
"Bukankah itu pria yang mencengkeram tangan Tika saat di rumah sakit?" gumam Surya sambil sesekali memperhatikan pembicaraan mereka, meski terdengar lirih.
"Ngapain sih Di, kita harus ketemuan lagi. Ingat, kita sudah tidak ada hubungan lagi!" Tika mengacungkan jarinya kesal karena sedari subuh tadi Tedi sudah mengirimnya pesan singkat sampai puluhan kali yang semua isinya berbunyi ' aku ingin bertemu'. Akhirnya Tika menuruti kemauan Tedi. Sebenarnya dia ingin memberi tahu Surya masalah ini, mengingat perkataannya semalam membuat dia mengurungkan niatnya.
"Sabar, cantik. Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." Tika berdecak mendengar sebutan cantik dari mulut Tedi.
"Tentang apa?" sahutnya ketus, rasanya dia tak ingin lama-lama berada di dekat Tedi.
"Ini menyangkut suamimu yang amnesia itu." lanjut Tedi seraya meneguk minuman yang baru saja pelayan antarkan. Tika heran sambil mengernyitkan dahinya.
"Suamiku ," gumamnya lirih. Tedi mengangguk sembari tersenyum sinis.
Surya dari kejauhan memperhatikan mereka, seketika dia tercengang saat dia disangkut pautkan.
"Biarpun amnesia dia masih suamiku." sahut Tika geram , tak terima suaminya direndahkan.
"Aku tahu kamu sangat mencintainya, tapi apa kamu tahu, dia dulu seperti apa saat di rumah Dewi? Mereka hidup bersama. Mereka berpacaran dan sampai sekarang belum putus. Kamu masih mengharap cintanya? Meskipun dia juga cinta kamu, tapi apa dia tulus? Pasti enggak, aku yakin dia masih punya rasa dengan Dewi. Dan, bisa saja mereka berdua telah melakukan...ya kamu pasti tahu sendiri apa maksudku." Tedi sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya sambil berbisik, lalu kembali duduk seperti semula. Penjelasan Tedi membuat sesak hatinya, Tika mengepalkan tangan di atas meja. Geram dan marah. Sejenak dia menata pikiran dan sebisa mungkin juga dia mengontrol emosinya jangan sampai termakan omongan. Hasutan Tedi hampir mengena.
Tika menarik nafas panjang dan menghempaskan dengan kasar.
"Aku tahu kalau suamiku masih sering membicarakan tentang dia, itu karena dia amnesia. Tunggu sampai aku membuatnya ingat padaku, Di, kamu jangan asal bicara. Suamiku orang baik -baik, pasti tidak seperti yang kamu bicarakan." sanggah Tika tak percaya.
"Terserah kalau kamu tak percaya, kamu tanya saja sama Dewi!"
"Kalian berdua sama saja! Suka mengganggu rumah tangga orang. Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar omong kosong ini!" Tika meraih tas kecilnya dan beranjak berdiri memunggungi lawan bicaranya.
"Gugat cerai Surya atau dia dalam masalah!" bentak Tedi, ambisinya untuk mendapatkan Tika sudah tak terbendung lagi. Pernah dalam benaknya terbesit niat untuk melecehkan Tika. Tapi dia urungkan, karena ingin mendapatkan Tika secara sukarela.
"Cerai!? Aku nggak mau. Sampai mati pun aku tidak akan mau berpisah dengannya." Tika membalikkan tubuhnya menghadap Tedi, dia mulai berurai air mata, tangisannya pilu. Tapi, tak mengubah apa pun keputusan Tedi.
"Ku mohon Tedi, jangan kamu rusak rumah tanggaku!" menelungkupkan kedua tangannya, memohon.
__ADS_1
"Cerai? Apa Tika akan menceraikanku?" batin Surya tersentak setelah mendengar percakapan mereka. Rasanya ingin sekali dia menghibur Tika yang tengah mendapatkan serangan batin itu. Tapi, dia tak ingin keberadaannya ketahuan.
"Terserah kamu, aku sudah memberi kamu dua pilihan. Ceraikan Surya yang amnesia itu lalu menikah denganku atau nyawanya dalam bahaya!" gertak Tedi, dia merasa dengan ancamannya ini Tika akan benar -benar menjadi miliknya.
"Kamu tak ingin si amnesia itu hangus terbakar lagi kan?" Tedi menyeringai.
"A...apa maksudmu? Apa kamu yang menyebabkan kecelakaan itu? Jawab, jawab aku, Di!!" bentak Tika sambil berdiri membungkuk ke arah Tedi, kedua tangannya meremas kerah Tedi, Tedi memegang kedua lengan Tika dan membisu beberapa saat.
"Aku tak mengatakan seperti itu. Tapi, aku pastikan dia akan mengalami nasib yang sama." seketika itu Tika melepaskan remasannya.
"Jahat kamu! Menyesal aku pernah berteman denganmu!"
"Terserah, aku ulangi sekali lagi. Kamu gugat cerai si amnesia itu atau aku buat dia celaka!" ancamnya lagi.
"Aku jadi dilema, aku harus memilih yang mana? Mas Surya dalam bahaya, dia nggak boleh tahu masalah ini. Aku akan mengulur waktu, jangan sampai Tedi curiga." batin Tika lalu dia diam sejenak memikirkan sesuatu.
"Tika, kamu pilih siapa? Dia, mantanmu atau aku, si amnesia seperti yang dia sebutkan." gumam Surya.
"Oke, aku akan sabar menunggu berita baiknya. Awasi si amnesia itu, jika tidak, dia akan berpaling darimu! Pikirannya hanya tentang Dewi sekarang. Camkan ucapanku. Meski Dewi di penjara, tidak merubah peluang untuk mereka bersama kembali." Tedi meninggalkan Tika sendiri yang masih mencerna ucapannya.
Ada benarnya juga ucapan Tedi, secara Surya sudah tahu lokasi penjara Dewi, sewaktu-waktu tanpa sepengetahuannya dia bisa saja keluar rumah menemui Dewi di tempat tahanan lagi.
Tika bergidik membayangkan jika Dewi merebut suaminya lagi. Dia pastikan Dewi tidak bisa keluar dari penjara. Tika bergegas pergi meninggalkan kafe, dilema yang ia hadapi sungguh sulit untuk diputuskan. Dia mengendarai taksi yang sejak tadi setia menunggunya. Begitupun dengan Surya, dia melangkah pergi meninggalkan kafe dan tak langsung pulang. Dia ingin pergi ke taman tempat kesukaan Tika. Entah mengapa hatinya tergerak untuk menuju tempat itu. Dia melangkah menyusuri jalan setapak. Meski amnesia, dia hafal betul jalan-jalan yang sudah pernah ia lewati bersama Dewi dulu sehingga tak mudah tersesat.
"Sampai kapan dia tidak jujur padaku. Kata Rudi waktu itu, aku adalah seorang CEO di perusahaan besar. Nyatanya sampai sekarang dia tak pernah menceritakan tentang itu. Mengapa dia menyembunyikan ini? Apa karena aku masih amnesia? Tuhan, sampai kapan Kamu akan menghukumku?" Surya berteriak dan tersungkur di tanah, dia meratapi keadaannya yang sekarang. Untung saja jalanan sepi, kalau tidak sudah di anggap orang sinting dia berteriak sendiri.
Di rumah Tika
Sesampainya di rumah, Tika lebih dulu pulang. Dia meneriaki nama suaminya, mencari di setiap sudut kamar seluruh rumah. Mencari di belakang dan di gudang, tapi semuanya nihil. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memijat pelipisnya. Tak begitu lama Surya datang, selesai mengucap salam dia langsung disodori tatapan membunuh dari Tika.
"Dari mana saja kamu, Mas!" tanyanya sedikit berteriak, semua masalah yang sedang Tika hadapi membuat dia selalu uring- uringan sendiri.
__ADS_1
"Ke luar," sahut Surya datar tanpa ekspresi dan tertunduk.
Tika mengetahui perubahan sikap suaminya segera dia berdiri dan menghampirinya.
"Kamu dari mana, Mas?" tanya Tika dengan pertanyaan yang sama dengan sedikit nada lembut. Dia mengelus bahu suaminya dan menuntunnya ke ruang makan.
"Aku baru saja dari taman, tempat kesukaanmu." sahut Surya masih dengan nada datar.
"Sudah siang, aku menunggumu sejak tadi, ayo makan!" ajaknya sambil menggandeng lengan Surya. Tika menyadari sikap Surya yang terkadang seperti anak kecil yang harus lebih ekstra sabar untuk menghadapinya. Surya turut saja digandeng, dalam hatinya dia juga merasa kesal. Mengapa Tika tidak jujur saja padanya, mengatakan punya masalah dengan mantan pacarnya itu?
Tika menyimpan pikirannya untuk sementara, bersikap wajar agar Surya tak curiga dengan masalah yang ia bendung.
"Kamu sendiri dari mana?" tanya Surya setengah jutek. Dia menarik kursi di ruang makan, sementara Tika tengah sibuk mengeluarkan gurami bakar dari bungkusan.
"Aku tadi membelikan sesuatu untukmu, Mas!" sahutnya dengan sedikit berteriak karena lokasinya yang berada di dapur. Surya memonyongkan bibirnya, kesal.
"Bohong!" ucapnya lirih, dia ingin Tika menghargai keberadaannya sebagai suami. Saling terbuka dan tidak ada semacam rahasia, meski dia amnesia.
Tika menuju meja makan dengan sepiring nasi dan sepiring gurami bakar.
"Gurami bakar, sepertinya enak. Selama di rumah Dewi aku jarang makan-makanan yang seperti ini."
"Ya Tuhan, Dewi lagi. Sabar..." gerutu Tika dalam hati sambil matanya berkeliling, agar tak ketahuan betapa pedihnya jika dia menyebut nama itu.
Tika menyuapi Surya, mengingat dulu ia disuapi Surya saat makan gurami bakar juga, awalnya Surya menolak setelah Tika mengatakan kalau makan pakai sendok durinya tak kan terlihat, persis dengan apa yang diucapkan Surya dulu, akhirnya dia mau menerima suapan tangan dari Tika.
Selesai sarapan, Surya menahan Tika untuk membereskan meja makan. Keduanya hening sesaat, kedua bola mata saling bertemu.
"Ada apa, Mas?" tanya Tika heran dengan tatapan Surya yang haus akan kejujuran.
"Apa kamu minta cerai?" pertanyaan Surya menampar hatinya. Tak menyangka Surya tahu masalah ini.
__ADS_1