
Tika segera menghubungi Rudi agar mengantar dia dan Surya ke butik. Tika mendapatkan kabar dari Reni kalau butiknya sedang di serang perampok. Kejadian bermula saat siang ini, Reni yang baru saja pulang dari supermarket membeli sesuatu dan ketika kembali ke butik mendapati semua gaun rancangan milik Tika hancur berantakan. Butiknya telah kebobolan, mungkin ada barang atau uang yang hilang.
Rudi bergegas melajukan mobilnya menuju butik. Hampir setengah jam mereka sampai di butik. Saat memasuki butik, Tika kaget setengah mati mendapati ruang butiknya berantakan. Semua gaun mahal dan mewah itu rusak dan berserakan di lantai terdapat juga bekas sobekan karena sengaja digunting oleh seseorang. Serpihan kaca akibat jendela yang pecah berserakan di bawah gaun itu, jika tak hati - hati bisa saja terkena serpihan kaca.
Seketika itu Tika mengecek apakah ada barang yang hilang, saat ia menuju loker ia kaget, uang yang setumpuk itu tak satu pun diambil. Tika heran, ini bukan perampokan tapi, sekelompok orang yang tak menyukai butiknya atau membenci pemiliknya.
"Siapa yang melakukan ini semua? Jahat sekali!" rutuk Tika sambil menangis, "Apa salahku? Mengapa mereka merusak butik ini?"
Surya yang melihatnya menjadi ikut sedih, "Apa kamu pernah merasa melakukan kesalahan pada orang lain, sehingga dia sakit hati dan membalasmu dengan cara ini?" tanyanya sambil menenangkan Tika yang shock.
"Aku tak pernah merasa melakukan kesalahan, aku juga tak punya musuh." sahut Tika seraya mengusap pipinya yang basah.
"Atau ini perampokan mungkin, Mbak Tika?" tanya Rudi sambil matanya berkeliling memperhatikan keadaan sekitar.
"Bukan, aku sudah mengecek uang dan barang berharga lainnya, semuanya masih utuh." sahut Tika sambil sesenggukan.
Surya melangkah sambil berpikir sejenak, salah apa istri nya pada pelaku ini, sungguh keterlaluan perbuatannya. Surya dengan dibantu Rudi membereskan kekacauan di butik.
"Pak Surya, hati-hati jangan sering dibuat gerak dulu, kan baru sembuh." ujar Rudi sambil mengambil alih kegiatan Surya yang tengah mengangkat meja yang terbaik.
"Terimakasih, Mas sudah perhatian sama saya." sahut Surya.
"Jangan panggil mas, Pak. Rudi saja." ucapnya sambil membantu Surya mengangkat meja.
"Kalau begitu jangan panggil saya dengan sebutan pak, panggil Surya saja." ucap Surya sambil tersenyum.
"Mana boleh, Pak. Kan Pak Surya atasan saya!" Rudi menggoyangkan jari telunjuknya.
"Atasan?" tanya Surya heran.
__ADS_1
"Loh, emang mbak Tika belum cerita kalau Pak Surya adakah CEO di perusahaan papanya mbak Tika?" Surya hanya menggelengkan kepala saja.
"Mungkin dia belum sempat bercerita." sahut Surya, sejenak dia berpikir mengapa Tika setengah -setengah untuk menceritakan siapa sebenarnya dia ini? Mungkin karena Surya selalu menyebut nama Dewi sehingga dia enggan untuk bercerita.
Melihat ekspresi Surya yang berubah, Rudi menganggap mulutnya ceroboh, seharusnya hal sekecil ini tidak perlu dibicarakan karena bukan haknya.
Surya mengalihkan pikiran negatifnya tentang Tika agar hilang dengan menyingkirkan pecahan kaca. Dengan hati-hati semua kaca ia singkirkan dari sana. Memasukkan ke dalam kantong keresek dan ia letakkan di luar butik.
"Betapa jahatnya orang yang melakukan ini. Miss Ti, maafkan aku karena tidak bisa menjaga butik dengan baik. Aku tadi pergi sebentar untuk membeli minuman karena persediaan air di butik habis. Saat aku kembali butik sudah seperti kapal pecah. Maafkan aku, Miss Ti." ucap Reni yang juga ikut menangis.
Tika memungut satu gaun yang ia kenakan saat menggagalkan pernikahan Dewi dulu, mendekap erat gaun seperti tak rela jika harus membuangnya karena sudah tak layak pakai itu seraya berteriak histeris. Surya melihatnya begitu miris. Tika menaruhnya asal.
Beberapa pengunjung datang dan memberikan kesaksian.
"Tadi sekelompok preman dengan wajah sangar memaksa masuk ke butik, kami saja di usirnya dengan paksa. Mereka berpakaian serba hitam dan jumlah mereka banyak." jelas salah satu pengunjung. Tika mengangguk paham. Betapa bencinya orang yang melakukan ini, sampai-sampai harus butik yang jadi sasarannya. Pasalnya butik Tika lagi naik daun.
"Jadi, pesanan saya?" ucap pelanggan yang lain setelah melihat gaun pesanan miliknya sobek dan berlubang. "Aku tidak perduli dengan apapun yang terjadi, aku minta ganti rugi! Miss Ti, besok adalah acara pernikahan saya dan kini gaun saya telah rusak! " ucapnya lagi menambah kesedihan yang mendalam bagi Tika, kini uang tabungannya tinggal sedikit.
"Seharusnya Anda bisa mentolerir keadaan Tika, jangan seenaknya sendiri!" tukas Surya sambil melotot ke arah pelanggan sambil menunjuk, pelanggan hanya mencibirkan mulut lantaran kesal. Tika meraih tubuh Surya dan hanya menggelengkan kepala. Mengerti maksud Tika apa, lalu Surya menurunkan tangannya.
Reni mengangguk dan menuntun pengunjung yang minta ganti rugi itu ke kasir. Di sana dia tengah mengeluarkan sejumlah uang dari laci lalu memberikan pada pelanggan. Tak hanya itu, pengunjung yang baru saja datang tak jadi masuk ke butik malah ada yang mengumpat butik ini tak layak berdiri. Reni yang mendengar ocehan itu semakin kesal dan ingin rasanya menyumbat mulutnya yang nyerocos itu.
Tika memegang pelipisnya sambil berjalan menuju sofa, Surya yang melihat Tika kelelahan menuntunnya dan mengambilkan botol minuman di meja depannya yang baru saja dibeli Reni. Terdapat lima botol air mineral di atas meja.
"Minumlah!" ucap Surya menyodorkan botol dan Tika menerimanya seketika dia meneguk air itu. Dahaganya kini hilang, tapi rasa pusing di kepalanya semakin menjalar.
"Sabar Tika, kalau aku tahu pelakunya siapa, akan aku hajar dia!" geram Surya sambil mengepalkan tangan dan meninjukan ke telapak tangan satunya. Tika tak memberi sahutan apa pun. Matanya berkeliling memandangi butiknya yang hancur.
Reni berpindah tempat ke depan koridor memeriksa mungkin ada gaun yang masih tersisa utuh, namun nihil, tak satu pun dia menemukan gaun yang utuh. Matanya tertuju pada the diamond wedding Gown, baju kesayangan Tika. Dia bentangkan gaun itu, tampak terlepas semua diamondnya, Reni meletakkan kembali gaun itu. Reni mengambil kardus di belakang lalu memasukkan semua gaun ke dalamnya, setelah membereskan butik dia berjalan menghampiri Tika yang terlihat terduduk lemas.
__ADS_1
"Aku bangkrut!" ucap Tika tertunduk dengan meletakkan wajah di kedua telapak tangannya sambil menangis sesenggukan. Reni yang sudah ada dihadapannya mencoba menghibur. Surya dengan keadaannya yang sekarang tak bisa berbuat banyak, dia sesekali mengelus bahu Tika. Tika tak berekspresi sama sekali.
"Miss, aku yakin orang yang melakukan ini lantaran iri pada butik kita yang lagi naik daun. Orang itu ingin kita hancur. Kamu tidak akan menyerah secepat ini kan? Kita mulai lagi dari nol. Aku yakin kita bisa memperbaiki ini." Ujar Reni yakin sambil mengusap pundak Tika.
Tika memandang Reni dan sontak memeluknya, "Maaf, gara -gara butik ini hancur, kamu kehilangan pekerjaanmu. " ujar Tika.
"Pekerjaan bisa di cari namun yang lebih penting adalah memulihkan nama baik." Reni membalas pelukan Tika.
"Betul itu Mbak Tika apa yang dikatakan Reni. Saya akan bantu Mbak Tika deh, " imbuh Rudi yang mendukung idenya Reni. Tika tersenyum dan mulai sedikit terhibur.
Setelah seharian berada di butik, Tika memutuskan untuk pulang begitu juga dengan Reni, dalam benaknya dia tak mau diam saja dan harus melakukan sesuatu untuk menghidupkan lagi butik milik Tika.
Rudi menurunkan Surya dan Tika, setelah itu dia mengantar Reni pulang.
"Rudi, sebaiknya kita cari cara untuk membantu miss Ti yang lagi kesusahan." ucap Reni saat berdua saja di mobil.
"Aku setuju, tapi bagaimana caranya?"
Sesampai di rumah
"Dengan melihat kondisiku yang sekarang, apa kau akan meninggalkanku?" tanya Tika saat makan malam. Mendengar pertanyaan Tika, Surya menghentikan makannya dan tangannya meraih tangan istrinya.
"Mungkin aku belum sepenuhnya menjadi Surya yang dulu, tapi aku pasti kan aku akan selalu bersamamu. Meski kata ini pernah aku ucapkan pada Dewi saat aku belum bertemu denganmu." sahut Surya.
"Sebenarnya, saat kamu dinyatakan meninggal aku sempat mencoba untuk bunuh diri, namun selalu gagal. Aku mengerti Tuhan tak mengambil nyawaku waktu itu, karena Dia telah mempertemukan kembali aku dengan suamiku tercinta. Lalu aku mencoba bangkit dari keterpurukan karena kehilanganmu. Menjadi desainer dengan bantuan tanteku dari Jakarta. Aku memulai karya ku dari nol hingga menjadi seorang desainer ternama di kota ini. Aku yakin meski aku tanpamu waktu itu, aku bisa menjalani kehidupanku yang sepi. Nyatanya sekarang kamu hadir. Aku, aku sangat sakit waktu itu, Mas." Tika terisak kembali, Surya semakin sedih mendengar penderitaan istrinya waktu dulu.
"Maafkan aku, andai aku bisa mengingat semuanya keadaannya tidak akan seperti ini." Surya berdiri dan menghampiri Tika yang duduk di hadapannya. Memeluknya dan mencium keningnya.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu lagi, meski ingatanku belum pulih. " ucap Surya tegas membuat Tika tersentuh. Tika meraih tangan Surya dan menciumnya.
__ADS_1
"Aku pegang ucapanmu, Mas. Dan jika sampai kamu melanggar janjimu aku tak kan memaafkanmu." ucap Tika, Surya mengangguk paham lalu kembali ke kursinya. Setelah selesai makan malam mereka masuk ke kamar. Saat Tika mendahului Surya berjalan menaiki tangga Surya menarik lengan istrinya.
"Kyaa...! Apa yang kamu lakukan Mas!" pekik Tika.