
"Maaf Non, bibi lagi ngepel jadi lantainya masih licin. " bik Romlah panik menyaksikan majikannya hampir terpeleset, "Mbak Tika tidak kenapa-kenapa kan? Maaf kan bibik Non, jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Suami saya baru saja meninggal dan saya harus mencukupi kebutuhan ketiga anak saya." terang bik Romlah menyesal, lalu dia menundukkan kepalanya.
"Iya Bik, lain kali kalau ngepel lantainya cepat dikeringkan ya, sebelum ada orang lain yang lewat." ucap Tika datar sambil melepas pegangannya pada lengan Surya lalu membenahi posisi berdirinya. Surya seketika itu melepaskan pegangannya.
"Benar kamu nggak papa?" imbuh Surya sambil menatap istrinya, Tika mengangguk. Mereka berdua naik ke lantai atas menuju kamar Tika.
"Aku kira non Tika bakal marah, eh nyatanya dia tidak mengomeliku." Bik Romlah bergumam sendiri lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Aku ke kamar mandi dulu," pamit Tika saat sampai di kamarnya.
"Aku ikut dong?" goda Surya.
"Ngapain Mas?" Tika meladeni godaan suaminya dengan mengernyitkan dahinya.
"Lah kamu mau ngapain?"
"Pipis..." Tika tak memperdulikan lagi ocehan suaminya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
"Jangan ditutup pintunya, Sayang!" Surya berteriak sambil menutup pintu kamar. Dia sengaja menggoda istrinya yang semakin menawan saja jika terus diperhatikan. Surya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
"Akhirnya aku bisa pulang, rasanya seperti setahun saja tak menginjak kamar ini. Aku masih ingat, nenek sihir menolak saat ingin aku ajak berhubungan lantaran aku amnesia. Terus jika aku amnesianya seumur hidup, bisa gila dan tumpul dong punyaku kelamaan nggak diasah." ucap Surya pada dirinya sendiri, dia senyum-senyum sendiri mengingat saat tidur bersama Tika dulu.
"Mas," panggil Tika setelah keluar dari kamar mandi. Surya menoleh dengan tetap pada posisinya yang masih rebahan.
"Pantas nggak aku pakai pakaian ini?" tanyanya sambil menunjukkan tubuhnya.
"Hmmm, cantiknya istriku, apapun yang kamu pakai selalu pas. Tapi, ingat, kenakan pakaianmu yang seksi itu hanya di depanku." ucapnya sambil menunjukkan jempolnya, dia bangkit dan menuju ke lemari pakaian mencari baju olah raga.
Tika hanya manggut -manggut saja.
Selesai mengganti pakaian Tika dan Surya segera turun ke bawah.
"Pagi ini, Mas Surya mau sarapan pakai apa?" tanya Tika manja seraya memegang handle pintu kamarnya.
"Pakai kamu," sahut Surya singkat sambil setengah berbisik mendekatkan mulutnya di lubang telinga Tika, sehingga dia bergidik dibuatnya.
"Apaan sih Mas, Tika lagi tanya serius, e...Mas Surya malah bercanda." Tika mencubit perut Surya.
"Aw, sakit!" keluh Surya sambil meringis seperti menahan sakit.
"Euh, maaf Mas, Tika lupa kalau masih ada bekas luka di perutmu!" Tika mengelus bekas cubitan yang nggak terlalu keras tadi. Tika merasa panik dibuatnya, "Masih sakitkah?" sambungnya. Hanya Surya saja iseng menjahilinya.
"Nggak papa kok, Sayang, sebagai gantinya sini cium aku!" pinta Surya sambil mengerucutkan bibir tebalnya. Tika dibuatnya gelagapan meladeni permintaan suaminya. Dia dengan cekatan segera membuka pintu kamar hendak menghindar, saat pintu kamarnya sudah terbuka.
"Maaf Non, sarapan di meja makan sudah siap. Non Tika dan Mas Surya mau sarapan sekarang atau nanti?" ucap Bik Atik sambil menundukkan kepalanya, dia malu mendapati ulah majikannya. Surya dengan cepat mengkondisikan situasinya. Mulutnya tadi yang mau nyosor Tika dibuatnya seolah -olah bersiul -siul. Tika menahan tawanya sambil menutup mulut.
"Eh, kami sarapannya nanti saja Bik Atik. Kami mau joging dulu." sahut Surya sambil menunjukkan senyum tipisnya.
"Ayo sayang, keburu siang nanti!" ajak Surya menggandeng tangan Tika, Tika menurut saja sambil melambaikan tangan yang satunya pada bik Atik. Mereka turun mendahuluinya.
"Mas sih, pagi -pagi gini mau nyosor aja! Malu kan sama pembantu di rumah ini?" sarkas Tika.
"Iya, ya, tadi kan aku gregetan banget sama kamu, soalnya kamu cantik dan seksi banget pakai baju beginian." Surya memegang baju yang Tika kenakan. Dia mengenakan kaos legging berwarna hitam dipadukan dengan sneaker hitam. Sedangkan Surya mengenakan setelan kaos olah raga dengan celana pendek.
"Mas bisa aja," Tika setengah berlari menuruni tangga, Surya yang merasa diabaikan segera menyusul Tika.
Kini mereka tengah berada di gang yang tempo dulu terjadi baku hantam antara Surya dan para preman.
"Ini kan tempat kita saat dikeroyok dulu?" tukas Surya, dia berjongkok menatap pinggir aspal. Seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Iya Mas, andai kamu kalau nggak nyusul aku ke sini. Entah apa yang akan terjadi padaku." membungkukkan badannya serambi ikut mengamati apa yang sedang Surya cari.
"Aku bakal jadi duda," tukasnya sedikit bergurau. Tapi, Tika tak mengganggap itu sebuah gurauan.
"Kok kamu bilangnya begitu Mas? Oo...jadi kamu senang jika aku mati?" Tika berdiri tegak dan membalikkan badannya.
"Bukan begitu Sayang, maksud aku begini..." Surya mengikuti pergerakan Tika, dia sendiri tak bermaksud untuk berkata demikian. Guraunya ternyata membuat Tika marah. Tika tak mau mendengarkan penjelasan Surya, dia berlari menjauhi tempat dimana Surya berdiri. Surya dengan cepat mengejarnya. Mereka berlari beriringan.
"Bukan begitu maksudku, Sayang, jangan ngambek gitu dong? Please maafin aku ya?" Surya mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon dengan sangat.
__ADS_1
"Terus kamu ngapain pengen jadi duda, hah ?" gerutu Tika, dia menghentikan larinya. Suaranya terdengar ngos -ngosan.
"Agar kamu bisa nikahi Dewi kan, iya kan? Kan?Kan?" Tika memberondong penuh penekanan.
"Stop !! Jangan sebut nama itu lagi. Aku tak ingin merusak suasana pagi ini denganmu. Dan lupakan tentang Dewi. Tika, jika aku berada di posisimu waktu itu, aku akan bersikap sama sepertimu. Kamu adalah cinta sejatiku, sampai mati." Surya memegang kedua pipi Tika dan menatap tajam kedua bola matanya.
"Mas Surya..." Tika dibuatnya terharu.
"Aku nggak ngambek kok, cuman kesal saja dengan ucapan itu." Tika meyakinkan sambil memegang kedua tangan Surya yang masih memegang kedua pipinya.
"Ok, aku janji tak kan mengulangi perkataan itu." Surya menunjukkan jari kelingkingnya, Tika sejenak melihat jari itu. Dia mengaitkan jari kelingkingnya. Sambil mengikrarkan sebuah janji.
"Janji, cintamu suci sampai mati?" tanya Tika. Surya mengangguk.
"Aku berjanji padamu, cinta satu hati sampai mati." Surya hendak memeluk Tika. Dengan cepat Tika menghindarinya.
"Ini tempat umum, Mas. Banyak yang lihat, mending kita pulang. Aku ingin segera sampai di rumah, aku sudah sangat lapar. " pinta Tika menyarankan.
"Ok, kita lanjut nanti malam. Nah, siapa yang tertinggal dia adalah nenek sihir." ucap Surya sambil berlari mendahului Tika.
"Ow, aku takkan biarkan diriku menjadi nenek sihir!" Tika penuh penekanan dan segera menyusul Surya yang sudah berlari jauh.
Pukul 08.00
"Sini aku suapi!" Surya menarik piring Tika sampai ke hadapannya. Menu pagi ini adalah nasi goreng dengan telur mata sapi. Tika dibuatnya menganga. Akhirnya hal romantis baginya yang telah lama ia rindukan datang juga.
"Tapi Mas, ini kan cuma..." Surya sudah memasukkan sendok ke mulutnya hingga dia tak mampu melanjutkan bicaranya.
"Sudah, jangan bawel! Aku sudah lama tak menyuapimu kan? Kan? Kan?" Surya penuh penekanan.
"Itu kan, kalimatku Mas. Dasar tukang fotocopi!" gerutu Tika tak jelas bicaranya, mulutnya penuh makanan.
"Enakan yang mana ?" tunjuk Surya dengan dagunya. Paham dengan yang dimaksud, Tika segera mengambil sendok dan gantian menyuapi Surya.
"Aak," perintah Tika. Surya membuka lebar mulutnya.
"Pasti enakan punyaku ," sahut Tika bangga sambil mengelap bekas nasi goreng di mulut Surya .
Deg...
Pernyataan Surya yang membuat jantungnya hampir copot. Jujur sudah lama dia tak mendengar kata istri sebagai gelarnya yang sekarang.
"Kok kamu nangis?" Surya mengusap pipi Tika yang mulai basah.
"Aku sudah lama sekali tak merasakan kebahagiaan seperti ini Mas, sungguh bersamamu aku rindu." tangisannya meski tak terdengar keras, tapi sudah membasahi pipinya.
"Cup, cup, jangan bersedih lagi! Kita mulai dari awal lagi, toh kita kan sudah bersama sekarang dengan aku yang sesungguhnya. Tukang fotokopi." Surya mengulang setiap kalimat Tika yang dianggapnya istimewa.
Tika mengusap kedua matanya dan menata nafasnya. Surya sudah mampu menenangkan hatinya. Tika sudah tak bersedih lagi. Mereka melanjutkan sarapannya dengan masih saling menyuapi.
Setelah mereka sarapan, tidak ada kegiatan lain selain berdua dan berdua sampai malam.
Dua pembantu sudah pulang ke rumahnya masing - masing sebelum magrib tadi. Kini tinggallah mereka berdua. Surya menaiki ranjang menyusul Tika yang sudah tertidur pulas. Dia mendapati istrinya tidur dengan posisi yang menyibak, sehingga memperlihatkan paha mulus nan putih.
"Sayang, aku minta ya!" bisik Surya di telinga kiri Tika, membuat sesuatu mengusik tidurnya, Tika merubah posisinya menjadi terlentang. Dengan masih memejamkan mata.
"Kamu menggoda sekali," tanpa babibubebo lagi Surya sudah melepas semua pakaian istrinya. Merasa kulitnya terkikis angin, Tika membuka matanya.
"Kyaaaa...!!" teriak Tika histeris.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Surya yang juga ikut panik, dia juga sudah mulai melepas semua pakaiannya.
"Aku kaget saja Mas," sahutnya sambil menyilangkan kedua tangannya menutupi badannya.
"Ayo kita mulai," ajak Surya sambil menarik selimut menutupi kedua tubuh mereka yang sudah polos.
"Kita seperti pengantin baru yang mulai melakukan malam pertama saja?" ucap Tika setelah Surya melancarkan aksinya.
"Ya, terasa malam pertama." sahut Surya seketika itu juga dia tertidur setelah beraksi.
__ADS_1
Tika mengulum senyum, puas dengan apa yang dia terima hari ini. Surya suaminya telah membuat hidupnya menjadi lebih bermakna dan indah. Kesedihan selama tiga bulan lalu telah benar-benar sirna dari hidupnya.
"Aku bukan janda lagi, aku akan mempertahankan bahtera rumah tangga kita. Hampir saja aku merestui Dewi menjadi istrimu, tidak bisa aku bayangkan kamu dan dia melakukan kemesraan seperti ini di atas ranjang." ucapnya sambil mencium kening suaminya, lalu menyusul tidur karena dia benar -benar lelah. Surya melancarkan aksinya sampai lima ronde. Tentu saja membuat Tika remuk redam dibuatnya.
Keesokannya.
"Tika, Sayang, bangun, sudah subuh!" Surya membangunkan istrinya dengan cara menggelitik telapak kakinya. Tika belum juga bangun.
"Susah sekali membangunkan dia." Surya tak habis akal, dibukanya selimut yang menutupi tubuh polos Tika. Sontak Tika membuka matanya setelah merasakan kikisan angin disemua tubuhnya. Cuaca pagi ini memang sangat dingin.
"Dingin Mas, mana selimutnya?" ucap Tika sambil mengulurkan tangan meminta selimutnya.
"Sudah subuh, cepat mandi! Kita sholat berjamaah yuk! Sudah lama kita tak melakukannya." ucap Surya tegas membuat pendengarnya harus segera melaksanakan perintahnya.
"Iya Mas," Tika dengan cepat setengah berlari dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi. Surya yang menyaksikan ulah istrinya terkekeh sendiri.
"Dia lucu atau gimana, masa bugil sambil berlari?"
"Mas! Tolong ambilkan bajuku, aku lupa membawanya!" teriak Tika dari balik pintu.
"Tuh kan benar apa yang aku pikirkan?" Surya yang sudah rapi dengan pakaian kokonya berjalan menuju lemari dimana Tika menyimpan baju-bajunya. Setelah dirasa cocok baginya, Surya berjalan menuju kamar mandi.
"Ini!" panggil Surya dengan mengulurkan tangan memberikan baju Tika.
Muncul sepasang tangan dari balik pintu menggapai yang dicari.
Surya sedikit iseng, pertama hanya CD yang dia berikan.
"Mas, kok cuman ini, bajunya mana?" teriaknya lagi. Surya terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Ia sayang!" sahutnya berteriak, padahal sudah lengkap berada di dekapannya.
Tika hanya mengulurkan tangannya tanpa menunjukkan wajahnya di balik pintu.
Surya iseng lagi, kini dia memberikan bra nya saja.
"Mas! Kamu resek ya, cepetan aku kedinginan nanti!" omel Tika yang masih berada di kamar mandi.
Surya tertawa lepas, "Iya ya, Sayang, maaf ini pakaian kamu," Surya memberikan pakaiannya setelah Tika mengulurkan tangan yang ketiga kalinya.
Selesai sholat subuh, kedua pasangan seperti pengantin baru ini berencana menanam bunga di pekarangan depan dekat ayunan.
Sudah tersedia beberapa macam bunga di polibeg yang bik Atik dan bik Romlah siapkan, kemarin sebelum pulang mereka berdua mendapat tugas untuk membawa aneka tanaman bunga ketika akan berangkat bekerja.
"Aw, " pekik Tika saat jarinya tertusuk duri. Dia hendak mengangkat polibeg dan memberikan pada Surya.
"Kenapa Sayang?" Surya terkejut dengan pekikan Tika dan bergegas menghampirinya. Surya ******* jari Tika yang terkena duri itu. Satu hisapan saja sudah membuat greget hatinya.
"Sudah, nggak berdarah lagi kan?" Surya meniup jari yang tertusuk duri itu. Tika hanya manggut -manggut.
"Sini, biar aku saja yang mengangkatnya!" pinta Surya dengan membawa satu polibeg di tangan.
Sebuah mobil yang tak asing bagi mereka masuk menuju parkiran.
"Papa, Mama, dan Ibu, " absen Tika satu per satu saat keluarga besarnya berkunjung ke rumahnya.
Mereka berdua menyalimi satu persatu, dan segera mempersilahkan masuk. Sebelumya Mereka berdua mencuci tangan dan membersihkan diri.
Saat di ruang keluarga.
"Bagaimana kondisi kalian?" tanya pak Andik memulai percakapan.
"Alhamdulillah, sehat Pa," sahut mereka berdua kompak.
"Bagus kalau begitu, kami bertiga berkunjung ke rumah kalian adalah untuk menyampaikan rencana pada kalian berdua yang sempat tertunda," jelas pak Andik.
Tika menggerakkan dagunya seolah bertanya pada mamanya saat pandangan mereka bertemu. Mamanya yang menyadari itu tak langsung menyahut, hanya memberikan kode diam pada Tika dengan jari telunjuk di ujung bibir.
"Acara yang tertunda? Maksudnya?" tanya Surya yang mulai gusar dan penasaran.
__ADS_1
"Lima hari lagi, siapkan diri kalian untuk acara resepsi pernikahan yang belum pernah dilaksanakan." terang pak Andik membuat Tika dan Surya saling pandang.