
Tika berjalan dengan pandangan kosong. Terus dan tak berhenti meski papanya meneriakinya. Dia berjalan menuju makam Surya, sesampainya dia duduk bersimpuh dan air matanya mulai berlinang. Tangannya memegang batu nisan. Batinnya tersentak untuk tidak mengakui kematian suaminya namun kenyataannya berkata lain. Dia menatap tanah yang menyundul itu. Masih terngiang perkataan Surya yang terakhir bahwa dia segera pulang. Ternyata bukan pulang ke rumah melainkan pulang menghadap sang pencipta.
"Tika, kamu belum boleh keluar rumah. Ayo kita pulang!" ajak pak Andik antusias. Tika menggeleng dengan tetap tak bergeming.
"Wanita yang baru saja ditinggalkan suaminya karena meninggal, memiliki apa yang disebut masa idah. Dan belum boleh keluar rumah sekalipun. Sebagai wanita kamu harus tahu itu. Ayo pulang." jelas pak Andik seraya menepuk pundak Tika.
"Mas Surya belum meninggal, Pa. Tika yakin itu. Dia berjanji untuk segera pulang ke rumah." tolak Tika lagi.
"Sudahlah, terima kenyataan ini. Suamimu tidak akan bisa tenang di alam sana, jika kamu terpuruk seperti ini. Kita doakan saja, ayo!"
"Tapi , Pa. Tika masih merasa mas Surya masih hidup. "
"Iya, dia akan selalu hidup di hatimu. Papa menyadarinya. Akhirnya kamu sekarang mengakui bukan?"
"Mengakui apa?" tangisan Tika mulai mereda.
"Cinta, cinta pada Surya." ucap pak Andi membuat Tika tersipu malu. Akhirnya setelah pak Andik membujuk untuk sekian kali membuahkan hasil juga, Tika bersedia pulang.
Sementara Tedi bersama ayahnya datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Tedi sudah agak mendingan keadaannya. Setelah satu minggu menjadi hampir gila karena mengetahui Tika sudah bersuami. Ayahnya akhirnya turun tangan, menyewa sekelompok geng motor untuk membuat kecelakaan, sayang salah satu geng ikut terbakar dalam insiden itu. Awalnya dia hanya membuat agar remnya blong, tapi karena panik dia ikut masuk ke dalam mobil saat Surya akan pergi. Rencana tetaplah rencana, namun Tuhan berkehendak lain. Surya tetap hidup sedangkan jenazah yang diakui Surya itu adalah jenazah si perusak rem. Bersih dan tanpa kecurigaan. Itulah yang terpikir di benak ayahnya.
Dengan kejadian itu, akhirnya Tedi seketika tersadar dari kegilaannya. Sore ini dia dibujuk ayahnya untuk berkunjung ke rumah Tika.
"Nak, ada kabar gembira untukmu. Ayah yakin kamu juga senang mendengar kabar ini." ucap ayah Tedi sambil berbisik. Tedi diam mengacuhkannya. Dia duduk di pinggir ranjang.
"Surya telah meninggal." menepuk pundak Tedi lalu berdiri membelakanginya. Tedi terkesiap tak percaya, secepat itu musuhnya lenyap. Matanya terbelalak, tubuhnya yang terasa remuk redam kembali terbentuk. Hatinya yang hancur utuh kembali.
"Meninggal..." sahut Tedi lirih membuat langkah pria paruh baya itu berhenti dan menoleh ke arah wajah anaknya yang mulai menampakkan kegirangan. Ayahnya mengangguk.
__ADS_1
"Benarkah itu, Ayah. Bagaimana bisa dia meninggal?" pertanyaan yang mulai dilontarkan Tedi setelah sekian lama tak bersuara.
"Dia meninggal karena kecelakaan tunggal. Tubuhnya terbakar dan mobilnya masuk jurang." jelas ayahnya tanpa memberi tahu bahwa yang menyebabkan meninggal adalah dia. Tedi bukan main girangnya merasa pesaingnya telah tiada timbul rasa birahinya untuk mendapatkan Tika kembali.
Ayahnya mengajak Tedi untuk berkunjung ke rumah Tika. Tedi menurut perkataan ayahnya untuk mengambil hati wanitanya dia harus mengisi kekosongan hatinya.
"Perkenalkan saya adalah Tomi dan ini anak saya Tedi." pak Tomi memperkenalkan diri saat berada di ruang tamu. Pak Andik tampak asing dengan kehadirannya.
"Ada hubungan apa kalian berdua dengan anakku?" tanya pak Andik sopan seraya menjabat tangan mereka berdua.
"Kami adalah pemilik perusahaan tempat dimana Tika bekerja." sahut pak Tomi.
"Oo..." pak Andik manggut-manggut tanda mengerti.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya suami dari anak Bapak !" sambil menudingkan jempol ke arah pak Andik.
"Panggil saja saya Andik. Terima kasih atas perhatian kalian. Tapi , maaf Tika baru saja istirahat."
"Terimakasih, Pak Tomi. Meski Tika baru bekerja sebentar saja di kantor Bapak, tapi sikap Anda sudah seperti keluarga sendiri."
Hampir satu jam mereka berdua di rumah Tika, akhirnya Tika turun juga dari kamar. Melihat kedatangan Tedi, Tika sedikit tercengang. Dia berjalan menuruni tangga dan sekilas pandangan mereka bertemu. Tak henti- hentinya Tedi menatap Tika dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya dia ingin sekali memeluk wanita pujaan hatinya.
"Tedi," ucap Tika lirih. Lalu berjalan lagi menuju ruang tamu. Pak Andik menjelaskan kedatangan mereka.
"Aku turut berduka cita, Tik." Tedi berdiri hendak merangkul, namun Tika mengelak.
Tedi sedikit kecewa, mungkinkah sedikit cinta sudah tak terasa lagi di hatinya. "Tenang Tika aku akan menggantikan suamimu yang telah mati. Aku akan mengisi kekosongan di setiap harimu. Tunggu aku sebentar saja, kamu akan jatuh dalam genggaman ku," batin Tedi.
__ADS_1
"Menyingkir dariku." Sentak Tika membuat Tedi kecewa.
Tedi tak tahan lagi dengan sikap dinginnya.
"Tika, aku bersedia menjadi sandaran hatimu. Menggantikan Surya sebagai suamimu. Aku berjanji akan selalu menjagamu." Tedi meraih tangan Tika, menggenggam erat tak perduli dengan orang disekitarnya.
"Dasar tidak tahu malu. Makam suamiku masih basah. Sudah berani kamu berkata seperti itu." Tika memerah.
"Aku sangat mencintaimu, Tika. Hari - hariku sepi tanpamu. Aku hampir gila memikirkanmu."
"Cuih! Aku tak butuh kata- kata manismu." Tika berlari menaiki tangga meski Tedi berulang kali memanggil namanya.
Mendengar perkataan Tika yang kasar membuat pak Tomi panas mendengarnya.
"Maafkan, Tika Pak Tomi dan khususnya Nak Tedi. Aku hargai niat baik kamu. Namun Tika baru saja ditinggalkan suaminya. Biarkan dia menjalani masa idahnya dulu. Mungkin setelah itu dia bisa menerima kamu kembali." jelas pak Andik. Pak Tomi tak terima dengan perlakuan Tika dan mengajak Tedi pulang.
"Wanita seperti itu masih kamu idamkan. Rasanya ingin sekali aku menyumpal mulutnya yang bikin ayah pedas mendengarnya. Enak saja dia menolak dengan kasar." ucap pak Tomi saat sampai di rumah dan sedang menikmati makan malam.
"Ayah, maklum saja dia baru saja kehilangan suaminya. Aku sadar siapalah diriku. Tapi mulai sekarang aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan dia." Tedi bersemangat seraya menghentikan makannya.
"Kamu masih membelanya. Ayah bisa saja mengirimkan dia menyusul suaminya itu."
"Jangan Ayah! Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan wanitaku."
"Masih banyak wanita lain yang bisa kamu pacari."
"Tidak. Tidak ada wanita lain selain dia, Ayah. Jangan coba-coba Ayah menyentuh dia!"
__ADS_1
"Terserah kamu. Ingat, jika kamu akan sakit hati lagi, Ayah tidak akan menghiraukan kamu. Ayah jadi tidak selera makan gara-gara kamu yang terus belain dia." pak Tomi geram lalu meninggalkan Tedi sendirian di ruang makan.
Pak Tomi mengumpat, dan berniat akan menghabisi nyawa Tika dikemudian hari tanpa pengetahuan Tedi.