
Tedi bersama ayahnya sedang duduk di ruang keluarga, mereka berbicara membahas tentang pernikahan.
"Sampai kapan kamu menunggu wanita itu? Ayah sudah semakin tua, ingin sekali beristirahat sambil bermain dengan cucu. Kamu segeralah menikah dan lupakan dia !" ucap ayahnya sambil menghisap rokok.
"Tidak, Ayah. Sampai kapanpun aku tetap mencintai Tika, tidak ada wanita yang bisa menggantikan dia. Meski tua pun aku akan tetap mencintai dia." sahut Tedi dengan emosi lantaran ayahnya selalu mendesak untuk segera menikah dengan wanita lain. Sudah sekian kali ayahnya menawarkan gadis - gadis cantik tapi semua ditolaknya.
"Apa hebatnya wanita itu? Dia sudah bekas milik orang lain, kamu mau barang bekas? Sudahlah, kamu menyerah saja. Dunia ini tak selebar daun kelor , masih banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dari dia." ucap ayahnya sinis.
"Meski seribu wanita cantik pun yang Ayah perlihatkan padaku, aku tak kan merubah pendirianku." Tedi bersikukuh untuk menolak tawaran ayahnya.
"Dasar keras kepala!"
"Aku kan anakmu, sudah tentu mirip denganmu." ucapan Tedi membuat ayahnya terkekeh, meski ucapan dia terkadang pedas, tapi tak pernah sedikitpun terkena marah.
"Lalu, bagaimana dengan Dewi? Dia sudah gagal menikah. Apa kamu tidak kasihan padanya? Atau mungkin kamu mau menikahinya? Ayah rasa kamu cocok dengan dia." ucapan ayahnya mendadak mengingatkan Tedi pada teman sekaligus rekan kerja itu.
"Ayah gila ya, tentu saja tidak! Aku dan Dewi tidak ada apa-apa. Memang kami terlihat dekat, tapi kita hanya berteman biasa, tidak lebih." Tedi terlihat kesal lantaran ayahnya selalu menyudutkannya dengan Dewi. Meski Dewi berkacamata tapi tetap cantik.
"Bagaimana nasib dia setelah di penjara? Apa kamu tak ingin mengunjungi temanmu itu? Andai saja tembakannya tidak melesat, tentu sudah mati si Surya." geram pak Tomi sambil memukulku kepalan tangannya ke meja.
"Sepertinya bukan hanya aku saja yang ingin Surya itu lenyap, Ayah ternyata bersikeras juga ingin Surya mati." ucap Tedi datar.
"Iya, ayah akui. Ayah lah yang telah merencanakan kecelakaan mobil waktu itu. Tapi aku tak mengira dia bisa lolos." akhirnya pak Tomi mengakui perbuatan kejinya.
"Apa!! Ayah yang melakukan itu! Aku pikir itu kecelakaan murni. " Tedi memekik tak percaya ternyata ayahnya senekat itu.
"Aku lakukan lantaran kesal dengan Tika dan Surya yang telah membuat hidupmu tak karuan. Biar mereka berdua rasakan akibatnya karena telah menyakitimu."
"Tedi bukan anak kecil lagi, Yah. Biarkan ini menjadi urusanku. Aku tidak mau Ayah ikut dalam urusan pribadiku dan jangan kotori tangan Ayah! Cukup aku saja yang akan membuat Surya menjadi hancur." Lalu Tedi ke luar rumah meninggalkan ayahnya seorang diri. Siang ini dia ingin menemui Tika yang masih berada di rumah sakit.
***
Sudah hampir satu minggu Surya dirawat di rumah sakit, dan kini kondisinya sudah pulih, sudah bisa berjalan dan dia diperbolehkan untuk pulang. Sambil menunggu penyelesaian administrasi, dia berjalan berkeliling di sekitar rumah sakit. Sejak tadi pagi suster sudah melepas selang infusnya, sehingga memudahkan Surya dengan leluasa bergerak. Sementara Tika sedang sibuk mengurus administrasi. Selesainya saat akan menemui Surya dia tak sengaja menabrak seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Tika sambil mendongakkan kepala, "Tedi."
"Hai Tika, lama tak melihatmu, ternyata kamu semakin cantik." goda Tedi.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Cepat pergi!" usir Tika.
__ADS_1
"Aku kangen kamu, nih. "
"Apa-apan sih kamu, jangan ngegombal di sini. Kamu ingat kan aku sudah jadi istri orang lain." jelas Tika sedikit risih dengan kedatangan Tedi.
"Aku tahu, Surya sedang amnesia kan?" Tedi tersenyum nakal.
"Meski dia amnesia atau tidak, apa pentingnya bagianmu?" Tika terlihat kesal dengan senyumannya. Tercium bau kebenciannya.
"Surya telah hidup kembali, bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Justru karena dia amnesia, aku malah semakin gencar untuk mendapatkan kamu kembali, Tika."
"Di, seperti kurang wanita lain saja. Aku sudah bersuami, alangkah baiknya kamu berhenti mengejarku! Toh, hubungan kita sudah berakhir dan terima saja kenyataan itu!" Tika marah.
"Kamu semakin menggemaskan jika marah. Aku semakin menyukaimu, sayang."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, hanya Mas Surya yang pantas memanggilnya. Minggir, aku mau lewat!" pinta Tika lantaran Tedi sejak tadi selalu menghalangi dia.
"Tunggu, Tika! Aku belum selesai bicara. Kalau aku bertemu dia akan aku habisi nyawanya sekarang juga, dia selalu menghalangi rencanaku." Tedi mencengkeram lengan Tika.
"Lepaskan! Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku mau menemui Mas Surya. Lepaskan kataku! Dan, jangan kamu sakiti dia!" teriak Tika. Tedi semakin gemas melihatnya.
"Kini, kau panggil dia dengan sebutan mas. Huh, norak sekali!" ucap Tedi dengan tetap mencengkeram lengan Tika. Tak begitu jauh dari mereka, Surya datang melerainya.
"Mas Surya, pergi Mas! Dia berusaha ingin mencelakakanmu." ucap Tika panik.
Surya dengan tatapan tajamnya seperti menghunus pedang dia arahkan pada Tedi, dengan kekuatan tangannya yang kekar dia melepaskan cengkeraman lengan Tika. Tedi tak bisa berkutik.
"Aku akan membalasmu suatu saat nanti!" ancam Tedi seraya bergegas meninggalkan rumah sakit.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Surya seraya meneliti tubuh Tika.
"Aku nggak papa Mas," sahut Tika.
"Siapa pria tadi, mengapa dia seperti akan menyakitimu?" tanya Surya sambil menunjuk arah Tedi pergi tadi.
"Dia Tedi, pria yang dulu pernah jadi pacarku." ucapan Tika membuat hati Surya tersentak.
"Pacar?" tanya Surya tak percaya.
"Bukan apa-apa kok Mas, itu dulu dan sekarang aku tak ada lagi rasa dengan dia. " jelas Tika, Surya mengernyitkan dahinya entah percaya atau tidak.
__ADS_1
Pukul 18.00 Tika dan Surya sudah sampai di rumah.
"Ini rumahmu?" tanya Surya penuh takjub, matanya berkeliling memandang isi rumah yang mewah dan megah.
"Rumah kita, Mas." sahut Tika sambil menuntun suaminya menuju meja makan.
"Besar sekali, apa kita hanya tinggal berdua?" tanya Surya seraya duduk di kursi, Tika hanya mengangguk. Tika membuka 2 bungkus nasi goreng dan menatanya di meja, dia menuju dapur dan kembali ke meja makan dengan membawa sendok dan piring.
Saat memindah isi bungkusan ke piring Surya menghentikan pergerakannya.
"Sayang, piringnya kok cuman satu? Mana buatmu?" Surya melirik piring yang ada di depannya.
"Kongsilah..." sahut Tika sambil menyendokkan nasi goreng ke mulut Surya. Surya membuka mulutnya dengan tatapan binggung.
Sambil memamah makanannya, "Tunggu sayang, kamu nggak makan? Aku nggak akan habis makan ini semua." Surya menatap Tika.
"Mas lupa ya, ini kan yang sering kamu lakukan. Kamu sering menyuapi aku dan kita sering makan dengan satu piring untuk berdua." jelas Tika sambil menyendok untuk dirinya. Surya manggut -manggut tanda mengerti. Kebiasaan baru baginya ini ternyata sudah hal biasa yang telah dia lakukan dulu.
Selesai makan malam Tika menuntun suaminya menuju kamar atas, yakni kamar Tika. Tika turun ke bawah untuk mengambil obat Surya yang tertinggal di meja makan.
"Sayang, kemana semua bajuku? Kok ini ****** ***** kamu semua isinya." tanya Surya saat membuka lemari Tika, dia hendak mengganti baju. Sementara Tika baru masuk ke kamarnya.
"Aduh Mas, maaf, aku lupa." Tika menjadi kikuk lantaran tak menceritakan kalau mereka berdua baru tinggal sekamar beberapa hari saja dan belum sempat memindahkan baju-bajunya.
"Lupa apa sayang?" Surya heran melihat ulah Tika yang mondar-mandir sambil mengeluarkan isi lemarinya.
"Anu Mas, bajumu masih tertinggal di kamar yang lama." sahut Tika dengan cepat dia keluar kamar menenteng koper kosong, meninggalkan Surya yang masih bengong.
"Aku rapikan dulu ya, Mas." ucap Tika saat sudah sampai di kamar, dengan cepat dia menata baju - baju Surya dan memindahkan ke lemarinya.
"Kamar lama? Emangnya kita punya dua kamar?"
Tanpa menyahut karena malu, Tika diam saja sambil merapikan semua baju suaminya dan dalam diam menyesali kenapa dulu minta tidur terpisah.
Surya yang tetap bingung dengan ulah istrinya, berlalu menuju kamar mandi dan tak butuh waktu lama dia keluar dari kamar mandi. Lalu ganti Tika yang masuk ke kamar mandi. Saat Tika keluar dengan hanya membelitkan handuk membuat Surya berteriak.
"Kyaaa..." pekik Surya membuat Tika panik sendiri.
"Ada apa, Mas. Apa kamu sakit lagi? Kenapa kamu berteriak malam -malam begini?" Tika berjalan mendekati lemarinya, sementara Surya memejamkan mata sambil menyilangkan kedua tangan.
__ADS_1