Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Rencana untuk Tika dan Surya


__ADS_3

"Pa, siang ini jadi kan kita melihat kios yang akan ditempati bu Desy untuk berjualan?" tanya bu Tasya pada suaminya yang sedang asyik menikmati secangkir kopi panas dan sambil membaca lembaran - lembaran kertas bertuliskan berita yang terbit secara mingguan di teras depan.


"Jadi, Ma. Tapi Papa tidak bisa menunggu kalian lama - lama, nanti sore Papa ada pertemuan penyambutan patner bisnis di kantor yang tidak bisa ditinggalkan." jelas pak Andik seraya menyeruput kopi yang masih mengepul asapnya.


"Wah, seperti pejabat tinggi negara saja, pakai acara sambutan." ucap bu Tasya seraya menyiangi rumput yang ada di taman dekat teras.


"Iya, Ma. Sudah jadi kebiasaan perusahaan kita. Ditambah lagi mereka akan bergabung dalam acara penggalangan dana amal awal Desember nanti." jelas pak Andik seraya membalik korannya.


"Penggalangan dana amal, wah sepertinya menarik Pa, terus untuk acara nanti sore Surya datang tidak?" Selesai menyiangi lalu menata berbagai bunga hias yang berada di sebelah kiri teras.


"Semalam dia lembur di pabrik, entah pulang jam berapa dia, Papa belum sempat menanyakan kabarnya. Dia kan sekarang yang memimpin perusahaan, jadi dia harus ada di acara nanti sore." Pandangannya tidak bergeming pada lembar bacaannya.


"Apa Tika diajak? " tanya bu Tasya seraya mencuci tangannya pada sebuah selang yang menggulung lalu duduk di samping suaminya.


"Entahlah, Ma. Oh iya, kemarin Tika melamar kerja lo..." Memandang istrinya yang berada di sampingnya.


"Tika kerja, di mana?" tanya bu Tasya penasaran.


"Perusahaan TEDIRO HUSODO." sahut pak Andik singkat.


"Perusahaan apa itu?" memandang lebih dalam tatapan suaminya.


"Papa juga belum tanya ke anaknya, Ma."


Anis muncul dari balik pintu rumah, dengan berpakaian seragam atasan putih, bawah biru dongker.


"Pak, Bu, Anis berangkat sekolah dulu." Menyodorkan tangannya.


"Iya, sayang. Nanti kamu segera pulang ya dari sekolah. Bapak sama Ibu, ingin mengajak kamu dan ibumu pergi jalan - jalan." ucap bu Tasya seraya menyambut tangan Anis. Anis mencium punggung tangan mereka berdua secara bergantian.


"Jalan - jalan Bu, hore... Anis mau ikut!" sahutnya centil . "Kalau begitu Anis berangkat dulu. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam..." sahut mereka berdua.

__ADS_1


"Tunggu!" pinta pak Andik, Anis menoleh. "Ini uang jajan buat kamu." seraya merogoh saku celana dan mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah.


"Anis tidak suka jajan kok Pak!" tolaknya seraya menggelengkan kepala.


Pak Andik berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Anis. "Sudah ambil saja, buat ditabung juga bisa kan, kalau kamu tidak suka jajan." menyelipkan ke salah satu tangan Anis, sehingga tidak ada upaya untuk menolaknya.


"Terima saja Anis, tidak baik menolak rezeki." ujar bu Tasya seraya tersenyum.


"Iya Pak, Bu, terima kasih." sahut Anis lalu segera menaiki sepeda dan mengayuhnya.


Lokasi sekolah Anis yang baru tidak jauh dari tempat tinggalnya sekarang.


"Papa ambil handphone dulu, Ma." pamit pak Andik lalu masuk ke dalam rumah. Bu Tasya mengangguk pelan seraya mengemasi cangkir kopi lalu membawanya ke dapur.


"Hallo, Tika!" panggil pak Andik setelah sambungan terjawab. Pak Andik duduk di sofa ruang keluarga. Bu Tasya selesai mencuci cangkir menuju ruang tamu. Sementara bu Desy masih sibuk memasak di dapur bersama mbok Jah.


"Di mana suamimu, Papa telfon sejak tadi tidak di angkat. Dia baik - baik saja kan?"


"Tidur, baiklah. Sampaikan kepadanya, jangan lupa nanti siang untuk melihat kios ibunya di jalan xxx, kamu bisa ikut kan..."


Tut. Handphone dimatikan.


"Bagaimana Pa?" tanya bu Tasya yang sejak tadi memperhatikan pak Andik.


"Surya belum bangun katanya, ya biarlah dia istirahat dulu. Kasihan Surya, masih terlalu muda untuk menjalani ini semua. Pernikahan yang aku tawarkan dan posisi sebagai pemimpin perusahaan tentulah menjadi sebuah tanggung jawab yang besar baginya. Andai saja anak kita, Tika, mencintai Surya dengan sepenuh hati, sehingga bisa memberikan dukungan mental padanya." jelas pak Andik seraya membenahi kacamatanya.


"Bagaimana kalau kita merencanakan bulan madu untuk mereka?" Bu Tasya memberikan idenya, matanya berbinar seolah - olah mengingat masa mudanya dulu.


"Ide yang bagus Ma," membuka aplikasi di layar handphone untuk mencari tempat bulan madu yang romantis di Indonesia. Bu Tasya menggeser pantatnya mendekat dan ikut melihat layar di handphone suaminya.


"Kira - kira mana Ma, tempat yang paling cocok buat mereka?" tanya pak Andik seraya mengernyitkan dahinya, pertanda binggung lantaran tempat yang dilihatnya begitu menarik semuanya.


"Ini Pa, kelihatannya bagus." menunjuk pilihan Bali dari 24 kriteria tempat romantis di layar handphone.

__ADS_1


"Bali, Ma. Apa Surya setuju? Kita kan tahu selera dia agak ke ndeso - ndesoan," gurau pak Andik.


"Justru itu, Pa. Biar Tika yang menjadi komandonya nanti saat mereka di Bali."


"Tika kan sudah sering keluar pergi ke Bali, apa tidak bosan nantinya?"


"Aku yakin, Pa. Mereka berdua menyukai tempat ini, Tika kan belum tahu tempat honeymoon di sana, kita paksa mereka untuk berkata setuju." ucap bu Tasya penuh antusias.


"Baiklah, Ma. Kalau menurut Mama tempat ini cocok untuk mereka. Kapan?"


"Selesai wisuda, tapi Pa. Mereka berdua kan belum mengadakan resepsi pernikahan, hanya ijab qobul saja. Apa tidak sekalian kita adakan acara resepsi pernikahan?"


"Benar juga Ma. Coba kamu ajak bu Desy ke sini. Kita bahas masalah ini segera, Papa juga tidak mau menyembunyikan pernikahan ini terlalu lama. Sudah seharusnya semua orang tahu." perintah pak Andik, bu Tasya mengangguk pelan tanda mengerti seraya beranjak dari sofa dan melangkahkan kaki menuju dapur untuk menemui bu Desy.


"Jeng!" panggilnya, bu Desy menoleh menghentikan aktivitasnya lalu berjalan mendekati arah suara.


"Ada apa Bu Tasya?"


"Ada yang ingin kami sampaikan, sedikit uneg - uneg tentang pernikahan Tika dan Surya." Bu Desy sedikit tercengang mendengar perkataan besannya, tanpa banyak bicara dia mengekor mengikuti besannya menuju ruang keluarga.


"Bu Desy," panggil pak Andik. "Mari Bu, kita berkumpul sebentar di sini." memberikan tanda agar kedua wanita yang baru menghampirinya dari arah dapur segera duduk di sofa.


"Iya Pak," sahut bu Desy seraya duduk di sofa berjajar dengan bu Tasya.


"Ada apa dengan anak saya Pak? Apa Surya telah melakukan kesalahan pada Tika, sehingga saya harus ikut berada di sini?" tukas bu Desy dengan tatapan mata yang penuh tanya.


"Bukan, bukan itu maksud saya," sahut pak Andik lekas karena mencium sangkaan yang negatif. "Begini Bu, kami berdua ingin mengadakan resepsi pernikahan untuk mereka, bagaimana dengan saran Bu Desy?"


Lega rasanya mendengarkan tuturan dari besan laki - lakinya.


" O...itu, saya setuju saja. Lagi pula menggelar resepsi pernikahan adalah wujud rasa syukur setiap pasangan pengantin kepada Allah atas nikmat dan karunia - Nya karena telah diberi kemudahan untuk menyempurnakan separuh agama." jelas bu Desy, meskipun terlihat ndeso namun sikapnya sungguh bijak dalam menyikapi keputusan apapun.


Mendengarkan tuturan bu Desy, pak Andik semakin mantap dengan keputusannya untuk mengelar resepsi pernikahan meskipun nanti Tika menolaknya.

__ADS_1


"Selain itu menggelar resepsi pernikahan dapat memberitahukan kepada semua orang baik yang kenal ataupun tidak bahwa mereka berdua sekarang sudah menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama." jelasnya lagi.


"Semua yang Bu Desy ucapkan memang benar semuanya, baiklah saya akan memutuskan bahwa resepsi pernikahan Surya dan Tika akan kita adakan setelah acara wisuda mereka." tutur pak Andik. 


__ADS_2