Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Amnesia


__ADS_3

Hari menjelang petang, Dewi bersama Bik Sumi pulang dari luar kota menuju rumah barunya dengan mengendarai mobil taksi, mereka berdua tengah asyik berbincang.


"Bu, lihat rumah mewah itu!" menunjuk ke luar kaca mobil. "Setelah punya uang banyak aku ingin membeli rumah yang besar."


"Buat apa? Rumah yang kita tempati kan baru beli. Mending uangnya dikumpulin buat persiapan nikah kamu." balas ibunya ketus setelah memperhatikan rumah yang ditunjuk Dewi.


"Nikah, sama siapa Bu?"


"Ya sama pacar kamulah."


"Dewi belum punya pacar, tapi kalau suami idaman ada." ucap Dewi sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya.


"Siapa?" tanya ibunya sembari tersenyum.


"Teman kampus, dia cowok paling baik sedunia." sahut Dewi dengan bangga memuji Surya. Ibunya berharap bisa mengenal cowok yang dimaksud Dewi dan memintanya segera melamar agar secepatnya memberikan cucu.


Saat Dewi membuka akun di sosial media. Isak tangis mulai menderu. Bik Sumi bingung dengan ulah putri kesayangannya yang tiba-tiba menangis.


"Kenapa Dew?" tanya ibunya terenyuh.


"Surya Bu, dia telah meninggal akibat kecelakaan." Dewi memperlihatkan foto saat dia bersama Surya dulu. Serta beberapa foto jenazah Surya yang hangus. Bik Sumi menganga tidak percaya kalau foto yang dia lihat adalah majikannya.


"Dia kan..." Bik Sumi menutup mulutnya.


"Ini Surya Bu, cowok yang barusan aku ceritakan tadi." jelas Dewi membuat Bik Sumi gelagapan kesulitan menelan ludahnya, mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa putrinya menyukai pria yang sudah berumah tangga.


"Ada apa Bu..." tanya Dewi saat menatap raut wajah ibunya yang berubah.


"Dia seperti majikan ibu."


"Mana mungkin Bu, Surya belum menikah. Aku kenal betul siapa dia. Dia hanya seorang sopir dari temanku yang sangat menyebalkan." tutur Dewi membuat bik Sumi binggung.


Pikir Bik Sumi, Surya sebagai majikannya itu benar sudah menikah atau belum? Jikapun sudah menikah pasti di rumah majikan ada foto pernikahan. Tapi tidak di sana, tak satu pun Bik Sumi menemukan foto mereka berdua layaknya suami istri. Bik Sumi membuat asumsi sendiri bahwa yang dikatakan putrinya tidak sepenuhnya salah. Surya hanyalah sopir pribadi. Dan bisa saja majikannya kumpul kebo.


Cit... bunyi ban mobil.


"Ada apa Pak?" tanya Bik Sumi saat taksi yang dikendarainya berhenti mendadak.


"Itu...ada mayat!" si sopir menunjuk ke arah tubuh yang tergeletak di tengah jalan. Suasana jalan tampak sepi.

__ADS_1


"Mayat..." Gumam Dewi. Bik Sumi dan Dewi turun dari mobil lalu menuju sosok tubuh yang tergeletak di tengah jalan itu.


Mereka berdua mengamati sosok tubuh pria yang tengkurap, tampak bajunya hangus bekas terbakar.


"Surya!!" teriak Dewi saat membalikkan tubuh yang terkapar itu. Sejumlah luka serius terdapat pada kening, lengan dan kaki.


"Apa dia sudah mati?" tanya Bik Sumi sembari menarik lengan baju Dewi. Dia merasa ketakutan.


"Belum, denyut nadinya masih ada . Pak tolong bantu saya angkat dia!" ucap Dewi saat pak sopir datang ingin melihat. Si sopir mengangguk dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau bawa dia ke rumah sakit, Dew?" tanya ibunya. Dewi tampak sibuk mengusap wajah Surya yang penuh dengan lumpur.


"Dewi ngak punya uang banyak, Bu. Kita bawa pulang ke rumah saja. Kita rawat dia." jelas Dewi. Bik Sumi mengiyakan semua perkataan putrinya.


Sesampainya di rumah baru milik Dewi, Surya yang masih pingsan dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Melihat perlakuan Dewi ke Surya, Bik Sumi yakin kalau Surya itu jodoh yang tepat yang bisa membuat putrinya bahagia.


"Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi atau keluarganya?" tanya Bik Sumi yang mulai khawatir.


"Tenang Bu, setelah sadar aku akan mengantar dia pulang. Aku hanya ingin bersamanya untuk sementara." jelas Dewi saat mengelap wajah Surya.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, tapi ibu takut kalau keluarganya mencarinya bagaimana? Bisa-bisa kita dituduh menyembunyikannya."


"Apa?" mendongak sambil mengingat.


"Surya telah dinyatakan meninggal, Bu."


"Lantas jenazah siapa yang ada di foto tadi?" ibunya semakin binggung.


"Entahlah, biarkan dia di sini. Besok pagi aku akan mencari tahu sebab kecelakaannya." Dewi berlalu menuju kamarnya.


Ketika malam tiba, Surya merintih. Sesaat dia berteriak membuat Dewi dan ibunya terbangun.


"Surya, kamu sudah sadar. Ini aku, Dewi." ucap Dewi saat tiba di kamar Surya. Tangannya menggenggam erat tangan Surya. Surya masih memejamkan mata.


"Mungkin dia menggigau." ucap bik Sumi, "Ayo kita tidur lagi." ajaknya.


"Dewi ingin menemani Surya, Bu. Aku khawatir bila terjadi sesuatu nanti." tolak Dewi. Ibunya berlalu pergi.


Pagi hari, Dewi masih tertidur di kursi. Sedangkan bik Sumi mengerjakan rutinitasnya di dapur. Bik Sumi sudah tidak bekerja lagi di tempat Tika lantaran Dewi memintanya untuk berhenti bekerja, lalu mereka pindah rumah.

__ADS_1


"Di mana ini?" tanya Surya saat tersadar, suara Surya yang lantang membuat Dewi bangun.


"Surya, kamu sudah sadar. Syukurlah...aku sangat mencemaskanmu." Dewi mengucek kedua matanya.


"Siapa kamu?" tanya Surya dengan masih terbaring, tubuhnya masih lemah.


"Kamu tak mengenalku? Aku Dewi. Bu...ibu, cepat kesini! " teriak Dewi panik, dengan segera Bik Sumi datang.


"Ada apa Dew? Dia sudah sadar? Alhamdulillah..." ucap Bik Sumi saat melihat Surya, tapi dia tak merespon.


"Surya tak mengenalku, Bu..." wajah Dewi muram dan ingin menangis.


"Ini Bik Sumi yang dulu pernah bekerja di tempat Mas Surya." Bik Sumi menepuk dadanya, mencoba menjelaskan namun Surya hanya menggelengkan kepala.


"Siapa aku? " Surya mencoba bangkit, Dewi membantunya untuk duduk dan bersandar.


"Kamu bahkan tak tahu siapa dirimu. Kamu Surya, temanku." jelas Dewi. Lalu Dewi menceritakan semua kejadian yang dia tahu, namun tetap Surya tak bisa mengingatnya.


"Kamu amnesia." ucap Dewi lirih, hatinya sedikit pilu lantaran pujaan hatinya sedikitpun tak mengingat dia.


Dilain sisi.


Tika duduk telungkup di sudut kamarnya dengan masih sesenggukan. Seharian ini dia tidak mau makan dan mengurung diri di kamar. Seisi rumah menyadari dan memahami perasaan Tika. Mereka berdua baru saja memiliki rasa cinta satu sama lain. Wajar jika Tika terpukul dengan kematian Surya yang mendadak.


"Aku menjadi janda, Mas." ucap Tika serak. "Aku tak bisa merasakan hidup lagi tanpamu. Aku ingin selalu bersamamu. Kamu lihat, bulan tak kan pernah meninggalkan bumi. Bintang pun takkan pernah meninggalkan langit. Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku. Aku akan segera menyusulmu, Mas." Tika bangkit dan berjalan ke luar kamar menuju halaman depan.


Pak Andik, bu Tasya serta bu Desy hanya saling pandang saat di ruang tamu melihat Tika keluar . Mereka terasa terkunci mulutnya untuk menanyakan keadaan Tika, padahal nyata adanya jika hatinya masih terluka. Mereka beranggapan Tika hanya keluar mencari udara segar di sore hari.


"Buk...mbak Tika ingin kabur!" tukas Anis saat masuk ke dalam rumah.


"Kabur...!!" ucap mereka bertiga.


"Pa, cepat kejar Tika!" suruh bu Tasya.


"Kamu tahu dari mana mbak Tika mau kabur?" tanya bu Desy.


"Tadi Anis tanya, mbak Tika ndak nyahut sama sekali." tutur Anis , " Berarti kabur namanya."


Dengan segera pak Andik berjalan dengan sedikit berlari menyusul Tika.

__ADS_1


__ADS_2