Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Puding Cinta


__ADS_3

Malam terus menurun. Angin bertiup lembut dari arah barat membawa gumpalan - gumpalan awan tipis. Bulan sabit telah lama menghilang, bintang - bintang pun mulai pudar. Menjelang subuh gerimis turun renyah. Surya tertidur pulas. Dia terbangun ketika mendengar suara iqomah dari kejauhan. Diraihnya handphone dan melihat jam digital menunjuk pukul 04.30. Surya sesekali mendengar erangan Tika. Istri manja itu menggeliat dan membuka matanya. Surya cepat - cepat menggeser tubuhnya, dan duduk di sisi Tika. Tika memandang Surya.


"Sudah waktu subuhkah, Mas?" suaranya lemah.


"Iya, kamu bisa bangun?"


"Bisa," Tika mencoba hendak bangkit, tetapi tubuhnya terasa lemah.Tangannya tak kuat menumpu pada ranjang. Surya cepat menyangga tubuh istrinya, lalu membaringkan kembali.


"Sholat sambil tidur sajalah. Kamu belum sembuh 100 persen, sayang."


Hati Tika terharu mendengar ucapan Surya. Ditatapnya suami tampannya itu.


"Apakah Mas Surya tidak tidur semalam?" tanyanya lembut.


Surya menundukkan kepala, dia merasa rikuh. Rasa rikuh seperti ini baru pula dia rasakan. Sebagai gelar seorang suami yang baru saja dia peroleh, dia juga belajar untuk mencintai seorang wanita yang kini menjadi istri sahnya itu.


"Kamu baik hati, Mas."Tika melanjutkan ucapannya.


"Sudahlah, aku ke kamar mandi dulu." Surya melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian.


Surya memimpin sholat subuh, sedangkan Tika menjadi makmumnya sambil tidur.


Gerimis masih turun, curahannya menitik pada kaca jendela. Suara curahan gerimis itu menimbulkan bunyi gemerisik. Tak lama kemudian terdengar suara kokok ayam. Pagi sudah tiba. Tetapi matahari masih menyembunyikan diri.


"Hari ini kamu tidak usah masuk kerja!" larang Surya seraya melepas pecinya. Tika sambil tidur melepas mukena dan mengangguk.


"Tapi, aku baru sehari saja masuk." Tika mencoba mengangkat badannya.


" Bila kamu dipecat, kamu bisa bekerja di kantor papa." Surya memandang Tika dengan tatapan tajam, seolah tidak mau perintahnya di abaikan. Tika mengangguk lagi dan tersenyum manis.


"Tidurlah, aku akan memasak untuk mu!" Surya bangkit dan melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Tika memejamkan kembali matanya.


"Hallo, Rudi!" panggil Surya saat berada di kamarnya.


"Iya, Pak !" sahut Rudi dari arah seberang.


"Hari ini saya izin tidak masuk ke kantor, tolong kamu antar berkas yang ada di meja ruangan saya!"


"Baik, Pak!"


"Alamat rumah, nanti saya kirim lewat whatshap." Surya mematikan handphone dan bergegas menuju dapur.


Surya menuju kamar Tika.


"Minumlah," ujarnya ketika dia telah berada di sisi Tika.


Tika meneguk teh manis itu. Tubuhnya terasa hangat dan segar.


Surya menyodorkan sendok sup hangat yang baru saja dia buatkan.


Tika membuka mulutnya dan menelannya pelan.


"Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan makanan lembek seperti ini. Kali ini aku tidak ingin menyinggung perasaan mas Surya. Surya telah menunjukkan cinta dan pedulinya padaku." batin Tika.


"Kamu juga harus makan Mas," katanya.


Surya tersenyum menerima suapan dari istrinya dan dengan hati penuh cinta mereka makan berdua.


Hujan gerimis belum reda. Tetapi sinar matahari sudah dapat menerobos awan - awan yang tipis menyaput langit.


"Aku sudah agak mendingan sekarang." ucap Tika saat berdiri di belakang suaminya yang sejak tadi sibuk membuat puding.

__ADS_1


"Hei, sayang. Kamu mengagetkanku." Surya sedikit tersentak dari kesibukannya.


Tika terkekeh.


"Mas, kamu lagi buat apa?" berjalan mendekati Surya dengan melingkarkan kedua tangan pada perut Surya. Surya terdiam sejenak.


"Aku membuatkanmu puding cokelat." sahut Surya seketika.


"Entah mengapa hatiku merasakan kegembiraan yang luar biasa, sering - seringlah kamu bersikap manis seperti ini. Aku akan mencoba untuk mencintaimu." batin Surya.


"Hmmm...sepertinya enak!" Tika menggenggam erat tangan Surya untuk yang kedua kalinya. Surya membalik badannya. Keduanya saling berpandangan.


Merasa Tika sangat lunak, Surya menarik tangan Tika hingga tubuh mereka bertubrukan pelan. Tika tak lagi keberatan. Lama - lama tubuh Surya semakin membuatnya nyaman.


"Tika...terima kasih..."


"Mas Surya..." Kening Tika mengernyit ketika Surya menekan punggungnya. Mereka kini melekat tak terpisah satu sama lain.


"Muah!"


Tika tak mengelak saat Surya mengecup bibirnya. Dia bahkan memejamkan matanya. Pasrah. Mata Tika terbuka kembali saat jempol Surya mengusap lembut bibirnya. Sangat sensual.


"Muah!"


Surya mengecup kembali bibir Tika kali ini lebih lama, lama, lama...dan tanpa di duga Tika sukarela membuka bibirnya, merelakan belahan atas dan bawah Surya memainkan dengan bibir dan giginya. Tika memejamkan mata suka. Remasan tangannya di dada Surya semakin kuat.


Surya tak tahan lagi. Tanpa rela melepas ciumannya, selangkah demi selangkah tubuh Tika tertekan tubuh Surya. Tika menurut saja saat lidah Surya terus menyerang lidahnya.


"Balas lidahku, sayang!"


Tika sedikit kikuk. Lalu tak lama dia kembali merasakan lidah Surya sudah menerobos rongga mulutnya lagi. Akhirnya lidah mereka menari juga.


Ciuman mereka semakin intim. Hingga Tika tak menyadari tangan Surya telah bergerak ke dadanya, meraba lalu meremas dari bagian dalam.


"Ting tong..." bunyi bel pintu.


Sontak membuat mereka melepaskan ciuman yang terlanjur basah itu.


"Biar aku yang membuka pintunya." ucap Tika seraya merapikan pakaiannya dan berjalan menuju pintu. Surya mengangguk lalu melepas kain yang melekat pada bajunya untuk melindungi dari noda dapur.


"Non Tika..." panggil Rudi, dia merasa terkejut lantaran yang membuka pintu bukan pemilik alamat yang ada di handphonenya.


"Iya," sahut Tika ramah.


"Mungkinkah saya salah alamat ya..." Rudi menggaruk kepalanya dan sambil celingukan mencari sosok pemilik nama Surya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Tika.


"Ini saya mengantar berkas untuk pak Surya" sahut Rudi.


"Berkas, seperti bos saja. Kenapa harus di antar ke sini, dia bisa ambil sendiri di kantor." ucap Tika sambil melipat kedua tangannya.


"Iya Non, tadi pak Surya izin tidak masuk kerja. Lah dia kan..." Rudi belum selesai berbicara, Surya datang .


"Eh, Mas Rudi. Silakan masuk Mas!" pinta Surya lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Kok pak Surya memanggilku dengan sebutan mas ya..." batin Rudi seraya mengikuti Surya.


"Dia kan karyawan papa di kantor. Berkas apa yang diantar? Hmmm...sepertinya mas Surya bukan karyawan sembarangan. Buktinya karyawan lama saja sudah mau menerima perintahnya. " Gumam Tika lalu berjalan memasuki rumah.


Di dalam ruang tamu, sesekali Surya meneliti berkas yang diterimanya.


"Benar, ini berkas yang harus saya pelajari."


"Iya, Pak. Hmmm...saya boleh bertanya sesuatu tidak Pak?" Rudi memberanikan diri untuk bertanya secara langsung.

__ADS_1


"Tentang apa?"


"Itu...mbak Tika kok bisa berada di rumah Pak Surya?"


"Oh...dia istri saya." sahut Surya mantap.


"Pak Surya sudah menikah!" Rudi tercengang mendengarnya. Surya manggut - manggut, selesai menyerahkan berkas Rudi meninggalkan kediaman Surya dengan seribu pertanyaan. Surya berjalan menuju kamar untuk menaruh berkas yang dibawanya.


"Mas Surya, seperti orang penting saja." ucap Tika saat berada di dekatnya.


"Masa," sahutnya cuek.


"Apa semua orang di kantor papa sudah mengetahui kalau kita menikah?"


"Kurasa belum. Kan kamu sendiri yang melarang untuk memberi tahu mereka."


"Lambat laun mereka juga akan tahu. Selesai wisuda kampus aku ingin mengadakan resepsi pernikahan kita."


"Kamu sudah siap, sayang..."


"Ya, memberi tahu seluruh dunia kalau aku memiliki suami yang pa...ling ganteng." ucap Tika yakin, kedua matanya memancarkan kegembiraan.


Surya lega mendengarnya.


"Mau makan puding sekarang!" ajak Surya seraya menarik dagu mungil Tika. Kedua wajah berjarak hanya beberapa mili saja.


Tika memandang penuh cinta. "Aku mau." ujarnya.


"Ayo," Surya menggendong Tika dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan dengan pelan tubuh istrinya di atas ranjang.


"Akh..." Tika menjerit senang saat tubuhnya terangkat.


"Aku ambilkan puding dulu." Surya keluar kamar menuju dapur dan kembali dengan sepiring puding cokelat.


Tika dan Surya duduk berhadapan.


"Mas Surya tak hanya pandai bikin nasi goreng, puding saja bisa. Terus Mas Surya pandai bikin apa lagi?" tanya Tika seraya mengunyah puding kenyal itu.


"Hmmm...benarkah. Kamu mau tahu jawaban yang asli atau yang palsu?"


"Eh, ada juga jawaban yang seperti itu."


"Ada, kamu maunya yang mana dulu?"


"Hmmm, yang mana ya...yang palsu dulu deh."


"Pandai bikin anak."


"Uhuk...uhuk!" Tika tersedak.


"Kamu tidak apa - apa, sayang?" mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas .


"Iya, aku hanya tersedak saja." sahutnya setelah minum.


Tanpa kata dan tanya mereka berdua terdiam dalam waktu cukup lama sampai puding itu lenyap, pindah ke perut mereka masing -masing.


"Pudingnya enak." ucap Tika lirih memulai percakapan yang sejak tadi hening.


"Kamu tahu apa nama puding ini?"


Tika menggeleng .


"Puding Cinta." ucap Surya lagi.


"Mas Surya, kamu lucu."

__ADS_1


__ADS_2