
"Hallo, Pa! Ya, ada apa?" sahut Tika saat handphone berdering, dia segera bangkit dari ranjang setelah mengamati wajah suaminya dengan detail. Lalu berjalan menuju balkon kamarnya.
"Surya sedang tidur Pa, dia pulang jam 3 pagi tadi." sahut Tika seraya menghirup udara segar di pagi hari.
"Aku tidak bisa ikut, hari ini pertama kali aku masuk kerja, Pa." Bola matanya berputar, lalu dia duduk di sebuah kursi bercat putih sambil tangan satunya menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Mana mungkin aku minta cuti, Pa. Walaupun itu cuma satu hari. Bisa - bisa aku dipecat. Kalau hari libur saja, Tika akan mengunjungi kios ibu, setelah kiosnya ditempati nanti." jelas Tika.
Tut...panggilan telepon dimatikan.
Tika segera menuju kamarnya, didapatinya Surya masih tertidur lelap. Dia segera mandi dan bersiap untuk bekerja. Hari ini, hari dimana dia pertama kali bekerja di kantor Tedi, walaupun Surya tidak menyukai perilaku Tedi, namun dia tetap mengizinkan istrinya bekerja.
Tika mengenakan setelan kemeja berwarna merah marun, rambutnya yang panjang dia biarkan sedikit terurai. Dia mencoba membuat gaya rambut ponytail, dan dengan sentuhan elegan, sehelai rambut dia tarik dari bagian bawah ponytail lalu membungkusnya untuk menyembunyikan ikat rambut. Gaya rambut Tika memberikan kesan rapi dan juga sederhana namun tetap cantik.
"Selesai," ucapnya, selesai berdandan dia memasukkan beberapa alat make up, ponsel, buku kerja dan alat tulis, tak lupa mukena bermotif bunga dia lipat sedemikian kecil, agar muat masuk ke dalam tas hitamnya.
Tika keluar dari kamar, sesekali dia menoleh ke arah Surya.
"Aku berangkat kerja dulu, doa kan hari ini lancar! Assalamualaikum..." ucap Tika lirih, meskipun dia tahu Surya tidak mendengar ucapannya namun, dia biasakan untuk mengucap salam, lalu membuka pintu dengan pelan menuruni tangga menuju meja makan.
" Mbak Tika cantik, rapi sekali, mau berangkat kerja ya?" tanya bi Sumi seraya meletakkan teh hangat di atas meja. Pandangannya tertuju pada penampilan Tika yang elegan.
"Iya Bi Sumi," sahut Tika seraya menyeruput teh hangatnya. Dan sesekali merapikan tatanan rambutnya.
"Anak saya hari ini juga mulai bekerja, Bibi senang sekali, dia di terima kerja." ucap bi Sumi dengan bangga.
"Oh ya, kerja di mana?"
"Bibi tidak tahu mbak, dia bilang bekerja di kantor temannya."
Tika tidak begitu merespon, hanya manggut - manggut saja karena asyik dengan ponselnya, dia memesan taksi online.
"Mas Surya tidak ikut sarapan, Mbak?"
"Belum bangun dia. Oh iya Bi, tolong sampaikan ke mas Surya..." mengambil pulpen dan buku, menulis sesuatu lalu merobek dan memberikan secarik kertas ke bi Sumi.
"Apa ini Mbak?" menerima secarik kertas, lalu membacanya lirih.
"Itu alamat kios ibunya, nanti siang dia akan ke sana, tapi saya tidak bisa ikut ." sahut Tika.
"O...iya nanti Bi Sumi akan sampaikan ke mas Surya." berjalan menuju dapur.
Sementara Tika tengah menikmati sarapannya. Selesai sarapan dia menunggu taksi online. Karena Surya masih tidur dan terlihat lelah Tika memesan taksi online untuk mengantarnya ke tempat kerja.
Beberapa menit kemudian taksi datang dan Tika bergegas keluar rumah dan berangkat kerja.
Sesampainya di kantor, Tika menuju ruangan Tedi.
"Selamat pagi Tika!" sapa Tedi saat Tika masuk ke ruangannya, tatapannya penuh kagum dan nafsunya mulai bangkit.
"Pagi Tedi!" sahut Tika seraya merapikan pakaiannya karena pandangan Tedi membuatnya risih dan sesekali dia memperhatikan kemejanya.
"Kamu cantik, Tika. Kamu sudah siap bekerja kan! Ini tugasmu mulai hari ini dan seterusnya." menyerahkan berkas. " Aku sebagai atasanmu sekarang."
__ADS_1
"Terima kasih," melemparkan senyum tipis, seraya menerima berkas dari Tedi.
"Aku harus memanggilmu apa, Pak atau Bos?" tanyanya seraya membaca berkas sekilas tugas - tugasnya selama bekerja di perusahaan itu.
"Panggil aku dengan 'sayang' juga boleh." ucap Tedi mulai menggoda.
"Ih kamu, jangan macam - macam denganku! Kamu harus professional Di, bedakan status di kantor dan di luar kantor!" gerutu Tika.
"Iya - ya, aku hanya bercanda."
Dia ditempatkan di divisi administrasi bersama dengan Dewi, yang pada waktu itu terlambat melakukan interview, namun atas kebaikan Tedi dia diterima di perusahaan itu.
"Aku antar kamu ke meja kerjamu! Aku berharap kamu bisa bekerja sama dengan Dewi, meskipun kamu tidak menyukainya." jelas Tedi lalu berdiri menuju pintu, Tika mengekor di belakang.
"Iya, aku tahu, aku juga sudah tidak membencinya. Kamu tenang saja, lagian aku juga sudah melupakan kejadian waktu itu."
"Tika," ucap Dewi saat Tika sampai di meja kerjanya bersama dengan Tedi.
"Pagi Dew, aku minta maaf atas sikapku ke kamu waktu kemarin." mengulurkan tangan hendak menjabat tangga Dewi.
"Ah Tika, kayak orang lain saja, kamu sudah aku maaf in kok," menepis tangan Tika, seraya Dewi merangkul Tika, semburat senyum terbentuk di wajah mereka berdua.
"Terima kasih Dew,"
"Kita kan sekarang rekan." sahutnya.
"Iya, mohon bantuannya
"Nah gitu dong, akur..." Tedi menengahi suasana.
"Tika, kamu belum di jemput?" tanya Tedi menghampirinya saat berada di depan pagar besi halaman kantor.
"Aku menunggu taksi." sahut Tika.
"Taksi, lalu kemana sopirmu?" tanya Tedi celingukan mengarah ke seberang jalan.
"Dia sedang sibuk,"
"Sibuk apaan...hanya sopir bodoh yang membiarkan majikannya sendirian, terlebih lagi majikannya itu cewek secantik kamu."
"Ih, ingin rasanya aku gundul kepala si Tedi ini, enak saja mengatai Surya bodoh." geram Tika dalam hati.
"Apaan sih kamu, jangan ngegombal! Dilihat banyak orang ." Tika mencibirkan mulut, matanya berkeliling.
"Santai saja Tika. Dah sore nih, sebentar lagi hujan, ayo ku antar!" Tedi menyikut tangan Tika.
"Aku sudah terlanjur pesan taksi online, nih.
"Tika, kamu belum di jemput? " tanya Dewi yang sedang melintas.
"Iya Dew, aku naik taksi hari ini. Kamu duluan saja!"
"Cincin itu..." meraih tangan Tika dan mengamatinya. Tika sedikit tercengang lantaran Dewi begitu saja meraih tangannya.
__ADS_1
"Sepertinya...aku pernah lihat cincin ini. Tapi, dimana ya?" mengingat sambil mengerutkan dahinya.
"Ah, model seperti ini banyak di pasaran. Ini pemberian ibuku." elak Tika.
"Mungkin saja, ya sudah Tik. Aku duluan ya." Dewi menyalakan starter motornya lalu meninggalkan mereka berdua.
"Aku ingat sekarang, itu persis dengan cincin 18 juta yang di beli Surya waktu aku menjual kalungku. Bagaimana mungkin Tika, cewek manja itu bisa memilikinya. Aku akan mencari tahu ini." batin Dewi.
***
Pukul 09.00
Surya menggeliatkan tubuhnya, baru dia sadari setelah matanya terbuka.
"Masya Allah, aku tertidur di kamar nenek sihir." matanya berkeliling mencari sosok istrinya.
"Tika !" panggilnya. " Gawat aku kesiangan !" melihat jam di handphonenya yang tertindih bantal, lalu bangkit dari ranjang.
Surya berjalan menuruni tangga, di cari nya Tika, berharap masih bersua dengannya. Namun, setelah sampai di dapur...
"Mas Surya, sudah bangun..." sapa bi Sumi seraya mengepel lantai, terlihat dari penampilan Surya yang masih mengenakan baju koko dan sarung.
"Iya Bi, Tika mana Bi?" celingukan di rumah sendiri.
"Lah, kan sudah berangkat kerja Mas!" sahut bi Sumi menghentikan aktifitasnya, lalu merogoh sakunya.
"Sejak kapan?"
"Sekitar jam 7, ini Mas!" Menyerahkan secarik kertas yang Tika titipkan bi Sumi pagi tadi.
"Terima kasih Bi," menerimanya lalu membacanya dalam hati.
Surya, aku berangkat kerja dulu. Tadi papa menelfon, ini alamat kios ibu jalan xxx. Maaf aku tidak bisa ikut. Aku naik taksi.
"Mas Surya mau sarapan sekarang? Bi Sumi masak opor ayam lo..."
"Kelihatannya enak, boleh!" Surya menuju meja makan, di bukanya tudung saji, matanya menjalar seluruh isi meja.
"Wah, Bi Sumi masak banyak sekali."
"Iya, Mas. Biar mbak Tika cepat gemuk, kasihan dia, terlihat agak cungkring."
"Masa sih, dia sudah sarapan tadi?" Menarik kursi.
"Sudah Mas, Mas Surya mau dibikin kan kopi atau..."
"Tidak usah Bi, terima kasih. Air hangat saja." pintanya seraya masih memikirkan ucapan bi Sumi tentang Tika.
"Iya Mas, Bi Sumi ambilkan dulu." berjalan menuju dapur, tak butuh waktu lama kembali dengan segelas air hangat. Lalu meletakkan di dekat Surya.
"Bibi mau melanjutkan mengepel dulu." berjalan meninggalkan Surya. Surya mengangguk.
"Apa benar nenek sihir terlihat kurus akhir - akhir ini, apa mungkin aku saja yang tidak memperhatikannya." Gumam Surya lirih.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak membangunkan aku tadi," batinnya.
Selesai sarapan dia menuju kamarnya, mandi dan bersiap untuk pergi melihat kios ibunya.