Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Cemburu


__ADS_3

"Kenapa Tika tidak membalas pesanku..." mencoba menghubungi nomor Tika. Panggilan dialihkan.


"Perasaanku tidak enak. Coba aku temui dia di kampus dulu." batin Surya seraya keluar dari kantor.


Sesampainya di gerbang kampus, Surya memarkir mobilnya, dan segera dia menuju ruangan rektor.


"Pak Rektor, apakahTika menemui Bapak tadi..." tanya Surya rada cemas.


"Iya, baru saja tadi dia keluar dari ruangan saya." sahut pak rektor.


"Bapak tahu kemana perginya?"


"Maaf, tadi saya sedang sibuk jadi tidak memperhatikan dia setelah keluar dari ruangan."


"Baik Pak, terima kasih." Surya mengundurkan diri dari ruangan pak rektor.


Surya mencari di setiap sudut kampus, yang cukup luas. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk pergi ke kantin membeli minuman.


"Kemana nenek sihir pergi ya...di kirimi pesan tidak dibalas, ditelepon tidak diangkat." Mata Surya tertuju pada cewek berkacamata, melihat Dewi duduk tidak jauh dari tempatnya.


"Dewi, apa kamu melihat Tika?" Mendekati Dewi dan duduk di sebelahnya.


"Eh, Surya, lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah baik...apa kamu tadi melihat Tika di kampus?"


"Tadi, ya... sekedar tegur sapa saja tidak terlalu lama kami bertiga ngobrol." sahut Dewi dalam benaknya bertanya apa alasan Surya mencari Tika.


"Kamu tahu sekarang dia kemana?"


"Tidak, memangnya ada urusan apa kamu sama dia. Kok kamu sepertinya sedang gelisah."


"Kamu bilang ngobrol bertiga, siapa lagi satunya ?" Surya mendesak Dewi.


"Tedi." ucap Dewi seraya menyeruput minumannya.


"Tedi...di mana dia sekarang?" Surya semakin cemas setelah mendengarkan keterangan Dewi tentang adanya Tedi. Pasalnya Surya tahu kalau Tedi itu laki - laki playboy cap jempol.


"Dia ke cafe sepertinya...coba aku hubungi dia dulu." Mengeluarkan ponsel dan mencari kontak nama Tedi.


"Hallo, Tedi, kamu di mana...?"tanya Dewi setelah sambungan telepon aktif.


"Hallo,Dew, aku berada di taman. Ada apa?" sahut Tedi dari arah seberang.


"Surya mencari Tika, apa kamu melihatnya?"


"Hmmm...dia bersamaku sekarang." Dewi memutuskan sambungan telepon.


"Mereka berada di taman." ucap Dewi, memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Aku ke sana dulu. Terima kasih Dew, atas infonya." pamit Surya . Dewi penasaran dan mengikutinya.


Tedi geram saat akan melakukan aksinya, yakni membawa Tika pulang ke rumahnya , mendadak ponselnya berdering dan terlanjur mengatakan kalau dia berada di taman.


"Sial, kenapa aku keceplosan bicara kalau aku lagi bersama Tika."


Selang beberapa menit kemudian.


"Tedi, apa yang terjadi dengan Tika?" tanya Surya seraya menarik kerah bajunya. Tedi heran melihat ekspresi Surya mendadak marah dan kasar, pasalnya dia tahu kalau Tika dan Surya saling bermusuhan.


"Santai Bro...lagian apa urusanmu dengan dia, bukankah kalian saling membenci."


"Bukan urusanmu!" bentak Surya seraya mendekati Tika yang terpejam dalam posisi duduk, meraih dan menggoyangkan tubuhnya.


"Tika, bangunlah ..." Menepuk pipinya .


Surya memandang sebuah botol minuman yang tergeletak di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu beri minuman apa dia." Mencium ujung botol.


"Tedi, kamu sengaja ya mencampur minuman ini dengan alkohol."


"Mana ku tahu itu ada alkohol atau tidak." elak Tedi.


"Bohong kamu, " Surya mengarahkan tinju ke wajah Tedi dan hampir memukulnya.


"Hentikan, ini bisa diselesaikan secara baik - baik kan... tidak perlu dengan kekerasan." Dewi datang melerai perkelahian yang hampir terjadi.


"Kalau sampai terjadi apa - apa dengan Tika, aku tidak akan membiarkanmu hidup." ancam Surya seraya mendorong Tedi, ucapan Surya membuat Dewi takut, sifat aslinya muncul. Cowok yang selama ini dia dambakan ternyata bisa senekat dan sekasar itu.


"Dia tidak akan kenapa- kenapa, sebentar juga akan sadar." ucap Tedi enteng tanpa rasa bersalah.


"Ini ada minyak kayu putih, coba kamu oleskan ke hidung dan pijit kakinya." ucap Dewi lalu menyerahkan minyak itu ke Surya lalu dia melakukan apa yang disarankan Dewi.


Tak berapa lama, Tika sadar.


"Au...kepalaku rasanya pusing sekali. Ada apa denganku, Surya... bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Tika setelah sadar.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar." Surya membantu Tika untuk berdiri.


"Apa yang terjadi?"


"Kamu pingsan setelah minum pemberian Tedi." Surya menunjuk sebuah botol air mineral.


"Kalian berdua ada hubungan apa...sampai - sampai Surya marah, sifatnya berubah tidak seperti Surya yang aku kenal dulu." ucap Dewi membuat Tika bingung untuk mencari alasan.


"Iya, Tik. Bukankah kamu sangat membenci dia. Dia terlihat sangat memperhatikanmu." ucap Tedi, Tika diam seribu bahasa.


"Aku pembantunya." sahut Surya, membuat mata yang memandang tidak percaya.


"Benarkah, seorang Surya yang dulunya sangat populer dan sekarang serendah ini." Tedi menghina.


"Tedi, jaga ucapanmu. Apapun pekerjaan itu tidak patut kamu hina." bela Dewi.


"Mari kita pulang, Non." ajak Surya seraya memapah Tika meninggalkan mereka menuju parkiran.


Surya melajukan mobil ferrari merahnya .


"Apa yang kamu lakukan dengan Tedi di sana?" tanya Surya saat di mobil.


"Aku tidak melakukan apa - apa." sahut Tika lirih seraya memegangi kepalanya yang masih pusing.


"Sungguh ..." Surya menekankan.


"Emang tampangku terlihat seperti pembohong apa?" gerutu Tika.


"Dia itu bukan cowok baik - baik, dia menaruh alkohol dalam minumannya, lain kali hati - hati dengannya."


"Iya, terima kasih sudah datang. Entah apa yang direncanakan dia, semenjak aku putus darinya, dia tetap tidak mau terima. Apa kamu cemburu?"


"Cemburu, Hmmm tidak ada kata cemburu dalam kamusku." Surya mengelak padahal iya.


"Alah...akui saja!" goda Tika.


"Kenapa pesanku tidak kamu balas."


"Oh, itu kamu, aku kira ada cowok yang iseng dan mau mengerjai ku." mengambil ponsel dan mengedit nama pada kotak pesan. [Cowok kampungan].


"Selesai!" ucapnya lirih terdengar di telinga Surya.


"Apanya yang selesai?"


"Kepo..." Tika menjulurkan lidahnya.


"Sudah menemui rektor tadi..." tanya Surya, padahal dia sendiri sudah tahu.

__ADS_1


"Sudah, tapi ..."


"Tapi apa..."


"Kata pak rektor beasiswa kamu ke luar negeri , hangus dan sudah digantikan Brian."


"O...ya baguslah."


"Kok malah bagus..."


"Jadi, aku bisa leluasa menjagamu." sahut Surya.


Tika sejenak berpikir dan menelaah setiap perkataan Surya.


"Apa maksudmu?"


"Lupakan, ayo kita turun!" Surya menghentikan mobilnya dan berhenti di sebuah warung makan.


"Kenapa tidak beli makanan di resto saja."


"Di sini juga tidak kalah rasanya dengan masakan di resto, selain enak, higienis dan pastinya lebih murah." ucap Surya seraya membuka pintu mobil.


"Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu sering ke sini."


"Tidak terlalu sering, cuman ketagihan aja. Kamu pasti suka. Makan di sini atau di bungkus?" tanya Surya lalu berjalan masuk ke dalam warung.


"Jika makan di sini apa kamu akan menyuapiku ..." ucap Tika manja yang mulai terbiasa di suapi Surya .


"Kamu suka...bila aku suapi?"


"Tidak juga," Tika berbohong padahal dia senang apabila Surya memanjakannya.


"Baiklah, kita makan di rumah saja." Surya memesan makanan dan menyuruh membungkusnya.


Selesai penjual warung membungkus pesanan, Surya dan Tika menuju mobil.


"Tika..." panggil seorang cewek yang tidak asing suaranya . Tika menoleh.


"Tiwi , Tesa, bagaimana kabar kalian? Aku kangen banget nih!" ucap Tika dengan saling berpelukan.


"Surya! Bagaikan mimpi di siang bolong, bisa ketemu kamu di sini." ucap Tesa kegirangan.


"Coba deh kamu cubit aku." Tiwi mendekatkan tangannya ke Surya dan dia melakukan apa yang diminta Tiwi.


"Au...sakit, benaran...ini nyata." ucap Tiwi.


Surya dan Tika terdiam dan saling pandang, ketahuan lagi berduaan.


"Kalian..." ucap Tesa.


"Aku sekarang bekerja di rumah Tika, dan ini salah satu tugasku , mengantar dia pergi ke mana saja." sahut Surya mencoba menutupi kenyataan bahwa mereka sudah menikah.


"Oh...no! Bagaimana bisa, seorang Surya jadi pesuruh Tika!" omel Tesa tidak terima pujaan hatinya menjadi pembantu dari sahabatnya sendiri.


"Ya pokoknya gitu deh..." Tika menyela.


"Enak dong kamu Tik, bisa nempel terus sama Surya." Tiwi kesal dan mengeluh manja.


"Eh, kita kan jarang ke temu, makan siang yuk di rumah mu?" memandang Tika.


"Rumahku...tapi, aku..." Tika bingung untuk mencari alasan.


"Dengan begitu aku bisa terus memandang Surya dari dekat." ucap Tesa genit.


"Aku juga." Tiwi tidak mau kalah.


"Bagaimana ya..." Tika mengedipkan mata ke arah Surya.

__ADS_1


"Tidak apa - apa Non, Tiwi dan Tesa sekali - kali mampir ke rumah. Kan kalian sudah jarang bertemu ." ujar Surya membuat Tiwi dan Tesa bengong mendengar Tika sekarang dipanggil Nona oleh Surya.


"Awas kamu cowok kampungan, kenapa kamu biarkan Tiwi dan Tesa ke rumah. Nanti kalau sampai mereka tahu, aku akan membuat perhitungan denganmu." batin Tika geram dan melotot ke arah Surya, namun Surya tak menggubrisnya.


__ADS_2