Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Tedi Melamar


__ADS_3

"Mas, hadiah darimu sangat bagus!" ucap Tika saat berada di ayunan barunya.


"Benarkah, kamu menyukainya?" ucap Surya seraya mengayun Tika dari belakang.


"Iya, aku menyukainya."


"Bagaimana dengan perasaanmu saat ini?"


"Senang, namun aku bingung."


"Soal apa?"


"Besok kita akan wisuda, dan minggu depan kita merayakan resepsi pernikahan kita."


"Lalu, apa yang kamu khawatirkan?"


"Aku takut dengan kenyataan ini. Bahwa kamu adalah suamiku."


"Apa yang kamu takutkan?"


"Perasaan Tiwi dan Tesa, mereka berdua sangat mengagumimu. Mereka berdua pasti sangat membenciku. Tapi, mereka sudah tahu kalau aku sudah menikah."


"Apa kamu juga tidak memikirkan perasaanku?"


"Ada apa, Mas?"


"Aku sakit, jika kamu selalu dekat dengan Tedi."


"Aku sudah keluar dari kantornya."


"Bukan berarti dia berhenti mengejarmu."


"Aku tak tahu itu."


"Lalu, apa Tiwi dan Tesa tidak bertanya tentangku?"


"Iya, tapi setahu mereka suamiku bukan kamu, Mas."


"Kok bisa?"


"Aku katakan, nama suamiku Setiawan."


"Sama saja, itu nama panjangku."


"Mereka sempat curiga juga sih, semoga setelah tahu kenyataan ini persahabatan kami tetap terjaga."


"Aamiin...ayo kita tidur! Sudah malam."


"Iya, tapi..."


"Tapi, apa?"


"Gendong..." Tika mengarahkan kedua tangannya.


"Hedeh, tapi ada syaratnya!"


"Apa, Mas?"


"Aku minta ya..."


"Idih, Mas pikirannya mesum melulu, kan kemarin sudah."


"Ketagihan nih," Surya dengan sigap menggendong Tika sambil mencium keningnya.


"Ayo, tapi kita melakukannya di kamarku aja ya,"


"Siap bos!" sahut Surya, Tika terkekeh.


"Mulai saat ini dan seterusnya kita tidurnya sekamar ya..."


"Benarkah," ucap Surya, Tika mengangguk.


Saat di kamar Tika.


Surya menurunkan Tika dengan pelan. Tika tampak gemetar bibirnya, padahal sudah sering dia dicium oleh lelaki, dan lelaki itu adalah orang yang dicintainya. Sambil menunggu sentuhan bibir Surya, kedua tangan Tika pun bergayut di leher suaminya itu.


"Bibirmu seksi, sayang..."


"Ya, iyalah Tika gitu loh!" sambil menampakkan senyum manisnya.


"Hatiku bergetar," ucap Surya serambi membelai rambut istrinya. "Bagaimana denganmu?"


"Sama, bahkan sekujur tubuhku pun ikut bergetar." sahut Tika.


Perlahan dan dengan lembut, Surya pun mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Tika. Lalu dengan lembut dilumatnya bibir istrinya. Tika membalas. Sehingga keduanya pun saling ******* bibir satu sama lain. Dan akhirnya hubungan suami istri pun berlangsung.


Esok paginya.


"Pagi sayang..." ucap Surya saat Tika membuka matanya.


"Kamu sudah mandi, Mas?" sahut Tika, sambil menarik selimut menutupi tubuh polosnya.


"Belum, aku nunggu kamu. Kita mandi bareng yuk!"


"Mandi bareng, makin lama nanti selesainya. Kita berangkat pagi loh!" Tika mencari alasan untuk menolak ajakan Surya.


"Ini masih terlalu pagi, nggak bakal telat kok!"

__ADS_1


"Itu menurutmu, Mas. Kan aku dandannya lama, tak hanya pakai baju toga saja, aku mesti menyanggul rambutku. Itu butuh waktu lama." jelas Tika membuat Surya memahami penolakan istrinya.


"Ya sudah, aku mandi dulu. Tapi lain kali kamu tidak akan menolak untuk mandi bareng kan..." bisik Surya, Tika menelan ludahnya.


"I...iya, Mas." sahut Tika gugup. Surya dengan hanya memakai celana kolor beranjak turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Akh...!!!" Tika berteriak, membuat Surya terkejut dan berlari menghampiri Tika yang masih mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ada apa sayang?" tanya Surya panik.


"A...aku membuat noda di kasurku!" sahut Tika dengan suara sedikit berbisik.


"Noda?" Surya tidak paham dengan maksud ucapan Tika.


Tika menyingkap selimutnya sambil meringis.


"Kamu lagi dapet?" Surya menggeleng, dan sedikit menahan tawanya.


"Iya, Mas. Terus gimana ini, aku yang duluan mandi ya!" Tika bangun dengan masih berselimut.


"Sudah, dibuka saja selimutnya!"


"Malu Mas, " Tika sedikit berlari menuju kamar mandi.


"Ya sudah aku mandi di kamarku saja." Surya melangkahkan kaki menuju pintu.


"Mas Surya!" panggil Tika dengan hanya kepalanya saja yang tampak dari balik pintu kamar mandi.


"Ada apa lagi?" Surya menoleh saat tepat di depan pintu.


"Tolong ambilkan pembalut dan celana dalamku, sekalian handuk juga!"


"Hedeh," Surya berjalan menuju almari.


"Sebelah mana?" tanyanya seraya membuka pintu.


"Sebelah kiri, tengah!" Surya menemukan tumpukan kain segitiga.


"Warna apa?"


"Terserah, Mas..." sedikit berteriak.


"Lalu, di mana pembalutmu?"


"Di sebelah kanan, bawah sendiri!" Surya terpaksa duduk berjongkok untuk mengambilnya.


"Tinggal satu," Surya berdiri, "Lalu handukmu?"


"Tuh..." Tika menunjuk di samping koridor.


.


.


.


Kini Tika berpenampilan sempurna, mengenakan kebaya model Kartini berwarna merah marun dari bahan tulle dengan pola bordiran di bagian lengan dan belahan depan. Sedangkan puringnya dari bahan katun. Dia mengenakan aksesori bros kerongsang di bagian dada.


Sedangkan model bawahan Tika mengenakan kain yang bentuk rok siap pakai dengan retsleting, untuk kepraktisan.


Untuk sanggul, dia memilih cepol sederhana tepat di atas tengkuk, supaya tak mengganggu saat memakai topi wisuda.


Untuk riasan wajah dia memilih foundation ringan setingkat di atas warna kulit, dan bedak tabur untuk sentuhan akhir. Tak lupa lipstick warna nude pink favoritnya, menambah aura kecantikannya.


Sedangkan Surya selesai sejak pukul 06.30 tadi, dia mengenakan setelan jas resmi, kemeja dan dasi membuat dia terlihat gagah.


"Lama banget si nenek sihir dandannya." gerutu Surya sambil menunggu di depan tv dengan handphone di tangannya.


Tak lama kemudian Tika turun dari lantai atas.


"Wah! Cantiknya..." Surya menganga, mengagumi Tika dari ujung hingga puncak.


"Ya, iya lah Tika..."


"Tika gitu loh!" sambung Surya,


"Ih, Mas Surya apaan sih. Dasar tukang foto copi!" Berjalan sambil merapikan baju toganya.


"Biarpun tukang foto copi, ganteng kan!" memegang ujung kerah. Tika terkekeh.


"Ayo, orang tua kita sudah berangkat 5 menit lalu."


"Sungguh..."


Mereka berdua mengendarai mobil, Tika di belakang, Surya di depan.


"Kamu cantik, sayang!"


"Sampai kapan Mas memujiku terus."


"Sampai kita kakek nenek nanti."


"Aku belum mau tua dulu, baru saja mau wisuda, masa sudah menua."


"Tika, Tika... kamu bisa saja!"


"Aku sudah tidak sabar, wisuda menjadi momentum yang aku tunggu. Perlu perjuangan yang tak mudah untuk mencapai tahap ini." jelas Tika sambil mengabadikan wajahnya di kamera ponselnya.

__ADS_1


"Kamu benar, setelah menjalani masa perkuliahan bertahun - tahun, wisuda menjadi proses akhir kegiatan akademik di perguruan tinggi." jelas Surya seraya menatap spion mobil menahan geli dengan ulah istrinya.


"Selain itu, momen ini juga menjadi pengukuhan gelar berakhirnya masa kuliah menjadi seorang mahasiswa."


Tak terasa mengobrol di dalam mobil, membuat mereka tak menyadari sudah tiba di kampus.


***


Prosesi Wisuda...


Wisudawan - Wisudawati memasuki ruangan.


Wisudawan - Wisudawati menempati tempat duduk sesuai nomor urutnya, dengan posisi tetap berdiri menghadap ke depan sampai posisi senat menempati tempat duduk, dan MC mempersilahkan duduk kembali.


Saat pelantikan lulusan.


Wisudawan dan Wisudawati berjalan menuju tangga tengah kemudian naik ke panggung untuk dilakukan pemindahan kucir oleh rektor universitas xxx.


Setelah itu bergeser ke kanan untuk menerima ijazah dari ketua prodi.


Kemudian turun melewati tangga samping dan kembali ke tempat duduk dengan posisi tetap berdiri menghadap ke depan, sampai pengucapan lafal janji wisuda selesai dan MC mempersilahkan duduk.


Selesai prosesi wisuda, mereka sibuk dengan gaya berfoto.


"Tika, kamu datang dengan suamimu tidak?" tanya Tiwi.


"I...iya." sahut Tika singkat, jantungnya mulai berdetak kencang.


"Surya mana ya, tadi aku lihat dia menuju ke arah sini." ucap Tesa celingukan.


"Iya, aku mau berfoto dengannya. Dia keren banget hari ini!" ucap Tiwi.


"Aku juga mau!" sahut Tesa.


"Ikut...aja, kamu tuh!" celetus Tiwi.


"Sudah ya, aku mau menemui orang tuaku dulu." Tika menghindari mereka, lalu berjalan ke arah orang tuanya.


"Selamat sayang, atas gelar sarjananya!" ucap bu Tasya seraya memeluk Tika.


"Iya, Ma terima kasih."


"Selamat, ya Kak!" ucap Nisa sambil bergantian memeluk.


"Selamat, Nak! Semoga gelar ini menjadi awal kebahagiaanmu." ucap bu Desy.


"Aamiin...terima kasih Bu, atas doanya."


"Tika, mana suamimu?" tanya pak Andik.


"Tunggu, biar Tika telfon dulu!" sahut Tika seraya memencet ponselnya.


"Kak Surya mana Bu, Anis sudah capek nih!"


"Sabar, tuh...kak Tika sedang menghubunginya." sahut bu Desy.


Dilain sisi...


"Bi Sumi!" panggil Surya saat melihat wanita paruh baya tak asing baginya.


"Eh, Mas Surya juga ada di sini toh..." ucap bi Sumi kaget melihat penampilan Surya.


"Iya, Bi Sumi sedang apa di sini?"


"Anak Bibi kan wisuda juga, Mas!"


"Oh...kira in Bibi jemput Surya." guraunya.


"Mas Surya juga baru wisuda toh..." melihat penampilan Surya yang mengenakan baju toga.


"Iya, Bi. Maaf Bi, saya angkat telepon dulu." pamit Surya lalu pergi menjauh. Tenyata dari Tika.


Tak lama kemudian Surya datang.


Mereka foto dengan keluarga masing - masing.


"Kami pulang dulu, kamu kalau ada waktu ajaklah Tika mampir ke rumah. " ucap bu Tasya.


"Baik, Ma." sahut Surya.


Orang tua mereka pulang terlebih dahulu.


Saat beberapa mahasiswa sesuai prodinya sedang asyik berfoto datanglah Tedi.


"Tika, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!"


"Cie...cie..." goda mahasiswa lain. Membuat Tika merasa tidak enak dilihat Surya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Sepertinya serius sekali. Apa ini masalah pekerjaan?" tanya Tika polos.


"Bukan, aku tidak marah kalau kamu keluar dari perusahaanku. Yang ingin aku sampaikan padamu..." Tedi mengeluarkan kotak merah dari saku celananya.


"Menikahlah denganku!" ucap Tedi seraya membuka kotak merah yang berisi cincin.


Bak terkena petir di siang bolong. Tika tak percaya dengan apa yang dilakukan Tedi. Lidahnya kelu, tatapannya tajam ke arah Tedi, dan tak bergeming. Malu rasanya terlihat Surya.


Terlebih Surya, ucapan Tedi bagai sembilu, mencakar hati seakan- akan darah nya mendidih menyaksikan ulah Tedi terhadap istrinya. Selain marah, Surya bagai makan buah simalakama. Jika dia maju seluruh kampus tahu dia suaminya. Dan jika diam, memberi peluang besar bagi Tedi untuk menghancurkan mahligai cintanya yang baru saja terbina.

__ADS_1


__ADS_2