Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Bertemu Mantan


__ADS_3

Pagi sekali Surya sudah bangun, didapati istrinya masih terlelap.


"Nek...Nenek Sihir! Sudah subuh nih, cepat bangun !" perintah Surya seraya mendekati wajah cantik Tika. Tika tetap tak menjawab.


"Nenek Sihir, ayo bangun...! Surya berbisik di telinga Tika. Tika menggeliat, membuat bibir Surya menyentuh pipi Tika. Sontak Tika bangun.


"Kamu menciumku!" Tika memegang pipi bekas ciuman Surya.


"Tidak...!" Surya mengelak.


"Bohong...lalu tadi itu apa!" Tika menatap tajam mata Surya.


Surya cengar cengir saja, bingung mau jawab.


"Aku tadi cuman berbisik padamu, Tika , ayo bangun... gitu aja. Tadi itu tidak sengaja." bela Surya seraya bangkit dari kasur.


"Awas kamu ya, kalau nyosor lagi. Mengambil kesempatan dalam kesempitan." Tika melempar guling ke arah Surya, dengan cepat dia menghindar.


"Wek...tidak kena! Ini bukannya kesempatan tapi kesadaran." seraya berlari keluar pintu meninggalkan Tika.


"Dasar cowok kampung, aku benci kamu!" teriak Tika, kemudian bangun dan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Tika mengusap pipinya yang bekas tercium Surya tadi. Menggosok dengan sabun beberapa kali.


"Ih, nyebelin banget cowok kampungan itu. Nyesel aku minta tidur ditemani dia semalam. Kalau tidak gara - gara mati lampu, bakal tidak begini jadinya. Pipiku tidak perawan lagi..." gerutu Tika di depan cermin.


Surya dengan berpakaian kaos oblong dan celana kolor pendek menuju dapur. Diambilnya 3 cangkir beras lalu dia masukkan ke dalam rice cooker, setelah menambahkan air dia menekan tombol on. Sambil menunggu nasi matang, dia mempersiapkan bahan - bahan untuk membuat nasi goreng. Dia berjalan menuju kulkas dan bermaksud mencari bahan di sana.


"Sawi, cabai, bawang...nah ini, daun bawang." mengeluarkan dari dalam kulkas.


Surya mondar - mandir mulai dari mencuci sawi, mengupas bawang, lalu menguleknya.


"Nenek Sihir kan tidak doyan pedas, aku pisahkan saja cabainya." seraya menyisihkan cabai dari cobek. Lalu menguleknya lagi sampai bumbu - bumbu halus.


Terdengar bunyi 'klek ' itu artinya nasi sudah matang. Surya memanaskan minyak di wajan lalu memasukkan bumbu halus dan menumisnya.


"Meong...meong..."


"Pagi Mr. Black, kamu sarapan belum...sana minta makan sama majikanmu." seraya mengusap kepala kucing dengan kakinya.


Tika turun dari tangga, berdandan cantik seperti biasa dan berpakaian rapi, mengenakan blouse yang terlihat bahunya serta rok pendek di atas lutut.


"Hmmm...harum, seperti ada yang sedang memasak." berjalan menuju dapur sambil mengenduskan hidungnya.


"Kamu masak apa? Dari baunya sepertinya enak..." ucap Tika saat sampai di dekat Surya.


"Bikin nasi goreng, ini resep dari ibuku loh." tanpa menoleh ke arah sumber suara dan tengah asyik menikmati pekerjaannya.


"Kamu bisa masak..." menggendong Mr. Black.


"Ya, hanya beberapa yang aku bisa." sahut Surya sambil memasukkan nasi ke dalam wajan, sangking sibuknya dia tidak memperhatikan penampilan Tika.


"Pus...ayo, sarapan dulu," Tika menurunkan kucingnya.


"Tolong, kamu ambillah telur di kulkas aku tadi tak bisa membawanya." perintah Surya, Tika tanpa menyahut berjalan menuju kulkas. Sesampainya di sana.


"Berapa?" teriaknya sambil membuka pintu kulkas.


"Dua saja!" teriak Surya.


Tika membawa dua butir telur ke arah Surya.


"Nih, " Tika menunjukkan telur itu.


"Tolong pecahkan semuanya, dan taruh di sini." menyodorkan wadah kecil ke Tika, tanpa menyahut Tika pun ikut andil membantu Surya. Saat memecahkan telur.


"Astaghfirullah, Tika!" bentak Surya, dia kaget bukan main. Bukannya isi telur yang ia taruh di wadah itu, melainkan kulitnya.


"He he he, maaf, aku nggak tahu cara mecah telurnya gimana. " sahut Tika enteng.


"Cantik-cantik mecah telur saja nggak bisa! Dunia benar -benar mau kiamat. Bukan kulitnya yang di taruh di sini, isi nya malah kamu buang. Hedeh, nih cewek nggak bisa diandalkan." Surya mengambil sendiri telur dan melanjutkan memasaknya. Tika memainkan bibirnya lantaran kesal diomeli Surya.


Tika meninggalkan Surya dengan perasaan kesal dan menuju ruang makan.


"Begitu saja marah, kalau bisa sendiri ngapain nyuruh aku." gerutu Tika sambil mengambil makanan kucing dan menuangkannya ke wadah kecil.


" Ayo, makan yang banyak biar cepat gede." mengusap kepala kucing .

__ADS_1


Surya memindahkan nasi goreng ke piring berukuran besar. Menghias dengan timun dan menaruh dua sendok.


"Nah, siap." seraya membawa ke meja makan.


"Hmmm...bau nasi goreng." ucap Tika mendenguskan hidungnya seraya menarik kursi.


"Kamu mau kemana? Rapi banget!" tanya Surya dengan nada tinggi seraya memperhatikan penampilan Tika dan meletakkan sepiring nasi goreng.


"Ya, iya dong, Tika...! Mau ke kampus menemui pak rektor."


"Dengan penampilan seperti itu. " menunjuk ke arah Tika, "Tidak, aku tidak mengizinkanmu pergi jika kamu tidak mengganti pakaianmu yang minim itu!" ucap Surya rada marah seraya menarik kursi.


"Ada yang salah..."


"Banyak...pertama, bahu dan lututmu terlihat. Kedua, karena kamu sudah menikah denganku. Ketiga, pakaian itu kamu kenakan untuk di rumah saja."


"Dasar cowok kampungan, ini style namanya..."


"Pokoknya tidak boleh. Atau, aku beri tahukan kesemua orang kalau kita sudah menikah." ancam Surya.


"Jangan! Aku belum siap jika semua orang tahu kalau kita sudah menikah. Baiklah, nanti selesai sarapan aku ganti baju." Tika menurut.


"Nah, begitu....Ayo, sarapan!"


"Kok, piringnya cuman satu. Bagianku mana..."


"Kita kongsilah...lagian siapa nanti yang bakal cuci piring. Kamu mau..." Tika menggeleng.


"Baiklah...!" Tika pasrah.


"Disuapi lagi, tidak..." tanya Surya dengan tanpa basa basi lagi Tika mengangguk.


Surya dan Tika sarapan bersama dalam satu piring.


"Kamu ke kampus jam berapa?" tanya Surya sambil melihat jam.


"Pak rektor ada sekitar pukul 9."


"Aku akan ikut."


"Nanti kamu membohongiku." Surya menekankan.


"Tidak...emangnya tampangku seperti pembohong apa!" Tika mengelak.


"Baiklah, aku pegang ucapanmu. Aku antar kamu sebelum ke kantor." Surya mendesah.


Selesai sarapan, Surya mencuci piring dan segera berganti pakaian.


Sementara Tika, masih asyik bermain dengan kucingnya.


"Kamu lupa..." tanya Surya saat keluar kamar dengan memakai setelan kemeja warna biru dongker.


"Apa..." sahut Tika tanpa memandang Surya.


"Ganti bajumu!" perintah Surya sedikit kasar.


"Iya, aku lupa tadi..." Tika mencari alasan dan segera menghentikan aktifitasnya.


"Masih muda sudah pikun, bagaimana tua nanti." gerutu Surya. Tika berlari ke atas dan mengganti pakaiannya.


Sesampainya di depan kampus. Tika membuka pintu mobil, belum sempat dia keluar Surya memanggilnya.


"Tika!" Surya memanggil sambil menyodorkan tangannya .


"Iya..." Tika menoleh.


"Salim sebelum berangkat!" perintah Surya.


"Iya, bawel ..."


"Hus...tidak sopan!" gertak Surya, Tika mencibirkan mulutnya dan segera bergegas pergi. Surya melajukan mobilnya ke kantor.


"Tika!" panggil Tedi seraya menghampiri Tika.


"Hey, kamu masih masuk?"

__ADS_1


"Iya, ini lagi mengurusi OSPEK. Kamu sendiri sedang apa ke kampus?"


"Gawat, Tedi tidak boleh tahu." batin Tika


"E...aku mau mengembalikan buku ke perpustakaan. Ya, buku waktu aku mengerjakan skripsi. Aku lupa mengembalikannya." Tika mencari alasan.


"Aku antar kamu ya..."


"Aduh, ngapain juga Tedi ikut...." batin Tika.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri."


"Baiklah, sebenarnya ada yang aku mau bicarakan denganmu?"


"Iya, katakan saja."


"Masalah hubungan kita, mau di bawa kemana...aku masih belum terima kita putus Tik!"


"Ya, mau bagaimana lagi. Kita berteman aja yuk. "


"Aku maunya lebih, lebih dari sekedar teman."


"Tedi, ayo...anak - anak yang lain sedang menunggumu!" panggil Dewi.


"Eh Tika, apa kabar..." sapa Dewi sinis, masih rada benci dengan Tika.


" Baik Dew, kamu juga lagi ngurus OSPEK ya?"


"Ya, sambil nunggu ijazah keluar dari pada nganggur di rumah, aku ikut organisasi ini. Bay the way, kamu udah kerja Tik,"


"Belum, ni lagi mau mencoba browsing di internet." sahut Tika.


"Bagaimana kalau kalian melamar kerja di kantor papa ku, siapa tahu cocok dengan kalian." Tedi menawarkan.


"Emang kamu sudah kerja..." tanya Tika, Tedi mengangguk.


"Kalau kalian berminat nanti aku kabari lokasinya."


"Aku mau." sahut Dewi tanpa berpikir panjang.


"Aku pikir - pikir dulu, ya." sahut Tika seraya mengeluarkan handphonenya dan membaca pesan singkat dari nomor tidak dikenal.


[Pulang jam berapa? Nanti aku jemput.]


"Nomor siapa nih, sok akrab banget. Mending tidak usah dibalas ." batin Tika.


"Oke, Tika, aku temui teman - teman dulu. Nanti kita ngobrol bareng ya..." ucap Tedi seraya pergi menjauh bersama Dewi.


Saat suasana aman, Tika masuk ke ruangan rektor dan menjelaskan tentang kejadian di kamar mandi waktu itu.


"Terima kasih Tika, tapi, sayang sekali, beasiswa Surya sudah saya alihkan ke teman sekelasnya. Karena pendaftaran sudah ditutup 3 hari yang lalu. Karena, jika tidak ada mahasiswa pengganti, beasiswa itu akan hangus." jelas pak rektor.


"Benarkah, jadi apa yang harus aku katakan pada Surya, padahal dia sangat menginginkan beasiswa tersebut."Gumam Tika.


"Siapa yang menggantikan Surya?"


"Brian."


"Apa, bukankah Brian sahabat Surya. Mengapa dia tega melakukan ini semua, seharusnya dia memberi tahu Surya terlebih dahulu." gerutu Tika seraya keluar dari ruangan rektor dengan rasa kecewa yang begitu dalam.


"Tika, kita makan siang yuk di cafe!" ajak Tedi saat berpapasan dan Tika hendak pulang.


"Maaf Di, aku belum begitu lapar. Kamu duluan saja." tolak Tika lantaran dia mulai terbiasa makan sepiring dengan Surya.


"Bagaimana kalau kita duduk di taman yang dekat kampus. Sudah lama kita tidak ke sana." bujuk Tedi.


"Baiklah!"sahut Tika tanpa berpikir panjang.


Sesampainya di taman.


"Kamu haus, nih, ada minuman untukmu."


menyodorkan ke arah Tika. Tika menerimanya .


"Di...mendadak kepalaku pusing sekali, semua seperti tampak gelap." ucap Tika setelah itu dia lemas dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2