Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Tika Kepo


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." sahut Surya dari balik pintu.


"Bi Sumi, mari masuk Bi...!" pinta Surya mempersilahkan masuk dan berjalan menunjukkan arah menuju dapur.


"Rumah Mas Surya besar dan megah ya, kayak istana yang ada di televisi." Matanya berkeliling seraya berjalan mengikuti majikannya.


"Bibi bisa saja, tadi saya sudah menanak nasi jadi Bibi tinggal masak yang lain, untuk sarapan hari ini saya ingin dibuatkan nasi goreng."


"Baik Mas. Dapurnya Masya Allah...besar dan bagus." Bi Sumi membelalakkan matanya takjub dengan kemegahan dapur.


"Oh ya, istri saya tidak suka pedas. Jadi nanti Bibi sisihkan sambalnya." Bi Sumi mengangguk lalu dengan lihai dia mengasah keterampilannya memasak di dapur yang megah itu.


Surya menuju kamarnya, mengambil gitar dan membawanya ke belakang rumah, tampak birunya kolam yang berkilau terkena pantulan matahari pagi. Surya duduk disebuah kursi rotan dan dengan lihai dia memetik gitarnya, menyanyikan lagu berjudul


Ku Simpan Rindu di Hati


🎢🎡🎢🎡🎢🎡


Sungguh ku menyesal telah mengenal dia


Dan aku kecewa pernah menyayanginya


Dan aku tak akan


Mengulang kedua kalinya


Ku simpan rindu di hati


Gelisah tak menentu


Berawal dari kita bertemu


Kau akan ku jaga


Ku ingin engkau mengerti


Betapa kau ku cinta


Hanya padamu aku bersumpah


Kau akan ku jaga sampai mati


Ku ingin selalu tuk menyanyangimu


Dan ku ingin selalu tuk mencintaimu


Walau sampai akhir


Hayat ini


Jalan hidup kita berbeda


Aku hanya anak jalanan


Yang tak punya harta melimpah


Untukmu sayang


Ku tunggu kau ku tunggu


Ku nanti kau ku nanti


Walau sampai akhir


Hayat ini


Tanpa Surya sadari Tika mendengarkan lagu itu sampai selesai, dia mengintip di balik koridor.


"Surya, aku sungguh mencintaimu, sangat mencintaimu, tetapi aku malu untuk mengakuinya." ucapnya lirih, air matanya berlinang membasahi pipi lembutnya.


Tika berjalan menuju dapur sambil menyeka air matanya.


"Loh...kok, bukankah...." Tika menghentikan ucapannya seraya mengusap matanya dengan tisu yang berada di meja makan. Dilihatnya seorang wanita paruh baya sedang berada di dapur mengenakan celemek.


"Iya Mbak Tika, saya Bi Sumi yang waktu itu kita pernah tegur sapa, sekarang saya bekerja di sini Mbak."

__ADS_1


"Bekerja?"Tika heran dan mengernyitkan dahinya.


"Mas Surya yang minta saya untuk bekerja di sini." Meletakkan wadah berisi nasi goreng di atas meja makan.


"Ow...Bibi kerja apa saja?"


"Mulai dari pagi ya, masak , nyuci dan bersih - bersih Mbak." Menyebutkan tugasnya dengan jari.


"Hmmm..." Tika bergumam seraya manggut - manggut.


"Saya ke dapur lagi Mbak," pamit Bi Sumi.


"Eh, tunggu Bi!" panggil Tika.


"Ya Mbak..."


"Suami saya punya penyakit maag, jadi kalau masak penyedapnya sedikit saja dan jangan terlalu pedas serta asam." ujar Tika memberi tahu.


"Tenang Mbak, saya sudah terbiasa masak tanpa MSG jadi, bumbu - bumbunya di jamin personil." Jari jempol dan telunjuk melekat membentuk huruf O, sementara tiga jari yang tersisa membentuk kata K.


"Orisinil..." Tika terkekeh.


"Iya, maksud saya seperti itu..." Tersenyum lebar seraya bergegas menuju dapur. Tika mengekor di belakang .


"Masak apa?" tanya Tika, matanya berkeliling mengamati berbagai sayuran yang berada di meja.


"Ini Mbak sayur bening," seraya memilah daun bayam dengan tangkainya.


"Dapat sayur sebanyak ini dari mana?"


Tika kepo, tangannya memegang beberapa bumbu masak.


"Belanja Mbak..., tadi, pagi - pagi sekali Mas Surya olahraga terus ketemu saya di kios sayur, nah di tempat itu Bibi membeli semua bahan ini." Mengambil wadah tempat bayam yang akan dicuci.


"Ow...kalau yang ini apa namanya?" Memegang bumbu dapur berbentuk seperti ruas jari dan memiliki tekstur yang kasar.


"Itu laos mbak ..." dengan sabar bi Sumi menjawab pertanyaan Tika.


"Laos, seperti nama negara bagian dari ASEAN." Mendongak ke atas berfikir sejenak.


"Nah, kalau itu aku pernah denger." Mengingat sambil menunjuk pelipisnya.


"Tika ayo sarapan !" ajak Surya yang tak disadarinya sudah berada di meja makan. Tika menoleh dan menyusul Surya yang sudah siap di meja makan.


"Nasi goreng!" Membelalakkan matanya.


"Kamu sudah tahu bi Sumi bekerja di rumah kita?"


"Iya, tadi aku sempat kaget dia bisa berada di rumah kita dan tadi aku juga lagi ngobrol, orangnya asyik," Menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


"Jadi, kamu tidak sendirian sekarang kalau di rumah. Ada bi Sumi yang kebetulan dia punya waktu senggang sehingga bisa bekerja di sini." ucap Surya dan mulai memasukkan nasi ke mulutnya.


"Is..." Tika menjulurkan lidahnya.


"Kenapa?" Surya mengambilkan segelas air putih.


"Rasanya beda dengan yang kamu masak kemarin." tukas Tika seraya menerima gelas dari Surya.


"Kamu tidak suka?"


Tika mengangguk.


Surya melirik jam di tangannya."Masih ada waktu." batinnya seraya berdiri menarik piring yang berada di hadapan Tika.


"Mau dibawa ke mana?" Tika mendongak.


"Bikin yang baru." sahut Surya.


"Tidak usah," Tika menarik kembali piring yang dibawa Surya.


"Kamu bilang tidak suka, aku buatkan yang baru. Aku sendiri yang akan memasaknya."


"Tidak usah, nanti aku terlambat. Biarkan aku menghabiskan ini." Dengan cepat Tika melahap nasi gorengnya, sesekali dia minum air putih untuk membantu menelan makanannya.


Surya melanjutkan sarapannya dan sekilas dia melirik istrinya.


"Tidak biasanya dia bersikap dewasa seperti ini, kamu taruh mana sikap manjamu itu yang selalu bikin aku gemes." batin Surya.

__ADS_1


"Aku sudah selesai." Tika mengelap mulutnya.


"Baik , ayo kita berangkat. Aku antar kamu."


"Kamu tahu alamatnya kan..." Seraya meraih tas kecil yang dia sandarkan di kursi sebelah dan berjalan mendahului Surya.


"Hmmm..." Surya bergumam lalu mengambil handphone di saku celananya dan mencari nama kontak seseorang.


"Halo, Rudi!" sapa Surya pada salah satu bawahannya yang sekaligus menjadi tangan kanannya. Dulu di awal masuk kerja Surya bekerja dibagian distribusi dan menjadi patner Rudi, kini setelah menikah dia dipindah tugaskan untuk memimpin perusahaan yang pak Andik kelola. Keputusan pak Andik ini tanpa sepengetahuan Tika, karena beliau beranggapan Surya memiliki jiwa kepemimpinan yang bijaksana.


"Iya, Pak." sahut Rudi dengan hormat dari arah seberang.


"Saya ada tugas untukmu, nanti setelah selesai meeting segera temui saya di ruangan saya."


"Baik Pak." terdengar sambungan telepon terputus dari arah seberang.


Surya melangkahkan kakinya dan seketika langkahnya dihadang bi Sumi.


"Ada apa Bi?"


"Apa mbak Tika tidak suka dengan masakan saya Mas."


"Suka, dia menghabiskannya dengan sangat cepat tadi."


"Syukurlah...eh Iya Mas, tadi Bibi lihat mbak Tika seperti habis nangis."


"Nangis, benarkah..."


"Iya Mas, Bibi tidak berbohong, sebelum mbak Tika berjalan ke dapur dia dari arah belakang tadi."


"Mungkin matanya kemasukan debu, maklum rumah ini jarang disapu."


"Benar juga ya Mas. Ya sudah Bibi mau mencuci baju. Pakai mesin cuci atau tangan Mas?"


"Mesin cuci saja, bisa kan..."


"Tentu Bibi bisa, itu pekerjaan kecil..."


Bi Sumi berjalan meninggalkan Surya menuju ke kamar mandi.


"Tika menangis, ada apa dengannya. Akhir - akhir ini dia terlihat banyak meweknya." gumam Surya.


Surya menuju mobil, Tika sudah berada di dalamnya. Selama perjalanan mereka terdiam seribu kata. Surya ingin memulai pembicaraan namun terhenti seakan - akan lidahnya kaku. Begitu juga dengan Tika, dia ingin berkata namun dia menelan bulat - bulat perkataan yang sudah tersusun rapi di otak nya, lantaran bingung untuk mengawalinya.


"Aku..." serentak mereka berdua berkata.


" Kamu duluan." pinta Surya seraya mengawasi jalan di depannya.


"Kamu saja yang duluan." pinta Tika rada canggung.


"Aku akan ada meeting pagi ini, apakah kamu sanggup untuk pulang sendiri. Atau kamu ingin menungguku. Setelah selesai meeting nanti kamu aku jemput." jelas Surya.


"Meeting, kayak bos saja ada acara meeting segala." Tika heran lantaran kaget, setahunya Surya bekerja hanya sebagai karyawan biasa.


"Memang kenapa, siapa tahu aku jadi bos beneran."


"Mimpi kamu..."


"Mimpi itu kan cita - cita yang tertunda." Gurau Surya.


"Meeting dengan siapa?"


"Kepo kamu..."


Surya mendadak seperti tersengat lebah.


"Aww...sakit!" Tika mencubit pinggang Surya.


Mereka tertawa lepas dan tak terasa sampai di tempat sebuah perusahaan yang besar bernama TEDIRO HUSODO.


"Aku turun dulu." tanpa diminta Tika sudah terbiasa menyalami tangan Surya.


"Semoga berhasil !"


"Aamiin..." Tika membuka pintu mobil lalu menghilang masuk ke dalam kantor, tampak security mempersilahkan Tika masuk.


Surya yang sudah tidak melihat punggung istrinya segera melajukan mobilnya menuju kantor, yang hanya menempuh 30 menit perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2