
Ketika malam tiba, sunyi mulai terasa. Tika duduk di depan kamarnya. Hanya suara hening yang menemani dengan rumput dan daun yang bergoyang dihembus oleh angin yang sepoi - sepoi.
"Terasa nikmat bila ditemani sang kekasih hati yang mungkin dapat menghangatkan tubuhku. Dinginnya udara malam terasa menusuk hingga ke tulang, udara malam membuat tubuhku menggigil." Tika memeluk tubuhnya sembari memejamkan mata sejenak kemudian berdiri menuju balkon.
" Pemandangan langit yang sangat indah, bulan malam bersinar terang, dengan hadirnya bintang yang tak terhitung jumlahnya berkelap kelip di langit yang luas." Memandang langit penuh takjub akan kuasa illahi .
"Hanya udara dingin malam ini yang dapat menenangkan sedikit pikiranku dan menemani hening di sekitarku."
Tak terasa udara dingin membuat perutnya berbunyi.
"Aku lapar..." Memegang perutnya yang keroncongan. Tika mencoba menahan laparnya.
"Aduh, lapar banget nih. Surya mana...kok dia tidak memanggil ku untuk makan malam." Membuka pintu menuruni tangga menuju dapur.
"Pintunya tertutup, apa dia sudah tidur." Melewati kamar Surya yang berada di sebelah kiri dapur.
"Kira - kira ada apa saja di dalam kulkas." Membuka pintu kulkas, tubuhnya membungkuk mencari makanan yang mungkin dapat mengganjal perutnya yang lapar.
"Tidak ada makanan, semua barang mentah." gerutu Tika kesal sambil menutup pintu kulkas dengan keras.
"Kalau aku pesan makanan dari luar, kira - kira lama datangnya tidak ya..." mengambil ponsel dari saku celananya.
"Sepertinya tadi aku melihat ada telur di kulkas." Mengurungkan niatnya dan memasukkan kembali ponsel ke saku tidak jadi memesan makanan dari luar dan membuka kulkas lagi.
"Nah, ini dia . Aku akan praktek membuat telur dadar ." Mengambil 4 butir telur.
"Klek..." suara kompor.
Tika memanaskan teflon , dan memberi sedikit minyak.
Tika memecah telur dan menaruhnya di atas teflon panas.
"Tuar..." Suara teflon jatuh dengan keras, Tika tidak menyadari bagaimana benda itu bisa lolos dari pegangannya. Tak sengaja tangan kanannya terkena teflon.
"Aduh, panas...panas!" Tika mengaduh kesakitan seraya menahan dengan mengigit bibir bagian bawahnya.
***
"Pekerjaan di kantor hari ini membuat mataku terasa lengket ." Merapikan berkas - berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Baru pukul 20.00, hawa dingin di luar sana membuat aku ngantuk." Melihat jam di dinding lalu menutup jendela dan koridor setelah itu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Hmmm...nyaman sekali, aku tidak bisa terjaga apabila sudah memelukmu, gulingku.." Memeluk guling sambil memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian.
Surya yang tengah memejamkan matanya mendengar suara benda keras jatuh, sontak dia bangkit dan segera keluar dari kamarnya menuju sumber suara.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Tika apa yang kamu lakukan di dapur? " Mendekati dan melihat tangan kanan Tika yang memerah.
"Aku mau mencoba membuat telur dadar."
"Sini, biar aku tiup!" Memegang dan meniup tangan Tika yang terluka, tampak membekas seperti tompel hitam melekat pada tangannya yang lembut dan putih bersih itu.
"Kamu kan bisa memanggilku." ucap Surya datar seraya mengambil salep yang berada di laci dapur dan mengoleskan ke tangan kanan tepatnya punggung tangan dan di sana membentuk garis merah sepanjang 3 cm.
"Aku kira kamu tidur." Menatap Surya sambil merintih mencoba menahan sakit, tapi Tika bukan tipe cewek yang kuat dan tahan banting, tergores sedikit saja tangisnya minta ampun tidak ketulungan.
"Sudah, jangan nangis. Ini mungkin akan membekas untungnya tidak parah, anggap saja dapat tanda lahir baru." Mencoba menghibur dan meniupnya lagi, menutup kembali salep dan mengembalikan ke dalam laci.
"Terasa hangat tangan Surya saat memegang tanganku. Perasaan apa ini, sesaat aku menyukai tingkah lembutnya terkadang juga aku sangat membencinya." batin Tika seraya menyeka air matanya.
"Kamu bikin telur goreng?" Surya membungkuk mengambil teflon yang terbalik dan memungut telur ceplok yang berada di lantai. Mengambil lap dan membersihkan lantai.
"Iya, aku lapar. Di kulkas tidak ada makanan yang bisa aku makan, lalu aku mencoba memasak telur dadar. Dan tak di sangka malah petaka menimpaku." Masih terisak lalu duduk di sebuah kursi kecil di samping Surya.
"Makanya yang ikhlas..." Mencuci teflon dan menaruhnya kembali di atas kompor.
"Apa hubungannya ikhlas sama masak?" gerutu Tika sambil mengelus tangannya yang masih terasa panas.
"Kalau kita ikhlas melakukan sesuatu perbuatan, maka hasilnya akan maksimal." jelas Surya seraya menaruh telur di atas teflon setelah terasa panas.
"Iya, aku tahu. Aku akan mencobanya lagi ." ucap Tika melihat punggung Surya yang kekar.
"Nih, sudah matang telur ceploknya," Menaruh di piring dan menyodorkan ke Tika.
"Hedeh, nih cewek . ini telur ceplok...kalau telur dadar itu di aduk dulu baru di goreng." jelas Surya lalu mengambil telur lagi.
"Beda ya...he he he..." Tika terkekeh.
"Telur ni di aduk dulu, di kasih garam sedikit lalu di aduk lagi." Menaruh telur di atas teflon, Tika memperhatikan apa yang dilakukan Surya.
"Aku mau yang itu, ini buat kamu saja." Menyerahkan piringnya dan mengambil piring kosong.
"Nah, sudah matang telur dadarnya." Memperhatikan piring yang Tika sodorkan.
"Hmmm...kita kongsi lagi ya!" ajak Surya seraya mengembalikan piring kosong ke rak piring. Tika tersenyum tipis, itu berarti dia bakal disuapi Surya lagi. Batinnya menolak tapi beda dengan sikapnya.
"Iya..." sahutnya cepat.
"Kenapa aku sulit sekali untuk mengatakan tidak mau makan sepiring berdua dengannya. Entah sihir apa yang dia gunakan, setiap aku akan menolak ajakannya mulutku sulit sekali untuk diajak kompromi." batin Tika, turun dari kursi kecil mengikuti Surya menuju meja makan.
"Kamu sekarang sudah terbiasa kan, makan sepiring berdua denganku." ucap Surya sambil menarik kursi untuk Tika, Tika tersenyum lagi tanpa ada kata penolakan.
"Huf...huf...huf!" Tika meniup nasi yang ada di tangan Surya," dengan cepat Surya menarik tangannya.
__ADS_1
"Jangan ditiup, lebih baik dikipas."
"Kenapa?"
"Berkahnya jadi hilang."
"Aku baru tahu, dulu saat di rumah papa aku sering melakukan itu."
"Nah, kamu sekarang sudah tahu kan. Jangan diulangi!"
"Iya,"
"Besok kebetulan hari Minggu, kita kerumah orang tuamu. Aku juga sudah kangen dengan ibu dan Anis."
"Benarkah, aku juga sudah kangen dengan mereka, jauh dari mereka sehari saja sudah terasa setahun. "
"Sebelum kita ke sana , besok pagi aku akan keluar sebentar."
"Kemana dan kenapa kamu tidak mengajakku?"
"Ke suatu tempat."
"Iya, kemana..."
"Kepo, mau tahu saja."
Surya minum dari gelas bekas bibir istrinya.
"Ih...itu kan bekas ku, kamu tidak jijik ya." Mengangkat bahunya dan mengernyitkan dahinya.
"Jangan bilang ih...padaku, kamu kan istriku. Ngapain juga harus jijik." tukas Surya seraya membereskan peralatan makan.
"Surya..." panggil Tika seraya berdiri .
"Hmmm..." sahut Surya tanpa menoleh mengangkat piring dan mencucinya.
"Kamu baik, padahal dulu aku pernah jahat sama kamu, ingat tidak...aku juga pernah punya hutang waktu di kedai kopi waktu itu." Surya terhenti langkahnya saat menuju ke kamarnya. Terdiam sejenak, kini dia memperhatikan lawan bicaranya dan penuh dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu." menutup tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangan menutupi area dadanya.
Surya tetap terdiam seraya berjalan perlahan mendekati Tika, membuat Tika berjalan mundur dan menatap dinding, sorotan matanya yang tajam membuat Tika sedikit takut.
"Apa aku salah bicara, aku hanya sekedar bertanya. Kalau pertanyaanku itu tidak dijawab juga tidak mengapa." Tangannya disilangkan ke wajah dengan mata terpejam.
Surya mendekat, namun tidak melakukan apa - apa.
"Karena kamu istriku." sahut Surya yang sejak tadi diam. Lalu dia melangkahkan kaki pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
"Huf, aku kira dia mau macam - macam denganku." ucap Tika seraya mengelus dada.
"Pergi ke mana kira - kira dia ya..." melangkahkan kaki menuju kamar lalu tidur.