Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Rudi Berhasil


__ADS_3

"Surya, pagi ini kamu rapi banget!" tanya Dewi memulai percakapan saat selesai sarapan, memandangi Surya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Kan aku jadi sopir sekarang, harus rapi dong!" sahut Surya seraya merapikan kerah kemejanya. Dewi memandang dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kamu jangan bekerja lagi! " larang Dewi, hatinya merasa kacau kalau Surya pergi ke luar rumah. Pihak keluarganya akan menemukannya. Ini tidak akan terjadi, sebelum hari pernikahan tiba Surya harus selalu bersamanya. Setelah pernikahan itu terjadi, Surya akan utuh menjadi miliknya.


Dewi duduk bersandar sambil menyilangkan tangan.


"Kenapa??" Surya mengerutkan dahi, padahal kesepakatan kemarin diperbolehkan mengapa hari ini tiba-tiba saja berubah?


"Aku tidak mau kamu keluar rumah lagi, jika kamu melanggar aku akan bunuh diri." ancamnya lagi, tentu saja Surya sudah kebal dengan ancaman itu. Ia berfikir Dewi tidak akan senekat itu.


"Kenapa Dew? Belum menikah saja kamu sudah melarang ini itu, bagaimana jika sudah menikah nanti? Kemarin kamu mengusir pengemis, padahal uang kamu tidak akan habis jika memberinya sedikit saja. Dan hari ini kamu melarangku untuk bekerja. Aku bisa gila di rumah terus. Bingung aku dengan cara pikirmu." Surya sedikit emosi.


"Terus...." Dewi memancing emosi Surya.


"Pikiran mu sempit, kamu keterlaluan! Suka memaksakan kehendak sendiri dan aku tidak mau di paksa."


"Bagus, sudah berani kamu melawanku. Baru keluar sehari saja sudah berubah. Ingat kesepakatan kita di awal Surya, kamu hanya boleh menjadi milikku. " Dewi berdiri membuat kursi terbalik ke belakang sambil berkacak pinggang.


"Tapi, tidak dengan begini caranya."


Dewi dengan cepat mengambil cutter di meja dan meletakan di pergelangan tangannya. Tak ingin melewatkan kesempatan emas untuk menaklukkan Surya yang mulai bimbang.


"Terserah apa yang ingin kamu lakukan!" Surya tak perduli dengan ancaman Dewi, ia berfikir Dewi hanya pura-pura saja. Surya berjalan dan sudah hampir di ambang pintu.


"Ancamanku bukan main-main, Surya." Dewi tak hanya menggertak dan mata cutter itu menyayat kulitnya, "Aww..." teriak Dewi kesakitan.


"Jangan, Dew!" teriak Surya yang membuat bik Sumi keluar dari dapur.


"Ya Allah Gusti!! Sadar Wi, insaf! Itu perbuat terlarang, Nak!" bik Sumi menutup mulutnya, panik dan takut. Dia ngak menyangka jika putrinya akan melakukan hal bodoh seperti itu.


"Ibuk, mundur jangan mendekat atau benda ini akan menghilangkan nyawaku!" Dewi bersikukuh membuat semua orang panik bukan main. Bik Sumi mendekati Surya dan memukul - mukul pundak Surya.


"Tahan, Dew! Kita bisa bicarakan baik-baik." Surya mencoba berdamai.


"Surya, apa yang kamu lakukan pada Dewi? Sudah, turuti saja kemauannya. Jika ada apa-apa padanya aku akan menuntut kamu!" bentak bik Sumi yang sudah mulai takut kalau Dewi menusukkan cutter itu ke tangannya sungguhan.


Surya sejenak terdiam, binggung mau memberikan keputusan. Jika dia tak menuruti perkataannya Dewi akan bunuh diri, sedang jika dia tak keluar rumah rencana untuk mencari jati diri akan gagal. Melihat Surya tanpa ekspresi Dewi mulai menyayat kulitnya lagi sehingga tampak goresan - goresan merah segar seperti benang.


"Tunggu!!" Surya mendekati Dewi.


"Baik, sebelumnya dengarkan ucapanku! Lelakilah dalam rumah tangga yang memberi nafkah, bukan sebaliknya. Jadi, biarkan aku tetap bekerja. Aku akan setia tidak akan melirik wanita lain. Kamu terlalu cemburu. Siapa yang kamu khawatirkan?" Surya menekan kuat pergelangan tangan Dewi.

__ADS_1


"Em, tidak ada. Hanya saja aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kita dikemudian hari berpisah." Surya merampas cutter dan membuangnya ke lantai. Membalut kulit dengan tisu yang tersedia di meja.


"Aku janji, Dewi." Surya memeluk Dewi, rasa sayangnya dulu kini pudar dan hanya keterpaksaan untuk mengisi hatinya dengan wanita di depannya.


"Benar kamu tidak akan meninggalkanku??" Surya mengangguk paksa.


Dewi dengan tangisan palsu membalas pelukan Surya. Mana mungkin dia akan menghabisi diri sendiri, dia tidak sebodoh itu. Inilah cara agar Surya berada di dalam genggamannya.


Surya mendudukkan Dewi di sofa, dengan cepat mengambil plester di kotak obat. Bik Sumi mengelus dada lega.


"Kamu boleh keluar rumah jika sudah menikahiku." ucapan Dewi membuat Surya tertunduk bimbang, hatinya perih mengapa dulu dia mengiyakan permintaan Dewi. Padahal dia belum tahu siapa dirinya sebenarnya.


"Bagaimana, kamu setuju kan?" Dewi menekan Surya, "Baik minggu depan kita akan menikah, tidak perlu pesta yang mewah. Kita lakukan dengan beberapa saksi dan tamu undangan tertentu saja. Bagaimana menurutmu?"


Surya menghela nafas panjang, "Terserah apa maumu!" sahut Surya pasrah, padahal batinnya menolak.


"Baguslah, aku yang akan mengurus semuanya." Dewi tersenyum licik.


***


Rudi mengabari Tika lantaran hari ini tak bertemu dengan pria yang mirip dengan Surya.


"Mbak Tika, hari sudah siang. Sejak pagi tadi saya pantau tidak ada tanda - tanda pak Surya." ucap Rudi mengabari lewat ponsel.


"Jangan dong Mbak... pekerjaan itu sangat berarti buat saya, saya akan berusaha mencarinya lagi." ucap Rudi yang mulai takut dengan ancaman Tika.


"Bagus, lakukan dengan baik. Emm, coba kamu cari disekitar resto China. Dia pernah bilang kalau tinggal di rumah calon istrinya." Tika memberikan petunjuk dan segera Rudi menuju tempat yang dimaksud Tika.


Matahari sudah berada di barat, dan cahayanya yang hangat membuat Rudi terkantuk saat berkendara. Rudi beristirahat disebuah warung kecil yang hampir tutup. Dia memesan kopi dan memakan gorengan yang hanya tersisa beberapa. Setelah dirasa cukup dia hendak berdiri dan tak sengaja ada ibu- ibu paruh baya yang menerobos masuk dan menginjak kaki kirinya.


"Aduh, sakit!" Rudi sontak mengangkat kaki kirinya. Ibu - ibu itu tak meminta maaf malah memarahi Rudi.


"Sudah tahu jalannya sempit, malah diam saja, makanya minggir!" hardik perempuan paruh baya itu.


"Loh, kok saya yang disalahin. Ibu sendiri yang nyelonong masuk tadi." Perempuan paruh baya itu melengos saja.


"Mbak Surti, saya beli tahu gorengnya masih?" tanyanya pada pemilik warung.


"Waduh, Bik Sumi. Maaf, sudah habis dimakan Mas ini." sambil menuding ke arah Rudi, seperti jadi tersangka dia.


"Kamu, sudah tahu anak saya suka makan tahu goreng, malah kamu habiskan !" bentak bik Sumi, "Ya sudah Mbak, saya pergi ke warung lain saja."


"Kok, saya yang disalahin." Rudi mencibir.

__ADS_1


"Eh, Mbak Surti, jangan lupa minggu depan hadir ya di acara pernikahan anakku. " kata bik Sumi sebelum pergi.


" Minggu depan, selamat ya Bik, semoga jadi keluarga sakinah. Mendadak sekali beritanya."


"Amiin.... Biar nggak timbul fitnah, Mbak." lalu bik Sumi pergi.


"Dasar emak-emak aneh, sudah tahu salah malah enggak minta maaf." gerutu Rudi sambil mengeluarkan dompetnya, "Berapa Mbak semuanya?"


" Dua puluh lima ribu, Mas. Yang sabar, maklum penduduk baru." setelah Rudi membayar dia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto Surya pada mbak Surti.


"Kira-kira Mbak pernah lihat orang di foto ini nggak?"


"Lah, ini kan orang yang tinggal di rumah bik Sumi,"


"Masak sih, Mbak yakin? Orang yang barusan ke sini tadi kan?" mbak Surti mengangguk.


"Mbak tahu orang tadi tinggal di mana?"


"Ya jelas tahu dong, Mas." berjalan ke luar diikuti Rudi, " Di sana, di ujung jalan, rumah yang paling gede." menunjuk ke arah selatan.


"Kerja bagus, terimakasih info yang sangat berharga ini. " Rudi tersenyum puas, usahanya seharian akan membuahkan hasil.


"Sama- sama Mas, emangnya ada apa ya mencari orang itu?" mbak Surti penasaran.


"Em, nggak tahu Mbak. Saya cuma di suruh majikan saya. Katanya mirip dengan suaminya dulu." jelas Rudi.


"Jadi, orang di foto itu sudah menikah. Tapi, bik Sumi bilang anaknya akan menikah minggu depan dengan orang di foto tadi." jelas mbak Surti menggebu - gebu dan sok tahu.


"Benarkah?? Terus apa lagi yang Mbak tahu tentang orang di foto tadi?" Rudi mengorek info lebih detail.


"Dulu orang ini di temukan pingsan di jalan, dan anak bik Sumi lah yang merawatnya."


"Ini hadiah untuk Mbak Surti, gara-gara Mbak saya tidak jadi dipecat dari pekerjaan. Sekali lagi terimakasih, Mbak." Rudi mengeluarkan uang tiga lembar seratus ribuan dan meletakkan di telapak tangan Surti dengan paksa. Lalu dia pergi menuju rumah bik Sumi.


"Eh, " Surti terbengong sesaat.


"Hallo, Mbak Tika!" panggil Rudi setelah tersambung.


"Ya," sahut singkat dari Tika.


"Ada kabar bagus buat Mbak Tika. Ini tentang pria yang mirip pak Surya. Tapi, tidak bisa diomongin lewat ponsel Mbak."


"Ya sudah kamu kesini sekarang!" perintah Tika. Lalu Rudi menancap gas dengan hati senang lantaran pengintaiannya berhasil.

__ADS_1


__ADS_2