
Tika bangkit dari kasur setelah rebahan sebentar untuk meluruskan persendian. Dia meraih tas merah dan memesan taksi online. Hari menjelang sore, dia sudah berada di kantor polisi.
"Selamat sore, Pak!" sapanya lalu segera duduk setelah dipersilakan.
"Begini saudari Tika, ini menyangkut tentang kejadian kecelakaan yang menimpa almarhum suami Anda." jelas pak polisi berkumis tebal itu.
"Saya sudah melupakan kejadian itu. Saya tak ingin mengungkit masalah kecelakaan. Betapa pedihnya jika mengingat semua itu."
"Tenang...! Kami memakluminya, tapi dari pihak kami harus menyampaikan ini." pak polisi mencoba menenangkan Tika.
"Dari hasil penyelidikan minggu kemarin, ternyata kecelakaan yang dialami almarhum suami Anda adalah rekayasa."
"Apa!! Rekayasa? Siapa yang berani melakukan perbuatan biadab seperti itu??" Tika melotot hampir mau copot sangking kagetnya. Dadanya terasa sesak, nafasnya naik turun tak beraturan.
"Jadi, almarhum suami Anda mengalami kecelakaan lantaran remnya blong." Mendengar penjelasan polisi membuat Tika shock. Dia menutup mulutnya yang bergetar. Tubuhnya tertunduk lemas. Sekuat tenaga dia mencoba untuk kuat. Setelah semua yang dialaminya dia tidak ingin terpuruk lagi.
Siapa pelakunya? Apa motifnya sehingga ingin melenyapkan suamiku? Setahuku dia tak memiliki musuh. Apa jangan-jangan ini ulah...ah tidak boleh menuduh sembarangan sebelum ada bukti. Berarti mas Surya dalam bahaya! Aku harus melindungi dia jikapun benar itu mas Surya ku. Untuk membereskan masalah ini, pertama adalah menyelidiki seseorang yang mirip dengan suamiku, setelah aku tahu siapa dia sebenarnya baru aku cari tahu pelaku yang menyebabkan kecelakaan itu.
Tika setelah mendapatkan kabar dari pihak polisi malamnya tak bisa tidur. Mengingat siapa saja yang pernah memusuhi Surya? Atau sekedar membencinya? Hanya ada satu nama, Tedi. Seseorang yang pernah memusuhinya.
Besok paginya dia bergegas menuju rumah papanya. Sebelum papanya berangkat ke kantor Tika menceritakan semua yang disampaikan polisi semalam. Papanya kaget bukan main, terlebih bu Desi hampir pingsan mendengar kabar itu. Papanya juga tak tahu siapa saja yang memusuhi Surya di kantor, nampaknya rekan kerja semuanya baik padanya dan tidak ada yang perlu dicurigai. Untuk sementara Tika menyembunyikan berita tentang orang mirip Surya. Lantas Tika menghubungi Rudi, dulu dia pernah setia pada Surya, mungkin kali ini kesetiaan itu masih tertanam di hatinya.
"Hallo, Rudi!" panggil Tika.
"Hallo, dengan siapa ini?" tanya Rudi sambil mengancingkan lengan kemejanya. Bersiap berangkat kerja.
"Aku, Tika!"
"Mbak Tika!" Rudi sedikit kaget sambil mengucek matanya sesaat melihat nomor asing di layar ponselnya.
"Rudi, temui aku sekarang di butik yang beralamat xx." Ucap Tika sembari meluncur menuju butik dengan menaiki taksi online.
__ADS_1
"I...iya, Mbak Tika." sahut Rudi sedikit panik, sudah lama dia tak pernah berkomunikasi lagi semenjak Surya meninggal. Rudi segera menyalakan mobil menuju butik milik Tika. Apa yang ingin mbak Tika katakan padaku sepagi ini, sampai harus bertemu segala. Mengapa tempat bertemunya di butik ? Ah, lebih baik aku segera kesana sebelum kena semprot darinya, pikir Rudi.
Tiga puluh menit kemudian. Tika sudah menunggu Rudi di butik. Butik sementara ia tutup, Reni yang baru tiba merasa heran mengapa butik ditutup mendadak tanpa mengabarinya dulu.
"Miss Ti, mengapa kamu menutup butik?"
Reni bertanya heran.
"Maaf, Mbak Reni. Hari ini ada keperluan mendadak di tempat ini, selesai nya nanti butik bisa buka lagi."
"Oo...kira in ada apa?"
Terdengar suara mesin mobil berhenti, tampak pemuda mengenakan kemeja biru tua dan rambutnya tersisir rapi ke belakang tengah berjalan memasuki pintu.
"Silahkan duduk!" pinta Tika saat Rudi masuk ke dalam butik.
"Iya, Mbak!" sahut Tedi lalu mereka berdua duduk berhadapan.
"Baik, Miss!" dengan segera Reni ke belakang, tak butuh waktu lama dia kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
"Silahkan diminum!" perintah Tika sambil menyeruput kopi miliknya, Rudi mengangguk lalu meminum kopinya. Reni bertanya - tanya dalam hatinya, siapa pria ganteng itu? Mungkinkah pacar miss Ti, ah, tidak mungkin kalau pacarnya, si pria memanggil miss dengan sebutan Mbak. Adik miss Ti kali. Reni celingukan sendiri seolah - olah dia sibuk merapikan gaun yang terpampang berjejer padahal dia sedang memperhatikan Rudi. Ada rasa ketertarikannya pada pria lajang itu. Begitu juga Rudi sesekali melirik ke arah Reni.
" Bagaimana kabarnya Mbak?" Rudi meletakkan cangkir dan merapikan dasinya.
"Cukup buruk!" sahut Tika sambil melipat tangannya.
"Buruk kenapa, Mbak?" Rudi mengerutkan alis lalu dia membetulkan posisi duduknya seolah siap menerima keluhan.
"Aku butuh bantuanmu! Tolong selidiki pria ini!" menunjukkan foto di ponselnya. Rudi mendekatkan wajahnya sambil mengamati foto.
"Pak Surya! Benarkah ini pak Surya? Bukankah dia...?" Rudi membelalakkan matanya kaget.
__ADS_1
"Ya, foto itu ku ambil saat bertemu dengannya kemarin. Dia bernama Surya juga, sempat ku berfikir itu adalah mas Surya. Tapi, setelah aku mendekatinya dia tak mengenalku sama sekali.
"Jadi, tugas saya..." setelah mengetahui pria mirip Surya di foto itu, Rudi bersemangat untuk membantu Tika.
"Kamu selidiki dia, cari tahu tentang semuanya!" Tika berdiri mengambil amplop coklat. "Ini upah kamu, jika info yang kamu cari dapat memuaskanku akan aku tambah lagi." Tika menyerahkan amplop itu, dengan terpaksa Rudi menerimanya dan segera pamit undur diri.
***
Seharian ini Rudi mondar - mandir di tempat parkir yang ditunjukkan Tika. Dan benar, Rudi mendapati Surya tengah menurunkan penumpang.
Dia membuntuti Surya kemana saja perginya, sesekali mengambil gambar dengan kamera ponselnya. Layaknya detektif dia mengendap- endap membuntuti Surya dari belakang. Saat Surya berhenti di sebuah kedai kopi, Rudi ikut masuk dan berpura - pura sebagai pelanggan. Kedai itu cukup sederhana tidak terlalu luas ukurannya, banyak pengunjung silih berganti. Suara musik yang enjoy membuat pengunjung merasa betah untuk berlama - lama di sana. Entah sekedar melepas lelah atau hanya bersantai di sana. Sangking asyiknya Rudi menikmati kopi di siang hari dan suasana yang adem membuat Rudi kehilangan jejak Surya.
"Wah gawat! Kemana perginya mas Surya? Bisa digantung aku sama Mbak Tika kalau tidak berhasil mendapatkan info hari ini juga. Hampir saja aku berhasil membuntutinya. Gara-gara ngopi aku jadi kehilangan jejak!" Gumam Rudi lalu bergegas pergi dari kedai kopi.
Rudi menuju tempat parkiran semula tadi, berharap bertemu dengan Surya. Beberapa orang dia tanya sambil menunjukkan foto Surya tapi tak satupun mengenalnya lantaran dia orang baru. Matahari hampir tenggelam Rudi tak mendapatkan berita sedikit pun tentang Surya. Akhirnya dia menyerah.
"Besok, aku akan ke sini lagi. Siapa tahu besok adalah hari keberuntungan ku," Rudi memasuki mobil meninggalkan parkiran.
"Drttt...drttt... " bunyi ponselnya berdering.
"Bagaimana?" tanya seorang wanita dari jauh.
"Mbak Tika! Maaf Mbak, hari ini gagal. Saya hampir saja membuntutinya, tapi saat istirahat tadi saya kehilangan jejak, Mbak!" jelas Rudi sambil menepikan kendaraannya.
"Apa?? Gagal...!! Aku tidak mau tahu, besok kamu tidak boleh istirahat sebelum mendapatkan berita tentang dia!" ucap Tika gerang.
"I...iya Mbak, siap!" sahut Rudi lalu meletakkan ponsel begitu saja sangking lelahnya.
"Tuh, benarkan? Untung kepalaku masih nempel sama leher." memegang kepala dan mengelus lehernya. "Cantik- cantik, galak. Bagaiman dulu pak Surya bisa menikah sama mbak Tika ya?" celetus Rudi.
"Apa kamu bilang??" suara Tika masih terdengar dari ponsel, ternyata Rudi belum mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Ngak Mbak, maaf salah sambung...!!" Rudi dengan cepat mematikan ponselnya. Sambil mengelus dada dia menyalakan mesin mobil dan pulang.