebar, lalu keluar kamar, sesekali dia menoleh memperhatikan istrinya yang masih asyik mengamati cincinnya.

__ADS_1


__ADS_2