
"Aku malu melihat kamu hanya memakai handuk saja." tukas Surya lalu perlahan membuka matanya dan melihat Tika sudah mengenakan baju tidur. Tika berjalan mendekati ranjang. Sementara Surya masih berdiri di samping koridor memandang cahaya bulan yang temaram menembus kamarnya.
"Ais...Mas Surya akan terbiasa dengan hal-hal kecil seperti ini." sahut Tika sambil terkekeh lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menepuk kasur memberi kode agar Surya menyusul nya. Surya pun memahami dan segera berbaring di samping Tika. Setelah Tika membantu Surya minum obat kini mereka berdua berbaring saling berhadapan.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Surya lirih sambil mendekatkan ke telinga Tika sehingga dia bergidik dibuatnya.
"Iya Mas, katakan saja, tentang apa?" sahut Tika sambil memainkan dagu Surya yang lancip.
"Apa aku boleh menjenguk Dewi?" tiba-tiba di tengah bahagianya Tika, Surya malah teringat Dewi lagi. Tentu saja Tika geram dan seketika wajahnya berubah masam.
"Kenapa sih harus Dewi, Dewi dan Dewi lagi di benakmu, Mas! Ada aku di sini, di depanmu. Kamu masih belum bisa move on darinya?" Tika bangkit dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang sambil memalingkan muka dan bersendekap.
"Aku, aku hanya bertanya saja, entah mengapa tiba-tiba aku teringat padanya. Mungkin karena ingatanku belum pulih, jadi masih membekas kebersamaan dengan dia dan susah untuk melupakan dia begitu saja." sahut Surya juga ikut bangkit.
"Kalau begini terus, Mas Surya lama-lama bakal suka Dewi beneran." batin Tika lalu berbalik menatap suaminya.
"Oke, aku izinkan kamu menjenguknya, tapi dengan satu syarat."
"Benarkah, apapun syaratnya akan sebisa mungkin aku lakukan. Katakan apa syaratnya?"
"Iiih, Mas Surya jahat. Kebelet banget ingin bertemu Dewi, apa istimewanya dia dibandingkan aku. Ini tidak bisa dibiarkan terus. Aku harus melakukan sesuatu." batin Tika sambil memikirkan syarat yang memberatkan Surya agar tak bertemu Dewi.
"Kamu boleh menemui dia, asal jangan pakai wajah aslimu!" ucapan Tika sontak membuat Surya bengong. Apa maksud dari jangan memakai wajah asli?
Lalu tanpa berbicara lagi, Tika tidur sambil memunggungi Surya. Padahal rencananya malam ini dia ingin bermain ranjang, tapi karena permintaan suaminya itu membuat suasana hatinya berubah. Surya tak bergeming dari kebingungan. Dia memikirkan sendiri maksud ucapan istrinya tadi. Karena Tika sudah terlelap, Surya tak berani bertanya dia memilih ke luar kamar untuk menjernihkan pikirannya.
Dia berhenti di depan tangga lalu matanya berkeliling ruangan, dia penasaran dengan sebuah kamar yang ada di depannya, melihat pintu kamar yang tak dikunci dia perlahan membuka pintu dan memasuki kamar tersebut.
"Kamar siapa ini?" ucap Surya lalu menyalakan sakelar lampu. Dia berhenti di depan lemari dan mendadak kepalanya sakit lagi. Sejenak dia terduduk di sebuah kursi dekat meja kerjanya dulu sambil menahan rasa sakit. Yang dia masuki ternyata adalah kamar pribadinya. Setelah rasa sakit di kepalanya hilang, hatinya tergerak untuk membuka lemari. Dia berdiri dan berjalan membuka pintu lemari, saat itu juga pandangannya tertuju pada sebuah foto yang terjatuh dengan posisi terbalik.
"Foto siapa ini?" gumam Surya sambil memungut foto itu. Tertulis di balik foto yang ia pegang tulisan tangannya waktu dulu.
Aku mencintaimu apapun dirimu.
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu.
Apapun yang terjadi dan kapanpun, engkaulah cintaku.
__ADS_1
Duhai istriku, engkaulah kekasih halalku.
Duhai istriku, Engkaulah kekasihku.
Dia membalik gambarnya, tampak foto dia dan Tika saat acara akad nikah.
"Foto ini..." ucapnya lirih dan seketika kepalanya sakit lagi.
"Ternyata di waktu dulu aku sangat mencintai istriku. Tapi tak satu pun aku mengingat kebersamaan dengannya. Mengapa harus Dewi yang selalu terngiang di kepalaku saat ini, meski aku tahu Dewi hendak melenyapkan nyawa istriku tempo hari. " kembali Surya merintih menahan sakit sambil memegang foto itu.
Setelah agak lama berada di kamarnya, dia menyadari ruangan yang sedang ia masuki adalah ruang kerjanya dulu. Dia memegang laptop dan meja, sebelum ke luar dia menatap seluruh isi ruangan kerja itu.
Esok paginya
Seperti biasa Surya sudah bangun pagi sekali, karena hari ini dia akan pergi menemui Dewi, jadi dia memasak orak arik telur kesukaannya.
"Mas Surya!" panggil Tika kaget saat memergoki suaminya berada di dapur tengah memasak.
"Hai, kamu sudah bangun?" sahutnya melihat sekilas ke arah Tika lalu melanjutkan lagi memasak.
"Kamu sedang apa, Mas?" Tika berjalan mendekati Surya dan penasaran apa yang dia masak.
Tika melirik sekilas dan berpikir apakah suaminya telah pulih ingatannya. Tapi ternyata tidak, saat melihat menu sarapannya adalah orak arik telur ini membuktikan suaminya masih amnesia. Tika tak begitu menyukai masakan itu.
"Kamu bisa?" tanya Tika sedikit ragu, karena yang Tika tahu suaminya hanya bisa membuat nasi goreng.
"Ini Dewi yang mengajarkan, dan pagi ini kamu sudah janji padaku untuk mengantarku menjenguk Dewi. Aku ingin memberikan makanan ini juga padanya." sahut Surya dengan menaruh masakannya pada sebuah kotak makan kecil dan telah dia bungkus rapi.
"Apa, lagi-lagi Dewi. Mengapa dia memasak khusus untuk Dewi. Sementara aku..." batin Tika merasa sesak dadanya. Dia sebisa mungkin menutupi kecemburuannya dan menahan air matanya yang bisa saja jatuh.
"Ayo, kita sarapan!" ajak Surya membuyarkan lamunannya.
"I...iya Mas!" sahut Tika lekas, rasanya ingin menolak tapi dia biarkan saja suaminya meladeni. Mereka berdua menuju meja makan dan sarapan berdua. Mereka sarapan dengan piring masing -masing. Saat sarapan pun Tika tak berkata sepatah katapun dan hanya menjawab seperlunya saat Surya bertanya. Selesai sarapan, Tika hendak menuju kamarnya tapi tertahan oleh Surya.
"Tika, kamu bilang semalam aku tak boleh memakai wajah asliku saat mengunjungi Dewi, maksudnya apa ya?" tanya Surya polos dan benar -benar tak tahu maksud Tika.
Tika membalikkan tubuhnya, "Aku mau kamu saat ke tahanan untuk mengenakan topeng. Sebentar aku ambilkan dulu di kamar." lalu tanpa ekspresi Tika meninggalkan Surya yang masih terbengong.
__ADS_1
"Topeng? Kenapa aku harus mengenakan topeng?" batin Surya bertanya.
"Mana topeng yang kamu maksudkan?" tanya Surya setelah Tika kembali dengan hanya membawa spidol. Tika tak menyahut hanya melempar senyum yang dingin.
"Kamu bilang aku harus memakai topeng, tapi kamu kembali tanpa membawanya. Aku benar-benar bingung." ucap Surya.
"Ternyata amnesianya membuat mas Surya jadi cerewet. Aku tak habis pikir membayangkannya bagaimana Dewi membuat mas Suryaku seperti ini." batin Tika.
"Ehmm, begini Mas." ucap Tika lalu membuka tutup spidol, " Aku akan melukis wajahmu dan menutupi wajah aslimu dengan ini." Lalu Tika mengarahkan spidol ke wajahnya.
"Spidol?" tanyanya sedikit ragu lalu Tika menganggukkan kepala tanda penegasan.
Dan tanpa bertanya lagi Tika mendudukkan Surya di sofa yang berada di ruang keluarga. Untuk menghilangkan kejenuhan Tika menyalakan tv sementara Surya sudah siap di poles. Tika sengaja membuat wajah Surya menjadi jelek agar saat bertemu Dewi di tahanan nanti membuat Dewi merasa jijik. Tika tahu jika dengan penampilan Surya yang sekarang Dewi akan melarang Surya untuk menemui dia lagi.
Hari hampir siang, Tika mengantar Surya menemui Dewi, seperti permintaannya dia datang dengan wajah jelek. Surya sudah berada di tahanan. Dia membawa kotak makanan untuk Dewi. Saat Dewi menemui nya, dia berteriak histeris. Tak menyangka Surya menjadi seperti ini, wajahnya menjadi jelek karena riasan Tika. Mereka berdua tak banyak bicara. Dan saat jam berkunjung mulai habis.
"Dewi, ada yang ingin aku tanyakan padamu?"
Dewi menatap Surya dan siap mendengarkan.
"Mengapa kamu waktu itu ingin membunuh Tika? Apakah dulu dia punya salah padamu? Dan mengapa kamu dulu tak mengatakan kalau aku sudah menikah?"
"Karena aku hanya ingin menjadi milikmu sepenuhnya. Aku tak tahu kalau kalian berdua sudah menikah. Kini aku sendiri di balik jeruji besi yang menakutkan ini. Aku takut Surya. Aku mohon bebaskan aku dari sini!" ucap Dewi mengiba.
"Ini, ku bawakan makanan kesukaanmu. Makanlah. Aku akan kembali lagi." ucap Surya tanpa menjawab permintaan Dewi.
"Surya, ku mohon bebaskan aku dari dini! Aku takut!" teriak Dewi sambil mengguncangkan lengan Surya tapi dia tak bergeming. Polisi datang memberi tahu Dewi bahwa jam berkunjung telah habis dan meminta Dewi kembali ke tahanan.
Surya sedang bersama Tika sekarang, mereka terlihat seperti acuh tak acuh.
"Ini Mas, hapus coretanku di wajahmu!" Tika menyodorkan pembersih wajah dan kapas sambil memasang wajah cemberut lalu memalingkan muka tak mau melihat Surya, dia merasa cemburu karena suaminya ini menemui Dewi.
"Tolong lakukan ini untukku!" pinta Surya lalu mendekatkan wajahnya. Tika tanpa ekspresi membuka tutup pembersih wajah dengan paksa lalu menuang ke kapas dan menyaput ke wajah suaminya dengan kasar.
"Aww, hati-hati sayang, bisa-bisa wajah gantengku ini hilang beneran." ucap Surya sambil merintih kesakitan lantaran Tika tanpa ikhlas melakukannya.
"Siapa bilang kamu ganteng, sok tahu kamu, Mas." ucap Tika ketus sembari menghentikan kegiatannya. Saat tengah membersihkan wajah suaminya mendadak ponsel dia berbunyi.
__ADS_1
"Hallo, iya Mbak! Apa, tidak mungkin!" Tika terlihat panik setelah mendengar kabar dari Reni.