Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Surya Adalah Bos


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


"Apakah kamu gugup?" tanya pak Andik saat memasuki ruang kerja Surya.


"Sedikit Pa, mungkin ini baru pertama kali aku melakukannya." sahut Surya.


"Surya, Papa yakin kamu bisa melalui ini semua." Menepuk pundak Surya pelan.


"Insyaallah, Surya bisa Pa!" sahutnya seraya merapikan dasi kupu - kupu miliknya yang melingkar rapi di lehernya.


"Sepuluh menit lagi acara dimulai, siapkan dirimu!"


"Baik, Pa!"


"Acara ini selain sebagai penggalangan dana untuk yatim piatu juga memperkenalkan kamu pada dunia luar. Bahwa perusahaan Andika memiliki pemimpin baru, yakni kamu."


"Iya, Pa! Surya yakin nanti saat memberikan sambutan tidak akan mengecewakan Papa dan nama perusahaan."


"Bagus, Papa bangga padamu, Nak!"


Sementara di aula perusahaan tampak sarat dengan tamu - tamu dari berbagai perusahaan.


Dalam daftar ada sepuluh perusahaan yang hadir dalam acara pundi amal awal Desember yang akan memberikan sumbangan pada 100 anak yatim piatu dan 1200 anak yatim serta santunan pada fakir miskin yang berada di sekitar komplek perusahaan.


Sumbangan yang diberikan beranekaragam seperti peralatan sekolah, makanan kering dan basah, serta kebutuhan harian lainnya.


Saat acara dimulai semua mata di aula tertuju pada satu pria yang berada di atas panggung, kharismatik dan elegan, inilah Surya.


Surya berpidato sekilas di atas panggung.


"Program Santunan Yatim piatu dan Dhuafa perusahaan. " Dia sedikit gugup namun mampu untuk mengatasinya.


"Sabtu, 01 Desember 2020." lanjutnya,


"PT. Andika Pratama sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang pangan yang sudah 50 tahun berdiri tidak hanya aktif mengadakan kegiatan - kegiatan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, tetapi juga aktif dalam kegiatan - kegiatan sosial kemasyarakatan diantaranya santunan anak yatim piatu dan dhuafa." Terdengar lancar.


"Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program rutin perusahaan yang diadakan PT. Andika management Indonesia sebagai bentuk kepedulian bagi sesama. Pemberian Santunan yatim yang dipimpin langsung oleh Bapak Andik, BSAE, MSEIE, MBA president Director dan CEO Andika yang baru, kepada 100 yatim piatu yang tinggal di lingkungan perusahaan."


"Siapa CEO yang baru itu?" bisik tamu undangan.


"Aku dengar dia adalah anak menantu."


"Menantu, aku baru tahu itu." sahut tamu yang lain.


"Dia dari keluarga miskin." sahut tamu yang lain.


"Tapi, aku dengar dia orang yang bijaksana dan sopan." begitulah ucapan dari berbagai tamu yang dilontarkan untuk Surya.


Surya melanjutkan pidatonya.


"Kegiatan ini bertujuan untuk membantu mensejahterakan para anak yatim di lingkungan sekitar dan sebagai bentuk ungkapan syukur PT. Andika Pratama."


Dari sekian tamu yang ada, hadir di sana Tedi dan Tika mewakili ayahnya dari perusahaan Tediro Husodo.


"Bukankah itu si sopir?" tanya Tedi dengan sinisnya.


"Surya maksudmu?" sahut Tika dengan datar, mencoba menenangkan hatinya, meskipun dia sedikit kecewa dengan ucapan Tedi. Yang selalu menyudutkan pekerjaan sampingan Surya, sopir.

__ADS_1


"Iya, siapa lagi."


"Dia bekerja di kantor papaku."


"Benarkah, kenapa kamu tidak pernah cerita?"


"Untuk apa aku menceritakan semua, toh kamu juga tidak akan suka membicarakan dia."


"Kamu benar juga!" senyum tipis menghias mulutnya.


Surya turun dari panggung, membaur dengan tamu undangan yang lain.


"Baiklah para tamu undangan yang hadir,


nikmat paling besar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat iman, dimana mensyukuri nikmat -Nya dengan cara menggunakannya untuk selalu ibadah.


Pada kesempatan ini, PT ANDIKA bermunajat bersama untuk kemajuan perusahaan lebih baik di tahun 2020." ucap pak Andik.


Semua tamu memberikan tepuk tangan yang meriah.


"Baiklah, acara selanjutnya sebelum istirahat saya akan memperkenalkan pemimpin perusahaan ANDIKA yang baru." menunjuk ke arah Surya, reflek dia berjalan mendekati mertuanya.


"Inilah, Surya Setiawan!" suara tepuk tangan meriah dari semua sudut mata memandang.


Tedi tersedak saat meneguk minumannya.


"Uhuk... uhuk...sopir itu ternyata bos!" matanya melotot seakan mau keluar bola matanya.


"Aku juga tidak menyangka, Surya adalah CEO di perusahaan papaku sendiri." bergetar tangan dan kakinya.


"Ini tidak mungkin!" ucap Tedi dengan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Mas Surya!" panggil Tika.


Surya menoleh, dia terkejut istrinya ada dalam acara ini.


"Tika,"


"Kenapa mas tidak pernah cerita?"


"Aku tidak bermaksud membohongimu. Hanya saja belum ada waktu yang pas untuk menceritakan semua." jelas Surya.


"Alasan apa lagi yang akan kamu berikan, aku sudah mencoba untuk mencintaimu. Tapi, apa balasan yang kamu berikan. Kamu tidak jujur, Mas." Tika berurai air mata. Wajahnya tertelungkup kedua tangan.


Tedi yang mengetahui hal itu cepat - cepat mendatangi mereka.


"Surya, apa yang kamu lakukan. Kamu selalu membuat Tika bersedih. Jauh - jauh sana kamu!" usir Tedi.


"Tedi, kamu yang mengajak Tika untuk datang di acara ini? "


"Bukan urusanmu? Dia karyawanku, suka - sukaku mengajak siapa?"


"Tika," ucap Surya sambil mengusap lembut pundak istrinya, mencoba untuk menenangkan.


"Aku tidak apa - apa," sahut Tika.


"Jangan sentuh!" Tedi menepis tangan Surya.

__ADS_1


Tika dan Surya saling memandang.


"Haruskah aku memberi tahunya?" batin Surya.


"Jangan! Jangan kamu katakan, kalau aku istrimu?" batin Tika.


Seolah ada kontak batin diantara keduanya, suasana menjadi hening.


Sorotan mata Surya tajam, ingin mengungkapkan siapa sebenarnya dirinya, tapi tertahan oleh gelagat Tika yang memberikan sinyal untuk tetap bungkam.


"Mari, kita makan - makan di sana!" ajak pak Andik pada salah satu tamu.


"Tika!" pandangan pak Andik tertuju pada putrinya. Tika menggandeng tangan papanya dan menjauh dari kerumunan.


"Papa, kenapa Papa tidak pernah cerita kalau Mas Surya adalah CEO yang baru."


"Mas! Kamu memanggil suamimu dengan sebutan itu? Perkembangan yang luar biasa!" ucap pak Andik setengah tidak percaya.


"Jangan keras - keras, Pa! Nanti ada yang mendengar." ucap Tika sedikit berbisik.


"Kamu sudah banyak berubah, Tika!"


"Sejak kapan mas Surya, menjadi CEO?"


"Sejak menikah denganmu!"


"Papa tidak pernah cerita."


"Bagaimana Papa mau cerita, putri Papa jarang main ke rumah!"


"Itu, karena Tika sedang sibuk, Pa."


"Nah, sekarang kamu sudah tahu sendiri. Apa kamu berminat bekerja di tempat Papa?"


"Ah, Papa malah mempengaruhiku. Seharusnya Papa mendukung dong posisi aku. Bekerja di tempat yang aku inginkan sekarang."


"Iya... ya...Papa mendukung apapun keputusan kamu. Asal tidak kelewatan."


"Tika," Tedi menghampiri.


"Iya," sahut Tika.


"Pa, ini Tedi, bos aku di kantor."


"Saya, Papanya Tika." mereka berdua saling berjabat tangan.


"Silakan menikmati hidangan, saya tinggal dulu." pak Andik meninggalkan mereka.


"Ayo, kita pulang!" ajak Tedi.


"Aku belum mau pulang, Di!" tolak Tika.


"Kamu masih mau memandangi si sopir itu."


"Di, dia bos juga! Jaga etika dan sikapmu! Kita tamu di sini."


"Aku masih tidak terima saja, Tik!"

__ADS_1


"Sudahlah, kita harus bersikap proporsional saat bekerja sama dengan siapa pun itu."


"Baiklah, aku menurut saja.


__ADS_2