
Surya menggendong Tika menuju kamar atas, meski Tika memberontak tapi Surya tetap bersikukuh ingin menggendongnya. Sesampainya di kamar, Surya menurunkan Tika perlahan di atas ranjang. Aroma tubuh Tika seakan -akan menghipnotis dirinya. Jujur selama 4 bulan ini Tika memang butuh sentuhan fisik dari seorang laki-laki, namun entah mengapa perasaannya menjadi berubah drastis.
"Mas, maaf, sepertinya aku belum siap untuk melakukan ini." ucap Tika menolak sambil tangannya menghentikan pergerakan Surya yang mulai gerilya menjamah tubuh mulus nan indah itu.
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan sejak kita bertemu. Kamu menciumku begitu agresif waktu itu." Surya mengingatkan saat menolong dia waktu kecopetan dulu.
Tika tak bisa mengelak namun hatinya masih terasa sakit bila Surya mengingat Dewi begitu saja.
"Sepenuhnya aku belum terima jika di pikiranmu masih ada Dewi. Aku akan melayanimu sepenuh hati jika kamu sudah benar -benar melupakan cewek itu." jelas Tika sambil memalingkan wajah sendunya. Surya yang mendengar penolakan Tika merasa kecewa dan kesal, dia bangkit dari kungkungan menuju kamar mandi tanpa berkata sepatah kata pun. Lama di sana ternyata Surya bermain solo dengan si kecilnya yang sudah menegang sejak di lantai bawah tadi.
Selesai dari kamar mandi dia menemui Tika yang ternyata sudah tidur lebih dulu. Dia menatap sekilas wajah istrinya yang terlihat sedih dan pilu itu.
"Aku sangat susah melupakan Dewi, entah mengapa? Tapi, sebisa mungkin aku akan mencoba kembali mencintaimu istriku. Tidurlah dengan tenang, besok aku akan mencari pekerjaan yang layak agar bisa mencukupi kebutuhanmu. Jangan bersedih dan susah lagi. Maafkan aku dengan keadaanku yang sekarang." ucap Surya, meski terlihat tidur namun Tika belum sepenuhnya tertidur. Dia mendengar ucapan suaminya dan ingin sekali menjerit. Dia berpura -pura tidur saja sambil menahan tangis yang bisa saja meledak.
Keesokan paginya
Tika sudah lebih dulu bangun, selesai mandi dia sibuk di dapur. Sementara Surya masih di kamar. Dia menggeliatkan tubuhnya, menyadari tak ada istrinya di sampingnya dia juga bergegas bangun.
"Mana Tika?" gumamnya sambil berjalan menuruni tangga.
"Oo...di dapur rupanya?" Surya melangkahkan kaki menuju dapur setelah mendengar suara dari arah sana.
"Kamu masak apa, Sayang ?" tanya Surya sambil memeluk pinggang Tika dari belakang.
Mengingat perkataan Surya semalam membuat sakit hatinya muncul, tapi melihat ulah Surya yang begini dia jadi luluh tak ingin menimbulkan kecurigaan.
"Kamu sudah bangun? Aku sedang membuat nasi goreng kesukaanmu." Tika mengelus sebentar tangan yang melingkar di perutnya lalu kembali sibuk dengan urusan dapur.
"Nasi goreng? Hmmm, pasti enak. Kamu butuh bantuan ?" tanyanya sambil mencium tengkuk Tika, hingga membuat bergidik bulu romanya.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas. Jangan ganggu deh! Lebih baik Mas mandi. Bau kamu." ledek Tika sambil menata hatinya mencoba melupakan perkataan dia semalam.
"Oke, aku mandi dulu." Surya melepas pelukannya dan menuju kamar Tika.
"Aku tak boleh terlihat jutek di depannya, meski aku mendengar semua perkataannya semalam yang membuat pedas di telinga. Apa dia bilang? Aku sudah melupakan Dewi. Heeh, rasanya mau aku robek saja ingatan mas Surya tentang Dewi." Tika mengomel sendiri sampai-sampai nasi gorengnya hampir gosong.
Selesai mandi Surya menemui Tika yang sudah siap di ruang makan.
"Ayo sarapan!" ajak Tika sambil menarik kursi agar Surya duduk di kursi itu. Tanpa menyahut dia langsung duduk saja. Tika menyiapkan piring Surya.
Karena Surya belum terbiasa dengan kebiasaannya yang dulu makan sepiring berdua, jadi Tika tak memaksanya.
Tika mulai menyendok nasi goreng di piringnya begitu juga dengan Surya. Mereka duduk saling berhadapan.
"Uhuk, uhuk, " Surya memuntahkan isi di dalam mulutnya. Tika berdiri dan berjalan ke arah Surya, menepuk tengkuknya.
"Di minum dulu, Mas." Surya meneguk air sampai tersisa separuh.
"Nasi gorengnya pahit, nggak sama buatan Dewi." omel Surya.
"Dewi lagi. Heeh, meladeni orang amnesia memang butuh kekuatan super untuk sabar." gerutu Tika dalam hati.
"Ya sudah, aku buatkan mie goreng saja." ucap Tika mengalah memahami keadaan, dia tak ingin membuat Surya jengkel lagi karena semalam menolak untuk diajak bermain ranjang.
Surya bahkan tak mencegahnya dan bahkan semakin senang diladeni.
"Beda dengan mas Suryaku yang dulu, dia bahkan mau memakan telur ceplok yang rasanya asin banget." Tika mengingat kebersamaan dengan Surya dulu.
Selesai membuat mie goreng, Tika menyuguhkan di depan Surya. Tika kembali ke kursinya dan mulai menyantap sarapannya yang tertunda tadi. Begitu lahapnya Surya, menikmati mie goreng instan itu.
__ADS_1
"Sungguh keterlaluan kamu mas, susah payah aku bangun pagi-pagi untuk membuat kamu nasi goreng, kamu malah tak menghargaiku sedikit pun, selalu saja aku bandingkan dengan cewek itu lagi." batin Tika menggerutu.
Selesai sarapan Tika membereskan meja makan, mencuci piring dan mengelap meja dapur. Kebiasaan baru yang ia lakukan selama menjadi janda dulu sehingga tak membuatnya kaget dengan kedatangan Surya yang sekarang. Dulu Surya yang melakukan pekerjaan seperti itu, nyatanya sekarang gantian.
"Sayang, aku ingin ke luar sebentar." pinta Tika sebelum keduluan Surya. Pikirnya Surya pasti akan minta izin akan ke luar juga untuk mencari pekerjaan seperti perkataannya semalam.
"Ke mana?" tanya Surya sedikit heran.
"Aku mau ketemuan dengan temanku, pagi tadi dia mengirim pesan lewat WA, katanya penting ."
"Baiklah, tapi pulangnya jangan terlalu sore, aku nggak mau sendirian di rumahmu yang besar ini." ucap Surya.
"Rumah kita, Mas?" Tika mengingatkan.
"Iya, maksudku itu, rumah kita. Aku kan amnesia, jadi wajar dong kalau aku keliru menyebutnya." elak Surya.
"Ya sudah, aku keluar dulu." pamit Tika, dengan memesan taksi online Tika pergi menuju kafe.
Karena binggung mau ngapain di rumah, sontak Surya mengikuti Tika pergi. Dia ke luar menuju halaman tempat di mana Tika berdiri saat menanti taksi tadi. Saat tukang ojek lewat, Surya memanggil dan meminta untuk mengejar mobil kuning yang ada di seberang jalan.
Surya begitu antusias mengikuti pergi nya Tika, sampai di sebuah cafe tukang ojek itu menurunkan Surya.
Tika turun dari taksi dan masuk ke dalam Cafe Ceria, tulisan yang tertulis di depan bangunan yang di modifikasi dengan moderen itu. Surya mengendap membuntuti Tika, dia penasaran dengan siapa Tika bertemu.
Tika duduk di kursi yang sudah dia pesan. Sementara Surya sedikit menjauh mencari posisi untuk mengintai. Dia menutup wajahnya dengan buku daftar menu. Sesekali dia mengintip ke arah Tika, dengan siapa dia bertemu.
Tak lama kemudian, seorang pria datang mendekati meja Tika. Membuat Surya cemburu untuk yang kedua kali. Entah mengapa rasa cemburu itu mulai merasuk di hatinya, merasa gusar dengan kedatangan pria itu Surya ingin sekali menghampirinya dan menghajar pria itu. Tapi ia urungkan kembali niatnya lantaran apa kata istri nya jika dia ada di sini juga.
"Bukankah pria itu..." gumam Surya saat mengamati wajah pria yang sedang bersama Tika.
__ADS_1