Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Pahlawanku


__ADS_3

Tawa lepas dari pria berlima itu, hingga berguncang perut dan tubuh mereka. Mereka berlima bertubuh kekar dan berwajah sangar.


"Teriak sepuasmu, tidak ada orang yang mendengar suaramu! Hahaha ..." bentak pria bertato.


"Tolong...! Tolong...!" teriak Tika sekuat tenaga di dalam mobil, namun tak satu pun orang melintasi jalan itu.


Prang...


Pria bertato berhasil memecahkan kaca pintu mobil tepat di mana Tika duduk, dia membuka paksa pintu itu dan menyeret penumpangnya keluar. Tika menjerit histeris lantaran wajah, lengan dan betisnya terluka. Bekas terkena serpihan kaca terasa perih di bagian itu. Dia menangis dan merintih kesakitan. Lengkap sudah penderitaan yang ia alami, tak hanya hatinya yang sakit, tubuhnya pun sakit.


"Lepaskan, lepaskan, aku!" pekik Tika meronta-ronta sambil menahan tubuhnya namun kalah tenaga dengan lawannya. Dia terus di seret hingga ke tepi.


Pria bertato mencengkeram erat tangan Tika hingga dia merasakan sakit, Tika memohon agar dilepaskan tapi permintaannya tak diindahkan. Sesekali dia menginjak kakinya dan berhasil lolos tapi tetap saja berhasil dalam cengkeramannya lagi. Dia sekuat tenaga melepaskan sendiri cengkeraman itu, dia gigit tangan yang besar itu untuk berusaha lepas. Tapi naas, tamparan yang ia peroleh. Dia meringis kesakitan.


Dari arah seberang sebuah mobil merci hitam mengarah ke mereka, lalu berhenti tepat di depan mereka.


"Kalian apakan dia?" teriak pria yang mengendarai merci tadi yang baru saja turun. Sorotan matanya tajam, sambil mengepalkan tangan dia merogoh ponsel dan menghubungi pihak polisi.


"Tedi," Gumam Tika lirih tak percaya, akhirnya ada juga bantuan datang.


"Di, tolong aku! Mereka mau membunuhku!" teriak Tika membuat Tedi geram.


Sejak kepulangan Tedi dari cafe pagi tadi, dia mendapatkan kabar dari salah satu rekan bisnisnya bahwa Tika sedang bangkrut. Dia merasa iba dengan nasib pujaan hatinya itu, bermaksud ingin ke rumah Tika lantaran terbesit dalam benaknya ingin memberikan bantuan dana dan memang sengaja lewat jalan tersebut. Saat mengendarai dan tiba di gang tersebut, dia mencium bau kejahatan dari sekelompok pria sangar yang sedang menawan seorang wanita yang tidak lain adalah Tika.


"Jangan ikut campur urusan kami!" bentak pria bertato sambil mengacungkan pemukul pada Tedi yang semakin dekat jaraknya.


"Dia kekasihku, tentu ini juga menjadi urusanku." ucap Tedi sambil berjalan mendekati mereka.


"Hajar dia!" perintah pria bertato pada anak buahnya.


"Sebelum kalian menghajarku, apa mau kalian pada wanita ini. Dia tak membawa barang berharga." Nego Tedi mengulur waktu sampai pihak polisi datang. Dia menyadari akan kalah dengan lawannya yang besar dan kekar itu.


"Kami hanya disuruh saja, selebihnya bukan urusanmu!" celetus salah satu diantara mereka.


"Sudah, jangan kamu ladeni omongannya, cepat hajar dia!" omel si pria bertato sambil memerintah.


Mereka berempat berlari ke arah Tedi sambil mengacungkan senjata melawan Tedi, baku hantam pun terjadi. Tedi mengarahkan pukulan ke lawan, mulai menendang, meninju dan menendang lagi. Tak sedikitpun pukulan dari Tedi melukai mereka. Giliran para pria berwajah sangar itu memberikan pukulan pada Tedi. Dengan sekali hantaman Tedi pun kalah, Tedi terkena pukulan di wajah dan perut. Karena kalah banding dan hanya melakukan perlawanan dengan tangan kosong dia pun tumbang, wajah manisnya babak belur di hajar mereka. Dia setengah sadar, untungnya mereka berempat tak berniat menghabisi nyawanya.

__ADS_1


"Tedi...!!" teriak Tika mencoba membangunkan Tedi, namun Tedi tak bergeming dan nyatanya dia pingsan. Tika semakin panik dan takut, penolongnya telah tumbang. Apakah nasibnya akan seburuk ini dan mati di tangan mereka? Tidak...


Dari arah belakang pria bertato yang mencengkeram lengan Tika itu mendadak mendapatkan pukulan dengan keras. Dia memekik kesakitan hingga jatuh tersungkur, sesekali juga dia mengerang menahan sakit pada kepalanya yang botak.


Keempat pria yang baru saja menghajar Tedi serentak memalingkan wajah ke arah sumber suara dan bergegas lari ke sana.


Tika membulatkan lebar-lebar kedua matanya. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.


"Mas Surya..." Tika spontan merangkul suaminya yang datang menolong.


"Tika, maafkanlah aku. Aku tadi sampai berlari ke sini mengejarmu. Wajahmu, apa yang telah mereka lakukan padamu?" tanya Surya panik mendapati wajah istrinya penuh goresan luka. Dia memegang kedua lengan istrinya sambil ditelitinya tubuh mungil itu.


"Aku sudah memaafkanmu duhai pahlawanku. Wajahku tidak apa-apa Mas. Ini hanya luka kecil karena serpihan kaca pintu mobil." jelas Tika sambil menatap wajah suaminya, dia berkaca-kaca dan hampir tak berkedip memandangnya takjub.


"Syukurlah, apakah mereka telah menyakitimu lebih dari ini? Jika pun benar akan aku hajar mereka dan tak kan ku biarkan mereka hidup." teriak Surya membuyarkan lamunannya.


"Mereka mau membunuhku, Mas. Mereka juga yang telah membuat kecelakaan mobil kamu. Dan yang menyebabkan kamu amnesia adalah mereka juga." jelas Tika sambil menunjuk ke arah sekumpulan pria itu.


"Apa?" Surya semakin marah, otot -ototnya semakin kentara dan tubuh bidang pria berumur 28 tahun ini mulai terbentuk.


"Bos, bukankah dia telah kita bunuh dengan kecelakaan mobil waktu itu. Tapi, bagaimana dia bisa hidup kembali?" bisik salah satu.


"Berarti dia hantu, Bos." imbuh yang lain.


"Mana ada hantu di siang bolong, itu artinya dia belum mati!" teriak pria bertato, " Cepat, hajar dia!" perintahnya.


Mereka berlima mengeroyok Surya, sama seperti dulu, Surya dengan mudah menjatuhkan lawan dengan keahlian beladiri yang dia miliki. Satu persatu mereka tumbang, tinggallah pria bertato. Dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya. Surya pada pergerakan pertama dapat menghindari namun, naas di saat dia mulai menyerang mendadak kepalanya terkena hantaman dari belakang. Dia dipukul . Seketika itu pria bertato menggunakan kesempatan saat Surya lengah dengan menusukkan pisau ke perutnya. Surya jatuh tersungkur hingga tak sadarkan diri. Apakah dia sudah tak bernyawa?


"Tidak...!! Mas Surya...!!" Tika berteriak histeris. Di waktu itu juga, para buruh pabrik berhamburan pulang kerja dan melewati gang itu. Sebelum kerumunan terjadi para geng motor segera tancap gas. Tika berlari ke arah jatuhnya Surya.


Tedi, mendengar teriakan Tika dan langsung bangkit dengan berjalan sempoyongan menuju Tika.


"Tika, apa yang telah mereka lakukan padamu dan...bagaimana Surya ada bersamamu?" tanya Tedi sambil masih memegangi perutnya yang sakit.


Tika semakin histeris menangis dan meraung.


"Mas Surya menolongku setelah kamu pingsan dan, dan mereka sekarang kabur." sahut Tika dengan sesenggukan. Dia mengangkat kepala Surya dia atas pangkuannya. Melihat darah segar mengenai perutnya dan bekas luka yang dulu robek kembali. Tika semakin panik melihat keadaan ini, dia meminta tolong pada Tedi untuk melarikan Surya ke rumah sakit. Dengan hati nurani yang terdalam akhirnya dia mau mengantar musuhnya ini ke rumah sakit. Dibantu para pekerja yang sudah mulai mengerumuni tempat itu, Surya dilarikan ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Sementara di tempat lain.


"Lapor Bos, karena banyak warga kami jadi gagal membunuh wanita itu." ucap pria bertato memberi laporan.


"Apa, gagal!" bentak pak Tomi, "Kalian aku bayar mahal, tidak becus membunuh kecoa kecil, ini upah untuk kalian!" sahutnya kecewa sambil mengeluarkan amplop coklat.


"Orang yang dulu kita buat kecelakaan juga sudah kami lenyapkan. Ternyata dia belum mati. Dia bermaksud untuk melindungi istrinya." terang pemimpin geng dengan tegas. Pak Tomi memuji mereka dan tersenyum penuh kemenangan.


"Tadi juga ada pemuda yang mengaku kekasihnya, Bos!" ujar yang lain.


"Kekasih, seperti apa dia?" ucap pak Tomi penasaran lalu menghempaskan pantatnya di sofa, yang dia tahu Tika tak pernah menjalin hubungan dengan pria lain . Salah satu diantara mereka berlima matanya berkeliling sambil menunjukkan jarinya.


"Wajahnya mirip dengan orang yang ada di foto ini, Bos!" sambil membawa foto.


Pak Tomi membelalakkan matanya.


"Dia putraku, apa yang dia lakukan di sana?" tanyanya, seketika itu mereka diam tertunduk dan saling sikut.


"Ditanya malah diam!"


"Ampun, Bos! Kami tidak tahu kalau pemuda itu ternyata adalah anak Bos. Kami menghajarnya." terang pemimpin dari geng itu.


Bukan main marahnya pak Tomi pada mereka, amplop yang sudah diberikan tadi ia rebut dengan paksa. Pak Tomi juga mengatai mereka. Tak terima upah mereka diminta lagi dan karena kesal dengan hinaan yang pak Tomi lontarkan. Akhirnya mereka sebelum beranjak pergi berniat untuk menghabisi pak Tomi dengan cara di tusuk dari belakang. Karena terlalu banyak darah yang keluar, pak Tomi kehabisan darah seketika itu dia meninggal.


Kelima penjahat itu mengambil amplop tadi dan mengambil beberapa barang berharga yang ada di rumah itu.


Di rumah sakit


Surya kembali masuk UGD. Dia sudah mendapatkan penanganan yang intensif , berbagai peralatan medis dipasangkan di tubuhnnya. Kini tubuh yang lemah dan tak berdaya itu sedang kritis. Para dokter sedang menjalankan tugasnya, mereka berusaha menyelamatkan nyawa pria itu. Banyak darah yang keluar, karena robekan dari luka lama menambah betapa parahnya kondisi perut Surya sekarang.


"Ya Tuhan, selamatkan mas Surya. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kali." ucap Tika sambil sesenggukan. Tedi yang sejak tadi menunggui Tika jadi ikut panik sendiri.


"Yang sabar, Tika. Dokter sedang berusaha di dalam sana." hibur Tedi mencoba menenangkan Tika.


"Siapa keluarga dari pasien?" tanya suster tiba-tiba keluar dari ruang operasi membuat Tika semakin gusar.


"Saya suster, ada apa? Apakah terjadi sesuatu dengan suami saya?" tanya Tika panik.

__ADS_1


__ADS_2