Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Surya Sibuk


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh Surya tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit an. Selama dalam perjalanan dia juga sibuk menerima panggilan masuk dari beberapa karyawan.


"Baik, sebentar lagi aku sampai di kantor," ucapnya lalu menutup teleponnya.


Cit...


Surya menghentikan mobilnya secara mendadak.


Seorang kakek hampir saja tertabrak olehnya. Surya segera keluar dari mobilnya dan mengecek keadaan kakek itu. Dia melihat beberapa botol minuman berantakan.


"Kakek tidak apa-apa?" tanya Surya panik sambil meneliti tubuh kakek tua yang tengah menyeberangi jalan sambil membawa minuman. Tampak dari penampilannya, kakek ini menjual minuman dalam botol.


"Saya tidak apa-apa," sahutnya dengan suara khas kakek-kakek.


"Apa perlu saya antar ke rumah sakit?" tawar Surya tapi kakek itu menolak.


"Aduh, dagangan saya! Bisa rugi saya kalau seperti ini," keluh kakek itu sambil meremas kepalanya.


Surya mengelus dada kakek itu.


"Saya akan mengganti rugi kerusakannya, Kakek tinggal sebut berapa saja akan saya bayar." Surya menenangkan dan memberi solusi agar kakek itu berhenti mengeluh.


Surya mengeluarkan semua uang di dompetnya dan memberikan pada si kakek tanpa menghitungnya terlebih dulu.


"Jika kurang, Kakek tinggal sebut berapa akan saya tambah." ucap Surya sambil mengeluarkan kartu ATM nya.


"Ini terlalu berlebihan, saya tidak bisa menerimanya." tolak si kakek sambil menyodorkan kembali uang yang baru saja ia terima.


"Tidak, tidak! Saya bukan tipe orang yang menerima kembali apa yang sudah menjadi hak orang lain." terang Surya sambil bergegas menuju ke mobil. Setelah dirasa kakek itu tak sedih lagi Surya berpamitan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kantor.


Surya memarkir mobil merahnya dan keluar dari mobil dengan perasaan was-was, mencerna pembicaraan waktu ditelpon mertuanya tadi.


"Peristiwa apa ya, mengapa perasaanku jadi tak enak begini?" gumamnya.


Surya setengah berlari menuju kantor. Tampak karyawan sedang sibuk mengurus sesuatu. Tanpa berpikir panjang lagi dia mempercepat langkahnya menuju ruangan mertuanya.


"Bagaimana, Pa?" tanya Surya saat sudah tiba di kantor dan menemui mertua laki - laki di ruangannya.


"Ini gawat, sungguh gawat! Perusahaan kita bisa rugi kalau begini jadinya!" ucap pak Andik dengan rada emosi seraya meneliti berkas - berkas yang menumpuk di laci lemari. Setelah menemukan apa yang dicari pak Andik mengambil berkas dan berjalan keluar ruangan.


"Apa nya Pa, yang gawat?" seraya mengikuti pak Andik berjalan menuju gudang makanan. Banyak karyawan kantor yang berlalu lalang mengangkat beberapa tumpuk kardus yang berisi bahan makanan seperti roti basah dan roti kering.


Surya bekerja di perusahaan pak Andik yang menjual bahan pangan aneka roti, minuman, kebutuhan mandi, kebutuhan cuci baju dan piring, kebutuhan kecantikan kulit, kebutuhan bayi sampai untuk bersih - bersih rumah.


Karena roti tak tahan lama, dan mudah sekali basi jadi, mengundang makhluk pengerat itu.


Meskipun Surya masih terlihat lebih muda, namun pemikirannya sudah cukup dewasa untuk menangani masalah bisnis yang sedang ia geluti.


Kini usianya sudah mencapai 28 tahun. Hmmm, tampak tua ya jika baru lulus kuliah. Tamat SMA dulu Surya tidak langsung melanjutkan kuliah, tapi dia bekerja di sebuah toko parfum dan di sebuah bengkel. Pekerjaan itu dia bagi menjadi dua session, pagi untuk bekerja di bengkel dan sore harinya untuk bekerja di toko parfum. Dia bukanlah anak manja dan malas-malasan.


Surya sejak kecil dilatih ibunya yang hanya seorang janda untuk bersikap dewasa dan bertanggung jawab. Menerima kenyataan bahwa hidup penuh perjuangan untuk memperoleh sesuap nasi, hingga akhirnya dia bisa mengumpulkan dana untuk melanjutkan kuliah di kampus yang terbaik.


Dia juga anak yang disiplin terutama dalam hal ibadah. Selama sekolah baik itu tingkat SD, SMP maupun SMA dia tak pernah malas untuk belajar. Terlihat dari kerja keras belajarnya dia mendapatkan biaya siswa selama kuliah dan bahkan karena kepintarannya dia diangkat menjadi asisten dosen.


"Masuklah dan lihat apa yang kamu temukan di dalam!" perintah pak Andik saat tiba di pintu gudang tempat penyimpanan beraneka macam roti yang siap di pasarkan.


Surya masuk dan didapatinya beberapa bungkus roti telah berjamur dan koyak serta puluhan bangkai tikus berserakan di lantai.


"Tikus, bagaimana binatang itu bisa masuk ke dalam gudang. Secara, gudang ini tidak memiliki celah sekecilpun." ucap Surya seraya memegang salah satu bungkus roti yang berlubang.


"Tapi kenyataannya, apa ini? Tikus menyerang gudang makanan. Lihatlah berkas ini!" menyodorkan ke arah Surya dan dia menerima berkas itu, matanya menilik satu persatu data - data yang tersusun rapi mengenai pengiriman barang untuk dipasarkan esok hari.


"Bagaimana bisa kita memproduksi dalam sekejap saja untuk mengganti 15.000 bungkus roti?" Surya terdiam sesaat memikirkan cara untuk mengatasi masalah yang mengejutkan ini. Otak nya berpikir.

__ADS_1


"Ulah siapa ini? Pasti ada yang sengaja mengirimkan tikus - tikus ini." ucap pak Andik geram. "Awas , bila sampai tertangkap pelakunya tidak akan aku maafkan dia."


"Dilihat dari kemasannya, bungkus roti rusak ini sudah beberapa hari yang lalu. Kalau serangan tikus sebanyak ini pasti ada karyawan yang melihatnya saat melakukan pengecekan lokasi." jelas Surya .


"CCTV saja tidak membantu, mungkin kejadian ini saat mati lampu beberapa hari yang lalu." jelas bu Dian yang sejak tadi mengekor pak Andik.


"Tidak ada waktu lagi, Bu Dian, saya minta data jumlah karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Dan ada berapa mesin untuk membuat roti ini?" perintah Surya, bu Dian lantas mencatat apa yang diminta Surya. Dan segera mempersiapkan catatan yang diminta bosnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan Surya?"tanya pak Andik nampak heran.


"Kita akan membuat roti itu sekarang juga!" sahut Surya tegas.


"Bagaimana mungkin? Kita tak punya banyak waktu untuk melakukan ini Surya." pak Andik mondar - mandir sebentar lalu menghentikan langkahnya saat Surya menepuk pundaknya.


"Kita harus mencobanya, Pa." lalu menoleh ke arah sekretarisnya yang sejak tadi sibuk mencatat. "Bu Dian, umumkan ke semua karyawan untuk lembur hari ini dan umumkan tambahan gaji kepada mereka!" perintah Surya dengan serius.


"Tapi, Pak, hari ini sebagian karyawan sedang dalam persiapan untuk penyambutan patner bisnis yang sudah menjadi tradisi perusahaan. Dan kebetulan acara itu diselenggarakan besok." jelas bu Dian.


"Benar Surya, saya hampir lupa dengan jadwal besok. Tidak mungkin perusahaan kita membatalkan acara tersebut. Karena acara besok bila gagal dapat menurunkan citra perusahaan kita." jelas pak Andik.


"Bagaimana prosesi acara untuk besok yang sudah terbiasa dilakukan itu?" tanya Surya dengan sedikit menguras pikirannya untuk mencari ide yang cemerlang.


"Kita biasanya menyambut kedatangan mereka dengan mengadakan pesta seperti makan - makan dan karaoke bersama seluruh staf perusahaan." jelas bu Dian.


"Pesta, apa itu tidak terlalu meriah, hanya menyambut patner bisnis saja mengadakan pesta. " tukas Surya tak sependapat dengan acara itu.


"Ini sudah kebiasaan perusahaan kita, Nak." ucap pak Andik memahami penolakan Surya.


"Pagi atau sore acaranya?" tanya Surya lagi.


"Sore," sahut bu Dian singkat. Ibu beranak satu ini juga sedikit kikuk meladeni bos barunya.


"Baiklah, kita bagi menjadi dua grup. Grup A menyelesaikan pembuatan roti yang mendadak dan grup B mempersiapkan untuk penyambutan patner bisnis perusahaan. Segera umumkan dan perintahkan semua karyawan untuk berkumpul di aula sekarang juga, aku sendiri yang akan membagi tugas itu." jelas Surya tegas, bu Dian segera pergi menuju ke ruangan sound sistem untuk mengumumkan apa yang baru saja bosnya ucapkan. Dalam hitungan detik pun semua karyawan sudah berkumpul di aula. Beberapa saling bisik dan hanya melempar pandangan. Semuanya terdiam tatkala Surya menaiki mimbar untuk menyampaikan idenya.


Surya berdiri di atas mimbar lalu menerangkan maksud dan tujuan semua karyawan dikumpulkan. Awalnya beberapa karyawan menolak untuk melakukan lembur kerja. Tapi setelah ada embel-embel gaji tambahan tampak gurat-gurat bahagia di wajah mereka.


Seperempat jam lagi akan masuk waktu ashar. Surya memerintahkan semua bawahannya untuk melakukan sholat berjamaah agar usaha kali ini berhasil tanpa halangan apapun.


Pukul 15.20 selesai sholat ashar sebagian karyawan berada di pabrik pembuatan roti, mereka sibuk dengan urusan masing - masing, jumlah pekerja yang biasa bertugas membuat roti kini mendapat tambahan karyawan meskipun tidak dalam bidangnya. Dalam 1 jam mesin pembuat roti mampu memproduksi 1000 roti, jadi diperkirakan sekitar 15 jam untuk selesai menghasilkan 15.000 roti.


Sementara karyawan yang lain mempersiapkan acara untuk penyambutan patner bisnis yang kabarnya akan memberikan suntikan dana untuk perusahaan. Beberapa karyawan tengah sibuk mendekorasi aula, tempat yang akan digunakan untuk penyambutan.


"Sebaiknya Papa pulang dulu, agar orang - orang di rumah tidak khawatir. Surya akan menemani karyawan dulu di sini." pinta Surya seraya menyodorkan kopi untuk mertuanya.


"Kamu tidak apa - apa aku tinggal pulang? Nanti kamu terlalu capek mengurusi semua ini sendirian. Biar Papa temani kamu." sahut pak Andik menolak saran Surya.


"Jangan, Pa! Surya insyaallah kuat, asal Papa meridhoi dan mendoakan saya saja sudah cukup membantu." ucap Surya lalu meneguk secangkir kopi yang masih mengepul asapnya.


"Baiklah...selesai sholat magrib nanti, Papa segera pulang. Lalu bagaimana dengan istrimu?" tanya pak Andik.


"Surya sempat lupa, terimakasih Papa telah mengingatkan Surya." Surya menghabiskan kopinya. "Nanti selesai sholat magrib saya akan segera mengabarinya Pa..." sahut Surya, lalu adzan magrib berkumandang, semua aktifitas berhenti dan menunaikan ibadah sholat berjamaah, dimana imamnya adalah Surya sendiri.


Surya berdiri di depan, dengan khusuk dia memimpin sholat.


Surya menengadahkan tangan diikuti para makmum.


"Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya." doa Surya selesai sholat.


Selesai sholat pak Andik pulang terlebih dahulu. Teringat dengan istrinya yang berada di rumah sendirian Surya segera merogoh saku celana dan mengeluarkan handphonenya.


"Assalamualaikum,Tika!" panggil Surya setelah sambungan telepon terhubung.


"Waalaikumsalam, " sahut Tika dari arah seberang.

__ADS_1


"Aku mau mengabarkanmu, kalau malam ini mungkin aku pulang terlalu larut. Karena aku sedang sibuk sekarang dan pekerjaan ini membutuhkan waktu yang sangat lama." ucap Surya menerangkan pada Tika agar dia tidak salah sangka.


"Jam berapa?" sahut Tika terdengar risau.


"Aku tidak bisa memastikannya, kamu berani kan sendirian di rumah?" tanya Surya, dia juga merisaukan Tika yang sendirian di rumah.


"Ya, aku berani." sahut Tika asal saja.


"Bagus, jangan lupa kunci semua pintu dan jendela! Aku membawa kunci cadangan, kamu tidak perlu menungguku pulang. Jika kamu ngantuk pastikan semuanya sudah terkunci." ucap Surya mengingatkan.


"Ya !" sahut Tika terdengar sewot.


Tut....Tut....Tut....Sambungan terputus.


"Wassalam..." belum selesai surya mengucapkan salam, Tika sudah mematikan teleponnya.


"Semoga nenek sihir tidak marah." Gumam Surya dalam hati.


Beberapa jam kemudian.


Karyawan yang bertugas menyiapkan acara penyambutan sudah pulang sejak pukul 22.00 , sedangkan karyawan yang bekerja untuk membuat roti diperbolehkan pulang setelah menyelesaikan pesanan 15.000 roti.


"Kalian semua bekerja keraslah, karena ini adalah ujian untuk kalian dimana menghadapi masalah yang diluar perkiraan." ucap Surya menyemangati bawahannya.


"Kami akan bekerja keras!" sahut salah satu karyawan.


"Benar!" sahut karyawan lain bersamaan.


"Kalian besok tidak perlu datang di acara penyambutan, beristirahatlah. Dan malam ini juga saya akan memberikan uang lembur untuk kalian semua." ucap Surya.


Riuh senang para karyawan ketika mendengar akan mendapatkan pesangon. Tentu saja pikiran mereka mengarah pada amplop cokelat yang mungkin terasa tebal bila diraba.


Dua jam kemudian.


Beberapa karyawan terlihat lelah dan lesu. Surya mendatanginya dan memberikan minuman suplemen.


Akhirnya, pukul 03.00 dini hari semua roti selesai. Sesuai dengan perkataannya, Surya membagikan amplop dan memberikan kepada karyawan.


"Rudi, kamu pulanglah lebih dulu." pinta Surya.


"Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya Rudi sedikit binggung, padahal tugas dia mengantar semua roti ke konsumen.


"Aku sudah menyuruh karyawan lain untuk mengantarnya besok pagi." Imbuh Surya sambil memberikan amplop.


"Baik Pak," sahut Rudi menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Lalu setelah semua roti benar -benar tertata rapi Rudi bersama karyawan lain pulang dengan hati senang namun dengan fisik yang letih.


Surya menuju parkiran mobil, tampak mobilnya sendiri yang berada di parkiran karena semua orang sudah pulang. Surya menyalakan mesin mobil dan melajukan dengan pelan. Dengan kondisinya yang menahan kantuk yang sangat berat, dia mengunyah permen karet berharap dapat konsentrasi saat berkendara.


Jalanan sungguh sepi, wajar saja ini dini hari. Surya sesekali menjatuhkan kepalanya pada bantalan setir. Kemudian dia sadar kembali meski beberapa detik dia terpejam.


Dia juga mencoba memutar musik untuk menghilangkan kesepian yang mencengangkan.


Dua puluh menit kemudian dia sampai di halaman rumahnya. Surya memarkir mobilnya di bagasi. Dia segera mematikan mesin mobil lalu berjalan menuju pintu.


Ceklek...


"Kenapa nenek sihir membiarkan lampu rumah menyala semuanya." Gumam Surya saat membuka pintu dengan kunci cadangan.


Saat akan masuk, tiba-tiba dia mencium bau yang tak sedap.


Surya mengendus tubuhnya.


"Ternyata bau tubuhku," Surya terkekeh sendiri mengingat dia hanya mandi pagi saja.

__ADS_1


"Masya Allah..." Surya terbelalak matanya.


__ADS_2