
30 menit, mobil Surya sudah sampai di rumah barunya yang megah dan satu - satu rumah mewah di daerah tersebut. Jam menunjukkan masih pukul 13.00.
"Mas Surya dan Mbak Tika sudah pulang, kalau begitu Bibi pamit pulang dulu." ucap bi Sumi saat membuka pintu mendengar yang punya rumah sudah pulang.
"Terima kasih Bi Sumi." ucap Surya datar tanpa melihat wajah bi Sumi, Surya menarik tangan Tika dengan kasar.
"Lepaskan, Surya. Sakit!" Memegang tangan Surya seraya berjalan sedikit terpaksa mengikuti langkah Surya.
"Ada apa dengan mereka, sepertinya mereka berdua sedang bertengkar. Lebih baik aku cepat pulang." Gumam bi Sumi seraya melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan rumah itu.
"Katakan sejujurnya sekarang, apa maumu?"
ucap Surya dengan nada tinggi seraya menghempaskan Tika di atas sofa membuat tubuhnya sedikit terpental.
" Aku tidak ada maksud apa - apa." Mengelus tangan bekas cengkeraman Surya yang masih terasa sedikit sakit.
"Lalu mengapa kamu tidak berkata jujur kalau kamu bekerja di tempat Tedi." Menyingsingkan lengan kemejanya.
"Apa urusannya denganmu?" Membenahi posisi duduknya.
"Aku berhak tahu sekarang, kamu seharusnya minta izin dulu padaku. Tidak seenaknya begitu. Ingat, kita sudah menikah jadi semua urusanmu aku berhak tahu."
"Menikah, pernikahan apa yang kamu maksudkan? Kita menikah karena kamu mengincar harta papaku kan!" Matanya melotot.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah kamu mau menikah lantaran kamu tidak mau harta kekayaan milik papamu itu hangus kan! Dasar cewek matre!"
"Iya, aku akui itu. Kamu tahukan sejak dulu aku memang matre dan angkuh tapi, kamu sedikitpun tidak berusaha menolak saat kita dijodohkan. Apa artinya semua itu? Kamu juga sama, matre!" ucap Tika mulai berurai air mata.
" Sudah aku katakan berulang kali padamu, aku bukan laki - laki yang gila harta."
"Omong kosong apa ini, sudah pandai bermain sandiwara kamu!"
"Siapa yang bersandiwara? Aku bisa
membuktikan ucapanku ini."
"Buktikan kalau begitu !" Tika berdiri mendekati Surya. Pandangan mereka saling bertemu. Surya terdiam beberapa saat .
"Hedeh, nih nenek sihir kalau lagi ngambek, manisnya kebangetan." Gumam Surya dalam hati.
"Baiklah, apa yang kamu minta?" ucap Surya dengan nada datar.
__ADS_1
Tika yang semula naik pitam kini bingung dengan ekspresi Surya, yang mendadak pasrah.
"Nih cowok, aku pikir tadi kita bakalan berantem, nadanya saja sudah kayak gunung meletus, e...tau - tau nyerah juga dia." batin Tika.
"A...apa yang aku minta?" sedikit binggung.
"Sabar, Surya...nih cewek dituruti kemauannya malah binggung, di kasari mewek. Hedeh, serba salah jadinya." batin Surya.
"Ok, beri aku waktu, aku akan membuat daftar permintaan."
"Daftar permintaan! Kayak mau belanja aja."
"Suka - suka aku kan...." Mencibirkan mulutnya.
"Bolehlah...bolehlah...tapi, ada satu syarat!" Surya menunjukkan jari telunjuknya.
"Apa?" Tika bertanya sambil mengernyitkan dahi.
"Cium aku!" Surya menyodorkan pipi kanannya.
"Ih, ogah...dasar mesum."
Tika berjalan menuju tangga hendak ke kamarnya.
"Mau kemana ? Aku belum selesai!"
"Kyaaa!!! Kamu mau apa, sana pergi!"
"Hmmm ...nenek sihir ini sungguh manis kalau ngomel. Aku sangat gemas." ucap Surya sambil mengerucutkan bibirnya seakan mau menciuminya.
"Dasar, mulai gila kamu." omel Tika.
"Nenek sihir, aku memang gila karena terkena sihirmu." ucap Surya seraya mendekatkan dirinya pada Tika walau Tika berusaha menghindar.
"Cium aku." bisik Surya ke telinga Tika yang langsung membuat Tika terkesiap.
"Jangan mulai, seenaknya saja kamu mencium orang sembarangan. Nih cium tangan ku." Menyodorkan telapak tangannya dan mengarahkan ke wajah Surya.
"Kamu pikir aku suami macam apa, minta cium disodori tangan, siapa yang sembarangan?"
"Kamu juga pikir aku cewek macam apa, seenaknya mau menerima ciuman dari cowok kampungan."
__ADS_1
Surya menarik Tika kepelukannya.
"Kyaaa...Tika berusaha melepaskan dirinya dari Surya. " Kamu gila, sana pergi jauh - jauh dariku ."
"Hedeh...kamu tidak bisa diam kalau belum dicium. " ucap Surya seraya mendaratkan ciuman paksa itu ke bibir Tika .
Dia mengulum kuat bibir itu. Merasakan hal yang sudah dia inginkan beberapa hari lalu yang tidak terwujud karena istrinya itu selalu mengelak dengan ribuan alasan dan tindakan.
Bibir lembut, lembab itu terlalu menggiurkan untuk dirasakan sampai Surya tidak sadar bahwa istrinya itu dari tadi berusaha mengelak dan meronta.
Surya tidak peduli dan terus - terusan menyapu bibir itu dengan gemas.
"Emphht..." suara itu yang selalu terdengar saat Tika berusaha keras melepasnya.
Seberapa tangguh dan kuatnya Tika meronta, tetap tidak bisa mengalahkan kekuatan suaminya yang ada di hadapannya saat ini. Sampai akhirnya, Tika pasrah dan lebih memilih diam tidak berdaya mendapati suaminya yang kini menguasai dirinya, mencium bebas bibirnya. Hal ini sungguh - sungguh membuat Tika mati rasa.
"Kenapa aku tidak marah? Kenapa tidak menampar Surya yang berusaha kurang ajar ini padaku?? Kenapa aku tidak berani?? Apa aku...apa aku...sudah mulai..." batin Tika.
Tika berusaha membuka matanya yang sudah lama ia pejamkan karena takut. Kini, dia menatap pemilik wajah yang sekarang terpejam bak bayi menikmati permainannya. Terus mencumbunya. Menautkan bibirnya dengan kuat namun terasa lembut dan menggairahkan.
Lama - lama kelamaan Tika lupa akan kemarahannya. Kerisihannya pada suaminya itu , entah alasannya apa, dia juga tidak mengerti. Yang jelas dia merasa kalau dia juga mulai ikut menikmati pemilik bibir yang dengan lihai menyapu bibirnya. Walau tidak membalasnya, dia merasa dirinya ikut merasakan ciuman yang kini benar - benar membuat hatinya berdebar kencang.
Beberapa menit kemudian, karena merasa heran Tika tidak meronta - ronta lagi, Surya melepasnya khawatir takut mendapati istrinya itu diam karena menangis.
Dia tidak melihat wajah itu menangis, dan tidak melihat ketakutan dari istrinya yang terdiam di hadapannya. Tika hanya menatap suaminya itu pasrah. Dengan mata tidak berkedip sedikitpun.
Setelah sadar ciuman itu sudah terlepas.
Dengan refleks Tika meletakkan kedua tangannya di jantung yang kini berdegup kencang itu. Dia Sendiri heran. Tapi, tetap terus tidak menghilangkan tatapannya pada Surya. Surya mengambil tangan Tika dan meletakkannya tepat di dada kiri miliknya. Sebuah degupan kencang pun terasa saat tangan Tika menyentuhnya.
Debaran jantung Surya, dia juga sama berdebarnya seperti Tika.
"Kau tidak marah?" Surya cukup heran karena tidak seperti biasanya Tika tidak mencerca dan memakinya setelah apa yang telah dilakukannya barusan. Dia terlihat biasa saja.
"Tidak ada waktu untuk marah . Tuh!" Tunjuk Tika ke arah jam dinding .
"Waktu sholat dhuhur segera habis."
Surya tersenyum mendengarnya. Tika yang tidak marah karena ciuman barusan membuatnya merasa kalau Tika yang berjalan menaiki tangga sudah mulai menyukainya.
"Tidak marah apanya?" Rutuk Tika dalam hati. Hah, aku harus menstabilkan emosiku. Arghhhhh, Surya ini benar - benar gila. Aku juga jadi gila seperti ini. Tapi, agak aneh sekarang menerima ciumannya. Hmmm, apa aku sudah terbiasa?"
__ADS_1
Bersambung...mohon masukkannya ya para kakak reader!