
Sesampainya di rumah.
"Mas, aku tidak akan marah dengan status barumu yang ternyata adalah seorang bos." ucap Tika saat duduk di sofa sambil menyalakan tv dengan mengenakan baju piyama motif polkadot.
"Aku juga tidak bermaksud untuk membohongimu dengan jabatan ini, papa yang meminta untuk tidak bercerita kepada siapa pun." sahut Surya yang baru saja tiba, dia menghentikan langkahnya saat melintasi Tika.
"Termasuk aku, istrimu!" ucap Tika sambil mengerutkan bibirnya.
"Hmmm, aku rasa masalah ini selesai. Kita tidak harus bertengkar hanya masalah sepele ini." sahut Surya sambil melepas dasinya.
"Siapa juga yang ingin mengajak bertengkar?" nada Tika mulai meninggi.
"Dari nada bicaramu , aku tahu kamu sedang kesal."
"Mana, bahkan aku tidak menampakkan wajah kekesalan."
"Tuh..." mendekati wajah Tika dan menyentuh bibirnya dengan ujung jari.
"Apaan sih...!" Memalingkan wajahnya.
"Mulutmu yang menggemaskan itu yang menampakkan kekesalan."
"Lah, emang betulkan kalau kita bicara pakai mulut." sambil memonyongkan mulutnya.
"Hedeh...jangan manyun! Bisa aku lahap bibir merahmu itu." goda Surya.
Tika bergegas menutup mulutnya dengan salah satu tangan, sedang tangan satunya memindah chanel tv, mengalihkan perhatiannya.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu." berjalan meninggalkan Tika dan masuk ke dalam kamarnya.
Tika tak bergeming, tayangan tv seolah menghipnotis dirinya, dia larut dalam film yang sedang dia tonton.
Pukul 22.00
"Hedeh, nih cewek, bukan orangnya yang nonton, nih malah tv nya yang nonton." geram Surya sambil menekan tombol off remote tv.
Tika tertidur pulas.
"Tika, bangun sayang!" menggoyangkan tubuhnya dan menepuk pipinya pelan. Namun, tak kunjung membuka matanya.
Dengan sigap Surya ala brigade tentara menggendong istrinya. Berjalan menaiki tangga menuju kamar Tika.
"Semakin berat saja tubuhmu!" ucap Surya lirih dan sedikit menguras tenaga.
"Maksud kamu, aku gendut, Mas!" ucap Tika yang mendadak membuka matanya.
"Kamu sudah bangun! Sejak kapan?" Surya jadi salah tingkah.
"Sejak kamu mengataiku!"
"Hehehe...tapi, kamu tetap cantik kok."
"Ya... iyalah, Tika gitu loh!"
"Kalau begitu kamu bisa jalan sendiri kan..." menurunkan Tika dengan paksa, sehingga kepalanya terbentur tangga.
"Aduh, sakit!!" mengusap ubun - ubun.
"Maaf, sayang! Aku, sedikit sengaja." Surya sedikit berlari menuruni tangga.
"Apa! Kamu keterlaluan, Mas! Sini, aku balas kamu!" Tika mengejar Surya.
Surya berlari menuju halaman depan, disusul Tika.
Suasana malam yang begitu indah, langit cerah dan berjuta bintang bertaburan di langit memperindah suasana malam.
"Ampun, nenek sihir! " Surya menelungkupkan telapak tangannya.
Tika membungkuk, mengusap dadanya beberapa kali, nafasnya naik turun.
"Kamu, kamu mengataiku nenek sihir lagi!" Tika semakin jengkel dengan ulah suaminya.
"Iya," sahut Surya enteng dengan wajah tanpa dosa.
"Kalau bukan kamu suamiku sudah aku jitak kepalamu, Mas!"
Surya terkekeh, dengan ucapan istrinya.
"Malah tertawa, tidak lucu tahu!" Tika mengurungkan niatnya mengejar Surya, dia berbalik menuju ke dalam rumah.
"Oi...mau kemana, sudah nyerah main kejar - kejarannya." sedikit berteriak.
"Ngantuk, mau tidur aku!" sahut Tika ketus.
__ADS_1
"Boboknya di temenin tidak?"
Tika menghentikan langkahnya.
"Ini bukan sebuah pertanyaan, ataupun pernyataan yang tidak membutuhkan jawaban." gerutu Tika.
"Sana, tidur sama nyamuk di luar." ucap Tika sambil mengepalkan tangan dan menoleh ke belakang. Namun, Surya tidak terlihat.
"Mas, kamu di mana? Tidak lucu, deh!" Tika bergidik. Celingukan mencari sosok Surya.
"Mas Surya! Ah, masa bodoh, aku tidak perduli."
Tak lama kemudian, setelah Tika meneriakinya.
"Akh...!!!" teriak Tika histeris.
Surya muncul dari semak - semak dan sigap menggendongnya paksa.
"Aku minta ya?" ucap Surya lirih.
"Minta apa? Makan, sana cari saja di dapur!"
"Bukan!" menggelengkan kepala seraya melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah.
"Lalu?" mengernyitkan dahinya.
Surya mengedipkan matanya.
"Kenapa Mas, mata kamu? Kelilipan ya?"
Muach...
"Terlalu lama kamu memahaminya, sayang!" Surya ******* bibir Tika yang mungil. Dia membelalakkan matanya.
"Jantungku berdebar kencang, seolah mau terlepas saja."
"Masa dicium begini saja sudah terangsang ." mengecup keningnya.
"Ih...geli, Mas!" Menahan tawanya.
"Kamu akan terbiasa, sayang!"
Surya tanpa babibu menggendong Tika dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Kita harus lebih sering melakukan ini, sayang."
"Kenapa?"
"Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak - anakku."
"Tapi, bagaimana dengan karierku? Aku tidak ingin menikah muda sebenarnya, inilah yang aku takutkan. Hamil saat merentas karier."
"Kamu takut hamil?"
"Bukannya takut, Mas. Tapi, aku merasa kurang nyaman saja. Diusiaku yang masih muda ini, terasa sia - sia saja jika aku harus hamil. Momong bayi pula."
"Hus, Tika. Jaga ucapanmu! Banyak di luar sana yang segera ingin punya anak setelah menikah. Kamu malah menolak ingin punya anak."
"Kita kan terpaksa nikahnya, Mas."
"Tapi, kamu mau kan..."
"Iya, tapi..."
"Gak usah banyak tapi - tapi, ayo bikin anak!" ucap Surya seraya melepas semua kain yang melekat di tubuh Tika.
Tika terdiam pasrah, merelakan kecupan Surya mendarat disetiap inci tubuhnya. Dan akhirnya persetubuhan berlanjut.
Keesokan harinya.
"Aku masak buat kamu, Mas." ucap Tika seraya menata makanan di meja makan dan kembali lagi ke dapur.
"Kemana bi Sumi, apa dia tidak bekerja hari ini? Emangnya kamu bisa masak?" ucap Surya saat berada di meja makan dan sedikit ragu dengan apa yang dilakukan Tika di dapur.
"Dia izin, tadi pagi sudah ke sini."
"Izin ke mana?"
"Anaknya sakit, jadi dia menjaganya."
"O...kapan - kapan kita jenguk dia. bagaimana?"
"Aku setuju, Mas!" meletakkan sepiring tumis kangkung. "Nih, coba in resep tumis kangkung ala Tika!"
__ADS_1
"Kamu beneran bisa masak?"
"Iya dong, selama satu minggu aku belajar masak sama bi Sumi."
"Kok, aku tidak pernah tahu!"
"Kan Mas, tidak pernah keluar kamar setelah subuh. Emangnya, Mas lagi ngapain?"
"Mas...selama satu minggu ini, kerjalah!"
"Masa, pagi - pagi buta sudah kerja. Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan, Mas..." tanya Tika penuh selidik.
"Menyembunyikan apa? Apa yang perlu aku sembunyikan dari mu? Kalau kamu mau tahu, makanya tidur sekamar..."
"Itu bisa diatur !"
"Benarkah, kapan kita bisa bobo bareng?"
"Tergantung,"
"Apa maksudmu dengan tergantung?"
"Ya, tergantung sikap Mas ke aku!"
"Hmmm, kamu masih kesal ya sama status baru ku?"
"Idih...siapa juga, geer kamu, Mas."
"Makanya kamu pindah kerja di kantor ku, nanti kamu bisa aku angkat jadi sekretaris pribadiku."
"Ogah...!"
"Biar aku cicip dulu masakanmu!" mengarahkan piring ke Tika, Tika mengangguk. Dengan telaten dia mengambilkan nasi dan menuang tumisan.
"Hmmm...sebelas dua belas." menyantap dengan lahap.
"Bagaimana? Enak tidak?"
"Lumayan, untuk pemula sepertimu."
"Benarkah...terima kasih!"
"Untuk apa berterimakasih ?"
"Untuk pujiannya..."
"Siapa juga yang memujimu."
"Lalu, barusan tadi itu, apa? kalau bukan pujian ?"
"Komentar..."
"Ih, Mas Surya, jahat!"
"Hehehe...enggak kok, sayang...masakanmu enak, sungguh!" Surya mengusap lembut pipi dan sedikit mencubitnya.
"Sakit, Mas!"
"Itu tandanya sayang."
"Sayang apaan," mengusap pipinya.
"Nih, aku kasih kecupan. Muaahhh...!" mengecup kening, pipi dan bibir.
"Mas Surya mesum!"
"Hedeh, suami sendiri dikatai mesum."
Tika terkekeh, selesai sarapan mereka pergi ke kantor masing - masing.
Surya pulang lebih awal. Dia sibuk di halaman depan, merakit sebuah ayunan dari kayu yang bertuliskan i love u, my wife.
"Nah, selesai. Sepertinya cocok di taruh di sini. Aku kembali ke kantor dulu." ucap Surya lalu mengendarai mobilnya.
Saat Tika pulang dengan taksi online.
"Wah, ayunan ini bagus banget!" mendekati dan mencobanya.
"Asyik...!" tingkahnya bak anak TK.
"Siapa yang menaruhnya di sini?" Berdiri lalu mengitari.
"I love u, my wife," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Ini dari mas Surya!" Tika berjingkrak kegirangan.