Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Belanja


__ADS_3

Pagi ini Surya sudah mulai bekerja di kantor. Dengan jabatannya sebagai CEO perusahaan PT ANDIKA dia menuju ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. Fasilitasnya mpun masih tetap sama saat terakhir dia bekerja. Papa mertuanya pun juga sudah membelikan mobil baru.


"Sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki di ruangan ini," ucap Surya, matanya berkeliling mengamati keadaan sekitar yang tak berubah. Pandangannya terhenti pada sebuah foto lama, foto almarhum ayahnya. Kini foto yang dimintanya dari pak Andik sengaja dia pajang di atas meja. Tentu memberikan kenangan yang sangat mendalam baginya.


"Ayah, aku telah kembali." ucapnya lirih seraya mengusap kaca bingkai foto.


Tok...tok...tok...terdengar seseorang mengetuk pintu membuyarkan kesedihannya yang hampir larut.


"Masuk!" ujar Surya seraya mengusap matanya yang terasa panas.


"Selamat pagi Pak Surya," sapa Tika setelah membuka pintu, dia berjalan mendekati Surya sambil membawa map. Tika kini ikut andil dalam mengurus perusahaan papanya.


Satu tahun lagi pak Andik akan pensiun, jadi Tika diminta untuk menggantikan posisinya sebagai Chief Financial Officer ( CFO ). Jabatan ini terdengar asing di telinga. Sebab tak seperti CEO yang aktif tampil di depan mitra bisnis maupun publik, seorang CFO cenderung melakukan pekerjaan di balik meja.


Sesuai namanya, Direktur keuangan atau CFO ini bertugas untuk mengatur arus kas keuangan perusahaan dan bertanggung jawab terhadap seluruh instrumen keuangan.


"Sayang, " sahut Surya seraya menampakkan senyum bahagia bisa sekantor dengan istrinya.


"Jangan panggil seperti itu, ketika kita sedang bekerja!" larang Tika tegas memperingatkan suaminya untuk lebih profesional lagi.


"Dan jangan panggil aku dengan sebutan 'pak' jika kita hanya berdua saja." Surya menaikkan alisnya, dia berdiri lalu berjalan mengitari meja kerjanya mendekati Tika.


"Lalu saya harus memanggil apa?" Tika menatap tajam suaminya.


"Panggil aku seperti biasa!" bisik Surya setelah begitu dekat dengannya, bisikan Surya terdengar menggelitik hingga terasa di leher jenjangnya.


"Mas," desah Tika manja saat Surya mulai memeluk pinggangnya dari belakang.


Mereka sesaat terbawa suasana menjalani kemesraan yang begitu hangat. Sedikit ciuman mesra di mulut dan leher.


"Ehem," suara teguran dari balik tubuh mereka. Sontak Surya melepaskan pelukannya dan berpura-pura membersihkan kemejanya yang tidak kotor. Surya segera duduk di kursi kebesarannya.


Tika merasa malu lantaran tergoda dengan sikap suaminya. Dia dengan cepat keluar ruangan setelah menaruh berkas di depan Surya.


"Ini salinan kas keuangan bulan ini, Pak,"


"Iya, terimakasih," sahut Surya serambi menerima map yang berada di depannya.


Tika menundukkan kepala hormat, setelah itu dia keluar dengan membawa perasaan malu dicampur senang.


"Pak Surya, ini dokumen yang harus segera Anda tanda tangani!" Rudi nyelonong masuk saja sambil menunduk saat melewati Tika.


"Terimakasih sudah membawanya kemari," sahut Surya seraya mengambil pulpen di meja dan menandatangani beberapa lembar dokumen penting.


Rudi mengangguk hormat juga, meski dalam hatinya ingin menggoda.


"Tunggu kejutan dariku!" batin Rudi tersenyum tipis seraya pamit undur diri dari ruangan Surya sambil membawa dokumen tadi.


Tak lama kemudian, masuklah seorang sekretaris wanita dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


"Pak Surya, selamat pagi Pak," bu Dian menundukkan kepalanya hormat lalu memandang atasannya.


"Apa jadwalku pagi ini?" tanya Surya datar seraya memakai jasnya.


"Belum ada Pak, tapi nanti saat makan siang akan ada tamu dari perusahaan tetangga yang ingin menyambut kepulangan Anda. Mereka ingin mengajak Anda makan siang." terang bu Dian.


"Siapa?" tanya Surya penasaran dengan pemilik perusahaan tetangga itu.


"Maaf Pak, mereka tidak mau menyebutkan identitasnya." bu Dian kikuk untuk menjawabnya, padahal saat menerima telepon tadi, dia sudah mendesak untuk mengatakan identitas dari tamunya. Ternyata inilah yang membuat dia khawatir, tak bisa menjawab saat ditanya atasannya.


"Hmmm, siapa mereka?" Gumam Surya lirih namun masih terdengar di telinga sekretarisnya. "Dimana mereka ingin mengajakku makan siang nanti?" tanyanya lagi.


"Di sebuah restoran China." Surya manggut -manggut mendengar laporannya. " Dan ada satu hal lagi Pak Surya yang ingin saya sampaikan kepada Anda." ujar sekretarisnya menghentikan pergerakan Surya yang akan beranjak dari duduknya.


"Katakan, apa itu!" sahut Surya lalu duduk kembali menyimak pembicaraan sekretarisnya.


Bu Dian memulai bicaranya,


"Ada dua orang perempuan yang sedang mengajukan lamaran di depan. Mereka juga mendesak ingin sekali bertemu dengan Anda." terang bu Dian kikuk takut atasannya marah karena belum bertanya dahulu sebelum membuat janji.


"Siapa?" Surya mengernyitkan dahinya sambil berpikir.


"Anda bisa melihat mereka di ruang tunggu," lalu bu Dian menundukkan kepalanya lagi.

__ADS_1


"Baik, saya akan ke sana sendiri untuk melihat mereka." Surya bergegas menuju ruang tunggu.


Ceklek...


"Surya..." sapa Tesa saat menoleh dan melihat siapa yang masuk. Dia sontak berdiri sambil melambaikan tangan.


Surya bengong sejenak tak percaya yang dia temui.


Tiwi pun sana, berdiri di sebelah kanan seraya mendekatkan mulutnya ke kuping Tesa.


"Ssstt...! Yang sopan, kita seharusnya memanggil dia dengan sebutan pak, dia CEO di perusahaan yang akan kita lamar ini," bisik Tiwi namun Surya masih bisa mendengar.


"Percuma berbisik, aku sudah terlanjur mendengar obrolan kalian." sahut Surya sambil menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Dia berjalan melewati Tesa dan Tiwi lalu duduk di depan mereka.


Mereka berdua dipersilahkan duduk.


"Aku pikir siapa yang ingin ngotot menemui ku, ternyata kalian berdua." Surya mendesah.


"Hehehe, pasti Tika lupa. Dulu aku sudah pernah memintanya untuk menanyakan lowongan pekerjaan di sini. Tapi, sekian lama tak ada sahutan." celetus Tesa.


"Benar, bahkan Tika susah sekali dihubungi akhir -akhir ini, bagai di telan bumi saja. Saat kita ke rumahnya saja terasa sepi seperti kuburan. Hii...serem deh." tukas Tiwi.


Ternyata dua sahabat Tika ini tak pernah mendengar tentang berita Tika yang baru saja dialaminya.


"Masa? " Surya menekankan, " Lalu kemana saja kalian selama empat bulan yang lalu?" mencoba mengorek informasi lantaran mereka berdua terlihat biasa saja tanpa ekspresi ikut prihatin atas peristiwa yang ia lewati.


"Kami berdua baru satu minggu di Jakarta." sahut Tesa.


"Setelah ijasah keluar, kami terbang ke Australia untuk menjenguk Brian teman kuliah kamu dulu." imbuh Tiwi mencoba mengingatkan Surya tentang sahabatnya.


"Brian?" Surya membulatkan matanya kaget, "Bagaimana kabarnya? Aku sudah lama sekali tak berkomunikasi padanya." tanyanya penasaran.


"Ternyata orang tuaku masih ada hubungan darah dengan dia. Jadi, intinya kami masih saudara dengan dia. Kami mendengar dari salah satu tetangga kami yang bekerja di sana dia sedang jatuh sakit. Saat dia sakit dan masuk rumah sakit tak ada familinya yang menemani dia di sana. Dan akhirnya kami berdua memutuskan terbang ke Australia untuk menjenguk sekaligus merawat dia sampai benar -benar pulih." terang Tesa.


"Sakit apa dia, cowok kuat semacam Brian ternyata bisa jatuh sakit juga." Surya semakin penasaran dengan sahabatnya itu.


"Asma," imbuh Tiwi singkat.


Surya manggut -manggut mendengar cerita penggemar beratnya itu, sampai -sampai lupa akan maksud kedatangan mereka.


"Berita apa?" gantian mereka berdua yang dibuat penasaran.


"Coba kalian tanya sendiri pada Tika. Dia ada di kantor ini juga." terang Surya, lalu dia beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.


"Tunggu!" teriak Tiwi membuat Surya menghentikan langkahnya. Surya menoleh. Tiwi berdiri mengarah pada punggungnya.


"Bagaimana dengan nasib kami. Apa kamu bisa menerima karyawan baru lagi?" tanya Tiwi seolah sudah disetujui bekerja di kantornya.


Surya hanya melempar mereka dengan senyuman lalu pergi.


"Apa artinya tadi?" Tesa ikut berdiri juga.


"Entahlah, aku juga nggak ngerti. Kita diterima atau ditolak. Mending kita cari Tika." ajak Tiwi.


"Ayo!"Mereka berdua keluar dari ruang tunggu.


"Ngapain tadi kita nggak tanya langsung ke Surya, Tika bekerja dibagian apa?" Tiwi mendesah kesal.


"Iya ya, kita kolot sekali, sampai-sampai lupa menanyakan itu."


Tika baru saja turun dari lantai atas hendak pergi keluar untuk fotocopi.


"Itu, Tika," Tesa menunjukkan jarinya ke arah lift, "Tika!" teriak Tesa sangking senangnya karena lama tak bertemu.


Mereka bertiga saling berpelukan melepas rindu. Tika mengajak kedua sahabatnya itu menuju kantin. Disana mereka bercerita satu sama lain. Bukan main terkejutnya Tesa dan Tiwi saat mendengar kisah Tika, sesaat dengan ekspresi marah, melotot, terkadang juga tersenyum. Yang parahnya lagi, mereka juga bisa menangis mendengar deretan kisah yang dialami Tika dan Surya.


.


"Tedi, " sapa Surya saat menjamu tamunya di restoran China itu. Dia menjabat tangannya. Ternyata tamu bisnisnya adalah Tedi.


"Selamat atas kesembuhan kamu!" ucap Tedi dengan seulas senyum.


Surya bergantian mengulurkan tangannya pada rekan Tedi.

__ADS_1


"Dewi, apa kabar?" tanya Surya datar, sebenarnya dia malas untuk menyapanya, tapi karena adanya Tedi jadi dia merasa canggung.


"Baik, kamu?" Dewi balik bertanya dengan sikapnya yang biasa -biasa saja, kini dia mulai bisa melupakan Surya.


"Alhamdulillah, cukup baik." sahut Surya dingin.


Mereka bertiga duduk saling berhadapan, awalnya hening tak ada pembicaraan hanya saling diam dan melempar pandangan.


"Aku sengaja memberimu kejutan ini." ucap Tedi mencairkan suasana yang sedari tadi memanas. "Jika aku memberi tahu siapa yang akan mengajakmu makan siang itu aku, kamu pasti akan menolak." sambungnya.


"Tidak juga, aku justru senang jika bisa bertemu kamu lagi setelah kita terakhir bertemu di rumah sakit." ucap Surya sambil mendesah, dia memulai menata perasaannya agar tak tersulut emosi dengan adanya Dewi.


Tedi yang menyadari gelagat Surya akan adanya Dewi, dia mencoba menerangkan tujuan utama untuk bertemu.


"Sengaja aku meminta bertemu denganmu hanyalah menyampaikan kabar kalau aku dan Dewi akan menikah." Surya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Benarkah, itu berita yang sangat bagus." Surya menyunggingkan senyum.


"Jika aku yang bertemu Tika, pasti dia akan marah dulu sebelum aku memberitahunya. Dia kini semakin galak saja." Tedi mencoba bergurau, meski itu bukan tipenya.


"Dia tak seburuk yang kamu pikirkan. Selamat Dewi, akhirnya kamu akan menikah juga." Surya menatap Dewi, sempat ia berpikir buruk tentang keberadaannya yang semakin bebas setelah keluar dari penjara.


Lama mereka berbincang sampai pada akhirnya Surya pamit undur diri karena sudah janji pada Tika untuk pergi ke suatu tempat.


.


"Mas kamu dari mana saja? Aku hampir jamuran nungguin kamu." keluh Tika sambil bersendekap.


"Maaf sayang, tadi ada meeting." Surya berbohong, dia sengaja menyembunyikan pertemuannya dengan Tedi dan Dewi tadi.


"Jadi kan kita jalan -jalannya?" tanya Surya seraya merangkulnya menuju parkiran mobil.


"Jadi dong, ayo!" Tika melepas rangkulan Surya di pundaknya dan memindahkan di pinggangnya.


"Nah, ini malah makin romantis." tukas Surya. Mereka berjalan sampai di mobil. Surya membukakan pintu untuk Tika, Tika masuk dan duduk di sebelahnya.


Mereka menuju ke mall yang dulu pernah Tedi dan Tika tuju, ternyata semalam Tika merengek untuk diajak jalan -jalan ke mall. Surya menyanggupi asal setiap hari diberi jatah untuk si kecil agar masuk ke sarangnya.


Tika tampak bingung untuk memilih pakaian, Surya yang sedari tadi mengantar Tika bolak - balik ke sana ke sini mengikutinya kini terlihat sangat lelah.


"Tika, sampai kapan kamu mau pilihnya?" Surya mendesah kesal.


"Aku bingung Mas, mau pilih yang mana, semuanya bagus-bagus. Rasanya ingin memiliki mereka semua." sahut Tika asal, tanpa menatap suaminya yang sedari tadi menahan capek. Dia tengah asyik menatap baju-baju yang tergantung di depannya.


"Ya sudah, sini ikut aku!" Surya menggandeng istrinya menuju kasir. Tika yang tak paham dengan maksud suaminya menurut saja.


"Mbak, tolong bungkus semua baju yang ada di sini!" ucap Surya seraya memberikan kartu ATM nya.


"What...!" Tika membelalakkan matanya tak percaya, yang tadinya asal bicara kini malah jadi kenyataan.


"Aku nggak salah dengar Mas, kamu mau memborong baju yang ada di sini, semuanya ?" Tika seolah mengulangi pernyataan suaminya.


Surya hanya mengangguk cepat.


Akhirnya mereka pulang dengan membawa satu truk berisi baju milik Tika semuanya.


"Aku mau coba yang ini, " ucap Tika seraya memperlihatkan tubuhnya di depan cermin. Surya yang sedari tadi mengamati dia di atas ranjang hanya geleng -geleng kepala.


"Lalu mau kamu kemanakan baju-bajumu yang lama?" tanya Surya yang mulai turun dari ranjang mendekati istrinya yang sedang mencoba baju baru nya.


"Emmm, aku kasihkan bi Romlah dan bi Atik saja," tukasnya.


"Mereka kan sudah tua, mana cocok?" Surya mengejek niat baik istrinya.


"Kan bisa untuk anak-anak mereka," imbuh Tika yang kini sudah memakai baju tidur mini dress.


"Emang kamu tahu anak-anak mereka, iya kalau anaknya cewek. Kalau anaknya cowok semua? Masa kamu suruh pakai baju-bajumu?" Surya mulai menelan salivanya saat dada Tika terbuka.


"Ih Mas Surya, jahat. Aku benci kamu! Masa niat baik nggak boleh, ya terserah mereka mau apa dengan baju -bajuku." gerutu Tika seraya memonyongkan bibirnya.


Surya tak tahan lagi melihat penampilan Tika yang terbuka semuanya. Terlebih gaya Tika yang memonyongkan mulutnya itu. Surya melahapnya tanpa persetujuan yang punya bibir.


Tika mendelik, dia tak menyadari kalau Surya sudah menguasai dirinya. Surya melepaskan ciuman panasnya dan membopong Tika naik di atas ranjang.

__ADS_1


"Aku minta ya?" tanya Surya yang disahut dengan anggukan kepala dari wanita yang sudah ada di kungkungannya.


__ADS_2