Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Kecelakaan


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, penampilan Tedi tak sekece dulu.Tedi menjadi murung, tak pernah keluar rumah dan hampir seperti orang gila. Jarang mandi dan sering mengurung diri di kamar. Meratapi nasib mencintai seseorang yang kini telah menjadi milik musuhnya. Ayahnya menjadi binggung dengan nasib anak semata wayangnya itu. Akhirnya dia berniat untuk menghancurkan kehidupan Surya dan Tika.


Sore hari saat Surya pulang dari kantor, di tengah perjalanan dia di hadang sekumpulan geng motor. Mereka memakai jaket hitam, celana hitam dan semuanya serba hitam. Suara bising motor menampilkan kemurkaan mereka. Salah satu diantara mereka pergi menyelinap di bawah mobil Surya.


"Turun kamu dari mobil!" bentak salah satu geng motor. Dengan sikap waspada Surya keluar dari mobil.


"Apa mau kalian?" tanya Surya dengan sesekali memperhatikan penampilan mereka. Dari 6 orang hanya satu yang membawa pemukul.


"Aku mau nyawamu!" imbuh yang lain.


"Nyawaku," Surya terkekeh. "Hanya Tuhan yang bisa mengambilnya, bukan kalian!"


"Aku yang akan menjadi mautmu!" ucap geng motor yang membawa senjata. Mereka mengitari Surya.


"Serang..." ketua geng memberi aba-aba, mereka berebutan ingin menghajar Surya. Surya terkepung.


Adu pukul pun berlangsung, dengan kemampuan sedikit bela diri yang Surya miliki sangat mudah untuk menjatuhkan lawan. Mereka babak belur di hajar Surya dengan tangan kosong.


"Apa mau kalian?" bentak Surya sambil bertanya saat menguasai salah satu geng motor dengan menjepit tangan kanan lawan sehingga merasa kesakitan.


"Ampun, kami hanya di suruh." jelasnya sambil mengiba.


"Disuruh? Siapa yang menyuruh kalian?" Surya menjepit lebih kuat membuat lawan mengerang.


"Bos besar." sahutnya, Surya melepaskan cengkeramannya lalu berpikir sejenak, siapa yang dimaksud bos besar dan mau apa dengannya. Para geng motor pergi pontang panting setelah salah satu dari mereka merasa kapok.


Surya melanjutkan perjalanan pulang.


Dretttttt....bunyi ponsel Surya, panggilan dari Tika. Tampak sudah 4 kali panggilan tak terjawab.


"Kamu belum pulang , Mas?" tanyanya terdengar bimbang.


"Ini, aku sedang dalam perjalanan. Tadi sedikit ada tikus yang menganggu jalanku."


"Tikus...?" tanya Tika heran.

__ADS_1


"Tapi kamu tenang saja, tikus-tikus itu sudah aku bereskan."


"Ngapain Mas Surya ngurusin tikus segala. Cepat pulang Mas, sebelum magrib tiba aku mau Mas sudah ada di rumah." ucap Tika


"Iya sayang.... Nanti sampai rumah aku ceritakan." Surya menutup ponselnya. Lalu fokus berkendara.


Tiba-tiba saat kucing melintas di depannya, Surya terkejut dan menginjak rem. Tapi, remnya blong. Surya hilang kendali dan akhirnya dia menabrak pembatas jalan. Mobilnya terperosok ke dalam jurang.


Sementara itu di kediaman Tika.


Tar!!! suara gelas pecah.


"Astaghfirullah..." sontak kalimat itu keluar dari bibirnya saat gelas dalam pegangannya merosot jatuh.


"Perasaan ku tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mas Surya." berjongkok sambil memungut pecahan gelas. Selesai membersihkan pecahan gelas, Tika duduk kembali di ruang makan menunggu suaminya pulang.


Hampir enam puluh menit berlalu, Surya belum juga mengetuk pintu.


"Magrib telah lewat mas Surya kok belum sampai juga." Tiba- tiba di tengah Lamunannya terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Apakah benar di sini kediaman saudara Surya?" tanya salah satu polisi. Tika binggung dengan kedatangan ketiga polisi itu, mereka membawa dompet milik Surya.


"Be...benar, ada yang bisa saya bantu?" sahut Tika dengan bergetar bibirnya saat mengamati dompet yang diberikan polisi. Tika berpikir sejenak dengan gelas pecah dan perasaan yang tak enak tadi.


"Begini, saudara Surya telah mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan dan sampai saat ini pihak kami sedang mencari jasadnya."


"Jasad?" tanya Tika ragu.


"Mobil yang dikendarainya telah terperosok dan terbakar."jelas polisi lagi, Tika naik turun dadanya. Begitu sesak dan seakan-akan jantungnya terasa berhenti berdetak mendengar kabar buruk ini.


Tika hendak lari keluar, sambil meronta ingin mencari sendiri jasad suaminya. Tetapi tiba-tiba tubuhnya lemas. Kalau saja polisi tidak menyangganya, Tika sudah jatuh terkapar ke lantai. Salah satu polisi itu memapah Tika masuk ke dalam rumah. Dengan hati -hati membaringkan Tika di atas sofa.


Beberapa menit kemudian Tika tersadar, bangkit dengan sedikit pening kepalanya.


Sekelilingnya terdapat kedua orang tuanya, ibu mertua dan adik iparnya. Mereka telah diberi tahu polisi kejadian yang menimpa Surya.

__ADS_1


Dengan sesenggukan Tika berpelukan dengan mamanya.


"Ma, mas Surya mana?" tanya Tika dengan berlinang air mata.


"Yang sabar ya sayang, pihak polisi masih mencari Surya semoga saja cepat ketemu." mamanya menghibur.


"Tapi ini sudah malam, bagaimana bisa mereka mencarinya." tukas Tika. " Aku juga ingin mencarinya, Ma." bangkit dan berdiri.


"Kamu mau mencari kemana? Ini sudah malam. Bukan hanya Surya yang hilang, kamu juga nanti ikut -ikutan hilang!" ucap papanya menghalangi lalu pergi menemui ketiga polisi menanyakan kabar selanjutnya.


"Ibu juga ikut khawatir, Surya masih hidupkan?" imbuh mertuanya. Mama Tasya dan bu Desi saling berpelukan mencoba menghibur diri.


"Mas Surya orang baik, pasti selamat dan dilindungi Allah." ucap adik Surya. Tika memeluknya erat.


Polisi memberi kabar, hingga dini hari belum juga ditemukan tubuh Surya, pencarian dilanjutkan besok pagi. Ketiga polisi undur diri. Keluarga besar Tika menginap dan sudah tertidur, tinggal Tika seorang yang tak bisa tidur dia berada di balkon kamarnya. Kedua matanya lebam, air matanya hampir mengering. Tika meratapi nasibnya, menyalahkan diri sendiri. Pikirnya andai saja dia tidak menyuruh Surya cepat-cepat pulang tidak akan begini jadinya.


Tika melamun, membayangkan masa-masa indah bersama Surya.


Siang hari, sejumlah polisi datang dengan membawa kantong jenazah.


"Ini bukan tubuh mas Surya!" bantah Tika saat tubuh itu diperlihatkan dengan keadaan hangus terbakar sehingga wajahnya tak dapat dikenali.


"Sabar sayang, ikhlaskan kepergian suamimu." hibur mamanya.


"Ibu juga sudah ikhlas Nak, bila ini adalah takdirnya biarkan dia tenang di alam kubur." ucap mertuanya sambil menangis. Tapi Tika tetap bersikukuh kalau ini bukan jasad Surya.


Pak Andik tampak sibuk mengurus pemakaman Surya. Tamu yang melayat juga sudah mulai berdatangan. Mereka mengucapkan bela sungkawa. Mulai dari teman bisnis sampai teman kuliah.


Tiwi dan Tesa juga hadir di sana. Mereka memeluk Tika bergantian.


"Tika, aku turut berduka cita. Yang sabar ya..." ucap Tesa.


"Kalian baru saja menikah, usia pernikahan kalian baru seumur jagung tentu ini sangat menyedihkan bagimu. Yang sabar ya." ucap Tiwi.


Rasa sedih yang mendalam menerpa mereka. Sementara Dewi belum mendengar kabar itu, dia sedang berlibur bersama ibunya, Bik Sumi ke luar kota. Jasad Surya di bawa ke pemakaman. Suasana hening saat di pemakaman hanya terdengar isak tangis Tika seorang.

__ADS_1


Dalam hati Tika yakin suaminya masih hidup, jika demikian lalu jasad siapa yang berada di pemakaman itu? Mungkinkah ini ulah bos besar lagi? Lalu siapa bos besar yang memusuhi Surya?


__ADS_2