
Tika menelan ludahnya, sambil cemberut.
"A...ak" Surya menyodorkan tangannya lagi. Tika memalingkan wajah imutnya.
"Ayo buka mulutmu, masa begitu saja marah. Nanti cepat tua lo..." bujuk Surya. Tika masih terdiam dan cemberut.
"Kalau kamu tidak makan aku habiskan semua tanpa sisa!" Surya mulai kesal. Tika masih terdiam.
"Satu, dua, ti..." Surya mulai menghitung.
"A...k!" Tika dengan cepat membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kok pakai tangan, jijik ah..." elak Tika.
"Eissss...kalau pakai sendok nanti tidak terlihat ada durinya. " bantah Surya. Tika melahap dengan cepat.
"Aku sangat lapar, terlalu lama berenang membuat perutku terasa melilit . Terpaksa aku makan dengan tangannya." batin Tika.
Dengan telaten Surya menyuapi istri manjanya itu.
"Ada nasi di pipimu..."ucap Tika seraya menunjuk ke wajah Surya.
"Mana..." Surya mencoba membersihkan dengan tangan kirinya.
"Di situ..."
"Mana..."
Tika rada mendekat dan menjumput dengan dua jarinya. Nafas mereka beradu, Surya jadi salah fokus pada dada Tika yang agak terbuka sedikit. Surya menelan ludahnya.
"Nih, aku tidak berbohong kan..." menunjukkan nasi ditangannya pada Surya.
"Selesai makan siang, aku mau ke rumah lamaku. Apa kau mau ikut?" tanya Surya seraya membereskan bungkus gurame bakar.
"Mau, aku ke kamar dulu." pamit Tika seraya bergegas menuju lantai atas.
Tika memoles wajahnya seperti biasa, kali ini dia memilih lipstik berwarna merah marun. Tak lupa mengoleskan handbody lotion ke leher, tangan dan kaki. Tika meraih tas kecilnya, memasukkan handphone dan alat make up nya. Selesai berdandan Tika ke bawah, Surya sudah menunggunya.
"Ok, aku sudah siap !" ucap Tika seraya membenahi rambutnya.
Surya tertegun sejenak menatap paras istrinya yang begitu cantik, tapi tak berani dia mengakuinya.
"Lama banget, dandan segala!" ucap Surya seraya merogoh kunci mobil di saku celana.
"Ya, iya lah...Tika gitu...loh!" sahutnya seraya berjalan mendahului Surya.
Sampai di depan pintu.
"Surya...Surya...!" Tika memanggil dengan histeris.
"Ada apa?" Surya berlari menghampiri Tika khawatir terjadi sesuatu .
"Mobil siapa ini, bagus banget !" Tika mengitari mobil dengan terkagum - kagum.
"Aku kira ada apa, bikin jantungku mau copot saja. Mobil ini punyamu." Mendekati mobil.
"Benarkah, papa yang membelikan ini? " tukas Tika.
"Bukan, aku yang membelikannya untukmu. Sebagai hadiah untuk istriku." jelas Surya datar. Membuat jantung Tika seketika berhenti berdetak, mendengar Surya memanggilnya istriku.
"Kamu, dapat uang dari mana?"
"Kepo...ayo, cepat masuk nanti keburu sore!" Tika bergegas masuk dan duduk di sebelah Surya.
"Bukankah cowok kampungan ini baru bekerja di kantor papa. Masa secepat itu gajian. Mana mungkin gajinya cukup untuk membeli mobil sekeren ini. Aku akan selidiki ini." batin Tika.
Surya mengendarai mobil barunya menuju rumah lamanya.
Sesampainya di rumah Surya.
"Ini rumahmu, kecil sekali..." gumam Tika.
__ADS_1
"Hemmmm..." desah Surya geram rumah sebagus ini dikatain kecil. Surya mengemasi baju - bajunya, milik ibu dan adiknya.
"Banyak sekali penghargaan yang kamu peroleh." menunjuk pada lemari yang penuh piala dan beberapa foto kenangan.
"Tentu, Surya gitu loh..." Seraya mengambil gitar miliknya yang bersandar pada sebuah meja.
"Ih, dasar tukang foto copi, itu kan kalimatku." gerutu Tika seraya mengamati Surya.
"Kamu bisa bernyanyi?"tanya Surya seraya duduk di sebuah kursi tua, Tika menggeleng dan duduk disebelahnya.
Surya menyanyikan sebuah lagu milik the baginda's.
🎶 🎸 🎶
Berapa kali ku harus katakan cinta
Berapa lama ku harus menunggumu
Di ujung gelisah ini aku
Tak sedetik pun tak ingat kamu
Namun dirimu masih begitu
Acuhkan ku tak mau tahu
Luka luka luka yang ku rasakan
Bertubi tubi tubi engkau berikan
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Tapi aku balas senyum keindahan
Bertahan satu c i n t a
Bertahan satu c i n t a
Bertahan satu c i n t a
Bertahan satu c i n t a
"Suara kamu jelek." ledek Tika sambil beranjak dari tempat duduknya. Surya hanya mencibirkan mulutnya. Selesai mengemasi barang - barang, Surya dan Tika pulang.
"Aku akan mengantar baju ibu dan Anis dulu ke rumah Papa." Tika mengangguk, Surya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat di pertengahan jalan.
"Awas...!" teriak Tika.
"Hampir saja aku menabraknya." Surya mengerem mendadak.
"Aku akan melihatnya." Keluar mobil dan kembali dengan seekor kucing.
" Apa aku boleh memeliharanya?" Pinta Tika.
"Kalau kamu suka, rawatlah!"
"Kamu lucu sekali, aku beri nama siapa ya...?"
"Kucing itu cowok atau cewek? "
" Tak tahu..."
"Hedeh, kamu tahunya apa sih!" keluh Surya lalu melihat di bawah ekor kucing.
"Cowok!" ujar Surya seraya melajukan mobilnya.
"Aku beri nama ..."
"Alah, panggil saja paijo, atau tejo..." ledek Surya.
"Jelek....Aku beri nama Mr. Black saja, sesuai warna rambutnya." Surya hanya menggeleng saja tanpa komentar.
__ADS_1
Sesampainya di rumah pak Andik Surya menurunkan tas besar berisi pakaian ibu dan Anis. Kemudian mereka berdua pamit pulang ke rumah baru.
" Nanti kita beli makanan kucing ya..." rengek Tika saat masuk mobil.
"Ya, sekalian kita belanja keperluan dapur, untuk mengisi kulkas yang masih kosong." Tika mengangguk seraya mengelus kucing barunya. Kucing itu tertidur di pangkuan Tika.
"Hedeh, ni kucing baru mendapatkan majikan cantik saja langsung bisa tidur di pangkuannya, sementara aku baru jadi suaminya saja belum pernah tidur di pangkuannya ."batin Surya iri dengan Mr Black.
Sesampainya di sebuah indomart. Tika meninggalkan kucingnya yang tertidur di mobil.
"Aku mau beli es krim. Tenggorokanku terasa kering." Tika berjalan mendahului Surya masuk ke dalam indomart.
Selesai memilih es krim, Tika bersandar pada salah satu rak dan memperhatikan Surya.
" Maaf, ada yang jatuh!" ucap salah seorang gadis remaja yang berdiri di belakang Surya.
"Apa, aku sudah menikah." sahut Surya datar seraya menoleh ke arah sumber suara.
"Ih, aku hanya memberi tahumu. Pulpen kamu jatuh!" sahut gadis itu dengan nada tinggi dan kesal seraya memungut dan memberikan ke Surya.
"Oh, terima kasih."Surya menerima pulpen dengan rasa malu dan gadis itu bergegas pergi.
Tika dari kejauhan hanya senyum - senyum sendiri, Surya mengetahui itu dan semakin malu.
Beberapa menit kemudian terdengar seorang pria berbicara dari belakang Tika.
"Mbak, maaf sepertinya ada barang kamu yang jatuh ." ujar pemuda yang berdiri di belakang Tika.
Tika menoleh ke bawah.
"Pesona dan kecantikanmu yang jatuh, sehingga membuat aku tak sanggup untuk menampungnya." ujar pemuda tadi.
Tika bengong, bingung mau menyangkal .
"Dia istriku." ucap Surya datang menghampiri Tika seraya merangkulnya.
"Maaf, kalau begitu. Sekali lagi maaf!" ucap pemuda itu takut dan bergegas pergi.
Tika dan Surya tertawa bersama. Surya melanjutkan belanjanya.
Surya memilih dan memilah semua barang yang dibelinya, mulai dari : telur, gula, garam, beras, mie instan, dan beberapa keperluan dapur lainnya.
" Banyak sekali yang kamu beli." ucap Tika sambil membantu mendorong troli.
"Iya, buat stok di rumah. Kamu sudah beli makanan kucing?"
"Aku lupa...untung kamu ingatkan." bergegas menuju ke rak makanan kucing.
Selesai membayar ke kasir Surya menenteng 3 keresek merah, lalu memasukkan ke bagasi.
Sesampai di rumah, Surya meletakkan belanjaan di dapur dan memasukkan beberapa barang ke kulkas.
"Ada yang ingin aku katakan!" ucap Tika menghampiri Surya di meja makan.
"Apa..." seraya memindahkan dua bungkus bakso ke mangkuk.
"Aku tidak mau tidur sekamar denganmu." ucap Tika membuat Surya terdiam.
"Kamu tidur di kamar bawah saja." perintah Tika Surya masih terdiam.
"Kenapa diam? Toh, diantara kita tidak ada rasa cinta. Jadi, kamu hargai keputusanku." jelas Tika.
"Iya...bawel, dasar nenek sihir!" gerutu Surya.
"Ih, siapa juga yang nenek sihir."
Suasana hening, hanya bunyi sendok dan mangkuk terdengar saat mereka makan.
"Aku sudah selesai, aku ke kamar dulu." pamit Surya seraya membawa gitar dan tas ransel menuju kamar yang dimaksud Tika.
"Apa dia marah? Apa aku salah mengambil keputusan ini..." gumam Tika. Selesai makan malam dia naik ke atas menuju kamar bersama Mr. Black.
__ADS_1