Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
The Diamond Wedding Gown


__ADS_3

"Mas Surya, jangan pergi Mas ! Jangan tinggalkan aku ! Ku mohon, kembalilah padaku." Tika di tengah tidurnya bermimpi tentang Surya yang menggandeng tangan seorang pengantin.


"Tidak! Kamu masih suamiku, Mas. Aku tidak mau dimadu. Tidak...!!" Tika melihat Surya tengah melantunkan ijab qobul dengan lantang dan tegas. Namun, bukan dengan dia pembelai wanitanya.


"Tidak...!" Dia mengerang, melempar selimut hingga jauh ke lantai.


"Syukurlah, hanya mimpi," ucapnya lirih. Dia mencoba untuk tidur kembali namun, matanya tak bisa diajak kompromi, jujur dia masih ngantuk. Dia melihat jam di dinding tampak remang - remang yang masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Karena tak bisa memejamkan mata dia menguatkan badannya untuk bangun, dengan sisa tenaganya dia berhasil berdiri meskipun sedikit mengantuk. Sesekali dia mengucek kedua matanya dan menguap, akhir sepertiga malam sangat ampuh untuk berdoa. Lalu bergegas dia mengambil air wudhu dan sholat 2 rakaat. Selesai salam dia menengadahkan tangan dan berdoa secara khusuk dan khidmat.


"Ya Allah, aku tahu suamiku belum meninggal, jadikanlah suamiku cinta mati padaku dan kembalikan dia padaku, dengan rahmat-Mu wahai Sang Maha Penyayang diantara penyayang. Aamiin..." dia menyapukan kedua tangan sambil memejamkan mata dia bersimpuh.


Dia tak beranjak dari tempat sujudnya hingga waktu adzan subuh tiba, segera dia sembahyang sholat subuh, selesai menuntaskan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia melepas mukenanya dan melipatnya rapi. Tika sudah berjanji pada diri sendiri, jika usahanya mengajak Surya pulang berhasil, dia akan menjadi seorang istri idaman. Lalu berdiri dan berjalan turun menuruni tangga menuju kamar Surya, hendak mencari dokumen penting. Karena semua berkas tentang pernikahannya dan dokumen lain ada di brankas kamar Surya.


Tika sedikit duduk berjongkok di depan brankas, memutar kode brankas, tentu saja ini pekerjaan sangat mudah baginya. Ia pasti berhasil dengan cepat. Setelah dia menekan kode tanggal, bulan dan tahun pernikahannya, apa yang terjadi ? Brankas tak dapat dibuka, dia mencoba mencari kode lain yang dapat membuka pintu brankas. Seingat dia, Surya pernah berkata kalau kode brankas itu adalah hari spesial buat dia. Tapi mengapa tanggal pernikahan itu tak dapat membuka pintu brankas?


"Aku pikir tanggal pernikahan kita adalah hari spesial buatmu, nyatanya bukan. Lalu apa?" Tika menggaruk tengkuknya. Tika terlihat muram dan sedih lantaran belum berhasil. Dia termenung sesaat, memikirkan hari spesial itu? Waktu berlalu dengan cepat, hampir satu jam dia di kamar Surya. Berjalan mondar - mandir bak baling-baling.


"Bagaimana kalau ini?" Tika berjongkok lagi, menebak tanggal lahir Surya adalah hari spesial itu. Dia perlahan menekan kode tersebut.


"Ini pasti berhasil, cepatlah! Aku sudah tidak punya waktu lagi." gerutunya pada benda besi itu. Namun, masih gagal. Bukan tanggal lahir Surya.


"Ini tidak mungkin, sudah dua kali aku gagal. Apa hari yang spesial buat dia ya..." Tika menopang dagu sambil berpikir sejenak.


"Ya, aku tahu! Pasti hari ulang tahunku. Tidak salah lagi, kali ini pasti berhasil!" ucapnya bersemangat. Dia menekan kode tanggal lahirnya sendiri. Dan benar saja, pintu brankas langsung terbuka. Seketika itu wajahnya sumringah dan memandangi setumpuk map yang nampak sarat. Setelah bergelut dengan map- map yang menumpuk akhirnya dia menemukan dua buku nikah, foto akad nikah dan fotocopi KTP. Dia memasukkan dokumen yang baginya penting itu ke dalam tas yang tidak terlalu kecil. Lalu berkas yang lain, ia simpan kembali di sebuah map dan menaruhnya di brankas kamar Surya.


Setelah menyiapkan dokumen penting dia segera mandi. Selesai mandi dia segera bergegas menuju dapur untuk memasak, berbagai menu ia sajikan di atas meja makan berharap sepulang dari rumah Dewi bisa membawa Surya pulang ke rumahnya mengajak makan bersama. Aneka masakan yang dia buat seperti : capcay, tahu petis, dan udang goreng serta gurami bakar.


"Semua masakan ini adalah kesukaanmu, mas. Jadi, kumohon pulanglah bersamaku nanti." ucap Tika sambil memejamkan mata. Hatinya hanya berharap bisa menggagalkan acara pernikahan yang diadakan di rumah Dewi nanti siang.


Selesai sarapan, Tika mendengar suara keributan di luar rumah. Ternyata, Tika dikejutkan dengan kehadiran sejumlah reporter.


"Miss Ti, saya dengar suami Anda masih hidup dan hari ini akan menikah, benar begitu?" tanya seorang wanita tengah mewawancarainya di ruang tamu.


"Kurasa kalian sudah tahu itu, jadi aku tidak mau kalian meliputku terlebih dahulu, simpan berita itu nanti saat rencanaku berlangsung." jelas Tika, wartawan wanita itu mengangguk mengerti sambil menyuruh Reni untuk mengkondisikan suasana.

__ADS_1


Kedatangan Reni bersama reporter itu membuat suasana gaduh lantaran mereka haus akan informasi, Reni meminta pada wartawan agar saat di acara pernikahan yang akan dituju nanti berjalan sesuai rencana dan tidak mengajukan pertanyaan di luar prosedur.


Reni menuju kamar Tika, membantu Tika memakai gaun pengantin yang kemarin ia beli dengan seharga 1 unit mobil. The Diamond Wedding Gown namanya, gaun yang indah dan tidak ada duanya itu berwarna silver dan penuh payet yang terbuat dari berlian. Bak bidadari turun dari langit ia mengenakan gaun itu. Sedikit ekor yang menyapu lantai.


Dia duduk di depan cermin riasnya.


"Mereka berdua hari ini akan menikah, betapa bahagianya mereka. Dewi, tunggu hadiah dariku untukmu, kamu tidak semudah itu merebut Surya dariku. " ucapnya sambil memoles bibirnya.


"Aku akan selalu ada bersamamu, Miss." ucap Reni sambil menepuk pundak Tika.


"Terimakasih Mbak, kamu telah menjadi teman dan sandaranku ."


"Anggap saja kita bersaudara. Jadi, jangan sungkan untuk minta tolong padaku." Reni membantu Tika menyanggul rambutnya.


Agak lama mereka berdua berada di kamar Tika, suara klakson mobil terdengar di bawah.


"Ada tamu, Miss! Siapa?" tanya Reni sedikit rikuh, lantaran dia tak pernah keluar rumah selain pergi ke tempat kerja dan tak pernah bertemu dengan orang asing.


"Oo...itu Rudi," sahut Tika membuat Reni semakin malu, lantaran Reni menyukai Rudi saat pertama kali bertemu di butik.


"Asisten pribadi mas Surya, dia yang akan mengantarkan kita ke rumah orang yang telah mengundangku." Tika mengetahui perubahan wajah Reni yang memerah.


"Hallo, Mbak, ada apa denganmu? Pipimu merah sekali seperti tomat." gurau Tika membuat Reni semakin tersipu malu.


"Tidak ada, Miss!" sahut Reni sambil melambaikan tangan dan menggeleng.


"Tolong kamu bukakan pintu dan buatkan dia teh atau kopi!" perintah Tika yang masih sibuk merias wajah.


"Aku, Miss!" Reni memandang Tika seolah meyakinkan perintahnya. Tika mengangguk, sepertinya Tika mengetahui kalau Reni menyukai Rudi.


Reni bergegas keluar kamar menuju pintu depan.


"Silahkan masuk, Mas!" ucap Reni ketika membuka pintu dan sosok pria berambut klimis memakai jas hitam, celana hitam dan semuanya serba hitam membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Mbak Tika sudah siap?" tanya Rudi dengan gaya sok keren dan elegan.


"Tinggal sedikit lagi, " sahut Reni yang mulai terpesona dengan penampilan Rudi.


"Kalau begitu, saya tunggu di luar saja." ucapnya sambil duduk di kursi yang ada di teras.


"Mau minum kopi atau teh?" dengan sedikit ragu-ragu dan malu Reni menawarkan.


"Kopi saja, Mbak!" sahutnya lekas.


"Jangan panggil mbak, panggil saja saya Reni." sambil berlalu karena malu Reni menuju dapur untuk membuat kopi.


"Reni, sepertinya nama yang manis semanis orangnya." gumam Rudi yang ternyata juga menyukai Reni.


Rudi diminta untuk menjadi sopir Tika mengantar ke rumah Dewi. Setelah Rudi menghabiskan kopinya, Tika turun dari lantai atas.


"Wow, Mbak Tika cantik!" Rudi mengacungkan dua jempolnya. Diikuti Reni.


"Bagaimana, kalian sudah siap?" tanya Tika sambil menenteng tas hitamnya.


"Siap!!" sahut Rudi dan Reni bersamaan. Mereka bertiga tertawa bersama.


Sebagai rasa senang yang tak karuan karena Rudi berhasil memberikan kabar gembira tentang Surya, Rudi dibelikan mobil Lamborghini Gallardo seharga 5 milyar yang ia pakai untuk menjemput Tika.


"Wah, mobil mewah. Ini baru kan?" Reni sedikit kepo dan mulai mengelilingi Lamborghini itu.


"Tentu saja, ayo naik!" ajak Tika, Tika duduk di belakang, Reni membantu merapikan The Diamond Wedding Gown.


"Mbak, kamu duduk di depan saja." perintah Tika saat Reni membuka handel pintu.


"Tapi Miss..." Reni ingin menolak tapi Tika tetap memaksanya.


"Kalau kamu duduk denganku, aku kesempitan." Tika ngeles. Akhirnya Reni dengan terpaksa mau-mau malu duduk di samping sopir.

__ADS_1


Lamborghini itu melaju dengan elegan menuju rumah Dewi, dengan diam - diam reporter yang disuruh Reni mengikuti sedikit menjauh agar tak terlihat mencurigakan.


Pukul 11.00 tepat dia sudah tiba di sebuah rumah yang cukup gede di kompleks itu.


__ADS_2