Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Marah


__ADS_3

Surya tampak sibuk ketika berada di ruang rapat, hampir dua jam dia bersama orang - orang penting yang baru saja dikenalnya, semuanya adalah rekan bisnis pak Andik, Surya yang masih baru begitu serius mengikuti meeting dan sesekali dia membuat catatan penting di buku kerjanya. Selesai meeting dia menuju ruangannya.


Tak berapa lama kemudian, Rudi menemui Surya di ruang kerjanya.


"Selamat siang Pak." Seraya mengetuk pintu.


"Ya selamat siang." Surya menata berkas yang baru saja dia tanda tangani.


"Tugas apa Pak yang harus saya kerjakan?" tanya Rudi


"Tolong kamu cari informasi tentang perusahaan TEDIRO HUSODO yang beralamat jalan xxx. Sepertinya nama itu tidak asing bagiku, segera kamu kirim kabar padaku." jelas Surya seraya mengambil handphone dan membaca pesan dari Tika.


"Baik Pak!" Rudi bergegas keluar dan menjalankan perintahnya.


"Nenek sihir diterima kerja sekarang, kenapa dia tidak mau bekerja di kantor papanya. Dia pernah bilang tidak ingin sekantor denganku. Sampai kapan dia menyembunyikan pernikahan ini. " Gumam Surya seraya mematikan laptop dan beranjak dari kursinya.


"Surya, kamu mau kemana?" tanya pak Andik yang tiba - tiba masuk ke ruagannya.


"Ini Pa, Surya mau menjemput Tika."


"Di mana dia?"


"Hari ini dia melamar kerja, Pa."


"Tika melamar kerja!" sedikit heran,"Sejak kapan dia berubah dewasa seperti itu, aku sudah menawarkan pekerjaan di sini, tapi dia menolaknya, alasannya dia ingin memulai karir dari nol."


"Ya bagus Pa, dia sudah mengalami perubahan."


"Dibalik sikap manjanya, sebenarnya dia memiliki sifat yang hampir sama dengan almarhumah ibunya, tidak mudah menyerah, meskipun dia terkadang juga gampang sekali menangis." jelas pak Andik seraya tersenyum sendirian.


"Papa benar terkadang saya harus banyak mengalah kalau berdebat dengan dia." gurau Surya.


"Kerja di mana dia?"


"Perusahaan TEDIRO HUSODO, Pa."


"Seperti pernah mendengar nama itu. Tapi, kapan ya. " Mendongak seraya mengingat - ingat.


"Ada yang bisa saya bantu, Pa, sebelum Surya pergi."


"Iya, besok rencananya saya akan mengajak ibumu untuk menunjukkan kios yang akan dia gunakan berjualan nasi goreng. Setelah pulang dari kantor kamu bisa kan pergi menyusul?"


"Wah, ibu pasti senang sekali bisa berjualan dari pada bekerja sebagai pembantu rumah tangga."


"Ya sudah pergilah, nanti kalau terlambat menjemputnya dia bisa marah, bisa - bisa kamu tidak di beri jatah nanti malam sama dia." pak Andik menepuk bahu Surya, membuat Surya menaikkan kedua alisnya.


"Hedeh, papa ini bikin aku malu saja. Jangankan diberi jatah disentuh saja dia sudah menolak." batin Surya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Iya Pa, Surya pamit pergi dulu."


"Baiklah, ajaklah dia kalau mau." pinta pak Andik, Surya mengangguk lalu bergegas pergi mendahuluinya.


Surya mengemudikan mobilnya menuju persimpangan jalan. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Dewi yang sedang menuntun sepeda motornya.


"Dewi, " panggil Surya dari dalam mobil lalu menghentikan mobilnya.


"Hai, Surya." Dia tampak riang karena bertemu dengan idaman hatinya.


"Sepertinya kita jodoh, sering bertemu meskipun tidak berada di kampus." Gumam Dewi.


"Apa yang terjadi dengan sepeda motormu?" Surya turun dari mobil dan berjalan ke arah Dewi.


"Mogok, padahal sudah aku isi penuh bensinnya."


"Kamu mau ke mana?" Seraya berjongkok mengamati mesin motor.


"Aku sudah melamar kerja, tinggal interview saja hari ini."


"Sepertinya motor kamu minta di servis."


"Benarkah, aku sudah telat 2 jam yang lalu. bagaimana ini?" ucapnya lirih membuat Surya tidak tega membiarkan Dewi sendirian.


"Ayo, aku antar, di mana alamatnya ?" Surya berdiri.


Dewi menyerahkan alamat yang tertera pada layar handphonenya.


"Aku tahu lokasi itu. Lebih baik motor kamu ini dititipkan di bengkel." usul Surya, yang membuat Dewi semakin kegirangan karena bisa semobil dengan idaman hatinya.


"Iya, aku menurut saja." Dewi menoleh ke sisi kanan jalan."Di sana ada bengkel!" Menunjuk ke arah seberang.


"Kamu tunggu di sini biar aku yang membawanya ke sana." Menuntun motor.


"Terima kasih Tuhan, kamu telah mengirim manusia sebaik dan setampan Surya dalam hidupku." batin Dewi , terpampang senyum di wajahnya.


Selesai membawa motor ke bengkel Surya bersama Dewi menuju ke alamat, dimana Surya akan menjemput Tika.


"Apa kamu tidak sedang sibuk, maaf telah merepotkanmu." ucap Dewi memelas, padahal di dalam hatinya dia merasa senang.


"Tenang saja, aku searah dengan tujuanmu."


"Benarkah...oh, senangnya hati ini." batin Dewi, matanya berbinar.


Selama perjalanan Surya tidak banyak bicara dan hanya menjawab spontan pertanyaan Dewi. Dewi menggulung rambutnya sehingga tampak indah leher imutnya, sesekali dia menggaruk lututnya yang sedikit terbuka. Surya menjaga pandangannya, dia tidak begitu merespon tingkah genit Dewi , agar tidak timbul fitnah diantara keduanya.


Tidak butuh waktu lama, mobil Surya berhenti di tempat parkir.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah sampai." ucap Surya dan bergegas turun dari mobil. Dewi masih berada di dalam.


"Surya, bisakah kamu membukakan pintu untukku?" pinta Dewi.


Surya mengangguk.


Surya menyentuh handel pintu mobil dan menariknya.


Tika yang sedang duduk menunggu Surya di taman bersama Tedi, melihat sosok Surya dengan seorang wanita berkacamata.


"Siapa wanita yang berani menaiki mobilku?" ucap Tika dengan geram seraya bangkit dan berjalan menuju tempat parkir. Tedi sontak mengekor Tika .


"Dewi!" panggil Tika dengan nada tinggi.


"Tika, kamu sudah interview, bagaimana hasilnya?"


"Apa - apaan kamu, seenaknya saja naik mobilku! Berduaan lagi." Bentak Tika dengan mendorong tubuh Dewi.


"Tika kendalikan emosimu, jangan marah dulu!" Surya menengahi seraya merangkul Tika yang sudah mulai marah.


"Dewi, kamu tidak apa - apa?" Tedi mencoba menenangkan.


"Iya, aku tidak apa - apa, maaf aku datang terlambat, tadi motorku mogok." jelas Dewi.


"Pantes lama aku menunggumu, ternyata kamu lagi asyik berduaan dengan wanita mata empat ini!"


"Ini tidak yang seperti kamu lihat!"


"Apa aku buta?"


"Tika, aku bersumpah tidak melakukan apa - apa, aku hanya menolongnya tadi."


"Oh, sekarang sok jadi pahlawan. Terus belain dia." Tika mulai terbakar api cemburu.


Tedi mendekati Surya.


"Sopir apaan kamu! Membiarkan majikannya menunggu lama di sini, untung ada aku yang menemaninya sejak tadi yang sendirian menunggu sopirnya."


"Tedi, ini kah kantor milik ayahmu? Jadi, Tika bekerja di tempatmu?" Surya tampak terkejut melihat Tedi berpenampilan bak atasan, memakai jas dan celana serba hitam. Lalu memandang Tika.


"Kamu, mengapa kamu tidak bilang kalau kamu bekerja di tempat Tedi. Kalau dari awal aku tahu, tidak akan aku izinkan kamu bekerja di sini!" Surya dengan nada tinggi membuat Tika berurai air mata.


"Hentikan Surya, atas dasar apa kamu memberikan izin segala padanya. Terserah dia mau bekerja di mana . Kamu gayanya seperti suami dia saja." ucap Tedi seraya mengepalkan tinju dan sudah berancang - ancang hendak meninju.


"Tedi, cukup. Jangan ikut campur urusan ku dengan dia. Surya, antar aku pulang sekarang." ucap Tika seraya mengusap air matanya. Surya tanpa banyak bicara membukakan pintu dan mengemudikan mobilnya.


"Dewi, segeralah kamu menemui ayahku di dalam!" perintah Tedi.

__ADS_1


"Ba...baik." sahut Dewi yang masih kecewa lantaran sikap Tika padanya.


Tedi bergegas menyalakan mobil dan hendak mengikuti mobil Surya .


__ADS_2