
Tedi kini duduk merenung setelah pulang dari pemakaman ayahnya. Dia berada dalam kamar kerja ayahnya. Lama sekali dia berada di sana sambil memeluk foto ayahnya. Foto saat mereka berdua memancing bersama. Dia ingat waktu itu tak satu pun ikan yang mereka berdua dapatkan hanya setumpuk sampah yang mereka peroleh. Dia senyum-senyum sendiri mengingat kebersamaan dengan ayahnya. Meski pak Tomi terlihat sibuk, tapi untuk urusan memancing bersama adalah urusan nomor satu. Tak terasa bulir air matanya jatuh. Rencananya sepulang dari rumah sakit dia ingin membuat perhitungan dengan ayahnya tapi setelah mendengar kabar ayahnya meninggal dunia karena pembunuhan, dia merasa serba salah. Belum sempat dia meminta maaf dan membahagiakan orang tua, nyatanya ayahnya sebagai anggota keluarga satu-satunya telah lebih dulu menghadap illahi. Di umur yang belum terlalu tua ini, pak Tomi telah menyusul istrinya, dengan meninggalkan anak tunggal bernama Tedi.
Sudah hampir sore Tedi baru menjenguk Tika. Dia mengendarai merci hitamnya pembelian terakhir yang ia terima dari ayahnya setelah dia dibelikan sebuah rumah mewah di bukit. Pak Tomi orang yang sangat kaya dan pengusaha yang sangat terkenal sukses. Jadi, Tedi lah satu-satunya penerus kekayaannya. Dia sebelum menjenguk Tika, dia sempatkan untuk berkunjung ke makam ayahnya lagi. Dia meminta pada perawat makam untuk selalu membersihkan rumput-rumput yang jika mulai tumbuh atau membersihkan guguran dedaunan .
Pukul 5 sore.
"Tika, sebelumnya aku ingin bicara padamu." ucap Tedi saat menjenguk Tika yang sudah mulai bisa bangun sendiri dari ranjang rumah sakit. Dia sebisa mungkin membantu Tika bangkit, namun Tika menolaknya lantaran dia mau berusaha sendiri.
"Katakan saja," sahut Tika sembari melipat selimut dan merapikan seperi. Tika semenjak menjadi janda dulu sudah banyak berubah tak manja lagi. Sudah terbiasa melakukan hal sepele seperti ini. Ia tak mau menyusahkan orang lain lagi. Untuk keadaannya yang sekarang dia tak memberi kabar pada keluarganya yang lain agar mereka tak mengkhawatirkannya. Sebenarnya ia tahu ini salah, tapi dia tak mau ambil resiko jika papanya yang sangat menyayanginya kaget dan terkena serangan jantung.
"Maafkan semua kesalahan ayahku." ucap Tedi singkat membuat Tika tak mengerti dengan perkataan Tedi. Tika sudah selesai merapikan ranjangnya tanpa harus menunggu suster datang karena hari ini jadwal pelepasan infus di tangannya.
"Ayahmu? Pak Tomi tak pernah berbuat salah padaku, jadi untuk apa dia meminta maaf padaku?" sahut Tika yang kini tengah duduk berhadapan dengan Tedi. Tedi memegang kedua pundak Tika dan mulai berbicara serius.
"Ayahkulah yang menyebabkan kecelakaan yang dialami Surya." Tika membulatkan matanya lebar dan dengan cepat dia menutup mulutnya, sangking kagetnya dia, sepengetahuan dia pak Tomi orangnya baik dan tak pernah memiliki musuh. Dia bertanya dalam hatinya, salah apa Surya padanya sampai-sampai ayah Tedi membenci Surya. Setahunya Surya tak pernah bertemu dengan pak Tomi, jadi kemungkinan kecil kalau mereka berdua bermusuhan.
"Bagaimana bisa beliau melakukan itu pada mas Surya?" tanya Tika heran.
Belum selesai Tedi menyahut suster masuk ke dalam ruangan itu. Dia mulai melepaskan infus dan menyuruh Tika untuk menarik nafas. Selesai melepas infus suster mengatakan bahwa dia boleh pulang karena kondisi pasien sudah membaik.
"Lalu bagaimana keadaan suami saya, Sus?" tanya Tika saat suster itu akan pergi.
"Kondisi pasien saat ini masih lemah, Anda berdoa saja agar segera sadar karena pasien sudah melewati masa kritisnya." sahut suster lalu bergegas ke luar.
"Mas Surya," desahnya lirih sambil menatap Tedi, meminta penjelasannya yang tertunda tadi.
__ADS_1
"Katakan Di, mengapa ayahmu sangat membenci mas Surya?"
"Karena aku sangat membenci Surya, sehingga itu berdampak buruk bagi dirinya. Tolong, maafkanlah ayahku." ucap Tedi memelas sambil mengatupkan kedua tangannya, lalu memegang kedua tangan Tika.
"Tidak semudah itu beliau meminta maaf." sahut Tika sambil menepis tangan Tedi, dia berdiri menuju koridor membayangkan betapa kejamnya perbuatan pak Tomi.
"Atau jangan -jangan kejadian kemarin juga ulah ayahmu?" Tika membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Tedi. Feelingnya merasa kuat kalau pak Tomi dalang semua kejadian yang menimpanya. Karena hanya dialah yang sekarang membencinya.
Tedi hanya mengangguk.
"Benarkah? Sepertinya beliau membenciku dan membenci mas Surya, salah apa kami padanya?" tanya Tika heran dan mulai berurai air mata mengingat Surya belum sadarkan diri sejak kemarin.
"Iya Tika, ini semua salahku. Aku akui itu. Ayahku merasa frustasi saat aku mulai mengurung diri di kamar dan mabuk-mabukan. Dia tahu kalau kalian sudah menikah dan membuatku frustasi. Itulah yang menyebabkan dia membenci siapa saja yang telah menyakiti hatiku. Padahal aku sudah melarangnya untuk tidak berlaku kasar padamu." jelas Tedi bersungguh -sungguh ingin meminta maaf agar ayahnya di alam sana tenang.
"Jadi kamu tahu niat ayahmu? Dan kamu mau mencoba melindungi dia. Aku tidak terima perbuatannya padaku. Akan aku laporkan ayahmu pada polisi!" Tika mulai emosi dan tak mampu menahan amarahnya. Sebelum Tika melangkah pergi lebih jauh menuju pintu , tangannya tertahan oleh Tedi. Tika memandang lengannya.
"Percuma kamu akan melaporkan ayahku." ucap Tedi seraya melepaskan pegangannya.
Tika menjadi binggung dan mengernyitkan dahinya.
"Dia telah mendapatkan hukumannya dan pasti itu sudah setimpal dengan apa yang telah dia lakukan padamu dan Surya. Aku hanya minta pemberian maaf darimu untuk ayahku. Agar dia bisa tenang." Tedi terduduk lesu, ucapannya membuat Tika benar -benar tidak mengerti.
"Tenang? Apa maksudmu dengan kata tenang. Ceritakan padaku Di, ada apa sebenarnya?" Tika menangkap kesedihan pada wajah Tedi.
"Ayahku sudah tewas." ucap Tedi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan wajah sedihnya.
__ADS_1
"What...!" Tika mendekati Tedi dan mengusap lembut pundaknya. Kekesalannya kini berubah kasihan.
"Maafkan aku, Di. Aku baru menyadarinya. Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa ayahmu bisa meninggal begitu cepat?" tanya Tika lalu mulai duduk di sebelahnya.
Seorang suster masuk dan memberikan saran pada mereka berdua untuk tidak mengobrol di ruangan pasien. Tedi menyadari hal itu dan mengajak Tika pergi ke luar menuju pada taman yang kecil namun cukup rindang. Mereka berdua duduk pada sebuah kursi yang terbuat dari batu.
Lalu Tedi memulai ceritanya.
"Ayahku terbunuh, dari CCTV rumah terlihat pelakunya adalah sama dengan preman yang kemarin. Jadi, ayah dibunuh oleh orang suruhannya sendiri. Mereka juga merampok rumah. Kini polisi telah mengamankan kelima pelaku pembunuhan tersebut." jelas Tedi.
"Aku turut berduka cita atas kepergian orang tuamu. Aku juga sudah memaafkannya. Kamu yang sabar ya." terang Tika sambil tersenyum dan menepuk dada Tedi. Tedi yang mendapatkan perhatian Tika menyadari kalau ini hanya sebatas perhatian seorang teman saja. Andai saja dia belum putus dengan Tika, pasti perhatiannya lebih dari sekedar teman biasa.
"Terimakasih, Tika. Maafkan aku juga kemarin aku bersikap egois padamu. Seharusnya aku tahu kalau kamu cintanya hanya pada Surya, tapi aku malah memaksakan kamu untuk menceraikan dia. "
Tika hanya melemparkan seulas senyum dan beranjak dari duduknya.
"Butikku?" Tika bergumam namun terdengar lirih oleh Tedi. Mendadak dia teringat dengan butiknya yang belum ada renovasi karena dia tengah sibuk mengurus Surya. Rencananya sepulang dari kesembuhan Surya dia ingin merenovasi butik.
"Apa itu juga ulah ayahku?" sangka Tedi.
"Biarlah Di, tidak usah kamu pikirkan. Aku sudah melupakan kejadian itu, toh butik bisa dibangun lagi dari awal. Yang penting kan hati kita sudah terbuka dan tidak ada saling benci lagi. " ujar Tika kini beban pikirannya sudah terasa enteng.
"Tenang saja, Tika. Aku akan menolongmu sampai Surya ke luar dari rumah sakit." ujar Tedi.
"Benarkah, terimakasih Tedi. Kamu memang orang nomor satu yang membantuku." ucap Tika sontak memeluk tubuh Tedi, dia jadi kegeeran.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk, pelan -pelan Tika!" ucap Tedi dengan tersenyum, "Kamu terlalu kencang memeluknya. Tenang saja aku tidak akan kabur." gurau Tedi membuat dia mendapatkan cubitan di lengannya, dia meringis menahan sakit.