
"Akhhh!!" teriak Surya.
Telinga Tika menangkap teriakan dari arah kamar mandi. Ia berlari dan membuka pintunya untung tidak terkunci. Surya belum sepenuhnya telanjang, dia masih memakai handuk yang melilit di pinggul kekarnya setinggi lutut. Tampak bulu - bulu hitam memenuhi betisnya.
Dia memasuki kamar mandi, didapati suaminya sedang kesakitan memegang pergelangan tangannya yang merah hampir melepuh. Tika bergegas menutup kran, mematikan pemanas air digital di dinding.
"Kamu tidak apa - apa kan..." tanya Tika seraya mengambil handuk lain dan membasahinya dengan gayung.
"Aku kaget, airnya panas sekali." ucap Surya, Tika membalutkan handuk dan menekan dengan sabar dan lembut.
Deg! Surya jantungnya mulai berdegup dengan kencang lantaran semakin kerap sentuhan Tika di tangannya. Si kecil yang sembunyi di balik handuk itu sepertinya sesekali kembang kempis. Tika keluar dari kamar mandi dan tidak butuh waktu lama dia kembali dengan obat oles luka bakar.
"Kamu belum pernah ya, mandi dengan shower digital?" tanya Tika seraya membuka tutup obat oles.
Surya hanya menggeleng tanpa banyak bicara lantaran tangannya masih terasa sakit.
Saat Tika mulai memencet ujung salep.
"Nanti saja selesai sholat aku akan mengoleskan sendiri." pinta Surya, Tika menganggukkan kepalanya dan segera menutup kembali.
"Makanya, kalau tidak pernah menggunakan shower tanya dulu sebelumnya. Tombol merah untuk air panas, yang tertera tulisan hot. Dan tombol hijau untuk air hangat sesuai dengan suhu ruang." jelas Tika seraya menunjuk dua tombol yang menempel di dinding. "Sedangkan kalau yang dingin..." Tika belum selesai bicara.
"Aku tahu, mandi pakai gayung kan..." potong Surya bola matanya berputar . "Tolong ambilkan baju ganti dan sarungku!" perintah Surya seraya membuka pintu kamar mandi yang secara otomatis tertutup.
"Iya ya, tuh, kelihatan punyamu!" gurau Tika seraya menunjuk ke arah handuk Surya yang melilit di perutnya dan hampir lepas.
"Is, cantik - cantik mesum." sahut Surya seraya menyilangkan dengan cepat kedua tangannya menutupi area dada dan bawah pusar. Matanya sedikit melotot lantaran dia sadar sedari tadi si kecil yang sembunyi di balik handuk hampir mengacung. Tika bergegas berlari sambil terkekeh menuruni tangga dan menuju kamar Surya.
Tika membuka lemari baju, dia memandang setumpuk baju yang semuanya gamis, beberapa kemeja dan kaos. Ia hafal betul kalau saat beribadah pakaian kesukaannya, diambilnya baju koko berwarna biru dan sarung bermotif garis - garis.
"Apa ini?" matanya ikut mengarah ke lantai, tak sengaja dia menjatuhkan selembar kertas putih persegi panjang. Dia melengkungkan punggung ke bawah dan meraih benda itu.
Terdapat tulisan tangan Surya yang berbunyi
Aku mencintaimu apapun dirimu.
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu.
Apapun yang terjadi dan kapanpun, engkaulah cintaku.
Duhai istriku, engkaulah kekasih halalku.
__ADS_1
Duhai istriku, Engkaulah kekasihku.
"Surya, kata - kata ini sungguh menyentuh hatiku, mengapa tidak kamu katakan langsung saja tentang apa isi hatimu itu." lalu membaliknya.
"Foto saat ijab qobul aku dan Surya," dipandanginya foto itu begitu lama, matanya tak jemu - jemu mengamati gambar mereka. "Dia tampan," gumamnya lirih, seraya bergetar bibirnya.
Setengah jam kemudian...
Tika menggelar dua sajadah beriringan. Surya memimpin sholat dengan bacaan surat yang merdu.
" As Salamu'Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh " Surya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu diikuti dengan Tika, pertanda sholat dua rakaat
telah selesai ditunaikan.
Mereka berdua berdzikir secara bersamaan.
"Tika, salim..." menyodorkan tangan kanannya. Tika tertegun sejenak lalu membungkukkan badan dan meraih tangan Surya, diciumnya punggung tangan suaminya itu. Ini baru kali pertama dilakukan Tika. Awalnya, kemarin saat sholat berjamaah dia selalu meloloskan diri kala Surya memimpin bacaan dzikir.
Tika bangkit seraya menanggalkan mukena dan melipatnya. Surya masih tertunduk bersila sambil komat - kamit mulutnya.
"Aku akan melihat Mr. Black dulu." pamit Tika lantaran mendengar suara kucing mengeong dari luar kamarnya. Surya mengangguk pelan. Dia segera melangkahkan kaki menuruni tangga.
"Kamu lucu sekali. Ayo, aku kasih makan." berjalan menuju dapur, kucingnya membuntuti Tika dengan langkah yang ringan, Tika menuangkan makanan ke wadah makan kucing, dengan lahap Mr. Black menyantap makan paginya.
Pukul 05.30
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Tika bergegas membuka pintu depan.
"Bi Sumi," sapanya.
"Pagi mbak Tika..." sapa bi Sumi sambil menenteng tas belanjaan dan berjalan menuju dapur.
"Pagi Bi..." Tika mengekor menuju dapur.
"Masak apa Bi?" tangannya menggapai pegangan tas membantu bi Sumi menenteng tas belanjaan. Beban berat tas bi Sumi terasa ringan saat diangkat berdua menuju dapur.
"Hari ini Bi Sumi mau masak opor ayam sama capjai." sahut bi Sumi seraya mengeluarkan isi belanjaan dari tas merahnya, dan meletakkan di lantai.
"Kapan - kapan ajari saya masak Bi," bola matanya berkeliling mengamati semua belanjaan bi Sumi.
__ADS_1
"Rebes mbak, eh beres maksud saya." ucap bi Sumi seraya menunjukkan jempol tangannya sambil terkekeh begitu pula dengan Tika.
"Bi Sumi orangnya lucu juga ya,"
"Biar tidak cepat tua mbak." ucapnya seraya mengambil pisau.
"Ya sudah Bi, saya ke kamar dulu." pamit Tika seraya melangkahkan kaki meninggalkan dapur menuju kamarnya bermaksud melihat Surya yang mungkin sudah tidur.
"Iya mbak, eh mas Surya kemana mbak? Kok dari tadi saya belum melihatnya." membuat Tika menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Masih di atas, pulang jam 3 dia, ngelembur di kantor katanya ." jelas Tika. Bi Sumi manggut - manggut lalu melanjutkan aktivitasnya begitu juga dengan Tika bergegas menuju kamarnya.
Krekkk...
Tika membuka pintu dengan pelan.
"Benar dugaanku dia tidur." ucapnya lirih seraya berjalan jinjit mendekati Surya yang sudah berbaring tidur menghadap samping kiri tepat arah pintu kamar, dengan posisi lutut yang tidak terlalu tertekuk.
"Kasihan...eh, tunggu. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak bisa membiarkan dia seenaknya tidur di ranjangku." hendak membangunkan Surya yang tengah terlelap.
"Aku terkesan tidak punya perasaan ya..." tangannya mulai menyentuh Surya.
"Biarlah, anggap saja ini bonus buat dia karena sudah mengizinkan aku kerja di tempat Tedi, meskipun dia tidak menyukai sikap Tedi." Menarik kembali tangannya, dan matanya sejurus tertuju pada obat salep yang tergeletak di atas bantal.
"Ini..." Memungut dan mengamati dari dekat.
"Dasar cowok kampung! Katanya tadi mau mengoleskan sendiri nih salep, nyatanya belum juga digunakan." Tampak pada tutup obat salep yang masih rapi.
Tika menggapai dengan pelan dan hati-hati tangan Surya yang terluka saat di kamar mandi tadi, dipandanginya beberapa saat wajah yang tanpa dosa dan tidur bak bayi dewasa itu.
"Entah sampai kapan aku menyembunyikan rasa suka ku ini, begitu berat bibir ini ingin berucap dan ingin mengakuinya. Jujur saja, Surya, aku mulai menyukaimu. Aku rela harus kehilangan harta dari pada aku kehilangan kamu. Ternyata kita memiliki rasa yang sama." ucapnya dalam hati seraya mengoleskan salep ke tangan Surya dengan lembut, tampak sudut mulutnya Tika muncul.
Selesai mengoleskan salep, Tika menaiki ranjangnya. Berbaring menghadap wajah Surya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja rias.
Ceklek...
Tika mengabadikan wajah Surya yang sedang tertidur, mengedit foto kontak panggilan cowok kampungan dengan foto yang baru saja diambilnya.
"Lucu sekali dia," tersenyum sendiri lantaran terkesima dengan wajah teduh pemilik nama Surya itu. Sesekali dia memandangi perhiasan yang melingkar di jari manisnya bertatahkan intan berlian itu.
"Cinta, sungguh aneh aku rasa, tapi ini nyata. Cincin merupakan sebuah tanda cinta. Simbol pertalian 2 hati yang saling berbagi dan melengkapi.
__ADS_1