
Mereka bertiga dikejutkan kedatangan seorang wanita yang bertubuh kurus dan berpakaian compang camping. Sepertinya orang gila itu nyasar ke rumah Dewi. Wanita tua itu mengaku sudah 3 hari 3 malam tidak makan dan minum. Rasa lapar menyengat perut wanita tua itu, berharap dengan meminta - minta dapat mengusir rasa lapar nya.
Bukan main geram hati Dewi. Tanpa sadar dia memukul lengan wanita tua itu sambil mengusirnya.
"Dewi! Kamu keterlaluan! Kasihan dia!" Surya menyangga wanita tua itu yang hampir roboh. Dewi tak menghiraukan bentakan Surya. Surya tak menyangka wanita yang kini disayangi itu ternyata berhati busuk.
"Pergi kamu, gembel!" bentak Dewi lagi sambil mengarahkan telunjuknya ke arah luar. Dewi tak terima rumahnya dimasuki pengemis. Sebelum Dewi pergi bekerja, dia meminta pada ibunya agar mengusir pengemis itu dan tak mau pengemis itu menginjakkan kakinya lagi ke rumah. Dewi berlalu melewati Surya dan wanita tua itu tanpa memandangnya.
"Hus...hus! Enak banget kamu tinggal minta. Kerja dong, kerja!" bentak Bik Sumi. Surya yang menyaksikan pemandangan pahit itu merasa iba.
"Bik, beri dia sedikit makanan!" pinta Surya pada Bik Sumi namun Bik Sumi tak memberikan izin. Malah memaki Surya.
"Sudah bagus kamu diberi tumpangan, makan gratis, tidur gratis malah ini mau beri makanan pengemis. Ngak sudi aku!" Bik Sumi pergi masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan bantingan yang keras.
Akhirnya Surya memapah wanita tua itu pergi menuju ke sebuah warung, dia merogoh ke saku kanan celananya, tak menemukan apa yang dicari, lalu ganti saku kirinya dia menemukan dua lembar sepuluh ribuan. Hanya itu yang tersisa. Teringat kemarin uang gajiannya habis untuk memeriksakan wanita yang ia temukan pingsan di jalan.
"Ibuk, mau makan apa? Biar saya yang belikan." tanya Surya memulai pembicaraan.
Wanita tua itu menangis dan tak berbicara sepatah kata pun. Surya menjadi bingung.
"Ya sudah, jangan menangis! Saya belikan sebungkus nasi di warung , Ibuk tunggu di sini sebenar ya." tanpa menunggu sahutan Surya beranjak pergi. Sekembalinya, dia sudah tak menemukan pengemis itu. Dicarinya sana - sini tak ujung ketemu jua. Ingin berteriak memanggil namanya, tapi tak tahu.
"Kemana perginya wanita tua itu? Aku taruh sini saja, mungkin dia akan kembali ke tempat ini." Surya menggantungkan sebungkus nasi yang terbungkus keresek putih pada dahan pohon. Lalu dia bergegas pergi ke kota karena hari sudah siang takut kalau tak mendapatkan pekerjaan hari ini juga.
***
" Pak tolong pergi ke tempat x!" perintah Tika pada si sopir.
__ADS_1
"Baik, Mbak!" sahut si sopir lalu taksi melaju dengan kecepatan sedang.
Saat di tengah jalan, ponselnya berdering ternyata dari Dewi. Dia memberi kabar kalau pengantaran wedding dress jangan di rumah di tempat lain saja. Dewi menentukan lokasi pertemuan di sebuah resto milik orang china yang tidak jauh dari rumahnya. Tika menyanggupi dan menyuruh si sopir menuju tempat itu.
"Dewi!" sapa Tika saat bertemu di sebuah resto china. Melihat apa yang dibawakan Tika membuat Dewi salah berasumsi.
"Tika!" Dewi ternganga tak percaya kalau Tika sekarang menjadi seorang kurir. Tika meletakkan tas di atas meja. Sebelum duduk dia mendekati Dewi.
"Bagaimana kabarmu?" Tika hendak merangkul Dewi namun dia menolak.
"Jangan sentuh aku!" ucap Dewi kasar sambil memperlihatkan telapak tangannya, Tika tercengang mendapati perlakuan temannya yang kasar padanya.
Tika menarik kursi dan duduk berhadapan.
"Siapa yang menyuruhmu duduk?" Bentak Dewi. Tika sontak berdiri, pantatnya hanya sedetik saja menyentuh kursi.
"Dewi, aku.... Aku..." Tika terbata lantaran terkejutnya dengan suara Dewi yang lantang.
"Apa yang salah dariku? Mengapa kamu bersikap dingin seolah aku musuhmu? Bukankah kamu ingin bertemu denganku?" Bertubi pertanyaan dia lontarkan begitu saja tanpa menyadari kalau Dewi tak menyukai perubahannya.
"Tidak ada, hanya...aku tidak menyukai statusmu." Dewi melengos, pernyataan Dewi membuat telinga Tika perih.
"Dan satu lagi, yang ingin aku temui adalah seorang desainer ternama, bukan kurir sepertimu!" lagi, kata- kata pedas keluar dari mulut wanita yang tak menghargai pekerjaan seseorang.
Tika terdiam menyelami setiap kalimat yang di ucapkan Dewi.
"I...itu aku adalah..." Tika hendak menjelaskan siapa dirinya namun Dewi terlanjur memakinya lagi. Betapa pedih rasanya di telinga, bahkan dada terasa sesak, mungkin kalau Tika belum berubah sudah ditariknya rambut Dewi atau bahkan digampar mulutnya.
__ADS_1
"Sudahlah! Kita sudah berbeda kasta, dulu kamu kaya dan keren. Kini kamu sekarang di bawah dan aku di atas. Lihat!" Dewi mengambil tas yang tadi Tika bawa, membuka dan mengeluarkan isinya. "Gaun ini gaun mahal. Seumur hidup gaji kamu belum tentu bisa membelinya." Dewi meraba dan mengagumi setiap helai gaun itu. Membayangkan betapa cantiknya dia nanti saat hari pernikahan dengan Surya tiba.
Tika tertunduk dan terdiam, betapa heran dan binggung dia. Teman kerjanya dulu kini berubah 360 derajat sikap dan gaya hidupnya.
"Itu, aku yang membuatnya ." rasanya kalimat ini yang ingin Tika sampaikan ke Dewi, melihat perlakuan kasar Dewi mungkin dia tak percaya kalau Miss Ti itu adalah dia.
"Kamu sekarang jadi orang sukses, Dew!"
"Tentu saja, kini jabatan ku setara dengan Tedi, mantanmu."Dewi mulai membenci Tika sejak putus dari Tedi.
"Lalu siapa calon suamimu?"
"Bukan urusanmu! Yang jelas dia pria idamanku sejak dulu sebelum kamu datang dalam kehidupanku." Dewi menyembunyikan keberadaan Surya, karena dia tahu Surya pernah ada rasa dengan Tika.
Tika memberi selamat padanya, membuat Dewi merasa di atas angin sekarang. Dewi mengeluarkan uang tunai senilai lima juta dari dompetnya, yang tertera merek Lacoste. Merek dagang yang terkenal dengan logo buaya.
"Ini, uang dan tip buat kamu. Tolong sampaikan ke Miss Ti, aku menyukai desainnya. Lain kali jika ada waktu katakan juga aku ingin bertemu dengannya." Dewi beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Tika, dengan langkahnya yang congkak dia keluar menuju parkiran.
Tika meraup untung begitu banyak dari hasil jerih payahnya sendiri, dia bersyukur meski telinganya masih pedas dengan perkataan Dewi , namun dia tak ambil pusing. Baginya kehidupannya yang sekarang dan pencarian sosok pria bertopi adalah lebih penting dari pada memikirkan hal-hal yang tidak berguna, termasuk ucapan Dewi tentang status sosial.
Selesai ke luar dari resto china, Tika hendak menuju ke makam Suaminya berharap bisa bertemu dengan pria bertopi.
"Taksi!" panggilnya sambil melambaikan tangan. Mobil taksi berhenti tepat di depannya. Dia masuk dan duduk di kursi belakang.
"Mau kemana Mbak?" tanya pak sopir dengan lembut dan sopan. Suara yang khas dan familiar di telinganya membuat Tika melihat ke arah spion wajah pengemudinya.
"Mas Surya! Eh, maksudku Mas bertopi. Benar ini kamu kan?? " Tika tampak kegirangan, apa yang dicari datang dengan sendirinya.
__ADS_1
"Iya Mbak..." sahut Surya tertunduk . "Mau kemana?"
"Terserah Mas saja !"