
Satu jam kemudian, Tika sampai di rumah Tiwi dan Tesa. Mobil Tika memasuki halaman rumah Tiwi, sesampainya di sana Tiwi dengan sedikit berlari menghampiri Tika yang baru saja turun dari mobil.
"Tika, bagaimana kabarmu? Aku kangen banget sama kamu." ucap Tiwi seraya memeluk dan mengajak Tika masuk ke dalam rumahnya yang tak begitu besar namun masih terkesan elegan.
"Sehat, aku mau curhat sama kamu," ucap Tika mengikuti Tiwi dari arah belakang.
"Tentang apa....Ayo , kita santai di belakang saja!" pinta Tiwi.
Mereka berdua menuju kolam renang yang ada di belakang rumah. Di sana terdapat kolam renang yang berukuran 10m x 12m persegi, di sebelah kiri kolam ada satu set kursi dan meja. Taman bunga mini yang berada di depannya memperindah tempat itu.
" Kamu tunggu di sini dulu, aku mau mengambil minuman, kamu mau minum apa?" tanya Tiwi saat akan beranjak dari tempat duduknya.
"Terserah apa saja, yang penting jangan terlalu manis. Aku tidak mau kena diabetes diusia muda." sahut Tika sambil meluruskan kakinya.
"Oke!" Tiwi melingkarkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf o.
"Mana Tesa.... Sejak aku datang tadi aku belum melihatnya ."tanya Tika saat Tiwi datang membawa 2 gelas jus tape, seraya celingukan mencari sosok Tesa.
"Hem...dia sedang keluar. Katanya mau beli buku." Tika menaruh 2 gelas jus tape di atas meja bundar.
"Buku apa?"
"Entahlah, aku belum sempat tanya tadi soalnya aku keburu ke toilet. Ha ha ha...." Tiwi tertawa lepas diikuti juga dengan Tika.
" Katamu tadi mau curhat, ceritalah!" Tiwi sudah bersiap mendengarkan omongan sahabatnya yang sedikit cerewet itu.
"Aku dijodohkan papaku." ucap Tika membuat Tiwi kaget bukan main.
"Apa, dijodohkan !" Tiwi membulatkan kedua bola matanya yang sipit, "Dengan siapa?" tanya nya penasaran.
" Jangankan namanya, wajahnya saja aku belum pernah tahu, dan tak mau tahu." sahut Tika.
" Kamu setuju, dengan perjodohan itu?"
"Bagaimana tidak, papaku bakal mencabut namaku dari daftar pewarisnya, tentu saja aku tidak mau. Dan terpaksa aku menerima perjodohan itu."
"Lalu, bagaimana dengan Tedi?"
"Aku baru saja putus darinya."
"Secepat itu..."
"Tapi , dia tidak mau." Melirik ke arah gelasnya yang membuat Tika penasaran.
"Tentu saja dia tidak mau putus, secara kalian baru saja pacaran."
"Ini apa, Wi?" mengangkat gelasnya dan mengamati dari dekat.
"Jus tape, cobalah, enak kok!" mengambil gelasnya dengan ragu-ragu dia mulai meneguk minuman itu.
" Beneran, enak!" menghabiskan sampai tak bersisa.
"Kamu haus atau doyan?" ledek Tiwi sambil tertawa kecil.
"Dua- duanya." Tika tertawa lepas begitu juga dengan Tiwi.
"Aku perlu bantuanmu," ucap Tika lirih.
__ADS_1
"Apa yang bisa aku lakukan?"
"Berpura - puralah kamu menyukai Tedi, dengan begitu dia bisa cepat move on dariku." pinta Tika memohon.
"Ogah...! Aku maunya kalau dia itu Surya. Kalau dia Surya, jangankan kamu suruh jadi pacarnya , jadi istrinya aku pun mau." membayangkan dia dan Surya duduk di pelaminan.
"Cowok kampungan itu lagi, malas aku membahasnya. Kalau aku jadi kamu, mending aku jadi perawan tua dari pada harus nikah sama cowok kampung itu."
"Kamu jangan terlalu membenci dia, Tik! Nanti, bisa jadi kamu jatuh cinta padanya." ledek Tiwi.
"Amit - amit, 7 turunan jangan sampai aku bakal suka sama cowok kampungan itu. Dan satu lagi, aku nggak mau dengar kata dia lagi disebut." imbuhnya.
"Dia punya nama,Tik... Surya, dan jangan panggil dia cowok kampungan lagi!" Tiwi kesal dengan sikap Tika yang merendahkan pujaan hatinya.
"Terserah kamu, yang jelas bagiku dia tetap cowok kampung," Tika mencibirkan mulutnya lantaran curhatnya tak begitu direspon sahabatnya.
"Kenapa sih, kamu nggak berdamai saja dengannya? Dia asyik loh"
"Idih...ogah!"
***
Dilain sisi, saat Surya bersiap berangkat kerja ibunya memanggilnya.
"Surya!" panggil ibunya saat selesai mencuci piring.
" Ya, Bu...."sahut Surya seraya memakai sepatu hitamnya lalu menghampiri ibunya yang berada di dapur.
"Kamu sudah siap?" duduk di kursi seraya mengelap tangannya yang basah .
" Pasti, Nak! Dan bersikaplah bijaksana dimanapun kamu mengambil keputusan. walaupun kamu sebagai anak dari teman pak Andik, kamu tetaplah bersikap rendah diri. "
"Akan selalu ku ingat nasehat Ibu, Surya pamit berangkat kerja dulu, Bu...." mencium tangan ibunya dan bergegas pergi memanasi mesin motor bututnya.
Ibunya menarik nafas panjang, seraya mengadahkan kedua tangan di depan dadanya.
"Ya Allah, semoga keputusan yang Surya ambil ini selalu Engkau ridhoi dan jagalah dia dimanapun berada." ucap ibunya setelah itu menyapu kedua tangan ke wajahnya. Selesai dia membereskan pekerjaan rumah, bu Desi segera bersiap - siap berangkat kerja.
Pagi ini, Surya sudah berdandan serapi mungkin, meski dari kalangan bawah dia cukup bisa membedakan cara berpenampilan antara bekerja dan kuliah. Setelah tiba di kantor pak Andik, Surya segera menuju ruangannya yang berada di lantai tiga.
"Selamat pagi Pak!" Surya menjabat tangan pak Andik ketika sampai di depan ruangannya.
"Pagi Surya," menerima tangan Surya dengan senyuman yang ramah.
"Apakah Anda punya waktu saat istirahat nanti?" tanya Surya sedikit canggung.
"Tentu, saya tidak ada jadwal meeting hari ini. Free...." Pak Andik mengetahui gelagat Surya , yang akan menyampaikan keputusannya tentang perjodohan dengan anaknya.
"Nanti, waktu istirahat ada yang ingin saya sampaikan ke Anda." ucap Surya seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Aku paham maksudmu, baiklah, nanti kita ketemuan saja di resto yang berada di sebelah kantor." sahut pak Andik dan segera masuk ke ruangannya.
"Baik, Pak!" Surya mengangguk sopan.
Surya melangkahkan pergi menuju tempat kerjanya, ada banyak berkas yang harus dia pelajari sebagai karyawan baru di perusahaan PT Andika.
***
__ADS_1
Surya menunggu pak Andik di sebuah resto dekat kantor, meskipun ukurannya kecil, resto ini tempatnya bersih, asri dan pelayanan yang ramah. Sehingga, membuat pelanggan merasa betah untuk melepas lelah di sini. Resto ini sering dikunjungi para karyawan, selain untuk memesan makanan bisa juga untuk beristrikan, ada yang sedang membuka laptopnya, bercanda ria dengan rekannya, bahkan terdapat musholla untuk beribadah.
"Pantas saja pak Andik memintaku menunggu di sini, tempatnya bagus dan makanannya seperti pas di kantongku ." Melihat menu daftar makanan dan minuman.
Tak lama kemudian pak Andik datang. Semua yang ada di sana sangat hormat dan merasa sedikit canggung kalau bertemu dengan seorang pemimpin perusahaan yang berada di tempat ini. Walaupun sebagai pemimpin perusahaan pak Andik tidak segan menjajaki tempat makan yang dianggapnya ramai dan murah meriah.
"Sudah lama kamu menunggu?" tanya pak Andik seraya membaca daftar menu.
"Baru saja, Pak!" sahut Surya.
"Mau pesan apa?" tanya pelayan resto seraya mencatat pesanan.
" Nasi dengan sayur asam, sambalnya sambal tomat, lauknya tempe penyet , dan minumannya es jeruk." Melihat ke arah Surya.
" Kamu pesan apa, Surya?"
"Saya sama dengan Anda saja," ucap Surya seraya menutup buku menu.
"Ternyata pak Andik selain orangnya ramah ternyata seleranya tidak seperti orang - orang kaya pada umumnya. Makan dan minumnya sangat sederhana." batin Surya.
"Bagaimana Surya, dengan keputusanmu itu?" tanya pak Andik seraya mengaduk es jeruk yang baru saja dipesan.
"Begini, Pak. Setelah saya melakukan shalat istikharah semalam. Saya memutuskan untuk menerima perjodohan ini." Menatap pak Andik dengan tatapan serius.
"Alhamdulillah...saya sudah menduga akan keputusanmu." Menepuk pundak Surya dengan perasaan senang.
"Semoga keputusan ini, menjadi berkah untuk kita bersama." ucap pak Andik.
"Aamiin...!" Surya mengusap kedua tangannya ke wajah.
"Tapi, saya belum tahu anak Pak Andik," ucap Surya sedikit malu.
"Tenang, biar saya yang urus masalah pertemuan kalian."
"Coba saya lihat foto di ponsel, mungkin ada foto dia." Mengambil ponsel dan mencari gambar Tika.
"Ini Pak, pesanan Anda." ucap pelayan wanita seraya menaruh beberapa piring menu pesanan.
" Iya, Mbak! Terima kasih." Mendekatkan piring ke arah pak Andik .
"Bruak...!" Suara ponsel pak Andik jatuh dan berantakan.
Dengan serentak Surya membantu pak Andik mengemasi ponselnya yang berantakan.
"Ponsel Anda rusak," ucap Surya seraya menyerahkan baterai ponsel yang terlepas.
"Tidak apa - apa , terima kasih Surya. Saya bisa beli lagi yang baru. Untuk foto anak saya , menyusul saja. " Menerima yang di berikan Surya lalu mengambil kartu SIM dan card memory.
"Terserah Pak Andik saja , yang lebih paham dan berpengalaman. Saya belum mengerti hal apa saja yang harus saya lakukan ."
"Bagaimana kalau kamu langsung menikah saja. Tidak usah ada acara pertemuan segala. Lebih menyingkat waktu dan pacarannya setelah akad nikah." Pak Andik menawarkan permintaan kepada Surya.
Surya tersedak...kaget mendengar keputusan pak Andik.
Bersambung....
Bagaimana reaksi Surya kalau tahu bahwa calon istrinya adalah Tika.?
__ADS_1