
Pesan dari Tedi.
[Tika, kita harus bertemu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting!]
Tika
[Tidak mau, nanti kamu macam - macam denganku.]
Tedi
[Aku janji, tidak bakal ngapa - ngapain kamu.🙏🙏]
Tika
[Baiklah, dimana?]
Tedi
[ Di tempat biasa.]
"Surya, aku ingin ke taman yang ada di kampus, sebentar saja."
"Ngapain?"tanya Surya saat menyetir.
"Bukan urusanmu. Dasar kepo!" sahut Tika sedikit kasar.
"Ya, baiklah. Aku juga tidak kepo - kepo amat." gerutu Surya seraya membelokkan mobil menuju taman.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku mau menemui temanku dulu." Surya mengangguk, Tika melihat ponselnya sambil membuka pintu mobil.
Tika berjalan menuju taman.
"Tedi," panggil Tika saat berdiri di belakangnya.
"Hai, Tika. Akhirnya kamu datang juga." Tedi menoleh ke arah sumber suara lalu berdiri dan menghampirinya.
"Cepat katakan, apa yang ingin kamu bicarakan denganku!"
"Tenang, Tika, jangan emosi dulu. Tujuanku mengajak kamu ke sini untuk menawarkan pekerjaan di tempat ayahku. Yang kedua, aku ingin meminta maaf atas perbuatanku. Aku akui aku memang salah, memberikanmu minuman beralkohol kemarin. Maafkan aku Tika. Yang ketiga, aku mau kita menjadi teman seperti dulu lagi, dan bila kamu setuju dengan tawaranku pertama tadi, maka kita akan menjadi rekan kerja yang baik. Aku yakin pekerjaan ini cocok untukmu." jelas Tedi.
"Bila aku bekerja di sana, aku akan ditempatkan di posisi apa?"
"Kamu bisa mencoba di bagian administrasi, Dewi juga sudah mengajukan lamaran di sana dan mulai bekerja minggu depan."
"Cepat sekali Dewi bisa diterima di perusahaan itu."
"Kan perusahaan itu punya ayahku jadi, mudah untuk memasukkan teman sendiri."
"Aku mau." ucap Tika tanpa berfikir panjang.
"Bagus, meskipun ijazah kita belum keluar kita sudah bisa mencari pekerjaan dengan mudah. Kesempatan ini tidak akan datang untuk yang kedua kali."
"Iya...ya...kapan pastinya wisuda akan di adakan."
"Setahuku setelah OSPEC berakhir."
"Kapan?"
"Menurut jadwal sepertinya awal Desember."
"2 minggu lagi dong...aku sudah tidak sabar merayakan hari itu." Tika tersenyum manis.
"Kamu besok sudah bisa melamar kerja, nanti aku kirim alamatnya. Sepertinya kamu ceria sekali."
"Iya, aku sangat senang." Menyelipkan rambut panjangnya yang tertiup angin di telinga.
"Tumben kamu memakai cincin, baru ya..."
"Iya, Su...eh pemberian mamaku." Tika hampir keceplosan menyebut nama Surya.
"Bagus, tapi modelnya seperti cincin kawin." Tedi memegang tangan dan mengamati cincin yang melingkar di jari Tika.
"Benarkah, ya kebetulan saja, mungkin model nya seperti ini." Menarik tangan dengan cepat, dan Tika tampak gugup mencari alasan.
__ADS_1
"Ya sudah, keburu sore aku pulang dulu." pamit Tika .
"Mari aku antar kamu." ajak Tedi.
"Tidak usah, aku di antar sopirku tadi," tolak Tika
"Siapa, Surya?" tanya Tedi sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya, baiklah aku pulang dulu ." Tika bergegas melangkahkan kaki meninggalkan Tedi sendirian di taman. Khawatir Surya menunggunya terlalu lama.
"Hebat juga Surya bisa nempel terus dengan mantanku. Tapi, tunggu saja episode berikutnya, perlahan tapi pasti. Aku akan membuat kita bisa bersama kembali, Tika pujaan hatiku. Meskipun kamu matre tapi kamu cantik. Hari - hariku selalu penuh dengan bayanganmu. Selesai wisuda nanti, aku akan melamarmu." ucap Tedi seraya senyum - senyum sendiri.
***
"Lama banget kamu, sampai - sampai aku tertidur di sini." gerutu Surya saat Tika menarik pintu mobil.
"Ya ngobrol lah. Ayo, kita pulang." Tika duduk di sebelah Surya, membuka alat make up nya dan mulai memoles wajahnya.
"Sudah laku, tidak perlu berdandan kamu sudah terlihat cantik kok." ucapan Surya membuat merah merona pipinya.
"Biarin, emang dasarnya aku sudah cantik kok." sahut Tika biar tidak berkesan ketahuan malu di puji Surya.
Surya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan berhenti di sebuah resto.
"Kita beli makanan dulu."
"Tumben berhenti di resto, biasanya kamu beli makanan di warung lesehan."
"Ya sekali - kali ganti suasana, Tika...kamu mulai ketagihan makanan warung ya..." ledek Surya seraya membuka pintu mobil.
"Tidak..." elak Tika, ikut turun menemani Surya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Surya sambil mengamati berbagai menu yang menggiurkan perutnya .
"Aku mau gurami bakar." sahut Tika.
Tak berapa lama pesanan di bungkus, mereka pulang dan sampai rumah hampir menjelang magrib.
" Iya," sahut Tika singkat . Selesai menaruh bungkusan di meja makan dia bergegas naik ke atas, mandi dan bersiap sholat magrib.
Selesai sholat mereka menuju ke meja makan. Surya terlihat begitu lesu dan lemah.
"Kamu tampak seperti kurang sehat," tanya Tika seraya membuka bungkusan gurami bakar.
"Mungkin aku belum makan sejak siang tadi." ucap Surya lirih seraya menarik kursi dan duduk di hadapan Tika. Tika terdiam mendengar ucapan Surya membuatnya merasa bersalah karena menolak ajakan Surya untuk makan siang saat di rumah lamanya tadi.
"Kita makan sendiri - sendiri ya." ucap Surya lalu menciduk nasi dan menaruhnya di piring. Tika merasa aneh dengan perubahan Surya yang biasanya terlihat romantis saat makan bersama.
"Apa yang terjadi dengannya? Dia terlihat dingin. Apa dia tahu kalau aku bertemu dengan Tedi tadi?" batin Tika seraya mengambil piring lagi.
"Hmmm...aku juga tidak minta disuapi kok!" ucap Tika rada jengkel.
"Aku sudah selesai."
"Cepat sekali dia makan, bahkan aku sesendok pun belum masuk dalam mulut, dia sudah habis duluan. Kenapa dia?" Gumam Tika, matanya mengikuti arah Surya .
Surya menuju dapur untuk mencuci tangan.
"Aku titip piring yang kotor ini, ya...!" ucap Surya dari dapur.
"Iya..." sahut Tika reflek.
"Nyuci piring! Sejak kapan aku jadi pembantu nya. " Gerutu Tika.
Surya masuk menuju kamarnya terdengar bunyi sendawa begitu keras dan membuat Tika merasa risih.
"Sendawa melulu dari tadi, bikin selera makanku jadi hilang." Tika menyisakan makanannya dan ke dapur untuk mencuci tangan dan piring yang kotor.
"Ih, apa ini ...lembek begini." Menjumput dengan dua jari alat gosok piring yang berbusa.
"Pyar..."Tika membelalakkan matanya, mulutnya menganga, sontak dia kaget. Tangannya terasa licin sehingga saat memegang piring yang akan dia bilas meloncat ke lantai dan pecah tak karuan.
"Tika...aku sudah mengira ini akan terjadi. Mencuci piring saja kamu tidak bisa. Apa saja yang kamu bisa selain membuat keributan." Gerutu Surya dari kamar. Dia bergegas menuju dapur.
__ADS_1
Tika segera membilas tangannya yang penuh dengan sabun, mematikan kran lalu memungut satu persatu pecahan piring.
"Akh..." Darah segar mengucur melalui ibu jarinya.
"Astaghfirullah...Tika, kamu tidak apa - apa kan..." Menghisap jari jempol Tika.
"A...aku tidak apa - apa." Menahan dengan sedikit rasa geli yang menggelitik di hati.
"Sudah, biarlah aku yang akan membereskannya nanti." Membantu Tika berdiri.
"Masih sakit?" tanya Surya seraya mengambil plester dan menempelkan di jari Tika.
"Tidak..." sahut Tika lirih.
"Aduh," rintih Surya sambil memegangi perut.
"Ada apa dengan perutmu?" Memapah Surya yang merintih kesakitan.
"Maag ku sepertinya kambuh, tolong, antar aku ke kamar." pinta Surya.
Tika membantu Surya berjalan menuju kamarnya. Membantunya berbaring dan dia menarik kursi kecil yang berada di samping meja kerja lalu dia duduki.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanyanya cemas.
"Tidak ada, sebentar juga sembuh." tolak Surya dengan mencoba memejamkan matanya.
"Uwek!" Surya tampak akan muntah.
"Aku akan ambilkan baskom dulu Kamu tahan ya." Tika setengah berlari menuju dapur, dia berjalan perlahan sambil jinjit menghindari pecahan piring, membuka lemari dan mengambil baskom.
"Aku ingin muntah rasanya."
"Ini, di sini saja." Menyodorkan baskom yang baru saja dia ambilkan.
"Jangan Tika, kamu akan merasa jijik nanti."Mencoba bangkit lalu Tika memapahnya menuju washtafel.
Selesai Surya memuntahkan isi perutnya dia dibantu Tika menuju kasurnya.
"Tenggorokanku terasa pahit dan kering."
"Aku akan mengambilkan air." Tika bergegas menuju dapur lagi, dia tampak panik dan cemas.
"Ini, minumlah." perintahnya setelah kembali ke kamar Surya.
Surya meneguk air putih segelas hingga habis.
"Terima kasih Tika, kamu kembalilah ke kamarmu. Aku rasa ini sudah mendingan." pinta Surya seakan - akan tidak mau dilihat Tika dengan kondisinya saat ini.
"Apa kamu yakin tidak apa - apa? Perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu?"
"Tidak perlu."
"Baiklah, aku keluar sekarang."
Tika menutup pintu kamar Surya perlahan sekilas pandangan mengarah pada Surya yang menahan sakit dan memegangi perutnya. Tika bergegas menuju kamarnya, meraih tas dan mengambil ponselnya.
"Halo Dokter Mira, saya Tika anak dari pak Andik."
"Halo, iya Tika ada apa?"
"Segera ke sini dokter, suami saya penyakit maagnya kambuh, saya tinggal di jalan Hayam Wuruk no 15. Cepat Dokter, saya takut bila terjadi apa - apa padanya."
"Baik, tenangkan dirimu, saya segera ke sana."
"Cepat Dok!"
"Iya, sabar..."
Tika mematikan ponselnya, dan mengintip dari luar pintu kamar Surya, masih dilihatnya Surya merintih menahan sakit.
"Aku masuk ke dalam tidak ya...tadi dia menyuruhku untuk keluar dari kamarnya." Tika tampak bingung dan cemas, sambil menunggu dokter pribadi keluarganya datang dia menuju dapur dan dengan terpaksa, dia mengambil pengki dan sapu.
"Semoga kamu tidak apa - apa Surya."
__ADS_1