Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Jodoh Tak kan ke Mana


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan sedang lantaran si sopir binggung mau membawa penumpangnya kemana. Tika tak menyangka bisa bertemu dengan pria yang mirip dengan Surya itu untuk yang ketiga kalinya. Betapa senangnya dia.


"Terserah saya! Waduh, gimana ya Mbak. Kan saya yang seharusnya mengantarkan penumpang ke mana tujuannya, lah ini malah terserah saya. Jadi binggung saya." Surya melirik Tika dari kaca spion sambil menggaruk pelipisnya, sesaat pandangan mereka bertemu. Surya dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela. Tika yang menyadarinya senyum-senyum sendiri.


"Kalau benar ini mas Suryaku, aku tidak segan untuk menciumnya lagi kali ini." pikir Tika nakal.


"Baiklah Mas, bawa saja saya ke sebuah taman dekat stadion." perintah Tika, dengan tenang si sopir membelokkan mobilnya menuju taman kira-kira setengah jam perjalanan.


"Oh ya Mas Surya, terima kasih kemarin sudah menolong saya. Dan, malahan membawa saya ke klinik juga. Saya selalu merepotkan."


"Ngak papa Mbak, sebagai sesama manusia kita kan harus tolong - menolong. Dan kebetulan saya pas lewat daerah situ Mbak. Mbak sudah sembuh?" tanyanya perduli.


"Sudah agak mendingan, Mas. Kamu baik, mungkin ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan mu."


"Mbak ini, bisa saja. Lain kali kalau merasa sakit jangan ke luar rumah, Mbak! Bisa bahaya kalau ngak ada yang lihat."


"Ya untungnya itu kamu, coba kalau orang lain yang nemu, bisa-bisa aku dibawa pulang. Ha ha ha...." Tika tertawa lepas, begitu juga dengan Surya .


" Mbak nya bisa saja! Lah Mbak mau kemana kemarin kok pergi sendirian?" tanya Surya sedikit kepo.


"Mau ke makam suami saya."


"Oh, Mbak nya sudah menikah. Malang sekali, wanita secantik Mbak sudah ditinggal suami." Tika kesengsem dengan pujian Surya.


"Dan Suami saya itu mirip banget dengan kamu. Nama dan wajahnya sama!" Tika mengambil ponsel mencoba mencari kenangan foto bersama Surya, meski sedikit kenangan bersamanya tidak mengurangi rasa bahagia Tika hari ini.


"Masak sih Mbak! Kebetulan mungkin. Masa, ada manusia identik nama dan wajahnya."


sahut Surya rada kaget.


"Kalau Mas ngak percaya, nih lihat!" mengarahkan ponsel ke arah Surya, dia menerima dengan tangan kiri. Menggeser lalu memperbesar gambar.


"Benar Mbak! Mirip banget dengan saya." Surya mengembalikan ponsel.


"Mas Surya tinggal di mana?" Tika mencoba mengorek info yang mungkin bisa di jadikan tambahan memperkuat kalau Surya yang sedang bersamanya ini adalah Surya suaminya.


"Saya tidak punya tempat tinggal Mbak, saya numpang di rumah calon istri." jelas Surya yang mulai masuk perangkap.


"Calon istri!" Mas Surya mau menikah lagi! Eh, maksudku kamu mau menikah!" Tika menutup mulutnya dan menggeleng. Kaget.


"Mohon doa restu nya Mbak. Bulan depan rencananya."


"Ini tidak bisa terjadi, aku masih istri sah mu, Mas. Bagaimana pun aku akan membatalkan pernikahan mu." batin Tika.

__ADS_1


"Kalau saudara Mas ada berapa?"


"Saya hidup sebatangkara Mbak."


"Keluarga lain mungkin, ibu atau adik?" Tika menekankan.


"Tidak punya Mbak." sahut Surya sedikit emosi lantaran Tika tanya terus-terusan, namun sebisa mungkin dia meladeni penumpangnya.


Tika mencari ide lagi, mungkin jika dipertemukan dengan Bu Desi semuanya akan jelas. Dia ibu kandungnya secara otomatis bisa mengenali ciri fisik yang tidak diketahui orang lain.


Sesampainya di taman, Tika meminta Surya untuk menemaninya bahkan dengan paksa dia menarik tangan Surya.


"Mas tunggu di sini sebentar ya!" perintahnya sambil mendudukan Surya dengan sedikit memaksa pada sebuah kursi rotan.


"Tapi Mbak, saya harus bekerja. Ini kali pertama saya jadi sopir, apa kata bos saya nanti jika telat setoran?"


"Sudah.... Tenang saja! Nanti aku bakal ganti rugi. Kamu tunggu bentar....saja di sini ya!" Surya diam saja mengikuti saran Tika, Tika pergi lalu tak butuh waktu lama dia kembali dengan 4 buah coklat di tangan.


"Ini buat kamu!" Tika memberikan sebuah coklat yang sudah terbuka bungkusnya memudahkan dia untuk memakannya.


"Ini...buat Saya!" Surya tertegun sejenak.


"Iya, cepat makan nanti keburu cair!" mereka berdua menikmati makanan kesukuan Surya dulu.


" Calon istri Mas tinggal dimana?" tanya Tika sambil menyelipkan rambut ke telinga membuat kecantikan Tika terlihat jelas. Lalu dia mengarahkan pandangannya ke Surya.


"Sekitar resto china, Mbak."


"Ooo...dekat dong dari tempat kerja saya."


"Emang di mana tempat kerjanya?"


"Di butik," Tika selesai menghabiskan coklat dan melihat bibir Surya belepotan, dengan sigap dia mengelap dengan jempol membuat Surya mengerjapkan mata.


"Dag dig dug dear" bunyi jantungnya. Surya mendadak berdiri sambil keringat dingin.


"Maaf Mbak saya harus segera pergi mengejar setoran." alasannya agar tak berlama - lama dengan Tika.


"Kan tadi sudah ku bilang berapapun aku akan bayar, toh jam segini sepi penumpang. Hari sudah siang, lebih baik dari pada ngejar setoran kamu antar aku pulang."


"Tak bisa begitu, saya..."


Cup.... Tika dengan agresif melahap bibir Surya. Memegang kedua pipinya dan menemukan kehangatan di sana.

__ADS_1


Sementara Surya gelagapan dibuatnya, dia diam saja bak patung liberty menikmati ciuman itu sama seperti kemarin. Juniornya meraung-raung minta keluar dari kain segitiga. Mengeras dan sangat terasa di kain Tika. Tika tersenyum nakal.


"Sudah Mbak, malu dilihat orang!" Surya menyudahi ciuman Tika yang mulai ganas.


"Kenapa harus malu, tapi kamu mau kan?" seolah tak membutuhkan jawaban.


"Sadar Mbak, mungkin Mbak mengira saya adalah suami Mbak. Tapi, Mbak harus menerima kenyataannya kalau saya bukan Surya yang ada di foto tadi." Surya berbalik meninggalkan Tika menuju parkiran.


Sejenak tak bergeming, Tika menitikkan air mata sambil berteriak.


"Kamu jahat, Mas! Sudah berbulan - bulan aku menangisi mu dan hidupku menjadi terpuruk karena kematian mu. Betapa sakit hati ini karena kepergian mu. Kini kamu datang menjadi sosok yang lain."


Surya menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Mbak, jika pun kita dulu pernah bersama lalu berpisah dan kalau berjodoh pasti tidak akan ke mana. Maafkan saya, Mbak. Saya benar - benar bukan Surya suami Mbak." Surya berjalan mendekati Tika dan memapahnya menuju parkiran.


"Saya antar Mbak pulang, ya?" Surya merasa bersedih dengan wajah sendu Tika betapa malang nasibnya. Tika mengangguk saja. Saat berada di mobil menuju rumah Tika mereka berdua tak bersuara sama sekali. Sesampai di pintu gerbang.


"Ini uang yang saya janjikan tadi," mengeluarkan sepuluh lembar seratus ribuan.


"Banyak sekali , Mbak! Saya tidak bisa terima ini!" tolak Surya.


"Anggap saja sedekah buat orang fotocopi." sahut Tika sinis. Surya tercengang dengan kalimat Tika.


"Dan, satu lagi. Jangan panggil aku Mbak! Aku bukan kakakmu, panggil namaku Miss Ti." Tika keluar mobil dengan ketus dan membanting pintunya dengan keras.


"Sabar....Sabar. Orang itu gila atau bagaimana, ngasih uang kok banyak banget. Kelihatannya tadi manis sih, tapi kalau marah malah kayak nenek sihir mukanya," tukas Surya sambil melajukan mobilnya.


Tika memasuki kamar lama Surya dan mengambil foto waktu akad nikah dulu.


"Apakah dengan foto kita nikah ini bisa membuktikan kalau kamu suamiku?"


"Apa aku terlihat gila, orang lain saja bisa ku akui kamu." Tika berbicara sendiri sambil memeluk foto itu. Tak lama kemudian ada sambungan telepon masuk.


"Dengan saudari Tika?" tanya seorang pria dari arah seberang, dari suara penelepon ini terdengar berat dan mungkin berkisar usia 50an ke atas.


"Ya, dengan saya sendiri. Ada apa?" tanya Tika heran, lantaran nomor yang menghubunginya dari kantor polisi.


"Bisa Anda datang ke kantor polisi?"


"Apakah mendesak? Jika perlu saya ke sana sekarang!"


"Itu lebih bagus, saya tunggu kedatangan Anda!" lalu ponsel dimatikan.

__ADS_1


"Ada kabar apa polisi menghubungiku?"


__ADS_2