Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Gara- Gara Sepatu


__ADS_3

Selesai acara ijab dan kabul, Tika dan Surya menikmati makan siang.


"Selamat Tika, semoga pernikahan kalian abadi sampai kakek nenek." ucap tante Lina, istri om Sigit.


"Terima kasih tante, atas doanya. Semoga tante juga lekas diberi momongan." sahut Tika, om Sigit dan istrinya selama 10 tahun menikah belum dikaruniai seorang anak. Meskipun mereka sudah menjalani pengobatan medis dan alternatif, namun masih belum membuahkan hasil.


"Aamiin...doanya seorang pengantin, cepat terkabul lo..." sahut on Sigit yang baru datang dengan membawa segelas minuman dingin.


"Papa kamu hebat, bisa mencari menantu tampan dan pintar seperti Surya." ucap om Sigit.


"Ah, Om bisa saja. Dia teman kampus Tika. Ya, kebetulan dia anak teman papa." ucap Tika berpura - pura senang dengan pernikahan ini.


"Sepertinya Surya dari tampang wajahnya selain ganteng dia juga terlihat sebagai imam yang bijaksana dan sabar. Wah beruntung sekali kamu..." goda tante Lina .


"Surya, kamu tidak makan..." ucap ibunya Surya seraya membawa piring kosong mendekati Surya yang sedang menikmati minuman dingin.


"Nanti Bu, Surya mau sholat dulu." sahut Surya.


"Baiklah, selesai sholat segera makan. Ibu tidak mau penyakit maag kamu kambuh." Surya mengangguk dan bergegas beranjak dari tempat duduknya.


"Bu, Anis mau tambah lagi satenya." rengek Anis.


"Hus, kamu lapar apa doyan. Nanti kamu gendut." ucap ibunya, Anis tertunduk dan wajahnya cemberut.


"Tidak apa - apa Bu Desy, anak zaman sekarang kalau gendut itu seksi lo..." ujar bu Tasya seraya mengangkat dagu Anis. Anis merasa malu.


"Eh, Bu Tasya...saya bukannya melarang tapi, Anis kalau sudah gendut badannya, jarang dan malas untuk membantu pekerjaan rumah." ujar ibunya Surya.


"Biarkan, toh...hanya makan beberapa tusuk tidak akan langsung jadi gendut kan..." ucap bu Tasya, mereka berdua saling mengobrol membahas Tika dan Surya dimana akan tinggal setelah menikah.


"Tika," panggil Surya, Tika yang sedang mengobrol dengan tante Lina menoleh dan menghampirinya.


"Apa..." sahutnya ketus.


"Antar aku !" jawab Surya seraya melepas jas hitamnya.


"Kemana?" sahut Tika seraya menjinjing kebaya yang terlalu mengganggunya .


"Aku mau sholat." Membantu Tika memegangi kebaya yang mengekor hingga ke tanah.


"Hmmm..." sahutnya dengan nada terpaksa.


Surya mengikuti Tika dari belakang berjalan menuju mushola yang berada di belakang vila.


"Akh...!"Tika tergelincir jalan yang berlumut, badannya hampir jatuh dengan sigap Surya menangkap Tika, karena sepatu yang dia kenakan terlalu tinggi, kaki kanannya keseleo.


"Sakitkah..." ucap Surya, Tika mengangguk pelan. Surya berjongkok, melepas sepatunya.

__ADS_1


dan memijat perlahan kaki kanannya.


"Aduh, sakit tahu!" teriak Tika. Surya hanya terdiam dan tanpa berpikir panjang, dia membopong Tika. Sontak Tika menjerit histeris.


"Akhh...lepaskan aku! Lepaskan aku!" meronta - ronta seraya tangannya menjambak rambut Surya, sehingga Surya berjalan sempoyongan.


"Kamu bisa diam tidak!" bentak Surya, seketika Tika terdiam dan menunduk malu, hatinya ciut.


"Turunkan aku!" ucap Tika lirih.


"Apa kamu yakin bisa berjalan, kakimu terlihat bengkak, jika kamu paksa berjalan, malah semakin parah sakitnya." ujar Surya, Tika kembali terdiam dan pasrah.


"Jantungku berpacu dengan kencang, dag dig dug dear...Darahku seakan - akan berhenti mengalir. Pandanganku hanya tertuju satu arah, wajahnya. Dan baru pertama kali ini, aku di gendong cowok yang sekarang menjadi suamiku. Aku tidak bisa berbuat apa - apa selain meronta namun, aku akui kakiku memang sangat sakit . Dasar sepatu sialan, aku kutuk kamu. Aku tidak akan pernah memakaimu lagi. " batin Tika.


"Aku tidak menyangka menikahi wanita yang dulu pernah mencoreng nama baikku di kampus. Apa ini, mengapa jantungku berdetak tidak karuan. Seakan - akan mau lepas dari rongga dadaku. Keringatku mulai membasahi sekujur tubuhku. Ini gugup atau karena aku belum makan. Eisss...jangan berpikir yang bukan - bukan, Surya. Tenang, ini hanya karena kaki nenek sihir keseleo jadi, aku menggendongnya." batin Surya.


"Kamu tunggu di sini aku ambil air wudhu dulu." Menurunkan Tika di teras mushola. Tika masih terdiam dan hanya mengangguk.


"Lama sekali dia berdoa, memangnya apa saja yang dia minta." gumam Tika.


Selang beberapa menit kemudian, Surya datang.


"Kamu tidak sholat?" tanya Surya yang sebenarnya tahu karakter Tika seperti apa.


"Nanti..."sahut Tika seraya memijat kakinya.


"Sepertinya sudah mendingan,"sahut Tika.


"Baguslah, kamu bisa berjalan sendiri sekarang." Surya meninggalkan Tika seorang diri.


"Apa, tadi saja sok romantis, kini aku malah dicuekin. Dasar cowok kampungan. Aku benci kamu." gerutu Tika.


Surya mendekati ibunya.


"Ibu sudah makan..."


"Sudah, sekarang giliranmu. Cepat makan!"


"Baik, Bu..."


Selesai makan pak Andik dan bu Tasya mendekati keluarga Surya.


"Dimana Tika? Apa dia sudah makan? Sejak tadi aku tidak melihatnya." tanya pak Andik seraya duduk disamping Surya yang hampir memasukkan makanan ke mulutnya.


"Tika itu jarang makan siang, maunya ngemil melulu." sahut bu Tasya.


"Tapi, Ma. Sejak pagi tadi dia belum sarapan. Aku tidak mau dia sakit. Sekarang dia sudah bersuami. Jadi, dia harus sehat dan kuat untuk melayani suaminya." ucap pak Andik.

__ADS_1


"Biar saya yang mencari Tika, Pak, Bu..."ucap Surya dan menunda makannya.


"Kok kamu memanggilnya Pak dan Bu...seharusnya Papa dan Mama...coba kamu panggil kami Papa, Mama." ucap bu Tasya.


"Iya, Pa,Ma..." Surya sedikit kaku karena tidak terbiasa.


"Cari dia, dan suruh makan siang."perintah pak Andik. Surya mengangguk dan bergegas mencari Tika.


"Kemana dia pergi, atau mungkin dia masih berada di mushola ..." Surya melangkahkan kaki menuju mushola.


"Tika, aku pikir kamu tadi menyusulku. Ternyata kamu masih ada di sini."ucap Surya menghampiri Tika yang masih duduk.


"Bagaimana aku bisa berjalan, kakiku sakit..."sahut Tika manja.


"Papa dan Mama mencarimu." ucap Surya, karena merasa kasihan akhirnya Surya dengan hati terpaksa menggendong Tika lagi.


"Apa yang kamu lakukan?"tanya Tika pura - pura bodoh.


"Memangnya kamu bisa jalan dan sampai ke vila sendiri." ucap Surya ketus. Tika menggeleng.


"Sejak kapan kamu memanggil orang tuaku dengan sebutan papa mama?" tanya Tika jengkel.


"Sejak aku menjadi suamimu." sahut Surya singkat yang membuat hati Tika bergetar mendengar kata suami. Seakan - akan Tika belum sepenuhnya siap menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri.


"Kau tahu, aku sangat menbencimu cowok kampung! Aku akan membuat kamu tidak betah hidup denganku. Aku akan memperlakukanmu sebagai pembantu. Ha...Ha...ha...!" batin Tika.


"Aku tidak suka memandang wajah nenek sihir ini, ingin rasanya aku melempar dia ke laut atau ke kandang singa sekalian. Aku akan membuat hidupmu membayar atas apa yang kamu lakukan terhadapku selama di kampus. Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan . Dasar nenek sihir, sok cantik, sok kaya , bawel lagi." batin Surya.


"Tika, kenapa denganmu?" tanya pak Andik heran setelah mereka berdua sampai di vila.


"Apa yang terjadi , kenapa Tika kamu gendong, Surya..." tanya bu Tasya cemas.


"Kakiku sakit, keseleo karena memakai sepatu jelek ini." gerutu Tika seraya menunjukkan sepatu yang sejak tadi dia bawa.


"Iya, saya tidak tega melihatnya, oleh karena itu saya menggendongnya."sahut Surya seraya menurunkan Tika di kursi.


"Biar saya pijit ya, Non." ucap bu Desy.


"Ibu jangan panggil saya Non, cukup Tika saja. Kan sekarang Tika jadi menantu Ibu..."ucap Tika seraya tersenyum palsu. Dan segera bu Desy memijat kaki Tika.


"Wah...Pa, kita bakal segera dapat cucu kayaknya. Surya romantis sekali, perhatian pula." bu Tasya memuji, Tika semakin kesal.


"Ya alhamdulillah kalau begitu." ucap pak Andik.


"Selesai ini, kamu segera makan. Kamu mulai detik ini tidak boleh sampai telat makan. Surya ajak Tika makan!" ucap pak Andik.


"Iya, Pa..." sahut Surya seraya berdiri mengambil makanan.

__ADS_1


Pak Andik bersama bu Tasya pergi meninggalkan mereka. Sementara bu Desy pergi menuju dapur seraya membawa beberapa piring kotor.


__ADS_2