
Pukul 23.00
Tika sudah berada di kamar inap, dimana Surya tengah berbaring. Sebelumnya dia tengah mondar-mandir sendiri di ruangan itu. Rasa lapar dan kantuk tak dihiraukannya lagi. Kini pikirannya hanya tertuju pada Surya, suami idamannya. Meski selama amnesia suaminya itu selalu memancing emosinya, jujur dia masih tetap cinta.
Terkadang dia juga membayangkan jika suatu saat suaminya itu benar-benar menikahi Dewi. Dia harus siap berbagi suami dengan wanita lain. Sebisa mungkin dia membuyarkan pemikiran itu.
"Mas Surya bangunlah, mas. Ada aku di sini yang merindukanmu." Gumam Tika lirih sambil tangannya terus menggenggam erat tangan Surya. Sedang tangan satunya mengusap lembut dahi Surya. Surya sejak kemarin belum sadarkan diri. Tentu hal ini membuat Tika merasa khawatir.
Merasa ada yang mengusik mimpinya Tedi pun terbangun, dia tidur dengan posisi duduk sedang kepalanya ia sandarkan pada dinding. Sesekali dia menepuk nyamuk yang hinggap di pipinya.
"Banyak nyamuk di sini," gerutu Tedi menggeser posisinya.
"Ada apa, Tika?" tanya Tedi sambil mengucek matanya dan sesekali dia menguap lebar. Dia melihat ke arah Tika yang menggenggam erat tangan Surya.
"Aku tak bisa tenang, Di. Mas Surya sejak kemarin belum sadar juga. Aku mengkhawatirkan keadaannya." sahutnya sambil melepaskan genggaman tangannya dan kini dia berdiri menghadap Tedi.
"Apa kata dokter tadi?" Tedi meskipun dengan mata yang terpejam sempat mendengar suara dokter tadi mengecek keadaan Surya.
"Dokter bilang tunggu sampai besok, tapi aku tak sabar menunggu untuk besok. Aku ingin sekali melihat dia cepat sadar, aku tidak akan memaafkan diriku jika nanti terjadi sesuatu pada mas Surya." ucap Tika sembari menepuk jidatnya.
"Tenangkan dirimu, yakinlah Surya pasti segera sadar dan jangan persulit dirimu dengan menyalahkan diri sendiri. Tidak ada gunanya, yang terpenting sekarang rajinlah berdoa untuk kesembuhannya." jelas Tedi dengan bijaksana entah sejak kapan ucapannya semakin dewasa saja. Dia berdiri menepuk pundak Tika.
Tika tertegun mendengarkan kalimatnya. Sejenak dia melamun.
"Kamu nggak pulang, Di?" tanya Tika setelah sadar dari lamunannya.
"Aku akan menemanimu sampai Surya ke luar dari rumah sakit." sahut Tedi sambil menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih, Di. Kamu memang teman yang baik." ucap Tika sembari memeluk Tedi, dia pun membalas pelukannya.
"Dewi," ucap Surya lirih membuat mereka sontak berdua melepaskan pelukannya.
"Di, aku nggak salah dengarkan? Barusan dia menyebut nama Dewi." Tanyanya pada Tedi. Tika berjalan mendekati Surya dan menatap lekat wajahnya. Dia duduk sambil menggenggam tangannya lagi.
"Iya, aku juga mendengarnya dia menyebut nama Dewi. Itu artinya Surya sudah sadar." sahut Tedi dengan muka ceria.
"Kamu barusan menyebut nama Dewi. Akan aku panggilkan dia sekarang jika itu akan menbuatmu segera sadar Mas, aku akan segera membebaskan dia dari penjara. Tunggu aku sebentar ya Mas. Aku akan jemput dia untukmu." Tika hendak beranjak dari duduknya namun tertahan oleh Tedi.
"Ini sudah larut Tika, tunggulah sampai pagi. Aku akan mengantarmu besok. Kamu juga baru sembuh, apa luka bekas operasinya tidak kamu rasa?" ucap Tedi sambil melihat jam di arloji dan seraya menahan lengan Tika saat dia akan beranjak.
"Aku, aku terlalu senang jadi tak begitu menghiraukannya, apakah ini sudah terlalu malam ? " Tika duduk kembali tak jadi pergi.
"Tenangkan dirimu, sepertinya Surya hanya menggigau. Dia terlihat sedang tidur sekarang. Kamu istirahatlah, biar aku yang menjaga Surya, jika dia sudah sadar kembali aku akan segera membangunkanmu." Tedi mencoba membujuk Tika, akhirnya Tika menyetujui saran Tedi. Kini dia mencoba memejamkan mata, bersandar di tepi ranjang Surya.
Pukul 06.00
"Di, ayo antar aku untuk menjemput Dewi." pinta Tika setelah ke luar dari kamar mandi. Tedi menggeliatkan tubuhnya, meregangkan otot-ototnya karena semalam begadang. Dia terlihat capek dan lesu. Sambil beringsut dari tempat duduknya dia menguap lebar.
"Tunggu aku, aku akan ke kamar mandi sekarang." lalu Tedi segera masuk ke kamar mandi.
Tika melihat Surya lekat.
"Ku mohon mas, segeralah sadar. Jika Dewi memang bisa membuatmu sadar aku rela dimadu mas. Aku akan mengalah meski rasa sakit akan selalu ku rasakan. Aku tak tahan lagi melihatmu begini, mas. Tuhan, jagalah suamiku untukku. Sadarkanlah dia agar aku bisa menebus kesalahanku." Gumam Tika , tak terasa air matanya jatuh. Segera ia mengusapnya agar tak ketahuan Tedi.
Tak lama kemudian Tedi sudah rapi, dia mengganti pakaiannya.
"Tika, kamu nggak ganti baju?" tanya Tedi seraya mengamati penampilan Tika yang lusuh.
__ADS_1
"Aku nggak bawa baju ganti." sahut Tika memelas sambil menatap dirinya sendiri.
"Ayo kita berangkat!" ajak Tedi, menarik lengan Tika menuju pintu.
"Tapi, bagaimana dengan mas Surya?"
"Ada suster, kamu tenang saja. Ayo, keburu siang nanti perjalanan macet." omel Tedi seraya menunjuk arloji di pergelangan tangan kirinya. Tedi tersenyum puas ajakannya mendapat sahutan dari Tika meski hanya mengangguk saja.
Saat di perjalanan, Tedi menghentikan mercinya pada sebuah resto yang masih tutup dan hanya terbuka separo pintunya. Tika sempat menolak saat Tedi mengajaknya masuk.
"Kamu harus makan, Tika. Bagaimana jika kamu sakit nanti karena telat makan?" bujuk Tedi saat mendudukkan Tika dengan paksa di dalam resto.
"Aku nggak lapar." tolak Tika malu, sedari kemarin perutnya memang benar belum terisi.
"Bohong," tukas Tedi seraya mendekatkan kupingnya pada perut Tika, Tika menggeser kursinya.
"Aku mendengar perutmu keroncongan, jika kamu lemah terus sakit lalu siapa yang akan merawatmu?" Tedi membujuk lagi dengan sedikit mengomel.
"Biarin, biar aku sakitnya barengan sama mas Surya." sahutnya ketus.
"Jangan manja deh, terus kalau si amnesia itu sadar, siapa yang akan merawatnya?" pancing Tedi.
"Jangan sebut dia seperti itu, aku nggak suka!" geram Tika sambil memukul meja.
"Iya, ya, aku minta maaf. Sekarang kamu makan ya?" bujuknya lagi, seketika itu pesanan datang.
Melihat menu makanan di atas meja nafsu makannya bangkit.
"Ini kesukaan mas Surya, " tukasnya sambil menggosok kedua telapak tangannya.
"Benarkah, kalau begitu setelah sembuh nanti kalian berdua akan aku traktir lagi makanan yang seperti ini, jadi cepatlah makan! Aku sangat lapar." Tedi mulai mengambil sendok dan menyantap sarapannya.
"Kamu nggak pakai sendok, Tik!" gerutu Tedi yang merasa jijik melihat cara makan Tika. Dengan lahap Tika memasukkan tangannya ke mulut, selesai menelan barulah dia bersuara.
"Kata mas Surya, kalau makan gurami bakar enakan pakai tangan. Selain higienis, durinya juga lebih mudah diambil." sahutnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, dia benar -benar sangat rakus dengan menu itu.
"Ih jijik tahu!" celetus Tedi sambil mengangkat bahunya bergidik.
"Coba deh, enakan pakai tangan !" Tika menekankan agar Tedi menirunya. Perlahan Tedi meletakkan sendok dan mulai menggunakan tangannya. Awalnya sedikit kaku dan rikuh, lama -lama dia terbiasa juga.
Selesai sarapan di resto, Tedi melanjutkan perjalanan untuk menjemput Dewi, sebelumnya dia berhenti di sebuah mall yang cukup terkenal di daerah itu.
"Kamu mau belanja dulu Di?" tanya Tika saat mobil sudah berhenti di parkiran.
"Ayo, kamu ikut masuk saja!" ucap Tedi menarik Tika keluar yang sedari tadi enggan untuk di ajak turun. Tika menahan tubuhnya, dengan sedikit mendorong tubuh Tika, Tedi berhasil membawa Tika masuk ke dalam mall.
"Pilihlah baju mana yang kamu suka!" pinta Tedi seraya menunjuk beberapa baju dan celana yang tergantung.
"Aku masih punya baju banyak di rumah. Kamu tak perlu membelikan aku baju baru." tolak Tika dengan sikap sinisnya, sambil memalingkan muka dengan melipat kedua tangannya.
"Lihat bajumu, kusut begitu! Kita sudah searah dengan lokasi Dewi, akan menyita waktu jika kita pulang ke rumahmu. Sudahlah, cepat ambil beberapa pakaian dan ganti bajumu itu!" perintah Tedi dengan mengomel lagi.
"Iya, ya dasar pemaksa!" umpat Tika sambil berjalan berkeliling mencoba baju yang pas.
"Andai mas Surya tak lupa ingatan, aku ingin dia mengajakku shopping seperti ini, rasanya belum pernah aku dibelikan baju ." Gumam nya dalam hati.
Selesai dia memilih pakaiannya yang menurutnya pantas dia segera mengganti baju. Saat keluar dan memperlihatkan pada Tedi.
__ADS_1
"Kamu nggak salah pilih baju yang seperti itu," Tedi menuding baju yang Tika kenakan. Tika melihat dirinya sendiri.
"Ada yang salah Di?" Tika heran dengan selera Tedi, padahal yang dia pilih adalah yang terbaik menurutnya. Tika sengaja memilih blouse lengan panjang dengan kerah menutupi leher dan bawahan celana kulot yang begitu longgar.
"Masih banyak pilihan baju yang terbuka, jadi kamu nggak bakal kegerahan." tukasnya menyarankan Tika memakai baju yang mini.
"Dasar jaka, kamu lupa aku sudah bersuami. Ya pantasnya aku mengenakan itu di depan suamiku, bukan di depanmu?" Tika berjalan mendahului Tedi. Tedi hanya menggelengkan kepalanya.
"Tika sudah berubah, bukan wanita manja seperti yang ku kenal dulu." Gumam Tedi.
Selesai berbelanja kini mereka melanjutkan perjalanan, kurang lebih tiga puluh menit mereka sampai di tujuan.
Tika memberikan laporan pada pihak polisi untuk menggugat tuntutannya, membebaskan Dewi dari penjara.
"Tika , Tedi terima kasih, kalian sudah membebaskan aku dari penjara." ucap Dewi dengan wajah penuh kegembiraan yang tiada tara, Dewi memeluk Tika bergantian memeluk Tedi sebagai rasa senangnya telah terbebas dari jeruji besi itu. Kini Dewi telah berganti pakaian dari baju tahanan dengan baju yang dibelikan Tedi di mall bersama Tika tadi.
"Tika yang membebaskan kamu," ucap Tedi agar Dewi tak salah sangka padanya.
Dewi tak henti -hentinya mengucapkan terimakasih padanya, meski males dengan sikap Dewi, nyatanya Tika memasang wajah senang meski terpaksa.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Tika masih bungkam dengan aksinya, sementara Tedi menceritakan perihal dia dibebaskan dari penjara.
Mendengar penjelasan Tedi yang begitu lebar, Dewi mengerti maksud dan arah pembicaraan itu. Dia kini merasa menjadi pemenang. Dia berharap dengan kehadirannya bisa membuat Surya sadar kembali dan menjadikan dia nyonya muda di keluarga Surya. Sungguh niat yang picik.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit saat menjelang dhuhur. Tika turun lebih dulu dari mobil dan bergegas masuk ke dalam ruangan Surya, begitu juga Dewi bergegas mengekor Tika dengan langkah sedikit berlari. Kedua wanita itu seperti sedang terjadi perang dingin. Tedi memarkir mobilnya dan segera mengikuti jejak mereka.
Sesampainya di kamar Surya, Tika mendapati ranjangnya kosong, sontak membuat dia panik.
"Di mana mas Surya? Apakah terjadi sesuatu padanya sehingga dia tak berada di kamarnya?" ucapnya panik seraya keluar lagi mencari sosok suster bermaksud mencari informasi. Dewi yang melihat pergerakan Tika pun menjadi panik.
"Ada apa Tika?" tanyanya sambil mengikuti Tika pergi sampai di depan suster yang sedang mendorong troli. Tanpa menyahut Tika langsung menghentikan suster itu.
"Sus, maaf, di manakah pasien yang baru saja operasi kemarin di ruangan sana?" ucapnya sambil menunjuk kamar Surya, suster mengikuti arah telunjuk Tika.
"Oo...pasien sudah sadar dan tengah berada di taman rumah sakit." sahut suster yang membuat Tika terkejut tak percaya kalau suaminya sudah sadar. Kabar yang dinantikan sejak kemarin.
"Sejak kapan suami saya sadar, Sus?" tanyanya lagi dengan menaruh wajah ceria, wajah yang selama ini sembunyi.
"Sekitar satu jam yang lalu," selesai menjawab pertanyaan Tika suster itu mendorong troli lagi. Sedangkan Tika bergegas menuju taman diikuti Dewi yang memang belum tahu area rumah sakit itu.
"Akhirnya Surya sudah sadar, aku yakin dia pasti menunggu kedatanganku. Tunggu aku Surya, aku kembali, kita akan bersama lagi." batin Dewi.
Sampailah dia pada sebuah taman, tampak sosok pria yang duduk di kursi roda sambil membawa infus tengah menatap pemandangan.
"Mas Surya," panggil Tika lirih saat berada di dekatnya, pria itu menoleh dan membalikkan kursi rodanya, pria itu memasang sebuah senyuman yang manis, siapa pun yang melihat senyumnya akan terpesona termasuk Tika juga. Dewi yang berada di belakang tidak jauh dari Tika, menaruh harapan besar yang mendapatkan senyuman itu adalah dia.
"Aku, aku minta maaf Mas. Gara-gara aku kamu jadi begini. Aku terlalu egois memikirkan diriku sendiri. Oleh karena itu aku membawa Dewi, Mas. Aku telah membebaskan dia dari penjara agar kalian berdua bisa bertemu." terang Tika sambil duduk bersimpuh di hadapan Surya sambil memegang kedua lututnya, Surya tanpa ekspresi melihat wanita di depannya.
"Surya, aku datang untuk menjengukmu. Kamu merasa senang kan aku datang? Aku janji akan membuat kamu bahagia." ucap Dewi yang juga mendekat ke arah Surya.
Surya dengan memasang wajah datarnya menyambut kedua wanita itu hanya dengan satu anggukan kepala.
Tika yang kini tengah berdiri sejajar dengan Dewi saling pandang, merasa kedua wanita itu tak mendapatkan respon dari ucapannya, mereka menatap Surya lekat. Memperhatikan perubahan setelah sembuh.
"Mas kamu nggak papa kan?" tanya Tika sambil berjongkok mengusap pundak Surya yang sedari tadi masih diam tak menyahut. Masih sama dengan tadi, dia hanya mengangguk sekali.
"Surya, kamu masih ingat aku kan?" tanya Dewi berharap Surya menyahut. Dia juga hanya menjawab sahutan Dewi dengan anggukan kepala juga.
__ADS_1
"Mas kenapa kamu diam saja?"