Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Kamu Menuduhku


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan, Mas?? " Tika meletakkan kembali piring yang kotor, dengan posisi masih berdiri Tika menerangkan kesalahpahaman ini.


"Kamu nggak usah berpura -pura lugu di hadapanku!" Surya semakin tersulut emosi lantaran Tika belum peka dengan ucapannya. Kini dia juga ikut berdiri.


"Aku benar -benar nggak ngerti, Mas!" elak Tika sambil menatap bola mata suaminya mencari celah kebenaran.


"Ya, Cerai. Itu kan yang kamu bicarakan dengan pacarmu. Kamu diminta dia untuk menggugat aku kan?" Surya penuh penekanan.


"Itu..." Tika bingung mau berkata apa, bagaimana bisa Surya tahu permintaan Tedi tentang hal ini?


"Aku tahu semuanya. Kamu nggak jujur padaku. Kamu anggap apa aku, hah !" Surya meneriaki Tika sehingga membuat dia takut. Tika menutup kedua kupingnya.


"Ini salah paham, Mas. Bisa aku jelaskan! Tapi, dari mana kamu tahu soal ini, Mas? Mas Surya memata -mataiku?" Tika mengernyitkan dahinya heran.


"Akh, kamu tidak perlu tahu! Kamu selingkuh kan!" bentak Surya, melihat Surya yang berubah sikapnya dada Tika terasa sakit, hatinya terasa remuk redam. Suaminya tak mempercayai dia lagi, bahkan dengan mengatai dia selingkuh membuat hatinya semakin sakit.


"Selingkuh, demi Tuhan, Mas. Aku nggak pernah selingkuh." Tika penuh penekanan menjelaskan pada Surya hingga bersumpah pula.


"Bohong!" Surya tak percaya.


"Cukup , Mas! Jangan kamu tuduh aku selingkuh! Aku tidak terima kamu mengataiku, lalu kamu sendiri bagaimana hubunganmu dengan cewek yang murahan itu!" Tika teringat dengan perkataan Tedi di cafe pagi tadi tentang mereka berdua yang masih pacaran.


"Pluak!!" tangan Surya mendarat di pipinya. Seketika Tika memalingkan wajahnya karena tamparan itu. Dengan masih memegang pipinya yang masih terasa panas dia tak kuasa lagi menahan tangis. Dia mengusap pipinya dengan kasar.


"Terus, tampar aku lagi, Mas! Kenapa diam? Kamu nggak terima cewek kamu yang di penjara itu aku sebut murahan, hah!" Tika membalas teriakan Surya. Surya terdiam sambil meratapi perbuatannya yang begitu kasar, dia menatap tajam tangan kanannya seperti ingin mengutuknya.


Surya hendak merangkul Tika, sontak dia menghindari.


"Maafkan aku, Tika. Aku tidak sengaja melakukan ini. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Maafkan aku." Surya memohon dengan sangat, tapi terlanjur sudah dia membuat hati Tika semakin perih.


"Kamu jahat, Mas! Kamu bukan seperti suamiku yang ku kenal dulu. Hari ini kamu sudah berani menamparku, entah besok apa yang akan kamu lakukan padaku. " Tika berlari ke luar rumah sambil masih terisak. Hatinya benar -benar hancur.


"Kini aku sedang mencari cinta untuk kebahagian, apabila hanya kekecewaan yang aku dapatkan untuk apa aku bertahan?" batin Tika dengan terus berlari tanpa menoleh ke belakang meski Surya telah mengejarnya sambil meneriakinya.

__ADS_1


"Tunggu Tika, berhenti! Jangan pergi, maafkan aku!" teriak Surya dengan berlari mengejar Tika sampai ke halaman. Namun Tika tak mengindahkan panggilan itu.


Tika berhenti di ujung jalan sambil melambaikan tangan hendak menghentikan sebuah taksi, ketika taksi itu berhenti tepat di depannya dia segera membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Surya masih mengejarnya.


"Tika, tunggu!" teriak Surya namun mobil taksi sudah berlalu pergi. Surya menyesali perbuatannya dan tak menyerah untuk mendapatkan maaf istrinya. Dia berlari mengejar taksi yang masih bisa terjangkau pandangan itu.


Saat mobil mulai memasuki gang.


"Lebih cepat, Pak!" ucap Tika pada si sopir sesekali dia menoleh ke belakang, masih tampak bayangan suaminya mengejarnya.


"Ke mana Mbak?" tanya pak sopir.


"Terserah Pak, yang penting bawa saya pergi dulu dari sini!"


"Baik, Mbak." Si sopir melajukan mobilnya hingga Surya tak terlihat lagi. Saat di pertengahan jalan.


"Mbak,di depan ada sekelompok orang yang menghalangi jalan." sahut si sopir menghentikan kendaraannya sambil menunjuk ke depan, dia menginjak rem mendadak karena ada sekelompok geng motor memakai jaket serba hitam sejumlah 5 orang yang menghadang.


"Siapa mereka dan mau apa?" Tika sedikit panik dan mencoba menghubungi Rudi, satu-satunya orang yang dapat menolongnya saat ini. Tapi dia lupa tak membawa ponselnya karena terburu -buru pergi tadi.


"Aku tak membawa barang berharga apapun, apa yang akan dirampok?"


Salah satu dari sekelompok orang itu mendekati mobil. Meminta si sopir keluar. Dengan sedikit takut dan ragu si sopir ke luar dari mobil menuruti perintah orang berwajah seram itu. Tika semakin panik, mendadak rasa takut mulai ia rasakan. Ia melihat dari dalam mobil, si sopir hendak melawan saat pria berwajah seram itu meminta penumpangnya.


"Ya Tuhan, mereka mau apa denganku." dengan cepat Tika mengunci pintu mobil dari dalam.


Si sopir akhirnya dapat mereka kuasai. Dia jatuh tersungkur setelah menerima pukulan di bagian perut. Pria berwajah sangar berjumlah lima orang itu mengepung mobil.


"Keluar kamu!" bentak salah satu diantara mereka. Tika menggeleng sambil menutup mulutnya takut. Pria yang lain seperti merogoh sesuatu dari sakunya. Mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Bos, wanita yang Anda maksud sudah saya temukan. Tapi, dia mengunci diri di dalam mobil." lapornya pada seseorang dari arah seberang.


"Baik, Bos !" lalu dia mematikan ponselnya setelah mendapatkan perintah.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kata bos?" tanya yang lain.


"Dia menyuruh kita untuk menghabisi wanita ini. Tanpa memberikan jejak dan membuat ini seperti kecelakaan pada laki-laki yang tidak lain adalah suami wanita ini." terang pria yang baru saja menutup telepon.


Tika tak bergeming sedikitpun, dia sangat kaget mendengar percakapan mereka.


"Mereka ingin mencelakakanku seperti apa yang dilakukan pada mas Surya dulu? Siapa dalang di balik ini? Tidak mungkin kalau ini ulah Tedi, dia takkan sejahat itu padaku. Secara dia gila padaku. " Gumam Tika seraya komat kamit mulutnya berdoa agar nyawanya bisa tertolong.


Keadaan gang sungguh sepi siang ini tak ada pengendara lain lewat. Hanya beberapa orang yang tahu jalan pintas ini. Jalan ini menghubungkan rumah Tika dengan jalan raya.


Lima pria berjaket hitam itu adalah sekelompok geng yang membuat Surya celaka waktu itu. Mereka berlima adalah pembunuh bayaran yang disewa oleh pak Tomi, ayah Tedi. Dia masih sangat membenci Tika, lantaran karena sikap Tika yang selalu membuat Tedi sedih.


Setelah mengetahui Surya ditemukan hidup kembali, Tedi sering mengurung diri di kamar. Tedi menghabiskan waktu selama mengurung diri dengan minum -minuman beralkohol. Terkadang, Tedi mengomel sendiri bak orang gila. Tentu hal ini membuat pak Tomi kalang kabut menghadapi putra tunggalnya. Berharap dengan lenyapnya Tika, dia bisa memberikan kebebasan pada putra semata wayangnya untuk melupakan Tika.


Mereka berlima masih terlihat sedang berunding menyusun rencana.


"Kita pecahkan saja pintu kaca mobil. Dengan begitu dia bisa kita bunuh secara langsung." ujar yang lain.


"Jangan, terlalu beresiko jika ini ketahuan pembunuhan. Kita buat ini seolah perampokan atau pemerkosaan." sahut yang lain.


"Aku setuju rencanamu, kelihatan wanita itu lebih cantik dibandingkan fotonya. Aku mau perkosa dia, hahaha." ujar yang lain.


"Dasar bujang lapuk, kita disewa hanya untuk membunuhnya dengan membuat seolah ini kecelakaan. Bukan malah mesum di jalan. Jangan per buruk reputasi kita!" sahut pria bertato di pipinya yang tidak lain adalah pemimpin geng itu.


"Tapi Bos, anuku sudah tegang ini. Aku lihat dia tadi, bodinya asyik banget Bos. Nggak kuat nahan."


Pletak


Tangan pria bertato memukul temannya.


"Dasar mesum!"umpatnya.


Setelah berunding cukup lama, akhirnya mereka melancarkan aksinya. Dengan membawa sejumlah senjata tajam mereka mengepung mobil, dan meminta Tika keluar.

__ADS_1


Tika semakin bergidik ketakutan, dan berteriak histeris meminta tolong.


__ADS_2