Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Sekarat


__ADS_3

"Surya, kamu kenapa sayang?" Dewi memegangi Surya yang masih mengerang kesakitan. Surya membungkuk sambil memegang kepala.


"Mas Surya, kamu kenapa Mas?" tanya Tika panik, saat Surya merasa kesakitan tadi, dia mau menolongnya tapi keduluan Dewi.


"Ini sumua ulahmu, jika kamu tak datang tidak akan begini akibatnya!" hardik Dewi sambil menatap tajam.


"Kok kamu nyalahin Miss Ti sih, sudah jelas kamu yang salah telah merebut suaminya!" imbuh Reni yang mulai geram.


"Diam kamu, kamu tidak perlu ikut campur urusanku! Apa, barusan kamu panggil dia apa? Miss Ti. Wkwkwk...aku tak percaya itu kamu!" Dewi meledek dan tertawa.


"Kamu dikasih tahu malah tertawa, dia itu yang mendesain gaun yang kini kamu kenakan." tambah Reni, tapi Dewi tak menggubrisnya.


Bik Sumi gugup lantaran kebenaran ini nyata, Tika dan Surya sudah menikah, dia termakan omongan lantaran Dewi pernah bilang Surya hanya seorang sopir pribadi dari temannya. Bik Sumi menyembunyikan wajahnya dibalik tamu undangan karena takut. Berharap Tika tak menangkapnya.


"Cukup, hentikan omong kosong ini!" Surya memaki Tika, kepalanya sudah agak mendingan. Dia mencoba berdiri tegak sambil menunjuk Tika.


"Untuk apa aku berbohong, aku Tika Mas, istrimu. Kalau kamu tak percaya, kamu lihat dan baca sendiri buku nikah kita ini." Tika berjalan mendekati Surya, namun Dewi mencegahnya.


"Berhenti kamu di situ. Dan jangan pernah dekati calon suamiku. " hardik Dewi.


"Biarkan aku membacanya!" ucap Surya menyela perdebatan itu. Tika menyerahkan sambil berdoa di dalam hati supaya Surya percaya bahwa dia adalah istri sahnya. Surya membaca buku nikah itu. Dan melihat beberapa foto saat akad nikah dulu. Namun, dia belum ingat sepenuhnya.


"Aw, kepalaku sakit lagi!" keluh Surya sambil memegang kepalanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Ku antar ke rumah sakit, Mas. Ayo, pulang bersamaku!" ajak Tika namun Surya masih menahan sakit.


Dewi tak bisa apa-apa, berdiri mematung dan sedang memikirkan sesuatu. Jiwanya sedang kalut. Dewi berjalan cepat menuju lemari yang berada di sampingnya. Menarik laci dengan cepat.


"Aku tak kan membiarkan siapa pun merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." teriak Dewi sambil menodongkan pistol ke arah Tika. Tangan Dewi bergetar membuktikan dia tak ahli dalam memegang senjata. Semua panik dan hiruk pikuk mulai terjadi di ruangan itu.

__ADS_1


Tika dan Surya membelalakkan matanya, keduanya saling pandang. Tidak hanya mereka berdua yang ketakutan jika Dewi akan menembak Tika, Tedi yang berada dari kejauhan pun turut merasakan ketakutan yang sangat. Berbeda dengan pandangan pak Tomi, dia justru merasa senang jika hal itu dilakukan Dewi, lantaran Tika selalu menolak putra tunggalnya. Satu penghalang akan lenyap, jadi dia tidak perlu mengotori tangannya.


"Tenang, Wi. Tahan emosimu!" pinta Surya.


"Kamu lihat sendiri kan, Mas. Perempuan jahat seperti itu mau kamu nikahi? Pulanglah bersamaku, Mas!" pinta Tika lagi sambil menudingkan jarinya ke Dewi. Dewi sakit hati dan sudah tak sabar lagi.


"Tidak boleh! Surya harus tetap menikah denganku." Tanpa berpikir panjang lagi, satu tembakan ia layangkan ke arah Tika.


Dor!!!


"Mas Surya...!!!" teriak Tika histeris, dia melihat Surya berdarah pada pinggangnya. Surya menghalangi tembakan Dewi. Dia jatuh tersungkur ke lantai. Darah segar membasahi kemeja putihnya.


"Surya, tidak...!!!" pistol jatuh di lantai dan Dewi bersimpuh, dia menyesal atas apa yang baru saja dia lakukan. Bukannya Tika yang ia tembak, melainkan Surya. Betapa bodohnya Surya melindungi wanita itu, biarkan saja dia yang tertembak agar kita bisa melanjutkan pernikahan kita pikir Dewi.


Rudi yang mendengar suara tembakan itu langsung masuk ke dalam ruangan tempat berkumpulnya para tamu undangan melihat apa yang terjadi. Dia tak menyangka suara tembakan itu ditujukan ke siapa, lantas setelah berada di lokasi dia kaget bukan main melihat Surya yang tertembak dan sudah terkapar.


"Cepat panggil ambulan dan polisi! Cepat Rudi !" teriak Tika. Tika duduk mendekati Surya dan meletakkan kepala Surya di atas pangkuannya. Wajahnya seketika menjadi pucat.


"Ba...baik Mbak!" sahut Rudi cepat dan segera merogoh ponsel di saku jasnya dan menghubungi ambulan terlebih dahulu. Setelah pihak medis selesai dihubungi dia menelpon pihak kepolisian.


"Mas Surya, bertahan Mas! Ambulan sebentar lagi datang dan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah!" Tika menggenggam erat tangan Surya sambil menangis sesenggukan.


"Ti...Tika!" ucap Surya lirih sambil merintih dan menahan sakit, seketika itu juga dia langsung tak sadarkan diri.


"Mas Surya...!!! Ku mohon sadarlah! Jangan tinggalkan aku lagi! Sudah perih hati ini, jangan kamu tambah lagi dengan kepergianmu. Bangun, Mas!"


Reni sibuk menghalau reporter yang terus saja menyoroti Tika. Rencana kacau, tak berjalan semestinya. Reporter yang hanya berjumlah lima orang itu terus saja mendesak ingin meliput tragedi penembakan.


Sementara para tamu undangan memilih untuk tetap diam sampai polisi datang.

__ADS_1


Bik Sumi yang tertangkap pandang oleh Tika gugup sendiri.


"Bik Sumi, lihat ulah putrimu! Apakah ini yang kamu ajarkan? Bukankah kamu pernah berada dalam rumahku waktu itu, mengapa kamu malah diam tak melakukan apapun. Mendukung pernikahan yang konyol ini." jelas Tika sambil berurai air mata.


"Saya...saya..." bik Sumi mati kutu, tak bisa berkutik lagi.


"Bila terjadi sesuatu pada suamiku aku tidak akan memaafkan kalian berdua. Ingat itu!" Tika melayangkan pandangan kebencian. Bik Sumi semakin ketakutan bukan main.


Selesai menelpon, Rudi membantu Reni untuk mengkondisikan para reporter yang sangat haus akan berita itu. Setelah agak lama, mereka berhasil dibujuk untuk tidak terlalu ikut campur lagi. Meminta untuk tenang sampai pihak polisi datang dan mau memberikan bukti rekaman atas kejadian tadi.


Tedi dan pak Tomi bukannya merasa kasihan malah mereka berdua tersenyum penuh kemenangan. Tedi berpikir alangkah baiknya jika pesaingnya itu mati seketika. Sedangkan pak Tomi berpikir meski bukan Tika yang tertembak tapi Surya sebagai ancaman bagi hidupnya malah lebih bagus seperti itu.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi." Dewi menatap Surya dengan menangis dan menatap kedua tangannya sendiri.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku bukan pembunuh! Bukan!" Dewi menjambaki sanggulnya hingga terlepas berubah menjadi acak-acakan.


Bik Sumi yang sedari tadi terdiam kini berani ambil suara.


"Ma...maafkan saya Mbak Tika, saya benar - benar tidak bermaksud seperti itu. Saat dulu menemukan mas Surya, saya tidak bermaksud untuk membuat dia menikah dengan Dewi. Dewi bilang, Mas Surya hanya sopir pribadinya Mbak Tika. Saya waktu bekerja paruh waktu dulu tak melihat foto kebersamaan kalian atau foto pernikahan kalian. Jadi saya berpendapat sendiri kalian belum menikah." jelas bik Sumi lalu berjalan menuju Dewi.


"Itu sudah terlambat, Bik Sumi." sahut Tika datar. Kini dia hanya fokus pada pria yang sedang berada di pangkuannya itu. Suami yang sedang sekarat. Sesekali dia menyeka keringat di kening Surya.


"Dewi, apa yang barusan kamu lakukan, Nak. Kamu sendiri yang telah menghancurkan pernikahanmu. Lihat, siapa yang terkena imbasnya?" ucap Bik Sumi panik dan takut kalau Dewi masuk penjara lantaran Rudi sudah menelpon pihak yang berwajib. Dewi tak bergeming sedikitpun.


Tiga puluh menit kemudian. Akhirnya terdengar suara ambulan. Empat tim medis datang dan langsung mengangkat Surya membawa masuk ke dalam mobil. Tika yang sedari tadi masih menangis ikut masuk ke dalam mobil.


"Bertahanlah, Mas!" ucap Tika sedikit berbisik. Para tim medis memasang alat bantu pernafasan dan impus.


Tika panik dan hanya berpikir positif saja, semoga suaminya tertolong.

__ADS_1


__ADS_2