
"Kabar apa yang dibawa Rudi ya, aku jadi deg-deg an gini." Tika sambil memegang hp dan berjalan mondar - mandir di teras depan. Sesekali dia duduk di ayunan dan sebentar dia berdiri lalu duduk lagi.
Menjelang magrib Rudi baru sampai di rumah Tika.
"Mbak Tika," sapa Rudi, mukanya lecek dan pakaiannya kusut. Maklum belum mandi.
"Ih, bau kamu!" Tika memencet batang hidungnya saat Rudi datang mendekat.
"He he he, iya Mbak, saya belum mandi." sahut Rudi malu dan cengengesan seraya mengendus kedua ketiaknya yang bau asem.
"Silahkan masuk!" pinta Tika sambil membukakan pintu, namun Rudi menolak.
"Di luar saja Mbak, tidak enak jika dilihat orang lain." Tika tertegun melihat sikap Rudi yang tahu diri. Meski Rudi lebih tua umurnya, namun dia sangat menghormati wanita yang lebih muda darinya itu.
"Baiklah, silahkan duduk?" Tika mempersilahkan Rudi duduk di kursi teras lalu diikuti Tika.
"Berita baik apa yang kamu bawa?" tanya Tika antusias. Hatinya campur aduk sekarang antara senang dan susah.
"Ini Mbak, saya kirim foto dulu ke hp Mbak Tika, jadi Mbak Tika enak buat lihatnya." Rudi menggeser layar ponsel menuju galeri, memilih beberapa foto dan mengirim ke nomor Tika. Saat sampai di depan rumah bik Sumi tadi, dia menyempatkan untuk mengambil gambar rumah.
"Foto apa ini? Rumah jelek kamu foto, buat apa?" tanya Tika lantaran sebal dengan Rudi yang mulai menjahilinya .
"Sabar Mbak Tika ku sayang...." Rudi mulai ngegombal.
"Apa kamu bilang??" Tika menatap Rudi tajam, matanya yang indah seperti akan keluar dari kelopak matanya.
"Nggak Mbak, bercanda!" Rudi kadang kala juga suka iseng, " Nih, foto tempat tinggal orang yang mirip pak Surya." jelas Rudi mulai bercerita. Dia menceritakan semua yang dia ketahui dari a sampai z , tidak kurang dan tidak lebih.
"Mas Surya, benarkah itu kau??" Tika berdiri tercengang dengan apa yang didengarnya barusan, Rudi mengikuti Tika berdiri.
"Jadi, benar orang di foto itu pak Surya, beliau belum meninggal. Lalu, siapa orang yang ada di pemakaman itu?"
"Aku sendiri juga tidak tahu."
__ADS_1
Penjelasan Rudi membenarkan asumsinya, bahwa orang yang bernama Surya itu adalah Surya suaminya.
Ketika mendengar Rudi menyebut nama bik Sumi, dia teringat dengan pembantu yang dulu pernah bekerja paruh waktu di rumahnya. Dia juga bernama bik Sumi. Apakah bik Sumi ini orang yang sama?
Sepulangnya Rudi, Tika menuju rumah pak RT untuk menanyakan keberadaan bik Sumi sekarang. Dan alhasil yang dia peroleh bahwa bik Sumi sudah lama pindah ikut anaknya ke pinggir kota, dan dia hanya memiliki satu anak perempuan bernama Dewi.
Saat Tika meminta alamat baru bik Sumi, pak RT mencatatnya pada selembar kertas kecil. Tika melipat kertas dan menyimpannya di saku celana. Setelah Tika mendapatkan info tentang bik Sumi, dia undur diri.
"Kenapa ada banyak nama yang sama? Sebentar, aku cocokkan dengan alamat yang diberikan pak RT tadi," Tika bersandar pada dinding kamarnya, dia mulai mencari alamat di google map, selesai loading gambar rumah terpampang jelas mirip dengan foto yang dikirim Rudi. Otaknya berputar memikirkan masalah ini hingga membuat perutnya terasa lapar.
"Perutku lapar, aku baru ingat sejak siang tadi aku belum makan. Biasanya Tedi jam segini sudah datang membawakanku batagor kesukaanku. Apa aku telepon dia ya?" Tika menggelengkan kepalanya.
"Jangan ! Nanti dia kepedean lagi. Lebih baik aku ke dapur saja." Tika berjalan menuju dapur, membuka laci lemari mencari mie instan.
"Aku ingat mas, dulu saat malam pertama kita, kamu membuatkanku mie instan. Sekarang aku sendirian di rumah ini, aku lapar. Tidak ada kamu yang membuatkan aku mie instan, nasi goreng dan puding cinta. Aku ingin itu semau, mas." Tika sambil membuka bungkus mie dia menangis lagi, hatinya perih jika mengingat Surya akan menikahi Dewi. Mengapa dia tak mengenalinya saat bertemu kemarin?
Semangkuk mie lezat telah siap di meja dan masih mengepul panas.
"Aku juga kangen disuapi, mas...." Tika tak mampu membendung air matanya, dia menangis tersedu - sedu , hingga saat makan pun terasa asin lantaran bercampur dengan air matanya.
"Kalau ini benar, Dewi akan menikah dengan mas Suryaku aku tidak merestuinya. Tidak, ini tidak akan terjadi. Aku tak boleh diam saja di sini, aku harus melakukan sesuatu! Bagaimana dengan bik Sumi, bukankah dia tahu kalau mas Surya adalah suamiku? " Tika mulai berurai air mata lagi dan sangking banyaknya air mata yang keluar membuat dia kelelahan dan akhirnya tertidur.
Besok paginya, Tika sudah bersiap berangkat ke butik dengan kantong mata yang mengendur.
"Pagi Miss Ti, " sapa Reni yang dibalas dengan anggukan saja dari Tika.
"Kenapa miss Ti bersikap jutek, tidak biasanya dia begitu. Apa aku sudah berbuat salah?" batin Reni lalu menyusul Tika duduk.
"Ada masalah Miss? Cerita dong ke aku, siapa tahu aku bisa membantu?" tawar Reni sambil memperhatikan wajah Tika yang sembab.
"Aku lagi binggung Mbak. Seseorang yang aku cintai akan menikahi temanku. " Reni ternganga dengan apa yang Tika ceritakan, lalu dia menggenggam erat tangan Tika.
"Menikah! Sungguh kejam laki-laki itu, meninggalkan wanita secantik kamu. Laki -laki seperti itu tidak perlu ditangisi," Reni geram sendiri.
__ADS_1
"Kamu bisa mencari pria lain, masih banyak pria yang baik di dunia ini." tukas Reni.
"Siapa pria itu? Biar aku kasih pelajaran dia," tukas Reni lagi yang sok jadi pahlawan.
"Suamiku akan menikah lagi." Tika memulai curhatnya.
"What...!! Jadi pria yang kamu maksud tadi adalah suamimu? Ku dengar dia sudah meninggal." Reni kaget, ternyata Tika bukan seorang janda. Selama ini Reni hanya tahu suami Tika meninggal karena kecelakaan mobil.
"Dia masih hidup. Dan akan menikah minggu depan?"
"Apa kamu yakin kalau orang itu suamimu?" Reni mengeratkan genggamannya.
Tika mengangguk yakin, " Tapi saat bertemu, dia tak mengingatku. Aku sangat mencintai suamiku, jika pun dia menikah lagi aku tidak akan ridho dunia akhirat. Kami pernah berjanji, dan janji kami suci. Cinta hanya satu hati sampai mati." Tika menangis lagi.
"Dan aku yang telah membuatkan gaun pengantin untuknya." Tika melihat kedua telapak tangannya yang gemetar, dia terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya semakin deras.
Reni ikut sedih dengan apa yang Tika ceritakan.
Sebisa mungkin dia menghibur. Reni mengingat kembali gaun yang beberapa hari lalu dipesan oleh seorang wanita bernama Dewi.
"Apa teman wanitamu yang memesan marmaid wedding dress?" Tika mengangguk, semakin histeris dia menangis. Reni memeluk Tika, dan Tika membalas pelukan Reni.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Reni menyadarkan Tika dari keterpurukan.
"Rencana? Ya, aku harus memikirkan itu. Tolong, bantu aku untuk mendapatkan suamiku kembali. " Tika mengusap pipinya yang basah.
"Bagaimana rencanamu?" Reni membantu membersihkan pipinya dengan Tisu.
"Minggu depan mereka akan menikah, kamu bawa reporter untuk meliput pernikahan mereka, aku akan membongkar identitas pengantin prianya. Setelah itu aku akan melanjutkan sendiri rencanaku." Reni setuju dengan ide Tika . Mereka berdua saling berpelukan lagi.
***
Tiga hari kemudian, disaat Tika sedang beristirahat di butik karena kelelahan semalam mengerjakan gaun pesanan orang lain. Tika dikejutkan oleh kedatangan seorang kurir pengantar undangan yang ditujukan ke miss Ti yang tidak lain adalah Tika.
__ADS_1
"Hmmm, sejauh ini Dewi belum tahu akulah miss Ti, perancang gaun pengantinnya. Lihat, aku akan datang dengan hadiah yang menarik untukmu." Tika membaca undangan itu lalu dengan kedua tangannya yang runcing kertas undangan itu menjadi sobekan kecil-kecil. Tika berdiri di teras depan. Reni dari belakang menghampirinya.
"Miss Ti, pesananmu sudah datang tadi!" sambil memperlihatkan kotak besar padanya. Dengan bangga Tika membawa masuk benda yang dibawakan Reni, membuka perlahan dan... The Diamond Wedding Gown , sudah siap dipakai di acara pernikahan Dewi.