
Siang ini, tanpa berpikir panjang setelah melihat perlakuan Surya terhadap Tika, terbesit dalam benaknya untuk membuntuti Tika pulang. Entah mengapa rasa cemburu memburunya. Mungkin karena rasa cintanya yang mendalam pada mantan kekasihnya itu. Tedi masih belum terima kalau dia sudah putus. Sepanjang perjalanan, Tedi mengemudikan mobilnya dengan menjaga jarak agar tak dicurigai Surya. Hampir 30 menit lamanya perjalanan yang dilalui Tedi, dan alhasil sukses tanpa ketahuan. Tedi membuntuti mobil Surya sampai di rumahnya. Rumah yang cukup besar, sehingga mudah menghafal sekali melihat saja.
Kini dia memarkir mobil hitamnya di tepi jalan yang tak terlalu jauh dari halaman rumah Surya yang terpampang sangat luas.
"Surya membawa Tika ke rumah mewah ini? Mau apa dia? Dasar sopir mesum, bisa - bisanya dia nekat membawa kekasih hatiku ke sini. Kira - kira rumah siapa ini? Atau Tika sudah pindah rumah?" Gumam Tedi saat menghentikan mobil hitamnya. Gelagatnya yang tak bisa duduk tenang ingin dirinya meninju muka Surya, mengingat misi nya hanya mengintai jadi, dia urungkan niat untuk menghajar Surya.
"Aku akan mencari tahu tentang ini. Aku tidak terima Surya yang menjadi sopir pribadinya, aku akan membuat rencana agar Surya dipecat dari pekerjaannya."ucap Tedi seraya menerima sambungan telepon dari ayahnya.
"Tedi," panggil suara dari arah seberang.
"Iya Ayah, ada apa?" sahut Tedi.
"Segera ke kantor sekarang ! Ada berkas yang harus kamu pelajari."
"Baik Ayah, Tedi segera ke sana!" sambungan telepon dimatikan, Tedi segera menghidupkan mesin mobil lalu melajukan mobilnya menuju kantor.
Selesai sholat dhuhur, Tika dan Surya berjalan bersandingan menuju meja makan dan tidak banyak bicara. Yang satu dengan aksi bungkamnya dan air muka yang kesal, lalu yang satu lagi malah tersenyum - senyum dengan air muka yang sungguh bahagia.
Tika menghentikan langkahnya tiba - tiba. Menoleh pada Surya yang ada di sampingnya sambil memincingkan matanya.
"Kamu puas telah menciumku, Surya si Cowok Kampungan???" umpat Tika yang masih kesal.
Surya mulai mengangguk ragu sambil tersenyum pada istrinya yang sekarang gencar membahas perkara ciumannya.
"Apa...kau merasa...aku...suka padamu??" tanya Tika ragu - ragu pada suaminya yang wajahnya terlihat berseri - seri 3 kali lipat dari matahari .
Lagi - lagi Surya mengangguk.
"Geer. Aku sudah membuat daftar permintaan. Kau jangan macam - macam padaku. Janji? Aku tidak mau diperlakukan seperti tadi lagi." pinta Tika tiba - tiba berubah tegas.
Surya langsung mencubit pipi Tika gemas. "Nenek Sihir...kamu sungguh menggemaskan."
"Akh...hentikan, aku bukan anak kecil lagi, jangan sembarangan mencubit pipi orang." Tika menangkis tangan Surya, seraya berjalan menuju meja makan.
"Ingat saja, semakin kamu mendekati Tedi atau hal semacam itu. Aku bisa saja memperlakukanmu lebih dari ini!" ucap Surya seraya menarik kursi.
"Hal semacam itu? Apa maksudmu?" tanya Tika sambil duduk di hadapan Surya.
"Kamu jangan sok kegenitan atau alih - alih mencari perhatian sama dia."
"Siapa juga yang genit. Aku dan dia hanya rekan kerja, tidak lebih." Tika menekankan pada kata tidak lebih.
"Aku pegang omonganmu!"Surya menatap lekat wajah istrinya.
"Tali kali yang dipegang." sahut Tika ketus, Surya hanya menampakkan senyum tipis.
Surya dan Tika makan siang dengan menu sayur bening dan tahu goreng. Masakan sederhana ala bi Sumi.
"Sayurnya seger...pintar bi Sumi kalau masak." puji Tika seraya menikmati makan siangnya dengan lahap.
"Iya, tidak salahkan aku mempekerjakannya."
sahut Surya bangga dan merasa paling pintar dalam mengurus rumah tangga.
"Hmmm...besok aku suruh dia masak ini lagi ah," ucap Tika tampak senyumnya yang manis seakan - akan lupa dengan kejadian tadi.
"Hedeh... kamu seenaknya sendiri, ganti menu dong, bebek goreng atau ayam goreng gitu..." saran Surya asal mengucapkan saja.
"Ingat penyakitmu!" celetus Tika teringat maag Surya yang mungkin bisa saja kambuh sewaktu-waktu.
"Iya, ya...kamu perhatian deh, aku suka kamu yang seperti itu." tanpa dia sadari, Surya mencolek ujung hidungnya. Terlihat mukanya yang masam, Surya tak henti-hentinya mengusili dia.
"Ih, dasar cowok kampungan. Aku kan cuma mengingatkan." dengan cepat dia menarik tisu yang ada di atas meja makan dan mengusap bekas colekan di ujung hidungnya.
"Sama saja, mengingatkan ujung - ujungnya kan perhatian. Biarpun aku kampungan, tetep ganteng kan?" Surya menekankan.
"Beda..." Tika tak sependapat dengannya.
"Sama!"
Keduanya saling beradu mulut, hingga berhenti saat panggilan telepon masuk dari ponsel Surya.
"Hallo..." sahut Surya setelah menekan tombol on pada layar ponselnya.
"Hallo, Surya!" panggil pak Andik dari arah seberang. Terdengar sedikit panik.
"Iya, Pa. Ada apa?"sahut Surya dengan memposisikan duduknya senyaman mungkin untuk menyimak pembicaraan dari mertuanya.
"Segera kamu ke kantor sekarang, ada masalah di gudang yang harus kamu lihat!" suara pak Andik terdengar gelisah.
"Baik, Pa!" sahut Surya, panggilanpun terputus.
"Ada apa dengan papaku?" tanya Tika mendadak gusar.
"Beliau baik - baik saja, aku di suruh ke kantor sekarang." sahut Surya lalu meneguk air putih untuk mengakhiri makan siangnya. Tampak jakunnya naik turun saat dia minum. Tika terpesona dengan gayanya.
"Aku ikut!" sontak dia berdiri dan mengembalikan kursi pada posisi semula.
"Hedeh, mau ngapain? Di rumah saja, kalau mau ikut sini aku cium kamu dulu, baru boleh ikut." Surya mengarahkan pipinya sedikit mendekat ke arah Tika.
"Is...ogah!" sahut Tika kesal sambil menepis pipinya.
"Aku sendirian di rumah. Bosen tahu!" gerutunya sambil mengerucutkan mulut.
"Hedeh, kamu undang saja temen-temen kamu yang ganjen itu. So, kamu nggak kesepian lagi," saran Surya seraya berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Bener juga apa yang dikatakan cowok kampung itu, lebih baik aku undang mereka ke mari." Tika bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang sejak tadi ia change.
__ADS_1
Surya keluar dari kamarnya, mendapati istrinya tak ada di ruang makan.
"Ke mana dia, pasti ke kamarnya?" sangka Surya sambil membenahi kancing lengan kemejanya.
Dia menunggu istrinya keluar dari kamar.
Yang ditunggu-tunggu tak kunjung keluar juga, Surya meneriaki namanya.
"Tika," yang dipanggil tak menyahut juga, "Nenek sihir...!" teriaknya lagi. Seketika itu Tika menyahut sambil setengah berlari menuruni tangga.
"Tuh kan...dipanggil nama lain baru muncul." gerutu Surya.
"Aw..." pekik Tika yang hampir tersungkur ke lantai, kakinya tersandung kaki sebelahnya. Dengan sigap Surya yang tepat di bawah tangga menangkap tubuh mungil istrinya. Pandangan mereka saling bertemu. Tika terbuai dengan bau parfum suaminya yang menggoda. Maskulin dan enerjik. Dia memejamkan matanya menikmati bau parfum.
"Hei, sampai kapan kamu begini." bentakan Surya membuyarkan lamunannya.
"Siapa juga yang melamun?" Tika tersadar berada dalam dekapan Surya. Surya melepaskan pegangannya, tepatnya pada pinggang.
"Lantas tadi apa? Pakai acara merem segala. Hmmm aku tahu, sekarang kamu ketagihan kan sama ciumanku?"
"Dasar mesum, pikirannya cuman ciuman melulu." gerutu Tika.
"Cepat!"
"Kamu mengajakku?" seketika wajah Tika berubah sumringah.
"Siapa yang bilang aku mengajakmu?"
"Tadi, kamu nyuruh aku cepat."
"Iya, cepet sodorkan tangan kamu!" pinta Surya mengulangi maksud dari kata cepat tadi.
"Kira in mau ngajak aku. Nih," Tika menyodorkan tangannya begitu juga dengan Surya. Sudah jadi kebiasan Surya untuk berpamitan pada istrinya, meski terkadang Tika lupa untuk melakukan kebiasaan barunya.
"Aku berangkat dulu, jangan keluyuran!" larangnya setelah itu mengucap salam. Tika menjawab salamnya, setelah suaminya pergi.
"Emang aku kucing, keluyuran..." dumelnya.
Tika teringat dengan ponselnya lalu dia menuju ke ruang keluarga.
Tika rebahan di atas sofa sambil memainkan handphonenya.
Tika
[Tiwi, kamu lagi ngapain?]
Tiwi
[ Lagi belajar bikin surat lamaran.]
Tika
Tiwi
[Sembarangan kamu, kerja aja belum, sudah mau nikah. Ngelamar kerja tau!]
Tiwi
[He he he, maaf aku bercanda. Kalian ada waktu tidak saat ini?]
Tiwi
[ Ada, tapi Tesa belum bangun masih ngorok. Ada apa Tik?]
Tika
[Aku sendirian di rumah baruku. Papa mama ku lagi pergi. Kesini ya...]
Tiwi
[Surya ada tidak?]
Tika
[ Baru berangkat kerja dia.]
Tiwi
[Tidak seru kalau tidak ada dia.]
Tika
[Cepat ke sini, temani aku!]
Tiwi
[Iya, sabar...]
Satu jam kemudian, Tesa dan Tiwi datang. Mereka bertiga berada di halaman belakang, mereka duduk di tepi kolam. Tiwi duduk di antara Tesa dan Tika.
"Memangnya kemana mama dan papamu pergi? Rumah segede ini penghuninya cuman satu." tanya Tesa seraya memainkan kakinya di air kolam.
"Mereka sedang ada acara keluarga, " sahut Tika berbohong. Pasalnya berbohong demi kebaikan diri sendiri itu halal.
"Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Tiwi seraya memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Acaranya membosankan, entah itu ngerumpi atau bahas masalah anak mereka masing - masing." sahut Tika.
__ADS_1
"Kan enak bisa ngumpul dengan sanak saudara yang lain." ucap Tesa mempengaruhi.
"Eh, Tika bukankah kamu pernah cerita ke aku mau dijodohkan ya.... Sama siapa?" tanya Tiwi mendadak teringat curhatan Tika tempo hari.
Deg.
"Kapan ya, kok aku lupa pernah bilang begitu?" sahut Tika mengelak sambil mengingat ucapannya.
"Masa, kamu tidak pernah bilang begitu ke aku." sahut Tesa merasa diabaikan sebagai teman.
"Iya, bener. Dia kerumahku setelah kamu putus dengan Tedi kan..." ucap Tiwi ngotot membenarkan pernyataannya.
"Tuh, Tesa aja tidak pernah dengar kalau aku bilang dijodohkan." ucap Tika , membuat Tesa mengangguk.
"Itu karena aku lupa belum cerita sama kamu, Sa." tukas Tiwi kesal lantaran Tika berbohong dengan pura-pura tak ingat.
"Aku juga baru tahu kalau kamu putus dengan Tedi." ucap Tesa sambil manggut - manggut.
"Papa melarang ku pacaran. " Tika menundukkan kepalanya, "Alasannya sih simpel, tapi ya karena aku penasaran dengan yang namanya pacaran jadi aku nerima Tedi deh, tanpa rasa cinta." sambungnya.
"Idih...serem ya papamu, melarang pacaran, kalau aku jadi kamu , sudah tentu aku menerima jodoh yang ditawarkan papamu itu. Secara, papamu pasti mencarikanmu lelaki yang ganteng, kaya, perhatian dan mencintaimu." ucap Tiwi membuat Tika termenung sesaat.
"Begitukah..."ucap Tika setelah mengangkat kepalanya dengan mata berbinar senang lantaran kedua temannya mendukung.
"Beneran, sepupuku aja nikah karena dijodohkan , sekarang sudah beranak tiga." sahut Tesa mempertegas pernyataan Tiwi.
"Itu mah...ternak anak namanya ." Mereka bertiga tertawa bersama.
"Jadi, kamu pacaran sama Tedi dulu asal nerima aja?" tanya Tesa heran. Tika mengangguk.
"Tedi kan playboy, kok kamu mau sama dia?" tanya Tiwi antusias.
"Dia mau berubah kok, asal aku yang jadi pacarnya." terang Tika.
Tiba - tiba Tiwi mengejutkan Tika dengan pertanyaannya.
"Tik, kamu pakai cincin kawin ya!" ucap Tiwi tercengang saat melihat emas berlian melingkar di jari manis Tika yang mungil.
"Ini...ini, cu...ma cincin biasa kok." Tika mengelak, ia lupa tak melepas cincinnya.
"Coba aku lihat." menarik tangan Tika."Kamu bohong!" tukas Tesa. " Kalau cincin biasa mana mungkin modelnya sebagus ini." dia mengamati jari manis.
"Ayo, ngaku!" desak Tiwi sambil menyenggol pundak Tika.
"Iya, ngaku aja Tik. Ini cincin kawin kan...dan benar kamu sudah menikah." Tesa ikut mendesak.
"Teman - teman..." ucap Tika lirih seraya matanya berkaca - kaca. Tesa dan Tiwi memandang dengan sorotan mata membunuh.
"Apa kalian setuju jika aku menikah dengan pilihan papaku?" tanya Tika, Tesa dan Tiwi mengangguk.
"Sebenarnya, aku memang sudah menikah tapi hanya ijab qobul saja." jelas Tika tegas.
"Aku ikut senang, Tika. Kamu tidak perlu risau dan khawatir begitu." Tesa mengusap air mata Tika yang mulai mengalir pelan.
"Iya, Tika, apa pun keputusan kamu, kami mendukung kok. Secara, pacaran setelah nikah itu kan malah romantis." sahut Tiwi.
"Kalian...memang sahabat baikku." Mereka bertiga saling berpelukan.
"Lalu di mana suamimu sekarang?" tanya Tesa seraya melepas pelukannya.
"Iya Tik, di mana dia? Apa ini alasannya, kamu pindah rumah?" sahut Tiwi juga penasaran.
"Suamiku...dia sedang bekerja." sahut Tika.
"Lalu, Surya di sini sebagai sopir apa tidak mengganggu kehidupan rumah tanggamu?"
tanya Tesa.
"Tidak, dia pandai sekali memasak . Dia pernah membuatkanku nasi goreng." jawab Tika.
"Hmmm...begitu rupanya. Kapan Suamimu pulang kerja? Aku ingin berjumpa dengannya!" ucap Tiwi.
"Nanti kamu naksir sama dia," sahut Tika lantaran gusar tapi ia sembunyikan.
"Ih...gak bakal deh!" sahut Tesa dan Tiwi bersamaan.
.
"Ini berkas yang harus kamu pelajari!" pak Tomi menyerahkan setumpuk map di atas meja kerja Tedi. Dia memandang malas ke arah ayahnya.
"Ada apa dengan mukamu itu? " tanya ayahnya penasaran.
"Nggak ada, Yah. Aku cuman malas saja hari ini." sahutnya sambil mendesah.
"Sebagai cowok kamu yang konsisten dan jangan lembek begini. Apa ini ada kaitannya dengan masalah asmara?" tukas ayahnya membuat Tedi jengah.
"Bagaimana Ayah bisa tahu?"
"Ayah kan pernah muda juga, Di. Katakan siapa dia?" desak ayahnya.
"Hmmm, Tika ya, cewek yang sok keartisan itu. Aku kurang setuju kalau kamu sama dia."
"Ayah bukannya mendukung malah melarangku," Tedi murung dengan perkataan ayahnya.
"Ayah bercanda, siapa saja pilihanmu pasti ayah selalu dukung. Selama pilihanmu itu tak pernah menyakitimu."
"Kalau dia menyakitimu, apa salahnya?"
__ADS_1
"Tentu itu berpengaruh besar pada diri ayah. Kamu anakku semata wayang, takkan ayah biarkan seseorang menyakiti hatimu, termasuk orang yang kamu sukai." jelas pak Tomi tegas lalu keluar dari ruangan Tedi.
Sejenak Tedi berpikir dengan ancaman ayahnya.