
Satu minggu yang lalu
"Wi, apa yang kamu lakukan !!!" bentak Tedi yang saat itu juga menarik Dewi dari tengah jalan, menghindari kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Hampir saja lima langkah lagi tubuhnya bisa gepeng terkena lindasan truk yang baru saja lewat.
Dewi yang perasaan sedang kalut tak mampu lagi menahan semua perasaanya. Dia mencoba untuk bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke jalan.
"Biar, biarkan aku mati! Lepaskan tanganku, lepaskan! Aku sudah tak sanggup untuk hidup menahan sakitnya hati. Biar aku mati sekalian di sini! Aku tak mau hidup lagi jika harus melihat mereka bersama. Kenapa bukan aku yang dipilih Surya? Hah, mengapa Surya bisa mencintai dia. Hiks... hiks... hiks..." Dewi kini sudah berada dalam dekapan Tedi, Wajahnya bersembunyi di dadanya, suaranya yang parau namun masih jelas di telinga Tedi.
"Dewi," panggil Tedi seraya mengangkat dagunya dan menatap lekat wajah yang masih terisak itu.
"Kita memiliki nasib yang sama, dimana seseorang yang benar-benar kita cintai dan sayangi lebih memilih orang lain dari pada kita. Aku sendiri sesungguhnya sangat sulit untuk melepas cintaku, namun dengan seiringnya waktu lambat laun cintaku akhirnya bisa aku lepaskan. Meski begitu berat, tapi harus aku lakukan. Demi kebahagian orang yang aku cinta, aku rela melepaskannya." sambung Tedi seraya menggenggam erat kedua tangan Dewi dan membawanya di depan dadanya.
"Tedi," desah Dewi lirih seraya menatap kedua bola matanya, mencoba menyelami perkataan Tedi barusan.
"Kenapa tidak kita coba?" ujar Tedi lagi sambil tersenyum menyakinkan Dewi agar tak berbuat senekat tadi.
"Mencoba apa, Di?" akhirnya Dewi mulai terbujuk.
"Em, maksudku, kita kan sama-sama jomblo. Mengapa kita tidak mencoba untuk menyatukan hati kita yang sama-sama sudah retak?" Tedi begitu saja melontarkan maksud hatinya, tanpa basa-basi itulah model orangnya.
"Menyatukan?" sahut Dewi lirih, seolah pikirannya buntu untuk mencerna kalimatnya.
"Kita pacaran yuk!" ajak Tedi serambi mencium kedua tangannya yang masih berada dalam dekapannya.
Bagai tersengat listrik di siang hari, jujur saja ini pengalaman pertama bagi Dewi. Bukannya menyahut dia malah bengong. Tedi mengibaskan tangannya di depan wajah Dewi.
"Wi, Dewi, hallo...!" ucapnya membuyarkan lamunan Dewi.
"I...iya Di, a...aku," Dewi terbata lantaran gugup untuk menjawab.
"Semenjak melihat Tika begitu panik menghadapi kondisi dimana Surya hampir saja kehilangan nyawanya untuk yang kedua kali, aku menyadari siapa aku di matanya. Aku tak ubah debu yang melintas baginya. Aku sadar, cintanya begitu besar pada Surya sehingga membuat aku untuk semakin yakin melepasnya. Dulu aku juga sempat memaksakan kehendakku untuk mendapatkan cintanya lagi. Semakin aku memaksa, semakin jauh dia dariku." terang Tedi membuat Dewi terenyuh.
Tanpa berpikir panjang lagi setelah mendapatkan pencerahan dari mantan playboy ini, akhirnya Dewi menyetujui ajakan Tedi.
"Bener ini, Dewi kamu nggak lagi bohong kan?" sarkas Tedi sambil kegirangan melihat anggukan dari wanita di depannya setelah Tedi mengajak untuk pacaran.
Setelah Dewi merasa tenang, Tedi mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah tampak bi Sumi bahagia melihat putri satu-satunya pulang.
"Alhamdulillah, Dewi, ini benar kamu kan Nak!" bi Sumi memeluk erat putrinya yang baru saja turun dari mobil, mengusap kepala hingga punggungnya.
"Iya, Buk, ini aku, Dewi!" sahut Dewi setelah melepas pelukannya. Dia menatap wajah ibunya yang semakin terlihat jelas guratan-guratan di wajahnya.
"Andai tadi Tedi tak menolongku, pasti ibuku sangat sedih. Betapa bodohnya aku yang tak memikirkan nasib ibuku." gumamnya dalam hati.
Tedi yang sejak tadi berada di belakang mereka merasa terharu dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sosok ibu yang kini mencuri perhatiannya. Dia mendambakan kehangatan pelukan dari seorang ibu.
"Nak Tedi," panggil bi Sumi membuyarkan lamunannya. Tedi menyahut dan segera berjalan mendekat.
"Terimakasih telah membebaskan putriku," sangka bi Sumi Tedi yang membebaskan Dewi.
"Itu bukan masalah, saya hanya mengantar Dewi pulang saja. Yang melepaskan Dewi bukanlah saya." terang Tedi sambil menyalami wanita paruh baya itu.
"Lantas siapa?" tanyanya penasaran.
"Tika Buk," sahut Dewi
"Mbak Tika, oh, betapa mulianya dia, padahal kamu dulu hendak membunuhnya tapi dia malah membebaskan kamu!" bi Sumi tersentak dari kebahagian yang baru saja didapatnya.
"Itu benar, Tika mencabut semua tuntutan dan menghapusnya. Tak kan pernah memperkarakan masalah itu lagi." jelas Tedi membuat bi Sumi merasa yakin untuk meminta maaf pada orang yang telah membebaskan putrinya.
"Dewi, suatu saat nanti antarkan ibu untuk menemui mbak Tika, ibu ingin mengucapkan terimakasih padanya ."
.
Acara resepsi pernikahan Surya dan Tika akhirnya datang juga. Sempat semalaman pasangan yang sudah menikah ini yang hanya dengan ijab qobul saja tengah binggung untuk menghadapi acara besok.
"Emang kita ngapain saja Mas di atas podium nanti?" tanya Tika seraya menyandarkan kepalanya di bahu Surya. Mereka tengah menonton acara televisi.
"Ya nggak ngapa -ngapain," sahut Surya asal.
__ADS_1
"Terus buat apa diadakan resepsi kalau gitu?"
"Ya buat menunjukkan ke semua orang kalau kita udah nikah beneran." Surya mengusap pucuk kepala Tika lalu mencium keningnya.
"Kan sudah ada buku nikah?" Tika melekatkan pelukannya yang tangan tadinya tengah sibuk memindah chanel televisi kini pindah ke pinggang Surya.
"Ya nggak pa-pa juga. Emm, sayang aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Surya seraya melepas pelukan Tika dan memposisikan Tika duduk bersila menghadapnya. Kedua tangannya masih berada dalam genggamannya.
"Apa Mas?" tanya seraya menatap lekat wajah suaminya.
Surya menaikkan kakinya di atas sofa dan duduk bersila. Mereka saling berhadapan.
"Tapi kamu janji dulu nggak bakal marah!"
"Emangnya apa dulu yang mau diomongin?" Tika mengernyitkan dahinya.
"Janji dulu!" Surya penuh penekanan yang akhirnya membuat Tika mengangguk.
"Kamu masih marah nggak sama Dewi?" pertanyaan yang membuat Tika enggan untuk menjawab.
"Ayo dong Sayang, jawab pertanyaanku?" Surya mendesaknya lantaran yang ditanya cuek-cuek saja.
"Kok Mas Surya malah ngebahas Dewi lagi sih, kan dulu Mas Surya sudah janji nggak mengungkit dia lagi!" Tika menarik tangannya yang sedari tadi dalam genggaman Surya, melipat di depan dadanya sambil melengos kesal.
"Kamu jangan salah sangka dulu, Sayang? Sini, dengarkan keterangan dari orang yang paling ganteng sedunia ini!" Surya menarik lagi kedua tangannya dan menggenggamnya lebih mesra dari yang tadi.
"Kamu tahu tidak..."
"Nggak, aku nggak tahu!" potong Tika.
"Hedeh nih cewek minta dilahap lagi bibirnya, aku belum selesai ngomong?"
Tika semakin cuek.
"Tedi dan Dewi, mereka berdua mau menikah." terang Surya membuat Tika menganga.
"What...! Aku nggak salah dengar Mas?" Tika menarik tangannya dan memegang kedua pipi suaminya erat. Tampak mulut Surya monyong kayak mulut ikan.
.
Pukul 09.00 di kediaman Surya dan Tika.
Tempat resepsi pernikahan dengan konsep outdoor ini akan menjadikan momen indah untuk pernikahan Tika dan Surya dan menjadi lebih berkesan. Dengan konsep outdoor juga, pernikahan akan jauh dari kata sumpek, alami dan segar yang dibantu oleh pemandangan sekitar, pasti akan membuat resepsi pernikahan mereka semakin istimewa.
Halaman dan rumah yang dihuni oleh Tika dan Surya kini telah selesai dihias. Nuansa putih sangat cocok untuk mereka berdua apalagi ditambah dengan hiasan daun berwarna hijau, hmm...sungguh istimewa.
Tiga hari yang lalu semua undangan resepsi pernikahan Tika dan Surya sudah disebar. Undangan itu disebar mulai dari teman kampus mereka, teman kerja di kantor dan sampai juga ke beberapa dosen yang akrab. Dan kini mereka berdua tengah menjalani acara resepsi.
"Aku deg-degan Mas," ucap Tika menutup mulutnya sambil membisikkan ke telinga Surya.
"Santai saja," sahut Surya singkat sambil menggenggam erat tangan wanita yang duduk di sebelahnya, berharap dengan berpegangan tangan dapat membantu menghilangkan kegugupannya.
Pak Andik naik ke podium untuk berpidato.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Β Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Bapak-bapak, ibu-ibu, serta saudara saudari yang kami hormati.
Pertama-tama saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT, dengan nikmat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya kepada kita semua, sehingga pada pagi hari yang berbahagia ini kita bisa berkumpul bersama dalam acara resepsi pernikahan putri kami Safira Artika Sari dengan Surya Setiawan.
Atas nama keluarga kami dari pihak perempuan, kami mengucapkan selamat datang kepada semua tamu undangan yang berkenan hadir, terimakasih karena turut menjadi bagian dari momen yang terindah untuk putra-putri kami.
Semoga pada kesempatan ini, doa restu dan kasih sayang dari hadirin semua bisa menjadi berkah dan awal yang baik untuk keluarga kecil yang baru ini. Selamat menikmati acara dan hidangan pada acara pernikahan ini.
Atas nama keluarga besar pihak perempuan, kami juga sebelumnya mohon maaf jika ada sesuatu yang kurang berkenan dalam acara resepsi pada hari ini." selesai berpidato pak Andik turun dari podium dan kembali ke kursinya. Dekat dengan istri serta besannya.
Para tamu undangan yang hadir bergantian memberikan ucapan selamat pada sepasang pengantin.
Ada diantara mereka yang langsung pulang karena masih ada urusan yang lain dan masih ada yang enggan pulang sekedar melepas kangen dengan teman-teman mereka. Ada yang memilih untuk segera menyantap hidangan yang ada di meja.
Suasana resepsi ini meski sederhana namun tetap meriah, dengan hadirnya para tamu undangan yang spesial bagi pasangan pengantin yang ada di podium itu.
Dari balik kerumunan orang -orang yang menyalami sepasang pengantin ada Rudi yang sedang menggandeng gadis cantik yang tidak lain adalah Reni.
__ADS_1
Setelah semua orang menyalami, giliran mereka berdua naik ke podium untuk mengucapkan selamat.
"Selamat untuk Pak Surya dan Mbak Tika, semoga langgeng sampai kakek nenek. " ujar Rudi.
"Terimakasih," sahut Tika dan Surya dengan penuh kebanggaan.
"Selamat Miss Ti," Reni tetap memanggilnya seperti itu, meski Tika tak terjun lagi di dunia fashion. "Semoga cepat diberi momongan!" sambungnya lagi sambil memberikan kertas.
"Kalian pacaran?" tukas Surya karena memperhatikan penampilan mereka yang memakai batik couple berwarna sama juga.
"Hehehe, iya Mas," sahut Reni yang tersipu malu.
"Wah, bakal nyusul kita nih!" seru Tika seraya menerima kertas itu, dengan penasaran dia membuka plastik sebagai sampulnya.
"Apa ini?" Tika tak paham dengan maksud rincian yang tertera di tulisan itu. Nominal angka yang cukup fantastis.
"Jadi gini Miss, dulu saat butik gaun pengantin dalam tahap kehancuran , aku dan Rudi berniat untuk memperbaiki semua dan memulihkan keadaan. Dan ini hasil dari aku menjual gaun pengantin. Sengaja aku menyewa beberapa penjahit untuk menjahit ulang dengan model gaun yang Miss Ti desain." jelas Reni panjang lebar membuat Tika terharu dengan usahanya.
"Lalu angka-angka ini ?" Tika menunjukkan nominal pada tulisan.
"Semua itu hasil dari aku menjual gaun di butik, Miss." Tika memeluk Reni, rasanya begitu berat untuk melepas kegiatannya di butik. Usahanya yang dulu, yang telah membuatnya bangkit dari keterpurukan.
"Aku hargai kerja kerasmu, Mbak Reni. Tapi, maaf aku nggak bisa melanjutkan kesibukanku di butik." Ucap Tika saat melepas pelukannya, dia menatap Surya dan mendapat anggukan seperti tahu isi pikirannya.
"Lalu, karir kamu mau kamu buang begitu saja!" Reni tak percaya dengan penolakan Tika, Reni berharap Tika bisa berkecimpung di dunia fashion lagi.
"Anggap ini hadiah untuk kesembuhan mas Surya dan dari pernikahan kami. Aku sudah putuskan untuk menyerahkan butik sepenuhnya pada Mbak Reni. Kamu seperti cocok untuk mengelola itu." Tika menggenggam tangannya, Reni yang berkaca -kaca tak sanggup mendengar keputusan Tika.
"Tapi Miss..."
"Sudah, kamu terima ya? " Tika memberikan butiknya pada Reni. "Rudi kamu kok nggak bilang dari awal kalau kalian berdua pacaran?" Tika mengalihkan suasana, dia menatap tajam Rudi yang kini hanya pura-pura tuli tak mendengar.
"Kami juga baru saja kok, pa...ca...rannya!" imbuh Reni yang terbata karena malu.
Selesai mereka, gantian pasangan Tedi dan Dewi naik ke podium.
"Tika, maafkan aku yang dulu sempat pernah merebut Surya darimu." ucapnya lirih membuat yang mendengarnya penuh perhatian.
"Hmmm, baiklah. Aku memaafkanmu." sahut Tika yang sedikit jutek. Meski rasa benci masih menjalar di hatinya.
"Jangan gitu dong Sayang, ekspresinya! Senyum..." Surya menarik kedua ujung jarinya di bibir Tika sampai membuat simpul senyum di bibirnya. Tika dibuatnya geli dengan ulahnya.
"Tika, Surya, selamat, semoga kalian langgeng sampai tua nanti!" ucap Tedi seraya bersalaman.
"Aamiin..." sahut mereka berdua.
"Kapan kalian nyusul?" tanya Tika yang kini moodnya sudah membaik daripada sebelumnya.
"Bulan depan." sahut Dewi yang tersipu malu.
"Iya deh, aku juga ngucapin selamat buat kalian berdua yang bakalan nyusul ke pelaminan." ucap Tika yang kini tengah menarik kedua tangan Dewi. Dewi kaget dengan hal yang Tika lakukan.
"Kamu pakai wedding dress yang dulu aja, Wi. Kamu terlihat cantik dan pas memakainya waktu itu. " Tika membuka luka lama.
"Aku..." belum sempat Dewi selesai bicaranya, Tika sudah memeluknya.
"Maafin aku juga, Wi, yang sudah pernah menjebloskan kamu ke penjara." ucap Tika ikhlas.
Dewi melepaskan pelukannya.
"Aku sudah melupakan peristiwa yang nggak bakal aku ulangi lagi dalam hidupku. Karena aku bakal sibuk dengan calon suamiku dan calon anak-anakku nanti." ujar Dewi seraya menyikut Tedi yang sejak tadi memperhatikannya. Tedi tersipu malu dibuatnya.
"Joss!" Surya menunjukkan ibu jempolnya. Mereka tertawa bersama.
TAMAT...
Terimakasih buat kakak reader semuanya yang sudah setia menemani Cinta Satu Hati Sampai Mati, semoga kalian semua terhibur dengan tokoh Tika dan Surya. Terimakasih juga yang sudah kasih like, komen , hadiah dan vote nya. Semoga kalian semua sehat selalu dadah...πππ
Jangan lupa mampir ke karya author terbaru, yang berjudul, Buih Jadi Permadani. Jangan lupa beri like, vote, hadiah dan komentarnya.
Terima kasih πππππ
__ADS_1