
Matahari sudah tepat di atas kepala, saat itu juga ambulan sudah tiba di rumah sakit. Tim medis menurunkan pasien yang berada di atas bed dan mendorongnya menuju ruang UGD untuk segera ditindak lanjuti. Dengan cepat mereka membawa pasien ke ruang UGD.
Tika ikut berlari bersama tim medis.
"Bertahanlah Mas, kamu akan segera mendapatkan penanganan yang terbaik di sini. Tolong, berikan yang terbaik untuk suami saya. Berapa pun akan saya bayar biayanya."
"Silahkan nanti Anda menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran!"
"Itu soal mudah, selamatkan suami saya dulu!" teriak Tika setengah membentak.
Begitu sampai di ruang UGD Tika diberhentikan oleh seorang dokter pria muda dan tiga dokter paruh baya serta beberapa suster. Hanya dokter dan suster yang boleh masuk.
"Anda tunggu disini, biarkan kami menangani pasien dengan maksimal." ucap dokter pria muda itu sambil memasang sarung tangan.
"Tapi saya istrinya, Dok. Biarkan saya menemaninya! Saya sangat khawatir dengan keadaan suami saya." ucap Tika berharap bisa ikut masuk ke ruang operasi.
"Maaf, Mbak. Tidak bisa! Sudah prosedurnya pasien tidak ditunggui pihak keluarga." ucap suster sambil menutup pintu kamar operasi.
"Tolong! Selamatkan suami saya! Tolong dokter! " ujar Tika sambil menyeka air matanya. Suster tak menjawab.
Tak butuh waktu lama seorang suster keluar dari ruang operasi dan balik lagi dengan membawa baju hijau untuk dikenakan oleh dokter muda itu. Dengan cepat dokter memakai baju operasi sebelum melakukan operasi mereka serentak berdoa dengan harapan keselamatan bagi korban dan operasi berjalan lancar. Begitu masuk ke ruang bedah, Surya sudah dipasangkan jilbab yang besar, yang menutupi dari kepala sampai di bawah dada dan perut. Kemudian juga dipakaikan pakaian yang menutup sampai ke mata kaki. Pasien merasa akan cukup aman sampai operasi selesai. Dan mereka melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari dalam perut korban.
Seorang suster nampak keluar dari ruangan operasi dengan berlari keluar dan membuat orang- orang yang duduk di luar ruangan menjadi kaget, termasuk Tika. Tak lama kemudian suster yang keluar tadi dari ruang operasi kembali dengan membawa dua kantong darah. Suster itu kemudian masuk lagi ke dalam ruang operasi tanpa menjawab satu pertanyaan pun dari Tika dan dari orang - orang yang bertanya.
"Bagaimana Suster keadaan suami saya? Apakah operasinya berjalan lancar?" Tika begitu panik, tapi tak ada sahutan dari suster itu.
"Tenang Miss, kita doakan saja agar mas Surya selamat dan operasinya berjalan lancar." Reni mencoba menghibur hati Tika yang sedang bersedih.
"Iya, Mbak. Pak Surya orangnya baik, pasti selamat. Lagian rumah sakit ini kan rumah sakit paling bagus di Bandung, jadi Mbak Tika tidak usah khawatir. Dokter - dokter di sini semuanya mahir dan pandai, banyak yang berhasil operasinya." imbuh Rudi yang sedari tadi ikut menunggu.
"Iya Mbak, dokter yang paling muda itu adalah dokter yang terkenal dari London. Semua operasi yang dia tangani tidak pernah gagal dan selalu berhasil." imbuh Reni lagi, dia mengetahui dari instragam bahwa di Bandung kedatangan seorang dokter muda dari London.
Setelah mendengar perkataan Reni dan Rudi perasaan Tika menjadi tenang dan sedikit lega.
__ADS_1
Tika menyuruh Rudi untuk mengantar pulang, dia ingin berganti pakaian karena gaun yang ia kenakan sangat membuatnya tidak nyaman. Rudi mengekor Tika menuju parkiran mobil dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, Tika lekas mengambil baju dan mengganti pakaiannya, dia menuju kamar Surya dan mengambil beberapa pakaian. Selesai mengemasi semua pakaian Tika kembali menuju rumah sakit.
Saat di rumah sakit, Tika segera menemui Reni.
"Apa ada kabar dari dokter?" tanyanya cemas. Reni hanya menggeleng. Tak lama kemudian keluarga besarnya datang.
"Papa, Mama...!" panggil Tika saat pak Andik datang bersama bu Tasya, bu Desi dan Anis. Tika memeluk mama dan papanya. Mereka berempat sebelumnya telah diberi tahu Rudi setelah Surya masuk ruang operasi. Mereka juga sempat kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rudi. Faktanya, Surya masih hidup.
"Bagaimana kabar Surya, Nak? " tanya bu Desi yang nampaknya terlihat begitu cemas dan bahagia lantaran anak sulungnya belum meninggal.
"Dokter belum memberikan kabar, Bu." sahut Tika sambil menerima pelukan dari mertuanya.
"Aku merasa senang jika kabar ini nyata. Bahwa Surya masih hidup dan selamat dari kecelakaan maut itu." kata pak Andik sambil menyeka air matanya. Meski terlihat tegas namun hatinya mudah rapuh.
"Iya, sayang. Mama juga tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Surya, saat Rudi mengabari berita tadi." imbuh bu Tasya.
"Surya, anakku. Siapa yang tega melakukan ini padamu. Ibu tidak akan memaafkan pelakunya." bu Desy menimpali dengan menangis dan merangkul Anis.
"Kata Rudi, pelakunya sudah diamankan pihak polisi. Pelakunya adalah teman Tika dan juga teman mas Surya, karena dia menyukai mas Surya sejak berada di kampus dulu. Akhirnya dia terobsesi untuk memiliki mas Surya dengan kondisi mas Surya masih amnesia." jelas Tika.
"Ya Allah, Surya, begitu malang nasibmu, Nak." bu Desi terduduk sambil sesenggukan. Anis mengelus dada ibunya.
"Jeng, yang sabar. Lebih baik kita berdoa bersama- sama, ayo ke masjid! Dhuhur sudah tiba, kita berdoa di sana agar lebih mustajab." ajak bu Tasya, dan mereka bertiga pergi ke masjid yang terletak di pojok rumah sakit.
"Pa, aku mau mas Surya lebih mendapatkan pengamanan. Karena aku menduga musuh mas Surya tidak akan tinggal diam jika dia tahu kalau mas Surya masih hidup dan amnesia. " jelas Tika pada pak Andik. Papanya menyanggupi permintaan Tika dan segera pergi untuk mengurus masalah ini.
Lima jam kemudian lampu kamar operasi mati, menandakan operasi selesai. Beberapa dokter nampak keluar satu persatu begitupun dengan dokter muda yang nampak sangat kelelahan dari ruang operasi diikuti suster.
Dokter muda berjalan lemas sambil membuka perlahan maskernya sehingga tampak wajah pucat dan kelelahannya. Tika beserta keluarga besarnya yang berada di luar ruangan dan para polisi yang sudah datang pun belum berani bertanya pada dokter - dokter itu. Mereka bisa tahu betapa lelahnya dokter - dokter itu setelah melakukan operasi hampir 5 jam lamanya.
Seorang suster yang keluar terakhir dari ruang operasi sambil membawa peralatan medis memberi tahu pada Tika jika operasinya berjalan lancar tinggal menunggu pasien sadar
saja, suster itu bergabung dengan para dokter.
__ADS_1
"Alhamdulillah...!" ucap semua yang ada di ruangan itu.
"Mas Surya selamat, Pa, Ma, Buk. " Tika begitu bahagianya mendengar kabar operasinya berjalan lancar.
"Tika ingin melihat mas Surya," Tika sedikit berlari menyusul para dokter.
"Bolehkah saya melihat suami saya?" tanya Tika sedikit ragu.
"Kamu istrinya ?" Tika mengangguk malu, "Maafkan saya, sudah menjadi prosedur rumah sakit bahwa pasien belum boleh dijenguk sampai kondisinya dinyatakan sadar. Biarkan pasien istirahat dulu." jelas dokter muda itu.
"Tapi, saya ingin sekali melihat suami saya." pinta Tika mengiba. Tapi dokter tetap saja melarang.
"Tolong pihak keluarga perwakilan menuju ruangan saya, ada yang ingin saya sampaikan kepada keluarga pasien." perintah nya lalu dokter muda itu pergi menuju ruangan pribadinya. Belum sempat Tika bertanya apa ada hal lain yang membahayakan suaminya dokter itu keburu pergi.
"Tika, kamu saja yang pergi menemui dokter itu. Semoga ini berita baik." ucap pak Andik.
"Iya sayang, biar kami menunggu di sini, siapa tahu nanti Surya sadar dan kamu bisa menjenguknya nanti." imbuh bu Tasya meyakinkan Tika.
"Iya, Pa, Ma, Tika masuk dulu menemui dokter tadi. Tika jadi takut gini, apa terjadi sesuatu ya dengan mas Surya?"
"Hus, kamu jangan berpikiran negatif dulu. Sudah cepat kamu pergi ke sana! Biar Ibuk yang nungguin di sini, berita apa yang ingin dokter itu sampaikan ke kita?" bu Desi menimpali.
Dengan langkah sedikit lesu dan ragu, Tika mengetok pintu dan terdengar sahutan dari balik pintu.
"Ya, silahkan masuk!" perintah suara itu. Tika membuka pintu dan duduk setelah dipersilakan. Dengan gusar Tika mendengarkan penjelasan dokter muda itu.
"Ada apa dokter? Sampai harus berbicara seserius ini."
"Dengan saudari..."
"Tika, Dok."
"Begini saudari Tika, dari hasil operasi yang kami lakukan selama kurang lebih 5 jam tadi memang berhasil dan berjalan lancar. Tapi, ada satu kendala lagi." jelas dokter muda itu membuat Tika semakin gusar.
__ADS_1
"Apa itu Dok?"